
Di kamar dengan nuansa hitam. Alexa terlihat begitu jauh termenung dengan pandangan menerawang ke luar jendela.
Winter memasuki kamar dengan langkah pelan. Dan Alexa tak menyadarinya. Lelaki tampan itu tersenyum, menghampiri sang istri yang masih jauh termenung. Ia duduk di sebelah Alexa, merengkuh pundak wanita itu. Sontak Alexa pun terkejut dan langsung menoleh.
"Apa yang sedang kau pikirkan huh? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau selalu termenung. Apa karena aku akan pergi?"
Alexa terdiam sejenak. Selanjutnya ia pun mengangguk dan memeluk Winter dengan erat. "Aku akan merindukanmu."
"Aku hanya pergi beberapa hari, honey. Kita masih bisa berkomunikasi." Winter tersenyum seraya memberikan kecupan di kening Alexa.
Alexa semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Winter merasa aneh. "Ada apa huh? Katakan jika ada yang ingin kau katakan."
Alexa menggeleng pelan. "Aku hanya rindu padamu."
"Kau ini, bahkan aku belum pergi."
"Entahlah, aku merasa sangat merindukan dirimu, Winter."
"Kalau begitu ikutlah bersamaku."
"Lalu bagaimana dengan anak-anak? Mereka masih terlalu kecil, honey. Aku tidak apa-apa, pergilah. Kau kan selalu meninggalkanku."
Winter tersenyum simpul. "Aku kerja juga untuk kalian. Aku janji, setelah semua urusan selesai. Aku akan langsung kembali. Bersabarlah menungguku."
Alexa mengangguk pelan dan masih setia memeluk suaminya. "Lucas pasti akan merindukanmu. Ini kali pertama kau pergi setelah mereka lahir. Dan putramu yang satu itu sudah terbiasa mendengar suaramu."
"Aku akan menyanyikan lagu pengantar tidur dan merekamnya. Kau bisa memutar itu saat Lucas rewel. Anak itu sepertinya ikut sifatmu, manja dan banyak maunya."
Alexa tertawa renyah. "Beruntung hanya Lucas, kalau ketiganya sepertiku aku rasa mansion ini akan mereka hancurkan."
"Mommy akan marah-marah setiap saat." Keduanya pun tertawa bersamaan.
****
Alexa membawa ketiga putranya ke kamar setelah pulang dari bandara karena hari ini adalah hari keberangkatan Winter ke Melbourne. Ia menidurkan ketiga putranya di dalam box bayi. Setelah itu beranjak untuk berganti pakaian.
Alexa menatap pantulan dirinya di cermin. Ia terlihat sangat pucat dan lebih kurus dari sebelumnya. Alexa tersenyum masam. "Dad, aku akan menepati janjiku menemanimu di sana. Tapi aku takut, Dad. Aku tak kuasa meninggalkan Winter dan anak-anakku. Bagaimana jika Winter hancur saat aku pergi?"
Tubuh Alexa bergetar menahan tangisan. Tangannya bergerak membuka laci meja rias. Mengambil kertas berlogo rumah sakit dari sana. Sebuah hasil dimana dirinya dinyatakan kembali mengidap penyakit leukimia yang pernah ia alami saat kecil dulu. Ia mengetahui dirinya kembali digerogoti penyakit itu beberapa hari yang lalu karena dirinya sering pusing dan mengalami mimisan. Benar saja, hasil pemeriksaan menyatakan dirinya mengidap penyakit yang sudah lama ia anggap hilang. Dokter mengatakan tidak ada gejala sebelumnya karena itu penyakit yang dialaminya baru diketahui setelah menyebar keseluruh tubuhnya. Alexa dinyatakan mengidap leukimia stadium akhir. Dimana kemungkinan untuknya sembuh itu sangat kecil. Hal itu membuatnya terpukul. Dokter menyarankan Alexa untuk melakukan kemoterapi. Namun ia mengingat anak-anaknya masih membutuhkan asi. Usia mereka baru satu bulan lebih karena itu Alexa menolak.
"Apa yang harus aku lakukan?" Alexa menangis sesegukkan. Hatinya begitu sakit mengetahui nyawanya diambang kematian. Ia belum siap meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Bahkan ia tidak sanggup mengatakan kebenaran pada sang suami.
__ADS_1
Bayangan sang Daddy saat bercanda ria bersamanya pun kembali berputar dalam memori.
"Dad, aku akan ikut kemana pun kau pergi. Karena kau adalah super heroku."
"Kau yakin akan ikut dengan Daddy? Meski Daddy ke surga sekali pun?"
"Ya, kau adalah penyelamat hidupku. Kau menyelamatkan nyawaku saat kecil dulu. Aku sudah memutuskan untuk terus berada disisimu."
Alex tertawa renyah. Memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana jika ada laki-laki yang menjemputmu huh? Daddy rasa kau akan berpaling dariku."
"Nope, aku akan memilihmu. Pokoknya aku akan ikut kemana pun kau pergi, aku mencintaimu, Dad."
Alex mengecup kening putrinya. "Kau tidak bisa ikut bersamaku selamanya. Ada saatnya dirimu pergi dariku, akan ada laki-laki yang menjemputmu, mencintiamu sama seperti aku mencintiamu."
"Tidak ada cinta sebesar cintamu, Dad. Aku akan tetap ikut bersamamu. Dulu kau bertaruh nayawa untukku, dan aku juga akan menyerahkan nyawaku untukmu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Dad."
