Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 77


__ADS_3

"Mommy mau ke mana?" Tanya Alexa saat melihat penampilan Sweet sudah rapi. Saat ini mereka tengah melakukan sarapan pagi.


"Mommy harus kerja, Sayang. Membantu Daddy di kantor," jawab Sweet jujur.


"Mom, Daddy sudah banyak uang. Untuk apa bekerja lagi?" Imbuh Arez tidak suka jika Sweet harus bekerja. Karena Sweet biasanya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibanding dengan anak-anak.


"Daddy sudah mengatakan itu pada Mommy kalian, tapi dia keras kepala." Timpal Alex.


Sweet menghela napas panjang. "Kalian tidak akan mengerti bagaimana rasanya seorang wanita yang terbiasa bekerja dan dipaksa diam di rumah. Itu sangat membosankan."


"Benar itu, berdiam di rumah bukan hobby kami." Kali ini Mala ikut menimpali.


"Sudah, kalian masih punya Mama untuk teman bermain. Biarkan Mommy dan Daddy kalian bekerja. Kita habiskan waktu bersama bagaiamana?" Ujar Milan menatap si kembar penuh harap. Kebetulan hari ini ia sama sekali tak ada kegiatan.


"Ya, Lexa suka main dengan Mama." Serua Alexa dengan semangat.


"Arel juga mau main dengan Mama. Mama baik seperti Kak Mala." Sahut Arel begitu tulus. Dan kini tinggal jawaban Arez yang ditunggu semua orang.


"Arez akan menghabiskan waktu di studio." Sahut Arez datar. Semua orang yang mendengar itu pasrah. Tidak ada yang bisa menebak keiinginan anak yang satu itu.


"Baiklah, kalian bisa bermain sepuasnya. Mommy dan Daddy harus segera berangkat. Mommy sayang kalian," ujar Sweet mencium kening trio kurcaci bergantian.


"Daddy juga sayang kalian, jaga diri baik-baik." Alex pun melakukan seperti apa yang Sweet lakukan. Lalu kedunya pun bergagas meninggalkan mansion. Karena pagi ini mereka harus menghadiri pertemuan penting.


Siang hari, Mala keluar dari kamar dan sudah terlihat rapi dengan setelan kantornya. Tidak lupa ia juga membawa jaket di tangannya. Dan berjalan menghampiri Milan yang sedang menonton televisi.


"Anak-anak tidur?" Tanya Mala duduk di samping Milan. Hari ini Mala memang sengaja pergi ke kantor di siang hari. Karena ia akan langsung mengunjungi proyek yang sedang ia tangani. Mala memiliki kedudukan sebagai CEO di anak perusah milik Alex yang menggeluti bidang properti.


"Arel dan Alexa tidur, Arez masih di studio. Mama tidak mau menganggunya, tadi Mama cuma antar makanan dan minuman."


"Ah, Arez sama persis seperti Ayah. Sanggup menghabiskan waktu di sana. Ya sudah, Mala pergi dulu." Ujar Mala sambil memeriksa arloji ditangannya. Lalu mengecup pipi Milan sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan mansion.


Sesampainya di tempat tujuan, Mala langsung disambut hangat oleh seorang laki-laki bertubuh kekar. Lelaki itu merupakan sekretarisnya yang bernama Leo. Ia memberikan topi keselamatan pada Mala. Musim dingin sama sekali tidak menggoyahkan mereka untuk terus bekerja di luar ruangan. Seakan semuanya sudah terbiasa.


"Bagaimana dengan klien kita? Apa dia sudah hadir?" Tanya Mala seraya memasang topi itu dikepalnya. Lalu berjalan untuk melihat perkembangan proyek.


"Belum kelihatan, Bos. Sepertinya beliau akan terlambat beberapa menit." Jawab Leo sekenanya. Pasalnya ia tidak mendapat kabar apa pun dari kliennya itu.


"Hm."


Mereka pun mulai berkeliling. Mengawasi dan meneliti setiap pekerjaan para karyawan. Mala salut, para pegawai masih semangat meski mereka harus melawan dinginya udara. Beruntung hari ini salju yang turun cukup tipis. Jadi tak menghalangi para pekerja melakukan aktivitasnya yang sudah tertunda selama satu bulan lahih akibat guyuran salju yang cukup tebal.


"Bos, proyek ini sudah berjalan hampir 62%. Tidak ada kendala dan diperkirakan selesai dalam dua bulan kedepan. Lihatlah, mereka begitu semangat."


"Awasi terus sampai proyek ini benar-benar selesai 100%. Tidak boleh ada kesalahan, kau tahu sendiri perusahaan induk sedang goyang. Jika kita melakukan kesalahan akan sangat berpengaruh pada perusahaan Induk. Jika kita bisa menangani ini dengan mulus, kita bisa membantu dalam pengokohan perusahaan induk. Hubungi devisi design untuk bekerja secara maksimal."

__ADS_1


"Baik, Bos."


