
Eveline terperanjat kaget karena seseorang menariknya tiba-tiba. Punggung rampingnya berhasil mencium dinding. Mata indah itu terbelalak saat tahu Lucas lah pelakunya. Lelaki itu mengurung Eveline sambil tersenyum penuh arti.
"Luc, apa yang kau lakukan?" Pekik Eveline tertahan karena takut ada yang melihat mereka. Di mana posisinya dengan Lucas akan menjadi kesalahpahaman jika orang lain ada yang melihat. Mata gadis itu pun terlihat awas, takut ketahuan orang tuanya.
"Shtt... jangan berisik." Bisik Lucas seraya menempelkan jari telunjuk di bibir Eveline. Ia juga mendesis geram saat merasakan betapa lembutnya bibir itu. Bibir yang sama sekali belum pernah terjamah.
"Lepas." Ketus Eveline menepis tangan lelaki itu dengan kasar. Bukannya goyah, justru lelaki itu semakin menyukainya.
"Kau sangat cantik, Darling." Puji Lucas mengunci pandangan sang gadis.
"Jangan bodoh, lepaskan aku. Bagaimana jika Daddy melihat kita?"
"Kita menikah saja, mudah bukan?"
Eveline mendelik mendengar itu. "Aku tidak mau."
"Mau atau tidak, kau akan menjadi milikku, Darling."
"Berhenti bermimpi, Luc. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Kau dan aku masih terikat tali persaudaraan."
"Apa salahnya? Cinta tak pernah memandang status, Eve. Aku menginginkanmu. Akan aku pastikan kau menjadi milikku suatu saat nanti. Akan aku buktikan, Darling." Lucas meraih bibir Eveline, menciumnya dengan penuh perasaan. Eveline yang masih awam pun terbelalak karena kaget, refleks tangannya mendorong dada Lucas. Memutuskan jarak di antara keduanya.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lucas. Eveline benar-benar tersulut emosi sampai berani melakukan itu pada Lucas.
"Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuhku lagi." Ancamnya dengan mata yang memancarkan kilatan amarah.
"Aku siap mati untukmu, Eve. Akan aku pastikan kau jadi milikku. Hanya milikku." Pungkas Lucas yang juga dikuasi emosi yang mendalam. Lelaki itu melangkah pasti meninggalkan Eveline yang masih terpaku ditempatnya. Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata sejak tadi mengawasi mereka.
****
"Ibumu terus menghubungiku, kau harus pulang, Luc." Titah Arez melirik Lucas yang tengah menikmati sarapan paginya. Spontan semua mata tertuju padanya.
"Aku tidak akan kembali."
"Apa maksudmu, Luc?" Tanya Sweet menatap cucunya lekat.
Lucas tersenyum lebar. "Aku akan melanjutkan pendidikan di sini. Kelulusanku hanya terhitung bulan. Aku rasa Daddy bisa mengurusnya." Jelas Lucas melirik Eveline sekilas. Namun gadis itu tampak acuh dan terlihat menikmati sarapan.
"Jangan membuat ulah, pikirkan Ibumu." Komentar Sweet yang sebenarnya tidak terlalu suka dengan sifat cucunya yang satu itu. Lucas cucu satu-satunya yang sering menbuat ulah dan menghebohkan mansion. Lucas kerap kali kabur dari negaranya karena tidak suka dengan semua peraturan sang Mommy. Ia benci peraturan.
"Aku sudah memikirkannya." Sahut pemuda itu begitu santai.
"Oma, aku setuju dia menetap di sini. Aku mulai bosan harus menjemputnya setiap saat. Biarkan dia sekolah di sini." Ujar Melvin mendukung teman dekatnya itu.
"Dasar bodoh, kau tidak perlu meladeninya. Dia punya segalanya, coba saja cek atmnya. Mommy yakin uangnya banyak. Dia bisa naik taksi atau apa lah itu. Katakan saja kalian ingin bersenang-senang." Cerocos Sabrina merasa kesal dengan kenakalan putranya itu. Sedangkan yang diomeli hanya bisa tersenyum kikuk.
"Mom, Dad. Aku ingin melanjutkan sekolah di London, apa boleh?" Tanya Eveline manatap kedua orang tuanya bergantian. Sabrina dan Arez pun saling menatap satu sama lain. Kemudian kembali fokus pada putrinya.
Lucas terkejut mendengar itu. Namun sedetik kemudian pemuda itu tersenyum tipis.
Ingin menghindariku huh? Kita lihat, sejauh mana kau bisa lari, Darling.
"Kau yakin, Eve?" Tanya Arez menatap putrinya serius. Arez tidak terlalu yakin karena Eveline tidak pernah berjauhan dengannya maupun Sabrina. Ada sedikit rasa tak rela jika berpisah dengan putri semata wayangnya itu.
"Ya, Dad. Beberapa temanku juga melanjutkan pendidikan di sana. Aku sudah mendaftar di Birkbeck dan City. Tinggal menunggu surat balasan. Aku harap lulus di salah satunya." Jelas Eveline tampak serius dengan keputusannya.