"Kau ini sangat cerewet. Saat dewasa nanti, lahirkan banyak cucu untukku. Setelah itu datanglah padaku. Aku akan menciummu berkali-kali."
"Hanya ciuman? Lalu bagaimana dengan pelukan seperti ini? Aku menyukai pelukkanmu, Dad. Tapi sejak Xella hadir, kau lebih sering menghabiskan waktu dengannya dan melupakanku. Aku cemburu." Alexa menyebikkan bibirnya saat mengingat sang Daddy lebih menyanyangi adiknya.
"Daddy tidak pernah membedakan kalian. Hanya saja Xella masih sangat kecil dan butuh perhatian kita. Jangan cemburu pada adikmu sendiri. Saat kau kecil dulu, kau yang Daddy gendong ke sana ke mari."
"Hm... aku mengingatnya, aku mencintaimu, Dad. Bawa aku kemana pun kau pergi."
Alexa tersenyum hambar saat mengingat semua itu, ia tak pernah menyangka hari itu benang merah telah mengikatnya dengan sang Daddy. Alexa tak menyesali semuanya. Ia yakin Tuhan telah menggoreskan takdir untuknya. Di mana kematiannya tak jauh dari sang Daddy.
"Aku harap bisa melihatmu lagi, Dad."
Tok tok tok
Alexa terkejut dan langsung meremas kertas itu. Kemudian membuangnya ke dalam tong sampah.
"Lexa, kau di dalam? Mike menangis."
Dengan gerak cepat Alexa mengusap air matanya. "Ya, Mom. Aku akan segera keluar."
"Cepat sedikit, sepertinyan anak-anak haus."
"Ya, Mom." Alexa mengambil pakaian ganti dan memakainya dengan tergesa. Kemudian keluar dari ruang ganti dengan sedikit berlari. Menghampiri box bayi dan mengangkat Mike yang masih menangis, dengan mata dan hidung memerah. Alexa duduk di sisi ranjang dan mulai menyusui Baby Mike.
Nyonya Winston pun memperhatikan wajah menantunya yang sembab dan pucat.
__ADS_1
"Kau menangis, Lexa?"
Alexa yang terkejut pun langsung menoleh. "Tidak, tadi terkena cairan pembersih wajah." Alibinya.
"Lain kali hati-hati, jangan sampai kau terluka." Nyonya Winston mengusap punggung menantunya. Alexa pun tersenyum dan mengangguk kecil.
"Kau tahu, Mommy tidak pernah melihat Winter sebahagia sekarang ini. Anak itu selalu ceria setelah bertemu denganmu, ditambah lagi sekarang ada tiga kurcaci. Mommy lihat anak itu semakin semangat dalam segala hal. Mommy ikut bahagia. Kau adalah sumber kebahagiaannya. Tolong jangan pernah meinggalkan Winter. Dia sangat mencintaimu."
Alexa terpaku mendengar itu. Kenapa semuanya mendadak kebetulan seperti ini? Membuat hatinya semakin berdenyut sakit.
"Lexa tidak bisa berjanji, Mom. Tidak ada yang tahu usia manusia."
Nyonya Winston tersenyum ramah. Menggenggam tangan menantunya dengan lembut. "Mommy harap kalian diberikan umur yang panjang dan dilimpahkan kebahagian selalu."
"Aamiin. Thank you, Mom."
"You are welcome, sayang. Lihat, dia begitu lahap. Mike sangat mirip denganmu."
Alexa tersenyum sambil menatap Mike yang mulai memejamkan matanya. Namun mulutnya masih aktif menghisap asi.
"Oh iya, Mommy hampir lupa mengatakan hal penting padamu. Mungkin Winter akan kembali bersama seorang wanita, dia adik sepupunya yang tinggal di Melbourne. Katanya ingin berkunjung, sudah sangat lama dia tidak kemari."
"Oh ya? Winter tidak mengatakan apa pun padaku."
"Mungkin anak itu lupa. Mommy hanya tidak ingin kau salah paham nantinya."
Alexa tersenyum ramah. "Lexa percaya pada putramu, Mom. Hampir tiga tahun kami mengenal, jadi Lexa tahu seperti apa sifatnya. Lagi pula jika dia berani curang, aku akan langsung memotong burungnya."
Nyonya Winston tertawa renyah mendengarnya.
"Ah iya, Mom. Apa Winter pernah dekat dengan wanita sebelumnya?"
"Setahu Mommy sih ada, tapi dia tidak pernah membawanya ke mansion. Kamu wanita pertama yang dia bawa kemari. Mommy pikir Winter impotent, rupanya pikiran kami salah. Buktinya sekarang sudah ada tiga jagoan."
Alexa tersenyum samar. "Dia tidak pernah menceritakan masa lalunya. Lagi pula tidak penting juga."
"Ya, kau masa depannya sekarang. Jadi tidak perlu memikirkan semua masa lalu yang tak jelas itu. Fokus mendidik anak-anak kalian dengan baik. Jadikan mereka anak yang berguna."
Alexa pun mengangguk. "Lexa sangat berharap bisa melihat mereka tumbuh dewasa. Mendengar mereka mengoceh dan memanggil Mommy."
"Mommy yakin kalian bisa melewati semuanya. Apa pun masalahnya, kalian harius saling terbuka."
__ADS_1
Perkataan Nyonya Winston pun menohok Alexa.
Bagaimana reaksi Winter jika tahu aku sakit? Apa dia akan memarahiku karena menyembunyikan ini darinya? Ya Tuhan, bantu aku untuk bicara padanya. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk hidup lebih panjang.