Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (30)


__ADS_3

Violet menoleh ke samping, di tatapnya Paul dengan senyuman miring. Dan lelaki itu malah mengedipkan mata.


"Cih, aku akan pastikan blacky menjadi milikku." Gumam Violet seraya memainkan gas mobil. Seolah menantang lawannya. "Blue bird pasti berpihak padaku."


Paul kembali fokus ke depan, lalu menutup kaca mobil. Menatap wanita cantik yang siap menembakkan peluru ke udara.


Violet sudah siap dan ikut menaikkan kaca mobil sambil menekan gas dengan kencang. Memberi tanda jika dirinya sudah siap menaklukkan arena seperti biasanya. Dan memenangkan pertarungan.


Dor!


Bersamaan dengan melesatnya peluru ke udara, maka melesat pula dua mobil mewah itu saling mengejar satu sama lain. Deru mobil keduanya menghiasi malamnya ibu kota ditengah malam seperti ini.


Violet tersenyum penuh kemenangan saat mobil Paul tertinggal jauh. "Waw... aku rasa malam ini memang milikku."


"Kau memang hebat, Baby. Tapi aku tidak akan kalah begitu saja." Paul membelokkan mobilnya ke jalur sebelah. Dalam balapan liar mamang tidak pernah ada batasan. Mereka bebas melakukan apa pun untuk memenangkan pertandingan. "Kau milikku, Vio."


Violet yang melihat itu menggeram kesal. "Sialan! Dia bermain licik huh?" Merasa geram, ia menambah kecepatan. Namun, matanya membulat saat dari kejauhan ia melihat seseorang berdiri di tengah jalan.


"Hey! Menyingkir." Violet menekan klakson dengan kasar. Sayangnya orang itu masih bergeming. Spontan Violet menekan rem karena jaraknya dengan orang itu semakin dekat. "Dustin?"


Secara refleks Violet membanting stir hinga mobilnya berputar dengan suara decitan kerasa. Hingga akhirnya body mobil itu membentur pembatas jalan.


Brak!


"Argh... sialan!" Umpatnya seraya memukul setir saat melihat Paul berhasil memenangkan pertandingan.


Namun, detik berikutnya ia kembali mengingat Dustin. "Dustin, apa dia baik-baik saja?" Dengan tergesa Violet turun dari mobil. Terlihat Dustin masih berdiri di sana. Violet berlari kecil. "Apa kau gila?"


Dustin menatap Violet penuh arti di bawah gelapnya malam.


"Kenapa kau lakukan ini huh?" Seru Violet mendorong lelaki itu dengan kasar sampai Dustin terdorong ke belakang. "Aku hampir menang, dan kau... arghh... kenapa kau lakukan ini?"


Dustin langsung menahan kedua tangan Violet yang hendak memukulnya. Ditariknya gadis itu untuk mengikis jarak di antara mereka. "Kau harus kalah, Vi."


"Apa?"


Dustin menyatukan dahi mereka. Meski Violet masih berusaha melepaskan diri. Sampai ia mulai tenang. "Kau harus kalah. Berkencanlah dengannya, buka hatimu. Dan lupakan aku, Vi. Aku tidak bisa melakukan hal bodoh seperti Lucas."


"Dustin?" Lirih Violet.


"Aku mencintaimu, Vi."


Violet terkejut mendengar pengakuan sepupunya itu.


Apa? Dia mencintaiku?

__ADS_1


"Tapi kita tidak bisa bersama. Lupakan aku, karena itu juga yang akan aku lakukan. Jalani hidupmu dengan baik. Aku sudah menyelidikinya, Paul lelaki baik. Dia mencintaimu, Vi." Imbuh Dustin.


Mata Violet berkabut. "Dustin... aku...."


"Sssttt... dengarkan aku, Vi. Bahagiakan dirimu. Tolong lupakan aku. Selamat tinggal, Vi. Mungkin aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi. Jangan datang saat hari pertunanganku. Itu permintaan terakirku."


Violet meremat pakaian Dustin. "Kenapa? Kenapa kau tidak melakukan hal yang sama seperti Lucas, Dustin?"


Dustin tersenyum. "Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai Grandma. Aku sangat menghormatinya. Jika kita melakukan hal yang sama. Bayangkan bagaimana perasaannya Vi?"


Violet menunduk, seketika air matanya luruh. "Kau menyakitiku, Dustin."


"Aku lebih sakit. Tapi Grandma akan lebih sakit jika kita mengikuti jejak Lucas. Jadi kita pilih jalan masing-masing ya? Aku percaya Paul akan membahagiakanmu." Dustin menarik dagu Violet. Lalu m*l*m*t bibir sepupunya itu dengan lembut dan singkat. "Selamat tinggal. Jangan temui aku lagi."


Dustin mendorong Violet agar menjauh, kemudian ia menghilang di balik gelapnya malam.