"Kau yakin, Nak?" Tanya Sabrina meyakinkan kembali putrinya. Sama halnya dengan Arez, Sabrina juga masih berat melepaskan Eveline yang notabenya masih terlalu muda untuk meninggalkan negara kelahirannya.
"Ya, Mom. Aku ingin menjadi anak yang mandiri."
__ADS_1
Melvin mendengus saat mendengar jawaban adiknya itu. "Aku tebak, dua hari di sana kau sudah minta pulang. Berani bertaruh?"
Arez melayangkan tatapan penuh peringatan pada Melvin. Membuat pemuda itu menunduk lesu dan melanjutkan sarapan kembali.
"Lanjutkan pembicaraan kalian nanti." Tegur Sweet yang berhasil membuat suasana menjadi senyap. Dan hanya terdengar suara dentingan sendok dengan piring.
****
Delapan tahun kemudian....
Seorang lelaki berambut pirang tampak duduk di atas kap mobil mewah sambil menyesap sepuntung rokok. Mata tajamnya terus menelisik ke setiap penjuru arena balapan. Seulas senyuman terbit dibibirnya, sudah hampir lima tahun ia tak pernah terjun dalam dunia balapan karena sibuk dengan bisnisnya. Lucas Winston, si pria penuh pesona yang digilai banyak wanita. Bukan hanya tampan, lelaki berusia 25 tahun itu juga termasuk orang yang disegani dalam dunia bisnis dan dijuluki the young billionaire. Di usia mudanya ia berhasil menaklukkan berbagai perusahaan besar dunia. Tidak heran jika dirinya dijadikan pewaris utama Winston Crop.
"Kau yakin dia datang?" Tanya Mike Winston sebagai kembarannya. Mata tajam lelaki itu menyelisik ke setiap kerumunan manusia. Namun ia belum menemukan sosok yang dicarinya.
"Aku sudah membayar mahal wanita gila itu. Jika dia tidak berhasil, aku akan mecincangnya." Sinis Lucas.
"Coba saja. Paling kau akan dimasukkan ke dalam penangkaran." Ledek Dustin Winston yang sejak tadi terus menghindari godaan para wanita murahan yang tertarik dengan ketampanannya. Si lesung pipi itu memang sangat anti dengan wanita genit.
Tidak lama dari itu, sebuah lamborghini berwarna silver mengerem indah di depan mereka. Mobil itu berputar cantik sampai semua mata tertuju padanya. Suara sorakan dan suitan saling bersahutan kala pemilik mobil itu keluar. Seorang wanita cantik bersurai coklat keluar dari sana, kemudian berdiri dengan angkuh. Bibirnya sedikit tertarik saat melihat ketiga lelaki tampan yang juga tengah memperhatikannya. Ia pun menghampiri ketiganya dengan langkah pasti.
Selang beberapa detik, pintu lain mobil itu terbuka. Dan keluarlah seorang bidadari cantik yang berhasil membuyarkan fokus seorang Lucas Winston. Bagaimana tidak, gadis itu benar-benar cantik meski tak ada yang spesial dari penampilannya. Karena gadis itu hanya mengenakan pakain kasual dengan wajah tanpa polesan. Namun parasnya yang cantik secara alami berhasil menghipnotis semua mata para lelaki. Termasuk triple twins. Benar, gadis cantik itu adalah Eveline Grizelle Digantara.
"Kau haru menepati janjimu, Luc. Satu juta." Bisik si gadis berambut coklat yang tak lain adalah Violet Schwarz.
"Aku tak pernah ingkar janji." Sahut Lucas dengan pandangan yang terus tertuju pada Eveline. Gadis cantik dengan rambut curly itu pun mendekat.
"Hai, Eve." Sapa Mike. Eveline tersenyum tipis.
"Apa kabarmu, Mike? Aku tidak tahu kau ada di Berlin." Sahut Eveline mengembangkan senyuman khasnya. Lucas mengeratkan rahang saat melihat Eveline tersenyum pada kembarannya. Sedangkan gadis itu tak pernah tersenyum untuknya sekali pun.
"Baik. Aku butuh udara segar, Eve. Kepalaku hampir pecah terus menerus di dalam gedung." Balas Mike.
"Kau semakin cantik, Eve. Aku rasa seseorang tak akan bisa melupakanmu." Sindir Dustin melirik saudaranya. Eveline ikut melirik Lucas sekilas. Setelah itu melempar pandangan pada kerumunan anak muda yang sedang bercanda ria.
"Apa maumu huh?" Sinis Eveline.
"Dirimu." Sahut Lucas membalas tatapan Eveline tak kalah sengit. Refleks Eveline memalingkan wajah. Membuat Lucas mengerang tak suka. Lelaki itu menarik dagu Eveline dan sedikit menekannya.
"Jangan pernah berpaling dariku. Tatap aku, Eve."
