
Hanz menatap takjub wanita yang saat ini berdiri tak jauh darinya. Wanita itu terlihat anggun dengan balutan gaun berwarna hitam yang dipadukan dengan hijab print scarf. Ditambah dengan sedikit polesan make up natural. Memperlihatkan pesona dalam diri Sweet.
"Apa Kak Bian hadir?" tanya Sweet membuka pembicaraan. Wanita itu duduk di sofa, untuk memakai high heels.
"Ya, pertemuan ini sangat penting. Sudah pasti Tuan Bian akan hadir." Hanz masih setia mengawasi pergerakan Sweet.
"Baiklah," ucap Sweet mengangkat kepalanya untuk menatap Hanz.
"Apa Nenek yang meminta kamu untuk datang ke sini?" tanya Sweet penuh selidik.
"Tidak, aku datang karena keinginan sendiri. Tentu saja aku datang untuk menjemput istriku, apa itu salah?"
Mendengar jawaban Hanz, Sweet memutar bola matanya jengah. "Kau berlebihan Tuan Hanz."
"Hanz, panggil namaku tanpa ada kata Tuan." Hanz merasa kecewa. Sudah cukup lama ia bersama Sweet, tetapi wanita itu masih saja bersikap formal.
"Sudahlah, sebaiknya kita pergi sekarang." Sweet berjalan melewati Hanz. Tidak nyaman jika terus berdebat dengan lelaki itu.
Hanz menghela napas, lalu mengikuti langkah kecil Sweet.
Mobil mewah yang Hanz dan Sweet kendarai memasuki sebuah hotel bintang lima. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk yang dihiasi dengan karpet merah. Hanz turun dari mobil, lalu berputar untuk membukakan pintu sang bidadari cantik. Sorotan kamera para wartawan pun langsung mengarah pada mereka.
"Aku harap kau mau bekerja sama, semua orang masih mengira kita pasangan suami istri." Hanz sedikit berbisik seraya mengulurkan tangannya. Mau tidak mau, Sweet menerima uluran tangan Hanz.
"Sejak awal aku tidak setuju dengan kebohongan ini," protes Sweet. Dengan hati-hati Hanz membantu Sweet turun.
Sepasang kekasih palsu itu memasuki hotel seperti pasangan lainnya. Sweet menggandeng lengan Hanz, membuat sang empu merasa senang.
"Akan lebih baik jika kita benar-benar menjadi suami istri sungguhan," goda Hanz.
"Berhenti bicara," kesal Sweet. Ia merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Jika menjauh dari Hanz, maka nama baik keluarganya akan tercoreng. Karena sejak awal Hanz yang sudah menyelamatkan nama baik keluarga Sasmitha. Hanz mengakui di depan media jika ketiga anak Sweet adalah anaknya. Semua itu ia lakukan untuk menghindari kecaman para awak media yang cukup kejam. Karena dalam dunia bisnis sangat sukar untuk melakukan sedikit kesalahan. Secuil kesalahan akan sangat fatal bagi perusahaan.
Oleh karena itu tidak mudah bagi Sweet untuk melewati hari, menjadi seorang wanita karir sekaligus menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya. Berbagai beban berat harus ia pikul.
"Wow, kalian memang pasangan serasi. Aku bangga hanya dengan melihat kalian bermesraan." Bian menyapa keduanya dengan begitu antusias. Sangat jarang ia melihat kedekatan kedua insan yang saat ini ada dihadapannya.
"Aku harap hal seperti ini akan terus terjadi," balas Hanz memberikan senyuman pada Sweet. Namun wanita itu seakan tidak peduli.
"Terima kasih, Hanz. Kau sudah menjaga adikku dengan baik, aku harap kalian benar-benar berjodoh."
"Itu tidak mungkin," gumam Sweet. Namun, Hanz masih dapat mendengarnya.
"Tidak perlu banyak bicara, sebaiknya kita menyapa para klien yang sudah hadir. Selamat untuk kalaian berdua, atas keberhasilan tender kita kali ini." Bian tersenyum tulus. Saat ini kebahagiaan tengah menyelimuti hatinya. Pesta ini memang diselenggarakan oleh perusahaan keluarganya. Sebagai apresiasi dalam kemenangan tender puluhan miliar. Tentu saja acara mewah yang diadakan kali ini bukan hal sulit untuk mereka.
"Terima kasih, Tuan Bian." Ucap Hanz begitu tulus.
