
Mansion Alex tengah kedatangan tamu terhirmat. Satu jam yang lalu Bian datang bersama Nyonya Sasmitha. Tentu saja kedatangan mereka di sambut hangat oleh Sweet maupun Alex. Tetapi tidak untuk wanita yang bernama Mala. Sejak tadi ia terus mendengus kesal karena Bian tak berhenti menatapnya. Lelaki itu melakukannya secara terang-tetangan di depan keluarganya.
"Kak, sebaiknya Kakak tidak perlu menginap di hotel. Mansion ini masih memiliki banyak kamar kosong. Kakak bisa tinggal di sini untuk sementara waktu." Ujar Sweet menatap Bian.
"Tentu, jika kalian memaksa. Aku akan tinggal di sini." Sahut Bian tersenyum licik. Pandangannya masih tertuju pada Mala. Entah mengapa ia menyukai saat wanita itu memasang wajah kesal.
"Ma, Mala lelah. Mala izin ke kamar," pamit Mala bangkit dari posisi duduknya. Kebetulan ia juga baru sampai di mansion.
"Oh iya Mala, sekalian antar Kak Bian ke kamarnya ya. Kamar di sebelah kamu." Perintah Sweet. Sontak Mala pun kaget dan langsung menatap Sweet.
"Mom...." Mala hendak protes, tetapi Milan langsung menahan tangannya. Mala menghela napas berat.
"Ikut aku," ajak Mala dengan nada ketus.
Semua orang yang melihat itu tersenyum geli. Karena sejak awal mereka memang ingin menjodohkan Bian dan Mala. Tidak ada salahnya mencoba menyatukan mereka.
Bian mengekori Mala dari belakang, menatap punggung wanita itu dengan seksama. Mala memang memilki tubuh yang proporsional, dengan kaki yang jenjang dan pinggang ramping. Tubuhnya yang tegap menujukkan jika wanita itu sering melakukan olahraga.
"Ini kamar Anda, Tuan." Mala membukakan pintu kamar yang berada tepat disebelah kamarnya.
"Terima kasih, aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu." Ucap Bian tersenyum penuh arti. Mala yang mendengar itu memutar bola matanya karena merasa jengah.
"Di sini begitu banyak pelayan, Anda bisa meminta bantuan pada mereka."
"Aku belum cukup akrab dengan mereka," sahut Bian.
"Memangnya kita sudah akrab?" Kesal Mala yang langsung masuk ke kamarnya. Lalu menutup pintu dengan kasar.
Bian tersenyum penuh kemenangan. "Tentu, tidak akan lama lagi kita akan menjadi akrab." Gumam Bian yang kemudian masuk ke kamarnya.
"Apa Nenek yakin mereka bisa bersatu? Ana lihat mereka seperti tom and jerry." Ujar Sweet seraya menuntun sang Nenek menuju kamar.
"Bian menyukai Mala, Nenek bisa lihat itu. Cucu Nenek yang satu tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada wanita sejak lama. Dan kali ini Nenek memperhatikan tatapannya, dia menyukai Mala."
"Ah, semoga mereka berjodoh."
__ADS_1
"Aamiin. Nenek senang, semua cucu Nenek sudah menemukan kebahagiaan masing-masing."
"Iya, Nek. Sekarang Nenek istirahat. Jika perlu sesuatu tekan saja tombol yang ini. Ini langsung terhubung ke kamar pelayan." Ujar Sweet menujukkan sebuah tombol yang ada di nakas. Lalu membantu sang Nenek berbaring di ranjang.
"Iya, Nenek mengerti. Kamu juga harus istirahat."
"Ana pergi dulu," ucap Sweet mengecup pipi Sasmitha dengan lembut. Lalu beranjak pergi dari sana.
Sweet melangkah pasti menuju kamarnya. Sesekali ia memijat kepalanya yang terasa sakit. Akhir-akhir ini ia sering sekali sakit kepala. Sweet memasuki kamarnya dan di sana Alex sudah duduk bersandar di atas ranjang dengan bertelanjang dada. Tidak lupa dengan buku tebal dan kaca mata yang bertengger indah dihidungnya yang mancung. Alex terlihat sangat tampan, padahal usianya hampir setengah abad.
Sweet bernjak menunju walk in closet untuk berganti pakaian. Dan ia menjatuhkan pilihan pada piyama satin berwarna hitam. Setelah berganti pakaian, sweet kembali menghampiri suaminya.
"Mas." Panggil Sweet seraya duduk di sebelah Alex.
"Hm."
