
Eveline mendatangi kamar sang Grandma dengan perasaan cemas. Ia takut wanita kesayangannya itu benar-benar melupakannya.
"Grandma." Sapa Eveline saat melihat sang Nenek tengah membaca buku di atas pembaringan. Sweet menoleh sekilas.
"Hm?"
Eveline tersenyum, lalu menghampiri dan duduk di sebelah beliau. "Boleh aku menemanimu?"
Sweet tidak langsung menjawab.
"Aku merindukanmu," ucap Eveline bermanja pada Sweet. "Jangan marah lagi padaku."
Sweet masih diam dan fokus membaca buku.
"Jadi Grandma tidak merindukanku?" Eveline terus memulai pembicaraan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas untuk mengambil hati sang Grandmanya itu. "Tiga hari lagi aku akan ikut Lucas. Mungkin akan lama di sana."
Sweet yang mendengar itu langsung menahan aktifitasnya.
"Aku minta maaf sudah membuatmu kecewa, tapi jangan pernah ragukan rasa cintaku padamu, Grandma. Aku sangat mencintaimu." Ucap Eveline dengan tulus. Dikecupnya pipi Sweet dengan mesra.
Sweet menghela napas kasar. "Di mana lelaki brengsek itu?"
Eveline tersenyum saat mendengar suara Sweet. "Dia tidak berani menemuimu." Bisiknya.
"Benar-benar pengecut."
Eveline tertawa kecil. "Meski begitu dia tetap cucumu, Grandma."
"Ck, panggil dia kemari. Apa dia akan meninggalkan aku tanpa meminta maaf dan pamitan?" Kesal Sweet.
"Aku akan memanggilnya, tunggu sebentar."
"Kalian membuatku gila, benar-benar gila." Omel Sweet. Eveline yang mendengar itu justru tersenyum. Lalu bangkit dan memanggil suaminya yang sejak tadi sudah menunggu di depan pintu kamar. "Masuklah, Grandma ingin bertemu denganmu."
Lucas mengangguk. Lalu mereka pun masuk.
Sweet menatap Lucas tajam. "Siapa yang mengizinkanmu membawa cucuku pergi huh?" Semburnya seraya melempar Lucas dengan bantal.
Lucas tidak menghindar, membiarkan bantal itu mengenainya. Setelah itu ia pun duduk di samping sang Grandma, lalu memeluknya erat. "I miss you, sweetheart."
Sweet memukul dada Lucas dengan keras. "Keterlaluan, anak durhaka."
"Aku tahu." Lucas mengecup kening Sweet dengan lembut. "Aku pantas mendapat kutukan darimu, Grandma."
Sweet menangis sesegukkan. Eveline yang melihat itu pun ikut menangis, lalu duduk memeluk sang Nenek.
"Aku harus membawanya, dia istriku sekarang." Kata Lucas.
"Dia cucuku, kau tidak bisa membawanya begitu saja." Protes Sweet. Lucas tersenyum simpul.
"Aku tidak bisa hidup tanpanya, Grandma."
Sweet terdiam.
"Izinkan aku bersamanya, aku membutuhkannya." Pinta Lucas dengan lembut. "Kami sama-sama membutuhkan."
"Lalu bagaimana denganku? Tidak bisakah kalian di sini dalam waktu yang lama?" Pinta Sweet meremat baju Lucas.
"Sudah lama aku meninggalkan perusahaan, semuanya akan kacau jika aku terus di sini."
__ADS_1
Ketiganya terdiam untuk beberapa saat.
"Kami akan rutin menjengukmu," imbuh Lucas kembali memberikan kecupan di pucuk kepala Sweet. "Kami menyayangimu, sungguh."
Sweet mengangguk. "Jangan harap aku akan memaafkan kalian jika tidak kembali secepatnya."
Lucas tertawa kecil. "Aku rasa dirimu yang akan datang ke sana. Menghadiri acara pertunangan Dustin dan Sheena."
Sweet tersenyum, mendekap Lucas dengan erat. "Titipkan salamku pada Alexa dan Winter. Bahkan mereka tidak berpamitan padaku."
"Mommy takut kau marah, karena itu mereka membiarkanmu tenang dulu." Jelas Lucas.
"Hm, itu memang salahku."
"Em... begini saja, Luc. Kita masih ada waktu tiga hari di sini. Bagaimana jika kita bawa Grandma jalan-jalan?" Saran Eveline menatap keduanya dengan semangat.
"Bagaimana? Apa Anda setuju Tuan putri?" Tanya Lucas pada sang Grandma.
"Ke mana kalian akan membawaku? Aku ini sudah tua, yang ada hanya merepotkan kalian saja." Jawab Sweet.
"Merepotkan apanya? Justru kami senang direpotkan. Kapan lagi kita bisa menghabiskan waktu bersama?" Kata Lucas memeluk sang Nenek dengan mesra.
Sweet tertawa kecil. "Kalau begitu terserah kalian mau membawa Grandma yang tua ini kemana. Grandma akan ikut."
"Bagaimana jika ke salon?" Tawar Eveline. "Sudah lama aku juga tidak memanjakan diri."
"Ck, setiap saat aku selalu memanjakanmu, sayang."
"Ish... kau ini." Eveline memukul lengan Lucas karena kesal. Sedangkan Sweet justru tertawa melihat keduanya.
"Terkadang, aku tidak pernah berpikir bagaimana kalian bisa jatuh cinta?" Sweet menarik diri dari Lucas. Lalu menatap keduanya bergantian.