"Hey, hentikan panggilan bodoh itu. Penggil aku Kakak ipar," ujar Bian yang berhasil membuat Sweet kaget. Ia paling tidak suka dengan pembahasan tidak masuk akal Kakak sepupunya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya kalian bicara secara empat mata," ujar Sweet yang kemudian bergerak pergi. Bian yang melihat itu kembali tertawa.
"Maaf, sepertinya kau belum bisa menggeser lelaki itu dalam hatinya. Adikku sangat keras kepala, aku harap kau berusaha lebih keras." Bian menatap Hanz lekat.
"Tentu saja, aku lebih dulu mengenalnya. Aku akan mendapatkan hatinya secara perlahan." Hanz terlihat begitu percaya diri. Membuat Bian tenang. Karena Hanz benar tulus pada adiknya. Buktinya sampai saat ini, Hanz tidak pernah memaksa Sweet untuk menerimanya. Bahkan lelaki itu masih setia menjaga Sweet dan ketiga anaknya.
Sweet terlihat sedang menyapa beberapa rekan kerja. Dengan obrolan singkat dan ucapan terima kasih. Ia pun kembali bergerak menyapa yang lain. Meski tidak ada senyuman atau candaan. Semua orang sudah mengerti siapa Sweet. Wanita yang memiliki hati sedingin es.
Saat sedang asik mengobrol ringan dengan teman-temannya. Seorang pramusaji datang menghampiri.
"Maaf, Nona. Tuan Bian meminta Anda untuk menemuinya. Mari ikut dengan saya," ujar pria berusia dua puluh tahunan.
Sweet tidak memberikan respon apa pun. Ia langsung mengikuti langkah sang pramusaji. Pria berseragam itu membawa Sweet ke rooftop. Tempat di mana Bian berada.
Sweet melangkah pelan, menghampiri sang Kakak yang sedang menikmati pemandangan malam kota Surabaya.
"Ada apa?" tanya Sweet to the point. Bian yang baru menyadari kehadiran sang adik pun memutar kursi roda. Memberikan tatapan penuh arti pada sang adik.
"Aku akan mengatur pernikahanmu dengan Hanz. Tidak selamanya aku akan berada di sisimu. Aku ingin kau dan anak-anakmu mendapat perlindungan yang tepat. Aku rasa Hanz cocok menjadi ayah dari ketiga anakmu."
Sweet terhenyak mendengarnya, semua itu di luar dugaan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjalin hubungan dengan Hanz. Bahkan hubungannya dengan Alex masih tergantung.
"Aku tidak pernah setuju," sanggah Sweet dengan mata yang memerah.
Bian menghela napas panjang, mendorong kursi rodanya untuk mendekati Sweet. Mata kelam miliknya berhasil mengunci netra coklat Sweet.
Sweet terdiam. Apa benar ia masih mengharapkan sosok Alex? Lelaki yang sudah menggoreskan luka yang cukup dalam dihatinya.
"Aku akan membantumu mendapatkan surat cerai. Setelah itu, kau bisa bebas memilih. Aku hanya ingin melihat kau bahagia, kau adikku satu-satunya. Aku tidak suka melihatmu yang seperti ini," lanjut Bian. Lelaki itu menarik kedua tangan Sweet dalam genggamannya.
"Terserah kau ingin menganggapku apa? Mungkin seorang Kakak yang egois, tapi itu benar. Biarkan aku egois, demi kebahagiaanmu."
Sweet masih terdiam, mulutnya seakan terkunci rapat.
"Aku akan menunggu jawaban... dalam satu minggu. Kau bisa mengatakan, kau menginginkannya. Aku akan melakukan segalanya untukmu." Bian melepas genggamannya. Menatap Sweet cukup lama.
"Pikirkan semuanya baik-baik," ujar Bian sebelum meninggalkan Sweet yang masih terpaku.
Sweet terduduk lemas di lantai setelah kepergian Bian. Pertahanannya roboh, Sweet menangis dalam kesendirian. Perih, itu yang saat ini ia rasakan.
"Tidak, aku tidak mencintainya lagi. Aku membencinya, sangat membencinya." Sweet terisak sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
Mungkin mulut berkata tidak, tapi hati tak akan bisa berbohong. Sweet merindukan sosok suaminya. Lelaki yang dengan lancang telah mengoyak hatinya. Sesakit apa pun luka yang Alex berikan. Perasaan cinta itu sama sekali tidak pernah pudar. Hanya saja ego dalam hatinya lebih mendominasi. Menutupi segala kenyataan jika rasa cinta itu masih melekat.