"Mau di peluk." Rengek Sweet menarik buku yang Alex pegang. Lalu meletakkannya di atas nakas. Kemudian ia berbaring dan menjadikan paha suaminya sebagai bantal.
Alex menatap Sweet heran. Ada yang aneh dengan sikap istrinya akhir-akhir ini. Kadang manja, suka marah-marah, cengeng dan bahkan mogok bicara jika Alex tidak menuruti keinginnya.
"Kenapa?" Tanya Sweet balik.
Alex yang merasa gemas pun mencubit hidung mungil istrinya. "Akhir-akhir ini kamu aneh, mood kamu terus berubah setiap saat."
Sweet terlihat berpikir keras dan mencerna ucapan suaminya. "Masak sih?"
Alex mengangguk sebagai jawaban.
Sweet terdiam, kembali memikirkan sikapnya akhir-akhir ini. Kadang Sweet sendiri merasa aneh dengan dirinya. Lalu tak lama ia mengulum senyuman yang sulit diartikan. Membuat Alex merinding ngeri.
"Mas, sepertinya besok kita harus ke rumah sakit deh."
"Buat apa?" Tanya Alex penasaran.
"Sepertinya aku hamil lagi," jawab Sweet tanpa ragu. Alex terhenyak mendengar jawaban spontan istrinya.
__ADS_1
"Hamil?"
"Iya, aku terlambat satu minggu."
Alex menatap Sweet tidak percaya. Ia masih belum bisa mencerna ucapan istrinya.
"Mas, kok malah diam sih?"
Alex tersadar dari lamunanya. "Tidak perlu besok, aku akan minta Ansel datang untuk mememeriksamu sekarang."
"Ck, Ansel bukan dokter kandungan, Sayang. Lebih bagus kita langsung menjumpai dokter kandungan, aku juga yakin jika buah cinta kita sudah tumbuh di sini." Ujar Sweet seraya mengelus perutnya yang masih rata.
"Baiklah, aku ikut maumu saja."
Alex menatap perut Sweet lamat-lamat. Masih belum percaya jika buah cinta mereka yang kedua sudah tumbuh di sana. Tanpa sadar tangan Alex bergerak untuk menyentuhnya.
"Kapan dia bisa bergerak?" Tanya Alex dengan polos. Pasalnya ia tidak tahu menahu tentang kehamilan.
"Saat usianya memasuki dua belas minggu," jawab Sweet. Alex pun mengangguk-anggukan kepalanya. Ada perasaan aneh saat ia menyentuh perut istrinya yang kemungkinan besar sedang mengandung. Ia kembali teringat pada masa Sweet hamil si kembar. Bahkan dirinya tidak pernah ada untuk menemani sang istri. Sebuah penyesalan terbesar dalam hidup Alex.
"Apa kamu kesulitan saat hamil dulu?"
Sweet terdiam sesaat. "Sedikit, aku mual setiap saat dan itu berlangsung selama enam bulan. Susah tidur dan sering menangis karena merindukanmu, Mas. Entahlah, saat itu aku mencoba untuk menikmatinya dengan baik. Dan aku berhasil melewati masa itu dengan mudah, mereka lahir saat memasuki bulan ke delapan."
"I'm sorry," ucap Alex begitu tulus. Ia juga memasang raut wajah bersalahnya.
"It's oke, semuanya sudah berlalu." Sweet tersenyum dan memeluk lengan Alex begitu posesif.
"Kamu tahu? Saat itu perutku sangat besar dan sangat sulit untuk berjalan. Bagaimana tidak, dalam perutku ada tiga bayi sekaligus. Tapi itu menyenangkan, apa lagi saat mereka terus bergerak di dalam sana. Sangat lucu dan lumayan geli."
"Apa kamu sering kesakitan?" Tanya Alex lagi. Sweet pun menjawab dengan gelengan.
"Seharunya itu pertanyaan untuk kamu, Mas. Pasti kamu kesakitan bukan saat peluru itu hampir mebembus jantungmu? Aku tidak bisa membayangkan itu, pasti menyakitkan."
"Tidak, itu sama sekali tidak ada artinya dibanding rasa sakit yang aku berikan padamu, Ana."
__ADS_1
"Sudahlah, kenapa kita harus membahas masa lalu lagi sih? Sekarang semuanya sudah membaik, dan aku bisa memeluk kamu sepuasnya." Ujar Sweet membenamkan wajahnya di perut keras suaminya. Kedua tanganya pun ikut melingkar dipinggang Alex. Sweet menyukai aroma maskulin suaminya. Memabukkan dan dia merindukannya.