
Suara alunan musik romansa terdengar begitu merdu di mansion mewah milik keluarga Digantara. Hari ini merupakan hari istimewa salah satu putri Digantara, yaitu hari pertunangan Alexa dan Winter.
Di atas panggung, pemuda berwajah tampan berjas hitam menyanyikan bait demi bait lirik lagu berjudul Marry Your Daughter__Brian McKnight. Pemuda itu adalah Winter. Suaranya yang merdu berhasil menyentuh hati semua orang. Terutama Alexa yang saat ini berada dalam rengkuhan sang Daddy. Gadis itu mulai menitikan air mata harunya.
Sir, I'm a bit nervous
'Bout being here today
Still not real sure of what I'm going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time
But you see, in this box is a ring for your oldest
She's my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
'Cause very soon I'm hoping that I
Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'til the day that I die, yeah....
I'm gonna marry your princess
And make her my queen
She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
I can't wait to smile
As she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter
"Kau sangat beruntung, My Princess. Winter sangat romantis dan penuh cinta. Daddy harap dia bisa membahagiakanmu. Seperti isi lagu yang dia bawakan." Bisik Alex mengecup pucuk kepala putrinya.
"Thank you, Dad. Aku juga sangat mencintainya." Sahut Alexa seraya mengelus cincin yang melingkar di jari manisnya. Bukti cinta Winter padanya.
"Hm."
Tatapan Winter terus tertuju pada sang kekasih, tatapan penuh cinta dan kasih. Perlahan lelaki itu turun dari atas sana dan mendekati gadis pujaan hatinya.
"She's been hear every step since the day that we met." Winter berdiri tepat di depan Alexa dan Alex, menatap lelaki yang akan menjadi Ayah mertuanya. "So don't you ever worry about me ever treating her bad."*
__ADS_1
Alex tersenyum dan mengangguk tanda setuju. Memberikan tangan putrinya pada Winter.
"We've got most of our vows done so far... And 'til death do us part. There's no doubt in my mind. It's time. I'm ready to start. I swear to you with all of my heart."
Winter menyanyikan lagu itu begitu tulus sehingga mampu menyentuh hati Alex. Kemudian sepasang kekasih itu naik ke atas panggung. Dan mendapat tepuk tangan dari semua orang yang menyaksikan kemesraan mereka. Winter tak melepaskan genggaman tangannya sampai lagu itu usai. Malam ini ia menyalurkan segenap perasaanya pada keluarga besar Digantara. Bahwa dirinya benar-benar ingin putri tertua mereka menjadi bagian hidupnya.
"I love you so much." Ucap Winter mengecup kening Alexa begitu dalam.
"Love you to." Balas Alexa dengan suara yang tenggelama dalam kebahagiaan yang mendalam.
"Dalam hitungan minggu, kau akan menjadi milikku seorang, Lexa. Aku tak akan membiarkan orang lain melirikmu walau hanya sehelai rambut pun."
"Ck, jadi kau akan mengurungku huh?"
Winter tersenyum. "Tidak, karena aku tak akan membiarkan istriku bosan selama berada disisiku. Kau akan ikut kemana pun aku pergi."
"Aku juga tidak akan sanggup berjauhan denganmu, kecuali kau berbuat ulah." Alexa memanyunkan bibirnya. Membuat Winter sangat gemas dan ingin menciumnya. Namun ia sangat menghargai calon Ibu mertuanya.
"Bersabarlah, hanya beberapa minggu lagi kau bebas menyentuhku," bisik Alexa yang memahami arti tatapan kekasihnya.
"Rasanya aku ingin menikahimu malam ini juga, Baby. Dan aku akan langsung melahapmu." Geram Winter menoel hidung mungil Alexa. Sedangkan sang empu malah terkekeh lucu.
Berbeda dengan pasangan Alexa dan Winter yang terlihat mesra. Lain halnya dengan sepasang kekasih yang tengah berdebat di penjuru ruangan. Siapa lagi kalau bukan si tampan Jarvis dan si cantik Alexella.
"Aku sama sekali tak berniat menjadikanmu bahan taruhan, Sayang. Lagian aku yang memenangkan balapan itu. Sudah aku katakan, aku tak akan membiarkan siapa pun menyentuh permataku." Ujar Jarvis mencoba membujuk Alexella yang masih marah pasal balapan beberapa minggu yang lalu. Dan setelah balapan itu juga Alexella tak pernah mau menemui Jarvis.