"Ck, mentang-mentang pengantin baru, kalian begitu kompak." Kesal Sweet yang berhasil membuat Lucas dan Eveline kembali tertawa. Dan mereka pun melanjutkan perbincangan yang sesekali diselingi candaan kecil.
****
Di rooftop mansion keluarga besar Winston, Sheena terus memandangi Dustin dari kejauhan. Sudah beberapa hari lelaki pujaannya itu terlihat diam dan lebih senang menyendiri.
"Sebenarnya apa yang selama ini kau sembunyukan? Ada apa denganmu, Dustin? Sejak pesta itu kau bertingkah aneh," gumam Sheena sembari terus memandangi kekasihnya itu. Sedangkan yang dipandang terlihat masih bergeming ditempatnya, sambil sesekali menengadahkan kepala.
Karena tidak ingin menyimpan perasaanya sendirian, Sheena pun mendatangi Dustin.
"Baby." Sapanya yang berhasil membuat Dustin terperanjat kaget.
"Ah, kau belum tidur?" Tanya Dustin tersenyum begitu manis. Sheena pun ikut tersenyum, lalu duduk di sebelahnya. Ditatapnya wajah tampan itu dengan seksama, begitu pun sebaliknya.
"Kau sedang ada masalah?" Tanya Sheena seraya mengusap rahang Dustin.
Lelaki itu kembali mengembangkan senyuman. "Tidak ada, aku hanya bosan saja."
Sheena terdiam sejenak. "Kau berbohong, katakan ada apa? Sejak lama aku merasa kau menyembunyikan sesuatu, Dustin."
Dustin menatap Sheena begitu dalam. "Apa kau akan tetap disisiku jika tahu semua kebenarannya?"
Sheena mengangkat sebelah alisnya. "Soal apa, Dustin? Jangan membuatku takut."
Dustin menggenggam tangan Sheena erat. "Berjanjilah, kau akan terus menggenggamku setelah aku mengatakan kejujuran."
Sheena terdiam sejenak, setelah itu ia pun mengangguk. "Katakan, aku akan mendengarkan apa pun itu. Asal kau jujur padaku, Dustin."
__ADS_1
Dustin menarik napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. Sheena yang penasaran pun memasang wajah tegang.
"Aku ingin menikahimu secepatnya." Dustin tersenyum lebar.
Seketika wajah Sheena pun berubah kaget. Dustin tertawa kencang.
"Dustin! Kau mengerjaiku?" Kesal Sheena seraya memukul lengan Dustin. Sedangkan si empu semakin tergelak.
"Kau jahat, Dustin." Sheena memajukan bibirnya beberapa senti.
Cup!
Dustin mengecup bibir Sheena gemas, hingga pandangan mereka pun bertemu. "Kau selalu membuatku gemas, sayang."
Sheena tersenyum. "Lalu apa yang membuatmu terus termenung sepanjang hari huh?"
Dustin diam sejenak. "Aku memikirkan Violet."
"Violet? Sepupumu itu ya?" Tanya Sheena gugup. Sejak awal ia menaruh curiga soal hubungan Dustin dan sepupunya itu.
Dustin mengangguk. "Sebelum menikah, biarkan aku jujur padamu."
"Ya?" Sheena memberikan tatapan serius.
"Aku dan Violet saling mencintai."
Deg!
Bagaikan ribuah panah menghunus jantungnya.
"Dengarkan dulu, kau tidak boleh salah paham," imbuh Dustin menggenggam tangan Sheena. "Aku dan Violet sudah memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing."
Sheena menelan saliva dengan susah payah. "Dan aku sebagai pelarianmu? Saat itu... kau datang dengan kondisi berantakan. Lalu mengajakku berpacaran, apa karena hal ini?"
Dustin menatap Sheena lekat. "Ya, awalnya seperti itu."
"Kau jahat, Dustin." Sheena menarik tangannya dari genggaman Dustin.
"Aku minta maaf, kau harus mendengarkan aku dulu, sayang."
"Aku kecewa, Dustin."
"Kau sudah berjanji akan selalu disisiku." Tegas Dustin.
"Aku tidak bisa disisimu, kau mencintai wanita lain, Dustin. Pantas aku tidak pernah mendengar kata-kata cinta darimu. Ternyata aku yang bodoh," kesal Sheena. "Aku tahu... aku bukan wanita sempurna, aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Tapi kenapa kau perlakukan aku seperti ini, Dustin? Kenapa? Apa salahku padamu?"
"Sheena...."
"Biarkan aku menyendiri, Dustin." Sheena pun beranjak dari sana.
"Sheena!" Teriak Dustin. Namun, gadis itu terus berlari meninggalkannya. Dustin mengusap wajahnya dengan kasar. "Argh! Sialan! Ini yang aku takutkan jika berkata jujur. Maafkan aku, Sheena. Aku tidak pernah berbohong ingin hidup bersamamu, katakan saja aku ini egois. Aku mencintaimu, juga dirinya."
Dustin tidak berniat menemui kekasihnya itu untuk saat ini. Karena dirinya juga butuh waktu untuk berpikir jernih. Bayangan Violet bermesraan dengan Paul terus menghantuinya sepanjang waktu. Itu yang membuatnya seperti ini.
"Maafkan aku, Vi. Setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Itu janjiku."
Tbc....
Maaf ya guys Author baru update lagi, mohon doanya untuk kesembuhan Mamak othor yang sedang sakit ya? Maaf udah buat kalian menunggu lama. Author sayang kalian semua.
__ADS_1