
Munich International Airport
Suara announcement berhasil memecah pendengaran sepasang suami istri yang baru keluar dari dalam peswat. Masing-masing dari mereka mendorong sebuah stroller bayi. Dua bayi kembar itu terlihat menggemaskan saat mulutnya tak berhenti bergerak untuk mengemut pacifier yang menempel dimulut kecil mereka. Lorenzo Aksara Pramana dan Laurenzi Ankara Pramana, itu nama bayi mungil dari pasangan Mala dan Bian. Ya, tiga bulan yang lalu Mala berhasil melahirkan dua bayi laki-laki berwajah tampan.
"Mala, Kak Bian." Panggil Sweet saat melihat pasangan itu baru saja keluar dari pintu exit. Sweet mempercepat langkahnya karena tak sabar untuk melihat dua bayi kembar itu. Alex yang melihat tingkah istrinya itu cuma bisa menggeleng.
"Lihat, Mommymu terlihat seperti anak kecil." Adu Alex pada putri kecilnya yang tertidur dalam stroller. Saat ini Xella sudah berusia enam bulan. Gadis kecil itu tumbuh menjadi bayi gemuk dan begitu menggemaskan.
"Owh... mereka terlihat sangat menggemaskan. Jauh berbeda saat melihatnya di layar ponsel. Kenapa mereka hanya mirip kamu, Mala? Biasanya anak-anak akan lebih mirip dengan Ayahnya. Seperti Trio kurcaci dan sikecil Xella yang begitu mirip dengan Daddynya." Oceh Sweet mengambil Lorenzo ke dalam gendongannya. Bayi itu menggeliat dan terbangun dari tidurnya.
"Jika mereka mirip dengan Ayahnya itu tidak adil, Mom. Tujuh bulan lamanya Bian mengalami morning sickness dan ngidam yang luar biasa. Jadi wajar kalau mereka lebih mirip denganku." Jawab Mala dengan pandangan tertuju pada sang suami. Bian memilih diam dan hanya tersenyum.
Sejak si kembar lahir. Bian memutuskan untuk meninggalkan kursi rodanya. Tantu saja saat itu semua orang terkjut sekaligus senang saat tahu Bian sudah bisa berjalan.
Mala pun mengalihkan pandanganya untuk Ayah tercinta. Lelaki itu masih terlihat tampan meski sudah lama Mala tak pulang ke Jerman.
"Ayah." Sapa Mala berhambur dalam pelukan Ayah angkatnya. Ia sangat merindukan lelaki itu.
"Apa kabarmu, Sayang? Ayah rasa kamu bahagia karena terlihat gemukan." Gurau Alex.
"Ayah! Aku tidak gemuk sama sekali." Rengek Mala merasa kesal jika ada yang mengatainya gendut. Padahal berat badannya hanya naik lima kilo setelah melahirkan. Tapi semua orang menganggapnya gemuk. Alex yang mendengar itu tertawa renyah.
Lalu pandangan Mala pun tertuju untuk bayi gemuk yang masih tertidur pulas. Ia sedikit membungkuk. "Lihat bayi gemuk yang satu ini, kerjanya cuma tidur. Sejak lama aku ingin menggendongnya." Mala mengangkat Xella dalam gendongannya. Bayi gemuk itu menggeliat dan mulai menangis karena tidurnya terganggu.
"Owh... ternyata dia cengeng ya? Cuma diganggu tidurnya aja langsung nangis. Huhu... maafkan Kakak, Sayang." Mala mengusap rambut pirang Xella.
"Tunggu! Kenapa rambutnya semakin pirang sih? Dia terlihat seperti bule sungguhan. Mom, aku rasa kali ini dirimu tak mendapat jatah sedikit pun."
Sweet yang mendengar itu tertawa renyah. "Kamu benar, aku merasa dirugikan tahu. Selama tujuh bulan aku mengandungnya, mual setiap pagi siang dan malam, merasakan kram dan sakit yang luar biasa selama berjam-jam. Dan saat dia lahir, wajah Daddynya yang dia bawa." Omel Sweet melirik suaminya.
"Hentikan ocehan kalian. Kita harus pulang, kasihan si kembar terus berada di luar." Ajak Alex.
"Benar, tidak baik anak-anak berada di sini terlalu lama." Timpal Bian menatap Laurenzi yang masih terlelap.
"Ayok, Nenek juga sudah menunggu kalian di Mansion." Ujar Sweet masih setia menggendong Laurenzo. Kemudian mereka pun beranjak menuju mansion.
Sesampainya di Mansion. Semua orang meyambut hangat kedatangan Mala dan Bian. Terutama dua kurcaci Alex yang kini tengah menimbrung dua bayi mungil yang berada dalam gendongan Nyonya Sasmitha.
"Alhamdulillah, akhirnya Nenek masih bisa melihat anak-anakmu, Bian." Ucap Nyonya Sasmitha meneteskan air mata bahagianya. Bian tersenyum dan duduk di sebelah sang Nenek. Merangkul sang Nenek dengan penuh kasih sayang.
