Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (11)


__ADS_3

Brak!


Arez menggebrak meja saat mendengar kabar jika Lucas berhasil membawa lari putrinya. Terlihat jelas kemarahan di matanya saat ini.


Ansel, Marvel dan Melvin yang melihat itu cuma bisa menunduk. Seakan tak berani menatap kemarahan Arez.


"Apa kekuatan kita melemah? Sampai dia berhasil melarikan putriku huh? Atau kalian yang terlalu lemah?" Bentak Arez.


"Dad...." Melvin hendak protes. Namun ia langsung ditahan oleh kembarannya.


"Jangan sampai Mommy kalian tahu soal ini." Ujar Arez pada kedua putranya.


"Ya, Dad." Jawab keduanya kompak.


"Kalian bisa pulang." Titah Arez. Lalu kedua pemuda tampan itu langsung meninggalkan ruangan sang Daddy.


"Cih, buat apa kita mencarinya? Sudah pasti Eveline bahagia bersama Lucas. Dia tidak akan menyakiti adik kita." Oceh Melvin yang sama sekali tak ditanggapi oleh saudaranya. Seperti biasanya Melvin selalu bersikap santai.


"Hey, apa kau masih ingin mencari mereka?" Imbuh Melvin. Namun, lagi-lagi Marvel mengabaikannya. Melvin mendengus pelan. Lalu keduanya pun masuk ke dalam lift.


Sedangkan di ruangannya, Arez terduduk lesu. "Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ansel?"


Ansel pun tidak langsung menjawab. "Tuan, sebaiknya kita biarkan saja Nona bersama Tuan muda. Saya rasa Nona lebih aman bersamanya." Saran Ansel.


Arez terdiam sejenak. "Jadi mereka juga sudah bergerak?"


"Ya, Tuan. Mereka juga sudah bergerak kemarin. Saya rasa ini juga alasan Tuan muda Lucas membawa Nona pergi."


Arez menghela napas gusar. Lalu terdiam lagi untuk beberapa saat. "Tingkatkan penjagaan di mansion. Lindungi anak-anak lebih ketat. Aku rasa mereka mulai merencanakan sesuatu."


"Target mereka hanya Nona Eveline, Tuan."


"Ya, karena putriku anak terakhir dari keluarga Digantara. Dia masih lugu dan tidak tahu menahu soal masa lalu. Ini yang aku takutkan sejak lama. Sabrina bersikukuh untuk menutupi semua ini dari Eveline. Pada akhirnya semua orang akan memanfaatkan kondisi ini. Anak itu juga tidak tahu cara berperang melawan musuh."


"Tapi Tuan muda Lucas selalu membayanginya, Tuan. Sejak Nona sekolah di London pun Tuan muda terus membayanginya dan melindungi Nona dari jarak jauh."


Arez menghela napas lagi. "Anak itu memang gila. Sangat mirip dengan Ibunya."


Ansel tersenyum. "Tapi Tuan muda lebih mirip dengan Anda, Tuan."


Arez melayangkan tatapan tajam pada Ansel. Ia tidak suka disamakan dengan orang lain. Terutaman dengan keponakannya yang brengsek itu. "Pergilah, kau membuat kepalaku semakin pusing."


Ansel pun tersenyum tipis dan langsung beranjak pergi. Meninggalkan Arez yang tengah memikirkan segala sesuatu yang kemungkinan akan terjadi pada keluarganya. Sepertinya masalah keluarga Digantara terus bergulir, membuat kepalanya sakit saja.

__ADS_1


****


Di sebuah villa mewah, Eveline terlihat sedang menikmati serial televisi kesukaannya sambil mengunyah cemilan.


"Baby, kau tidak ingin mandi?" Tanya Lucas karena sejak pagi tadi gadis itu terlihat bermalas-malasan.


"Jangan ganggu aku, Luc." Ucapnya datar.


Lucas duduk di sebelahnya, ditatapnya wajah cantik itu dengan seksama. "Kenapa kau tidak memberontak lagi huh?"


Eveline menoleh sekilas. "Percuma aku memberontak, kau juga tidak akan melepaskanku."


Lucas tersenyum meski gadis itu terkesan dingin padanya. "Kau ingin menghubungi Mommymu?"


Eveline menoleh, tatapannya masih sama, datar dan dingin. "Jangan berikan aku harapan palsu."


Lucas mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya. Lalu menyodorkan itu pada Eveline. "Hubungi Ibumu, gunakan alasan logis. Meski kau mengadu sekali pun, mereka tidak akan menemukan kita. Tempat tidak ada di dalam map."


Eveline mendengus sebal dan langsung merebut ponsel itu dari tangan Lucas. Dan langsung menghubungi sang Mommy.


Lucas mendengus kesal karena Eveline memilih video call. "Jangan katakan aku bersamamu."


Eveline tidak menyahut. Sampai layar ponsel canggih itu pun di penuhi wajah Sabrina. Mata wanita paruh baya itu membulat sempurna. "Eveline? Ya Tuhan."


"Hai, Mom. I am so sorry." Eveline menatap wajah sembab Ibunya dengan sedih.


Eveline ikut menangis. "Maafkan aku, Mom. Sesuatu terjadi padaku, aku tidak bisa menghubungimu karena ponselku hilang. Semua barang-barangku juga hilang."


"Dasar bodoh, bagaimana semua itu bisa terjadi huh?"