Mala memasuki lift untuk melihat keadaan di lantai atas. Ia benar-benar teliti dan tak menginginkan kesalahan sedikit pun. Apa yang Alex ajarkan benar-benar membekas di kepalanya. Ia menjalankan perusahaan dengan tegas dan lugas. Sedikit saja kesalahan, ia sama sekali tidak memberikan toleransi pada si pelaku.


Sesampainya di lantai teratas, Mala di sambut hangat oleh para pegawai bangunan.


"Perhatikan cara kerja kalian, utamakan keselamatan. Pakai topi dan perlengkapan keselamatan kalian. Jangan lupa makan-makanan yang dapat menghangatkan tubuh kalian." Perintah Mala. Para pegawai pun mengangguk antusias. Bos mereka yang satu ini memang terlihat dingi di luar, tetapi cukup perhatian.


"Bos, klien kita sudah tiba. Beliau ada di lantai dasar."


"Kita turun," ajak Mala kembali memasuki lift. Ia memperhatikan gedung-gedung pencakar langit. Termasuk gedung yang menjulang tinggi dengan bertuliskan Digan't Group.


Di lantai dasar, Mala langsung menghampiri kliennya. Jantungnya mendadak berdebar saat melihat dua orang lelaki tengah membelakanginya. Dan yang satunya duduk di atas kursi roda. Bahkan ini pertama kali ia bertemu dengan mereka. Sebelumnya Leo yang menghadiri rapat saat dirinya masih di Indonesia.


"Selamat siang," sapa Mala.


Lalu keuda orang itu berbalik secara bersamaan. Sontak kedua bola mata Mala pun membulat sempurna. Jantungnya berdegup kencang saat melihat orang yang saat ini duduk di kursi roda dengan tatapan tertuju padanya.


"Kau!" Seru Mala tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia tak pernah menyangka jika kliennya itu adalah Bian Permana. Lelaki yang amat ia benci. Sebenarnya Mala sudah mendengar nama kliennya itu, tetapi ia sama sekali tak menyangka jika lelaki itu benar-benar Bian. Si Tuan cacat.


"Leo, kenapa lelaki ini ada di sini?" Tanya Mala memasang wajah datar.


"Selamat siang, Nona Mala. Apa kabar?" Tanya Bian tersenyum penuh arti. Sedangkan Mala masih menatapnya dengan sorot tak suka. Bahkan enggan untuk menjawab sapaan lelaki itu.


"Mereka bukan dari Singapura bodoh, tapi Indonesia." Sahut Mala penuh penekanan. Leo kaget mendengar perkataan bosnya. Ia juga tidak pernah tahu akan hal itu.


"Maaf bos, tapi mereka pemilik perusahan BPeramana. Perusahaan properti yang lumayan besar di Singapura." Sahut Leo sedikit berbisik.


"Aku ingin kerja sama ini batal," tegas Mala tanpa berpikir panjang. Ia masih menyimpan perasaan benci yang teramat dalam. Bayangan Bian menyiksa sang ayah terus bermain di kepalanya. Meski ia tidak tahu pasti seperti apa pukulan yang Bian berikan pada Alex. Melihat dari kondisi Alex, sudah pasti Bian menyiksanya dengan bengis. Itu yang selama ini Mala bayangkan.


"Ini sudah terlambat, Bos. Jika kita membatalkan kerja sama ini. Kita akan mengalami kerugian besar."


Mala mendengus kesal mendengar jawbaan Leo.


"Nona, waktu saya sedikit. Bisa kita lanjutkan pekerjaannya?" Tanya Bian yang berhasil menarik perhatian Mala.


"Ya," jawab Mala datar. Tentu saja jawaban itu berhasil menciptakan senyuman dibibir Bian. Sejak pertama melihat wanita itu, Bian sudah tertarik padanya. Mungkin kali ini Bian benar-benar melanggar janjinya untuk terus menyendiri. Karena saat ini ia begitu menginginkan Mala menjadi miliknya.


Mala pun mulai bergerak, membawa Bian berkeliling dan terus bicara untuk menjelaskan tujuan kerja sama mereka. Selama itu pula, Bian terus memperhatikannya.


Leo menyadari tatapan kliennya itu, ia tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya ada seorang lelaki yang berani memberikan tatapan kagum pada bosnya. Biasanya para klien tidak berani melakukan itu, karena tahu siapa Mala sebenarnya. Wanita dingin yang mampu membunuh lawannya tanpa rasa takut. Tentu tidak ada yang ditutup-tutupi dari wanita itu. Entah itu tentang masa lalunya atau sifatnya yang begitu angkuh di dunia bisnis.


"Aku mengagumi Anda, Nona. Anda begitu piawai dalam bertutur kata. Saya rasa kerja sama ini akan berjalan dengan lancar. Bahkan saya ingin memperpanjang kontrak di antara kita." Ujar Bian saat mereka kembali ke tempat semula.


"Terima kasih atas pujian Anda, Tuan Cacat. Ah maaf, maksudku Tuan Bian. Saya sangat senang Anda tertarik untuk terus bekerja sama dengan kami. Kami merasa terhormat." Mala berusaha untuk tersenyum tulus. Meski hatinya terus menggerutu dan menyumpahi lelaki cacat itu. Namun, ia harus tetap bersikap profesional dan mengenyampingkan masalah pribadinya.