Tangisan Sweet terhenti karena mendengar suara deringan ponsel miliknya. Sweet membuka handbag dan mencari keberadaan gawainya.
Sederet angka tidak dikenal muncul di layar ponselnya. Sweet menggeser tombol hijau dengan ragu, kemudian meletakkannya di telinga.
__ADS_1
"Mommy," suara kecil dibalik telepon berhasil memenangkan perasaan Sweet. Ia pun menarik napas panjang, lalu mengusap air matanya yang masih menetes.
"Lexa, sudah Mommy katakan ucapakan salam lebih dulu sebelum bicara," ujar Sweet berusaha menutupi kesedihannya. Ia tidak mau Alexa mengetahui keadaannya saat ini.
"Assalamualaikum, Mommy." Suara Alexa terdengar ceria.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Kamu pakai telepon siapa lagi, huh?" Sweet bangkit dari posisinya. Lalu mencari sebuah tempat untuk dijadikan sandaran. Sweet menjatuhkan pilihan pada sebuah kursi panjang dan duduk di sana.
"Super Hero, Mommy. Mommy kenapa tidak jadi datang? Super Hero sejak tadi menunggu Mommy. Mommy lupa ya?"
Astagfirullah, bagaimana mungkin aku bisa lupa tentang hal ini. Batin Sweet. Ia melupakan janjinya dengan sosok Super Hero yang sering Alexa sebut. Sweet memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Mommy minta maaf, Sayang. Mommy melupakan hal itu," ucap Sweet penuh penyesalan.
"Mommy pasti sibuk bekerja kan? Tidak apa-apa kok, kata Super Hero besok juga bisa bertemu Mommy."
Sweet terdiam sejenak, "berikan telepon itu padanya, Mommy ingin bicara sebentar."
"Baik, Mom. Super Hero, Mommy ingin bicara," ucap si kecil Alexa seraya memberikan ponsel pada lelaki itu. Sweet menunggu jawaban dari sosok Super Hero itu. Tapi tidak ada suara sama sekali. Hingga Sweet memutuskan untuk bicara lebih dulu.
"Halo," sapa Sweet tanpa ragu. Namun, masih belum ada jawaban. Sweet menarik ponselnya, ingin memastikan apakah masih tersambung atau tidak.
Aneh, kenapa dia tidak menjawab. Padahal masih tersambung. Pikir Sweet seraya menempelkan kembali ponselnya di telinga.
"Maaf Tuan, apa Anda bisa bicara?" Sweet mulai kesal karena tidak mendapat jawaban.
"Kau menangis?"
Deg! Sweet terdiam saat mendengar suara yang sangat familier. Dengan cepat Sweet menjauhkan ponsel dari telinga.
Kenapa suara itu sangat mirip dengannya? Apa mungkin itu Dia, dan bagaimana dia bisa tahu aku menangis?
Sweet menempelkan kembali ponselnya di telinga, "kamu siapa?"
"Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitinya. Aku bukan orang jahat seperti yang kau pikirkan, Nona."
Lagi-lagi Sweet terdiam karena mendengar suara yang begitu mirip dengan sosok lelaki yang selalu ia hindari.
"Apa boleh tahu siapa nama Anda? Agar saya lebih mudah mengingatnya," ujar Sweet mencoba menenangkan pikirannya. Cukup lama sosok di balik telepon itu menjawab pertanyaan Sweet. Membuat Sweet semakin penasaran.
"Alexander.... " orang itu sengaja menggantung ucapannya dan berhasil membuat jantung Sweet berdetak kencang.
"Digantara."
Brak! Tanpa sadar, Ponsel Sweet pun terjatuh. Seluruh tubuhnya seakan bergetar saat mendengar nama itu.
Tidak... Tidak! Itu tidak mungkin. Sweet bangun dari posisinya. Dengan tangan yang bergetar hebat, ia mengambil ponselnya yang terjatuh. Lalu meninggalkan tempat itu dengan tergesa. Tubuhnya melemah, seakan tak berdaya. Akan tetapi, ia masih berupaya untuk tetap kuat. Semua rasa takut kembali menggerogiti dirinya. Pikirannya tidak lagi jernih, semua kejadian buruk terus melintas dalam benaknya.
__ADS_1
Aku tidak akan membiarkan dia merebut anak-anakku. Tidak akan pernah.