"Bian juga senang, Nek. Bisa berkumpul seperti ini. Akhirnya kita memiliki keluarga utuh. Ana dan Bian sudah mendapatkan kehidupan masing-masing." Ujar Bian mengecup pucuk kepala Neneknya. Nyonya Sasmitha mengangguk pelan. Mengecupi dua cicit mungilnya dengan gemas.
"Mereka mirip, Mala. Kamunya gak ada, Bian."
"Tidak jadi masalah, Nek. Yang penting mereka sehat."
"Papa, dedek bayinya boleh tinggal di sini kan? Lexa mau gendong tiap hari. Dek Xella berat, jadi Lexa gak bisa gendong." Rengek Alexa duduk dipangkuan Bian. Lalu menoel hidung mancung Laurenzi. Bayi mungil itu masih tertidur.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar itu tertawa renyah. "Tidak boleh, dong. Dek Enzo dan Enzi harus ikut Papa pulang ke Surabaya. Lexa kan sudah punya Dek Xella."
"Kenapa Papa Bian dan Mama Mala tidak tinggal di sini lagi sih? Lexa kan rindu. Papa juga gak pernah lagi ajak Lexa main. Lexa kan sedih." Bian tersenyum geli mendengar curhatan hati gadis kecil itu.
"Papa minta maaf, Sayang. Papa harus kerja buat beli susu Dek Enzo dan Enzi. Mungkin saat kalian besar nanti, Lexa boleh main ke sana kapan aja kok."
"Hm... kalau gak ada susu, Dek Enzo sama Enzinya nangis ya, Pa?" Tanya Lexa menatap dua bayi kembar itu.
"Iya. Makanya Papa harus kerja."
"Lexa gak mau Dedeknya nangis." Lagi-lagi Bian tersenyum mendengar ocehan gadis cantik itu.
"Papa, Papa... kalau dedek bayinya besar nanti. Arel mau ajak mereka main bola sama balapan mobil. Arel punya banyak mainan di kamar." Kali ini Arel ikut menimpali. Tangan mungilnya terus bergerak untuk menoel pipi Cubby Baby Twins.
"Boleh, Sayang. Kalian bisa bermain bersama nanti. Makanya cepat besar."
"Yey, Arel punya banyak temen. Dek Xella juga mau Arel ajak main balapan. Supaya tidak gemuk lagi." Oceh Arel yang disambut tawa oleh semua orang.
"Mom, Dad, aku ke kamar dulu." Pamit Arez yang langsung beranjak ke kamarnya. Dan hal itu berhasil membuat semua orang terdiam.
"Aku rasa putra kalian yang satu itu introvert, dia tak suka keramaian." Ujar Bian menatap Sweet dan Alex bergantian.
"Entahlah, dia ikut jejak Mommynya." Sahut Alex melirik Sweet sekilas.
"Tentu saja, dia putraku." Balas Sweet dengan santai.
"Aku sendiri tak tahu, sudah pasti mansion ini dipenuhi ocehan mereka setiap harinya." Sahut Alex tersenyum lebar. Lalu menghadiahi kecupan pada putri kecilnya yang sudah terbangun. Dan sedetik kemudian bayi gembul itu menangis. Semua orang tertawa renyah melihatnya.
"Aku harus memberinya Asi, sebaiknya kalian juga istirahat. Kasihan anak-anak, perjalanan jauh pasti membuat mereka lelah." Kata Sweet menggendong Xella dan membawanya ke kamar. Dua kurcaci itu pun mengekor dibelakangnya.
"Benar, Bian, Mala. Bawa anak-anak ke kamar. Biarkan mereka tidur dengan bebas di ranjang." Imbuh Nyonya Sasmitha memberikan si kembar pada orang tuanya.
"Ayok, Sayang." Ajak Bian membawa Baby Laurenzi ke kemar lama istrinya.
"Nek, kami ke kamar dulu." Pamit Mala.
"Iya, Sayang. Istirahat dengan baik. Nenek juga harus istirahat." Sahut Nyonya Sasmitha bangun dari posisinya dibantu oleh Alex.
***
Susana Mansion terlihat riuh oleh para tamu undangan. Karena hari ini adalah hari ulang tahun putri bungsu Alexander Digantara. Alexella Stephanie Digantara, kini usianya genap delapan belas tahun.
Kue berukuran besar dan mewah kini terpajang di tengah-tengah kerumunan para tamu undangan.
"Mom, ini terlalu berlebihan." Protes Xella saat Sweet meletakkan sebuah mahkota indah di kepala putrinya. Saat ini mereka masih berada di kamar mewah milik Alexella.
Alexella, gadis cantik itu tumbuh degan cepat menjadi seorang gadis berperawakan dingin. Jauh lebih dingin dibanding Arez atau pun Mommynya dulu. Gadis itu sangat irit bicara jika bukan karena hal mendesak. Jika dulu kalian berpikir sikap Alexella sangat mirip dengan Alexa, sebaiknya kalian segera hapus pikiran itu. Karena Alexella dan Alexa merupakan gadis yang memiliki sifat yang berbanding terbalik. Alexa tumbuh dewasa dan terkenal dengan sifat manja, cerewet dan humble. Sedangkan Alexella terkenal dengan sifat jutek dan arogant.