"Lepas, kau menyakitiku." Eveline berusaha melepaskan cengkaraman Lucas. Namum lelaki itu malah mencium bibir dan menekan tengkuknya. Eveline yang kaget pun langsung memberontak. Untuk yang kedua kalinya Lucas melakukan hal tak terduga padanya. Seolah tak ingin melepaskan mangsanya, Lucas terus memperdalam ciumannya, menyesap setiap inci rongga mulut pujaan hatinya.
Lucas melepaskan paggutannya karena Eveline kehabisan oksigen. Napas gadis itu tersengal karena masih kaget bercampur marah.
"Brengsek!"
Lucas menyelipkan jemarinya ke sela rambut Eveline. Mengunci pandangan gadis itu. "Kau hanya milikku, Eve. Jangan pernah berpaling dariku."
"Jangan gila, Luc. Kau dan aku...."
"Apa salahnya aku mencintaimu, Eve? Aku tidak peduli soal status kita. Jadilah kekasihku, Eve."
"Kau gila, Luc. Aku sudah punya kekasih."
Deg!
Pernyataan Eveline bagaikan ribuan belati yang mengujam langsung ke hati Lucas. Sakit tak berdarah, mungkin itu yang saat ini Lucas rasakan. Sakitnya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Kekasih?"
Eveline mengangguk pelan.
__ADS_1
Lucas mengeratkan rahang. "Siapa?"
"Kau tidak perlu tahu."
"Aku tanya siapa lelaki itu?" Tegas Lucas yang berhasil membuat Eveline terdiam.
"Jawab, Eve." Bentak Lucas.
Eveline yang tak suka dibentak pun menatap Lucas penuh permusuhan. "Lupakan, yang pasti dia bukan lelaki kasar sepertimu."
Lucas menggerem kesal. Sedangkan Eveline hendak membuka pintu, tetapi Lucas lebih dulu menariknya dalam pangkuan. Sontak Eveline kaget bukan main.
"Lepaskan aku, Luc." Panik Eveline saat Lucas merengkuh erat pinggangnya.
"Kau akan menjadi milikku, Eve. Apa pun caranya akan aku lakukan." Lucas tersenyum devil. Kemudian membenamkan wajahnya di dada Eveline. Membuat gadis itu semakin panik.
"Lepaskan aku, aku akan berteriak."
"Teriaklah, maka aku akan menghamilimu." Ancam Lucas tanpa rasa takut sedikit pun. Lelaki itu terlihat santai dan terus mengecupi leher jenjang Eveline.
"Luc, jangan lakukan ini. Lepaskan aku, jika Daddy tahu kita bisa mati."'
"Aku rela jika harus mati bersamamu, Darling."
"Luc...."
"Diamlah, atau aku akan benar-benar menghamilimu di sini." Sela Lucas dengan tatapan penuh amarah. Eveline ciut saat melihat itu.
"Please. Tak seharusnya kau mencintaiku."
"Itu bukan keinginanku, aku sendiri tidak tahu kenapa aku begitu mencintaimu? Jadilah milikku selamanya, Eve. Aku akan bicara pada orang tua kita."
"Aku tidak mencintiamu, Luc. Aku mencintai kekasihku."
"Belajarlah mencintaiku. Lupakan lelaki sialan itu." Tegas Lucas masih asik bermain di ceruk leher gadisnya.
"Kau gila, Luc. Lepaskan aku." Eveline terus memberontak. Namun lelaki itu semakin erat merengkuhnya.
Lucas mendesis karena pergerakan Eveline justru membangunkan juniornya. "Berhenti bergerak, kau membangunkan juniorku. Jika dia sudah bangun sepenuhnya kau harus bertanggung jawab."
Eveline kaget mendengarnya dan seketika mematung. Lucas yang melihat wajah tegang Eveline pun tersenyum geli.
"Kau sangat memggemaskan, Darling. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu."
Eveline mului frustrasi dengan sifat obsesi saudaranya itu. "Aku akan menikah, jangan mengacaukan rencanaku. Lepaskan aku, Luc."
"Ya, kita akan menikah. Aku dan dirimu, bukan orang lain."
"Stop it! Kau tidak mencintaiku, Luc. Ini obsesi, bukan cinta."
Lucas tersenyum miring. "Aku tahu mana cinta dan mana obsesi, sayang. Lupakan lelaki itu. Mulai detik ini kau milikku. Ini tanda kau milikku." Lukas menunjuk sebuah tanda kemerahan di leher Eveline. Membuat gadis itu kaget karena tak sadar Lucas menciptakan banyak tanda di sana.
"Aku membencimu, Luc."
"Benci dan cinta itu hanya beda tipis, darling."
"I hate you."
"But i love you."
...🍁🍁🍁...
__ADS_1
Aaa... akhirnya sampai juga di penghujung cerita. Aku gak tahu harus lanjut atau cukup sampai disini? Banyak banget yang minta lanjut season 3. Tapi aku masih ragu. Kita lihat aja kedepannya ya.... thanks a lot all karena udah mendukung semua karyaku. Sampai jumpa di karyaku yang lainnya. Love you all 😘😘