__ADS_1


"Tentu, bagaimana jika kita lanjutkan dengan makan malam? Saya masih punya waktu sampai besok pagi." Tawar Bian tanpa sungkan.


Cih! Tadi dia mengatakan tidak banyak waktu, lalu sekarang dia bilang apa? Semua lelaki sama saja, pandai membual.


"Ah saya merasa berat hati untuk menolak tawaran Anda, Tuan. Malam ini saya sudah ada janji dengan seseorang," tolak Mala sehalus mungkin.


"Bos, bukankah malam ini jadwal Anda kosong?" Tanya Leo dengan polos. Dan hal itu berhasil membuat Mala kesal setengah mati. Sedangkan Bian malah tersenyum geli mengetahui kebohongan Mala.


Kenapa aku harus memiliki sekretaris bodoh sih? Umpatnya dalam hati.


"Saya akan menunggu Anda di restoran, dan sore ini asisten saya akan menghubungi Anda untuk memberi tahu nama restorannya, Nona Mala."


Mala terdiam. Ia tahu Bian sedang mencari kesempataan. Ia bukan wanita bodoh yang tidak tahu arti tatapan lelaki itu.


"Tentu, saya pasti datang. Anggap saja ini terakhir kali kita bertemu, Tuan Bian." Mala menghadiahi senyuman mautnya. Dan itu berhasil membuat Bian terpana.


"Sampai bertemu malam nanti, Tuan." Lanjut Mala yang kemudian langsung meninggalkan tempat itu.


Bian yang melihat itu tersenyum penuh arti. Rasa penasarannya terhadap Mala semakin besar. Ia ingin mengenal Mala lebih dekat. Apa pun caranya, ia akan melakukannya.


Mala membanting pintu mobilnya dengan kasar. Hari ini merupakan hari tersial untuknya. Bertemu Pria cacat itu bukanlah keinginannya. Bodoh, kenapa sejak awal ia tak mencari tahu lebih dulu siapa kliennya. Jika sudah seperti ini, ia tak dapat melakukan apa-apa, selain mengikuti permainan pria itu. Mala melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, meninggalkan kawasan proyek. Dengan perasaan kesal yang membabi buta.


Di tempat yang berbeda, Sweet masuk kedalam mobil dan duduk dengan kesal di kursi penumpang. Bagaimana tidak, ia baru saja selesia berseteru dengan para investor dan anggota direksi. Sweet sangat marah, karena hampir semua orang melempar kesalahan pada suaminya. Bahkan sebagian dari mereka menganggap suaminya lemah dalam mengelola perusahaan.


Alex masuk ke dalam mobil, lalu menatap Sweet yang masih menekuk wajahnya. "Ada apa denganmu?" tanya Alex tidak habis pikir dengan aksi penyerangan Sweet di ruang rapat tadi. Meski sejujurnya ia merasa takjub karena Sweet sudah berhasil menggertak sebagian investor untuk tetap melakukan kerja sama.


"Semuanya brengsek! Mereka cuma bisa omong kosong, tapi tidak bisa membuktikan omongannya. Meremehkan orang lain hanya karena ingin bertaubat. Apa bedanya mereka dengan sampah di jalanan," sarkas Sweet masih melajutkan kemarahannya.


Alex tertawa geli mendengarnya. "Aku baru tahu, ternyata selama ini aku menikahi macan betina. Awalnya aku pikir kamu hanya seekor kucing yang sulit dijinakkan, ternyata kamu seekor macan betina yang bisa mengamuk saat terusik."


"Hentikan itu, jangan samakan aku dengan binatang." Kesal Sweet merasa tak rela disamakan dengan seekor macan betina.


"Baiklah, jangan marah lagi karena semuanya sudah berlalu." Alex menarik Sweet dalam dekapannya.


Lalu wanita itu langsung menangis sejadi-jadinya dan berhasil membuat Alex kaget.


"Mereka... semua sampah, mengataimu pemimpin lemah... dan tak berguna. Aku... aku tidak suka itu." Sweet semakin terisak. Membuat Alex semakin bingung.


Alex mendorong tubuh istrinya dengan lembut. Lalu mengusap air mata yang membasahi pipi mulus istrinya. "Hey, kamu kenapa sih? Tadi marah-marah, sekarang menangis? Jangan membuat suamimu bingung, Sayang."


Sweet menatap Alex dengan wajah sembab. "Aku tidak tahu, aku merasa marah dan sedih secara bersamaan." Jawab Sweet jujur.


Alex tersenyum geli mendengar jawaban konyol istrinya. "Sudah. Sebaiknya kita pulang. Kamu harus menenangkan diri."


Sweet mengangguk. Entah kenapa ia juga sangat merindukan kasur. Tanpa banyak berpikir, Alex melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan. Membelah kota Berlin yang akhir-akhir ini lumayan ramai. Karena salju yang turun tidak setebal kemarin.

__ADS_1


__ADS_2