"Itu sama saja, Jarvis. Sudah aku katakan jangan dekati aku." Kesal Alexella.
"Jangan sentuh aku, brengsek!" Sinis Alexella saat Jarvis hendak meraih tangannya.
"Owh, okay. Aku tak akan menyentuhmu." Sahut Jarvis menjauhkan tangannya dari sang gadis.
Hah, bersabarlah Jarvis. Kau harus terbiasa dengan sikap kerasnya. Pikir Jarvis masih setia memperhatikan wajah Alexella yang sejak tadi di tekuk. Gadis itu benar-benar cantik dengan dress hitam yang membalut tubuh rampingnya. Rambutnya yang tergelung rapi menambah keanggunan dalam dirinya. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus.
Jika dibandingkan dengan Alexa, Alexella memang memiliki tubuh yang semampai dan ramping. Sedangkan Alexa mewarisi perawakan sang Mommy yang mungil dan imut. Keduanya sama-sama cantik dan mempesona. Meski sifat keduanya sangat jauh berbeda. Alexa jauh lebih ramah dan cerewet, sedangkan Alexella sebaliknya.
"Baby, kau tak ingin seperti Kakakmu huh? Mereka pasangan yang romantis. Apa kau juga mau aku membawakan sebuah lagu dihari pertunangan kita?" Tanya Jarvis mencoba untuk menarik perhatian gadis itu.
"Tidak, terima kasih."
"Owh, atau mungkin kau ingin aku memainkan piano?"
"Aku tak butuh semuanya." Ketus Alexella tanpa berniat melihat lawan bicaranya. Pandangannya masih terfokus pada pasangan kekasih di atas panggung.
Jarvis terdiam sejenak, bingung harus membujuknya pakai cara apa lagi. "Ah, minggu depan akan ada jamuan penting di mansionku. Kau mau tidak jadi pasanganku?"
Alexella menoleh sekilas. "Tidak," sahutnya dengan malas.
"Ck, aku akan menjemputmu nanti. Aku akan meminta izin pada Uncle untuk membawamu. Aku rasa Uncle tak akan keberatan."
"Dan aku keberatan."
"Apa kau cemburu sebab hari itu seorang wanita menciumku lagi huh? Karena itu kau marah padaku?" Tanya Jarvis tersenyum penuh makna. Memang benar saat itu ada seorang wanita yang mencium Jarvis di depan semua orang yang hadir saat pertandingan.
__ADS_1
"Aku tak pernah peduli dengan kehidupan bebasmu, Jarvis. Sekali pun kau tidur dengan mereka di depan mataku, aku tak peduli." Jawab Alexella yang langsung berlalu pergi.
"Hm... kita lihat sejauh mana kau tak peduli padaku, Alexella? Akan aku pastikan kau bertekuk lutut padaku. Karena tak ada wanita yang bisa tahan oleh pesonaku." Gumam Jarvis tersenyum devil. Ia semakin tertantang untuk mendapatkan gadis itu.
Sepertinya pernikahanlah yang bisa membawamu padaku, Sayang. Kita buktikan jika pesonaku tak bisa diragukan. Kau akan menjadi milikku secepatnya. Huh, sepertinya aku harus meminta bantuan Daddy lagi.
Jarvis pun memilih untuk meninggalkan acara itu. Sedangkan Alexella melangkah pasti menuju meja yang dipenuhi berbagai makanan dan minuman. Mengambil segelas minuman berwarna biru langit, lalu meneguknya dengan anggun.
"Hey, kau melihat Sky?" Bisik Arel yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang sang adik. Beruntung Alexella tidak tersedak karena kaget.
"Kau mengejutkanku, Kak. Jangan tanyakan dia padaku. Aku bukan Ibunya." Kesal Alexella berlalu pergi.
"Cih, dasar adik tak berguna." Kesal Arel sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Sudah hampir satu jam acara berlangsung, tetapi ia tak kunjung menemukan kekasihnya. Padahal ia sangat berharap bisa melihat Sky malam ini. Karena hanya malam ini ia memilik kesempatan untuk bertemu dengannya.
"Tuan, Anda ingin makan sesuatu?" Tawar seorang wanita berhijab yang saat ini sudah berdiri di sebelah Arel. Namun lelaki itu sama sekali tak menghiarukannya. Ia masih fokus mencari keberadaan sang kekasih.