__ADS_1
"Lihat, putri Mommy sangat cantik. Apa lagi kalau kamu tersenyum, Honey." Kata Sweet sembari memperhatikan penampilan putrinya dibalik cermin. Gadis kecilnya itu memang terlihat menawan dengan balutan gaun berwarna gading. Kulitnya yang putih bersih dengan wajah bersemu merah alami semakin menyembul dari balik gaun itu.
"Omg, ini sudah jam berapa? Kenapa kalian masih di sini sih? Semua tamu sudah hadir, ayok turun." Seru Alexa memasuki kamar adiknya. Gadis itu berjalan pasti menghampiri sang adik. Memperhatikan penampilan adiknya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Apa aku salah lihat? Seorang Xella yang biasanya hanya mengenakan pakaian kasual kini berubah menjadi biadari cantik. Oh... kau sangat cantik, Dek."
"Stop it, Kak!" Kesal Xella bangun dari poisisnya.
"Lexa, berhenti menggoda adikmu. Bisa-bisa acara ini gagal." Protes Sweet.
"Mom, Lexa bicara apa adanya." Alexa mengacak pinggang sambil melirik adiknya yang kini tengah memakai hills.
"Kenapa sangat ribut?" Suara barithon milik Alex pun menggema di setiap penjuru kamar putrinya. Ketiga wanita cantik itu menoleh bersamaan.
Alex berdiri dengan gagah di depan pintu kamar putrinya. Pandanganya juga langsung tertuju untuk putri bungsunya yang terlihat menawan. Alex melangkah pasti mendekati Alexella. Gadis itu pun bangun dari posisinya. Menatap wajah sang Daddy yang sudah dipenuhi keriput.
"Happy birth day, My lovely. Daddy harap kamu selalu bahagia. Maaf jika Daddy belum bisa memberikan sesuatu yang berharga untukmu. Tapi kasih sayang Daddy tak akan pernah pudar sampai akhir masa." Ujar Alex menghadiahi kecupan mesra di kening putrinya.
"Thank you, Dad." Balas Alexella memeluk sang Daddy.
"Owh... so sweet. Tapi waktu kita sudah habis. Ikut denganku adik kecil." Ajak Alexa menarik adiknya dari dekapan Alex.
"Lexa, kau menganggu kebahagiaanku." Protes Alex.
"Aku mencintaimu, Dad." Teriak Alexa yang langsung membawa adiknya keluar. Sweet tertawa renyah dan menghampiri suaminya.
"Mereka sudah dewasa, Mas. Dan kita terus bertambah tua. Aku harap kita masih bisa melihat mereka naik sampai pelaminan."
"Kau benar, Sayang. Apa lagi suamimu ini yang sudah sangat tua renta. Entah kapan Tuhan akan memanggilku, menyusul Nenekmu ke surga."
Ya, dua tahun yang lalu. Nyonya Sasmitha sudah berpulang kerahmatullah karena serangan jantung.
"Mas, jangan bicara begitu. Aku yakin kita masih bisa melihat mereka bahagia. Kamu juga masih harus mendisiplinkan Arel yang gemar bermain wanita. Aku rasa dia mulai tertular virus playboy Jarvis. Dan putramu yang satu lagi itu, bahkan dia tidak pernah melirik wanita sedikit pun. Kenapa aku bisa mempunyai anak-anak dengan berbeda karakter. Membuat kepalaku pusing." Keluh Sweet ketika membayangkan betapa rumitnya kehidupan anak-anak mereka.
"Tapi kita masih punya Alexa yang salalu mencairkan suasana. Kita harus bersyukur karena mereka begitu menyayangi satu sama lain. Sebaiknya kita juga turun. Aku dengar Mala dan Bian sudah sampai. Milan juga hadir kali ini."
"Benarkah? Apa di kembar juga ikut?" Tanya Sweet begitu antusias.
"Tentu saja, dua pangeran tampan itu hadir. Mereka akan ikut kemana pun orang tuanya." Kata Alex membawa istrinya keluar dari kamar itu. Sweet tertawa renyah saat mendengar perkataan Alex. Ia juga sudah tidak sabar untuk melihat Baby twins yang kini sudah berubah menjadi dua laki-laki tampan.
...\~end\~...
Hay hay hay sobat readerku.... akhirnya kita sampai dipenghujung cerita antara Sweet dan Alex. Thank you karena kalian terus dukung aku sampai tahap ini.
Jadi kita sudahi dulu ya cerita Alex dan Sweetnya. Selanjutnya aku bakal lanjut cerita Alexella si gadis dingin. Pada setuju gak sih kalau aku lanjut Season 2?
Kira-kira siapa ya yang bisa cairin hati si cantik Xella? Ada yang tahu gak nih? Yuk ramein kolom komentar 😊
__ADS_1