"Dustin." Lirih Violet menyentuh dadanya yang terasa sesak. Air matanya meluncur dengan deras. "Tidak, kau tidak boleh pergi." Violet hendak mengejar Dustin. Namun Paul lebih dulu menarik tangannya. Dan memeluk gadis itu.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Paul panik.


Seketika tangisan Violet pecah dalam dekapan Paul. Tentu saja lelaki itu bingung, ia tak melihat Dustin sebelumnya karena tempat itu gelap. "Hey, kau kenapa? Kau marah karena kalah huh?"


Bukannya menjawab, tangisan Violet justru semakin kencang.


"Vi, aku akan mengalah. Blacky cedera, aku akan memperbaikinya sebelum memberikannya padamu."


Paul terdiam karena masih bingung.


"Paul, kau mendengarkan aku kan?"


"Ah, baiklah, aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak, bawa aku pulang bersamamu."


Paul terkejut. "Kau ingin pulang bersamaku?"


"Apa aku harus mengulangnya, Paul? Cepat bawa aku pergi."


"Baiklah, ayo." Tanpa menunggu lagi Paul langsung membawa Violet masuk ke dalam mobil. Lalu meninggalkan tempat itu.


Di bawah gelapnya malam, Dustin menyapu jejak air matanya. "Semoga kau bahagia, Vi."


Dustin menghubungi seseorang. "Kita pergi sekarang." Setelah mengatakan itu ia pun beranjak pergi dari sana.


****

__ADS_1


Sesampainya di apartemennya, lelaki itu meminta Violet duduk di sofa. Dengan patuh gadis itu duduk di sana. "Aku ambilkan minum untukmu."


Violet menahan tangan Paul. "Tidak perlu, Paul. Tetaplah di sini."


Paul pun mengangguk dan ikut duduk. Ditatapnya wajah sembab Violet lamat-lamat. "Kau marah padaku?"


Violet menggeleng. "Aku hanya kaget tadi."


Paul bernapas lega. "Bagaiman bisa kau oleng seperti itu huh?"


"Tadi ada kucing, spontan aku membanting stir karena kaget. Makanya aku tadi ke sana untuk memastikan. Aku menangis karena sangat kaget." Alibinya.


Paul tertawa kecil. "Aku baru tahu kau cengeng, hanya perihal kaget kau menangis. Menggemaskan sekali."


Violet terdiam. Pikirannya masih tertuju untuk Dustin. Bahkan lelaki itu memberikan ciuman perpisahan yang begitu manis. Yang akan sulit dilupakan oleh Violet pastinya.


"Lihat, kau melamun lagi. Apa yang kau pikirkan huh? Apa memikirkan Blacky?" Paul menoel hidung mancung Violet gemas.


Violet menoleh, lalu tersenyum. "Apa kau marah aku melukai Blacky?"


"Tidak, aku akan marah jika kau melukai hatiku, Vi."


Vilolet terkejut. Seketika ia kembali mengingat perkataan Dustin. Paul tertawa lagi, membuat Violet kaget.


"Aku hanya bercanda, sayang. Jangan dianggap serius. Aku lebih khawatir kau terluka ketimbang hal lainnya." Ucap Paul serius.


Violet menatap Paul lamat-lamat. Lelaki itu memang sangat tampan jika dilihat dari sisi mana pun. Alis tebal, mata abu dengan bulu mata lentik, hidung mancung, bibir seksi dipadukan dengan rahangnya yang tegas. Sama sekali tidak ada kecacatan di sana. Hanya saja hal itu tidak mampu meluluhkan hati Violet. Karena hatinya itu sudah dimiliki oleh Dustin. Si lelaki penyanyang dan penuh karisma yang sudah membuatnya jatuh cinta. Meski itu adalah cinta terlarang.


Sayangnya lelaki itu justru mematahkan harapannya. Bahkan mendorong dirinya pada lelaki lain di saat perasaanya tengah menggebu.


Ini yang kau inginkan bukan,? Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu, Dustin. Kau ingin aku berkorban bukan? Aku akan melakukan itu, Dustin. Sama seperti yang akan kau lakukan. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi. Selamanya.


Violet memejamkan matanya sejenak. Kemudian ditatapnya lagi Paul dengan seksama. "Apa kau benar-benar mencintaiku, Paul?"


Paul terkejut mendapat pertanyaan tak terduga itu. "Ya, tentu saja aku mencintaimu. Sejak pertama melihatmu, aku sudah jatuh hati."


"Kalau begitu, ayo menikah."


Lagi-lagi Paul terkejut. "Vi, kau serius?"


Violet mengangguk serius. "Datanglah ke rumahku, katakan pada Daddy jika kau ingin menikahi aku."


"Tentu saja, sayang." Paul tersenyum senang.


Violet ikut tersenyum, dan tanpa aba-aba ia langsung mencium bibir Paul sekilas. "Aku ingin bercinta denganmu, Paul."

__ADS_1


"Vi?" Kaget Paul.


Tbc....


__ADS_2