Itu terjadi karena si bodoh ini, Mom. Geram Eveline di dalam hati.


"Se__sebenarnya aku sedang liburan. Aku stress karena pekerjaan. Jadi aku memutuskan untuk menenangkan diriku, Mom. Aku pergi sendiri. Tidak kusangka seseorang mencopet tasku."


Lucas tersenyum geli mendengar kebohongan yang Eveline karang.


"Ya Tuhan, lalu kau di mana sekarang? Biarkan Mommy ke sana untuk menjemputmu."


"Tidak perlu, Mom. Aku bersama temanku sekarang, kebetulan kami bertemu di sini. Ini juga ponselnya."


"Ah, syukurlah. Mommy hampir gila memikirkanmu tahu. Mommy takut terjadi sesuatu padamu, Eve. Kau putri Mommy satu-satunya."


Eveline tersenyum. "Aku merindukanmu, Mom."

__ADS_1


"Bodoh, kau bilang rindu tapi masih tidak mau pulang?"


Aku ingin pulang, Mom. Tapi si brengsek ini terus mengurungku seperti tahanan.


"Siapa temanmu itu? Biarkan Mommy bicara padanya."


Lucas terkejut mendengarnya. Eveline melirik Lucas. "Tidak usah, Mom. Dia sedang sibuk dengan kekasihnya."


"Ah, ucapkan terima kasihku padanya okay? Cepat pulang. Ya Tuhan, sekarang aku bisa tidur dengan tenang."


"Ya, Mom. Sepertinya aku tidak bisa lama, Mom. Temanku sepertinya membutuhkan ponselnya."


"Ya... matikan saja. Sekarang Mommy tidak akan mencemaskanmu lagi."


Eveline tersenyum dan langsung menutup panggilan. Di lemparnya ponsel itu ke arah Lucas. "Kau puas sekarang? Untuk pertama kalinya aku berbohong pada Mommyku."


Lucas tersenyum geli. "Aku tidak memaksamu tadi, kau sendiri yang berbohong. Dasar bodoh. Padahal tadi itu kesempatan emasmu untuk kabur dariku. Katakan saja kau memang tidak ingin jauh dariku kan?"


"Lucas!" Eveline menarik rambut Lucas dan menariknya kuat.


"Sakit, sayang." Keluh Lucas. Namun, Eveline terus menghajarnya habis-hanisan. Tidak ingin kehabisan akal, Lucas pun merengkuh pinggang ramping Eveline. Dengan sekali tarikan gadis itu sudah berada di atasnya. Bahkan wajah mereka cukup dekat, hanya dalam hitungan senti.


Sontak Eveline pun terdiam. Dan pandangan keduanya pun saling terkunci satu sama lain.


Napas Lucas memburu saat aroma manis Eveline menyeruak masuk dalam hidungnya. Ia menginginkan Eveline sekarang.


Eveline pun tersadar dan langsung menjauh dari Lucas. Dan itu membuat Lucas kecewa.


"Aku ingin mandi." Eveline pun langsung berlari ke kamarnya. Sedangkan Lucas mengumpat kesal. Lalu ia juga bergegas menuju kamarnya. Ya, mereka memang memutuskan untuk tidur di kamar terpisah. Sebenarnya itu permintaan Eveline. Karena tak ingin mengecewakan gadis itu, Lucas pun menyetujinya meski hatinya harus kecewa.


Lucas terpaksa mengguyur tubuhnya dengan air dingin karena harus menahan gairahnya. Dan itu cukup lama sampai tubuhnya menggigil.


Sedangkan di luar sana, Eveline sudah selesai mandi. Ia pun merasa heran karena tak menemukan Lucas. Tidak ingin ambil pusing, Eveline pun beranjak keluar untuk berjalan-jalan. Tentu saja Lucas tidak mengurungnya lagi karena pulau ini termasuk privat dan tidak diketahui banyak orang. Bahkan tidak ada transportasi apa pun di sana. Jadi Eveline tidak akan bisa kabur. Dan di sana hanya ada mereka berdua tentunya.


Eveline duduk di sebuah ayunan yang langsung menjorok ke pantai. Hembusan angin sejuk menerpa wajahnya. Sunset pun mulai terlihat di sana. Eveline menyukai suasana seperti ini. Ia selalu membayangkan bisa menghabiskan waktu bersama pujaan hatinya di tempat seperti ini.


Cukup lama ia terdiam di sana untuk menikmati indahnya sunset. Sampai tak menyadari jika Lucas sudah berdiri di belakangnya. "Masuklah, sudah cukup bermainnya."


Eveline terlonjak kaget. "Oh God. Kenapa kau muncul tiba-tiba, Luc? Jantungku hampir copot."


Lucas tersenyum geli. "Apa yang sedang kau pikirkan memangnya huh?"


Eveline memutar bola matanya malas. "Kau mengganggu kesenanganku. Pergilah jika tidak ingin di sini." Ketusnya.

__ADS_1


"Masuk, Eve." Tegas Lucas. Membuat Eveline kesal setengah mati. Gadis itu bangkit dan langsung beranjak masuk sambil menghentakkan kakinya.


"Menyebalkan, dia pikir dia itu siapa berani memerintahku?" Gerutunya. Lucas yang mengekorinya di belakang pun cuma bisa tersenyum. Sikap Eveline cukup menggemaskan menurutnya.


__ADS_2