"Jadi Anda tidak mau ya?"
"Tidak, jangan menggangguku." Arel hendak pergi dari sana. Namun langkahnya langsung tertahan saat menyadari suara wanita itu begitu mirip dengan sosok wanita yang tengah ia cari. Dengan gerak cepat Arel berbalik. Sontak matanya terbelalak saat melihat wajah wanita berhijab di depannya saat ini. Wajah cantik dengan pipi bulat dan netra biru langit yang terlihat cerah.
"Anda berubah pikiran, Tuan?"
"Sky?" Arel menatap wanita itu bingung. "Kau...."
"Maaf, Anda menolak tawaranku tadi. Saya tidak bisa melayani Anda lagi, Tuan. Selamat tinggal." Potong Sky yang hendak pergi.
Ya, wanita itu memang Sky. Sudah dua minggu lebih ia memeluk agama islam dan memutuskan untuk menutup kepalanya. Dan aura kecantikannya semakin terpancar tentunya, ditambah tubuhnya yang sudah tak sekurus dulu lagi. Bahkan pipinya terlihat cubby dan menggemaskan.
Arel mencekal lengan Sky dengan cepat. Membuatnya tersentak dan kembali pada posisinya semula. Lelaki itu menatap wajah Sky begitu dalam. Mencoba meyakinkan hatinya jika yang dilihatnya itu benar-benar Sky, kekasihnya.
"Kenapa kau berubah seperti ini?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Arel. Sky yang mendengar itu langsung menarik tangannya.
"Semua orang memiliki hak untuk merubah diri, Arel. Apa aku salah berpenampilan seperti ini huh? Bukankah aku sangat cantik dan mirip dengan Mommy kan?" Sky tersenyum begitu manis. Dan itu membuat Arel semakin yakin jika wanita dihadapannya saat ini memang Sky, kekasih yang sudah sangat ia rindukan.
"Sky." Arel pun langsung mendekapnya dengan erat. "Aku merindukanmu, Sayang. Tiga minggu tak melihat wajahmu rasanya seperti tiga tahun berada di neraka."
"Aku juga merindukanmu, tapi lepaskan aku, Arel. Mommy akan menghukummu lagi jika kita ketahuan seperti ini. Lagi pula sekarang kau tidak bisa memelukku seperti dulu lagi. Aku sudah menjadi seorang muslimah, Arel. Jangan patahkan pertahananku untuk terus memperbaiki diri." Jelas Sky panjang lebar. Ia berusaha untuk terlepas dari dekapan Arel. Namun tenaga lelaki itu sangat kuat.
"Arel...."
"Sebentar saja, aku benar-benar merindukanmu. Aku juga bahagia kau mau bergabung dengan keluargaku. Aku mencintaimu. Pantas saja sangat sulit mencari keberadaanmu."
Sky tersenyum geli. "Cukup, Arel. Lepaskan aku sekarang. Kau akan mempersulit hubungan kita, bersabarlah untuk beberapa pekan lagi. Mommy akan mengundur jadwal pernikahan kita jika kita ketahuan berpelukan seperti ini. Apa kau ingin itu terjadi huh?"
Arel pun segera melerai pelukannya. Kemudian menatap wajah itu lamat-lamat. "Aku akan menunggu, aku mencintaimu." Arel mengecup bibir Sky sekilas. Sontak gadis itu melotot karena kaget.
"Apa yang kau lakukan? Dasar mesum, sudah aku katakan kau harus bersabar. Mendadak aku benci padamu, Arel."
"Kau tak mungkin membenciku, ayok bawa aku menemui si gembul. Aku juga sangat merindukannya." Arel langsung membawa Sky memasuki lift menuju lantai atas. "Mommy begitu kejam memisahkan kita bertiga. Setelah menikah, aku akan membawamu pergi. Agar Mommy tahu rasanya merindukanmu dan si gembul."
"Kau merubah panggilannya lagi, Arel? Dia punya nama tahu." Kesal Sky tak suka mendengar panggilan Arel untuk putranya.
"Apa aku salah? Terakhir kali aku melihatnya dia sudah tumbuh menjadi bayi gemuk. Wajar aku mengatainya si gembul." Jawab Arel tersenyum senang karena rasa rindunya terobati sudah.
"Terserah padamu, Arel."
__ADS_1
"Ya, Sayang."