Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (97)


__ADS_3

Saat ini mereka sudah berada di rooftop, berdiri saling berhadapan. Emilia masih memegang pistol itu dengan gemetar. Sedangkan Eveline tersenyum miring dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Ayo lakukan, di sini putramu tidak ada. Bahkan tidak ada orang yang melihat. Buktikan jika kau berani bertanggung jawab dengan perkataanmu." Perintahnya.


Emilia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Sebelum aku pergi, bisakah kau berjanji akan menjaga putraku. Menerimanya sebagai keponakanmu?" Pintanya penuh harap.


Eveline mendengus kecil. "Jangan tawar menawar denganku, Emilia."


Emilia memejamkan matanya sejenak dengan air mata yang meluncur deras. Ia menyentuh dadanya yang sesak, begitu menyakitkan jika dirinya harus mati seperti ini. Namun jika ini yang terbaik, Emilia akan melakukannya.


Maafkan aku Marvel, mungkin kematianku adalah jalan terbaik. Tolong jaga anak kita. Emilia mengangkat pistol itu dengan moncong yang terarah tepat di kepalanya. Lalu ia pun menatap Eveline.


"Maafkan aku, Eve. Jika kematianku membuatmu memaafkan kesalahanku, aku ikhlas melakukannya. Tolong sampaikan maafku pada Marvel. Katakan juga aku sangat mencintainya." Ucap Emilia begitu lirih.


Namun Eveline sama sekali tidak peduli soal itu dan tampak acuh. Menunggu Emilia menekan pelatuk dan membunuh dirinya sendiri.


Emilia memejamkan matanya seraya menekan pelatuk itu perlahan dan...


Tak!


Emilia terkejut saat pistol itu ternyata tak terisi peluru. Spontan ia menatap Eveline bingung.


"Ck, ternyata Kakakku benar. Kau benar-benar wanita bodoh." Umpat Eveline mendengus sebal. Lalu merebut pistol itu dari tangan Emilia dengan kasar dan meninggalkannya begitu saja, tentu saja Emilia dibuat bingung.


Eveline terus menggerutu karena merasa sebal. Ucapan Marvel beberapa saat lalu sama sekali tak meleset. Sekarang ia kalah telak. Padahal ia sangat berharap Emilia menodongkan pistol itu padanya. Sayangnya wanita itu benar-benar bodoh. Padahal bisa saja ia membalik keadaan saat itu.


Satu jam lalu...


Saat itu Marvel tampak memasuki mobilnya, tiba-tiba Eveline pun ikut masuk. Sontak Marvel pun menoleh.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Eveline menatap Marvel tajam.


Ya, Marvel lah yang sengaja menghubunginya untuk datang.

__ADS_1


"Hentikan semua ini, kau membuat istriku menderita." Kecam Marvel yang tak senang karena hampir setiap hari melihat istrinya menangis dan melamun. Karena itu ia memanggil Eveline untuk membuktikan semuanya.


Eveline mendengus sebal. "Jadi kau lebih mementingkan istrimu yang baru kau kenal ketimbang aku adikmu? Kau begitu mempercayainya hem?"


Marvel menghela napas berat lalu mengambil sesuatu dari dalam laci dasboardnya. Seketika Eveline kaget karena Marvel mengeluarkan sebuah pistol. Lalu mengosongkan pelurunya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Eveline penasaran.


Marvel menatap adiknya tajam lalu menyodorkan benda itu padanya. "Benda ini akan membuktikan istriku tak seburuk yang kau pikirkan, Eve. Berikan benda ini padanya, minta dia untuk membunuh dirinya sendiri. Jika dia wanita jahat dan licik seperti yang kau pikirkan, dia akan membalik keadaan dengan mengarahkan pistol ini padamu. Jika itu terjadi, aku yang akan membunuhnya sendiri. Tapi jika dia mematuhi perintahmu, kau harus menerimanya sebagai Kakak iparmu."


Eveline tersenyum kecut. "Pengecut. Kau mengosongkan amunisinya. Itu artinya kau juga tak percaya padanya."


"Istriku wanita bodoh, aku yakin dia akan memilih membunuh dirinya sendiri. Aku tidak ingin mengambil resiko itu." Tegas Marvel dengan tegas dan lugas.


Eveline mengeratkan rahangnya lalu merebut pistol itu dengan kasar. "Akan aku buktikan, tepati janjimu untuk membunuhnya jika pistol ini mengarah padaku. Kau pasti akan kecewa setelah ini."


Marvel menahan lengan Eveline yang hendak turun. "Jika dia memintamu untuk menjauh dari Noah, bawa dia ke rooftop. Di sana aku masih bisa mengawasi kalian." Pintanya seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Eveline menatapnya tajam kemudian menepis kasar tangan Marvel dan langsung turun dari mobil itu. Marvel pun hanya bisa menatap kepergiannya. Ia percaya sepenuhnya pada Emilia karena ia tak pernah main-main dengan ucapannya untuk membunuh istrinya itu.


Marvel tersenyum miring. "Sudah aku katakan, dia tak seburuk yang kau pikirkan. Kau harus mengakui kekalahanmu. Panggil dia Kakak ipar mulai sekarang."


"Cih, tidak sudi." Sinis Eveline.


Marvel menghela napas lalu menaruh pistol itu kembali ke tempatnya. "Dia terpaksa melakukan semua itu, Eve. Jika kau diposisinya dan kondisimu tak berdaya, aku rasa kau akan melakukan hal yang sama. Demi putraku dia menempatkan nyawanya di ujung tanduk. Bisa saja saat itu aku maupun suamimu membunuhnya."


Eveline tampak diam.


"Kau marah karena kehilangan calon anakmu. Emilia tak berdaya karena putranya disekap orang yang tak ia kenal. Kalian berdua adalah korban."


"Aku tidak akan semarah ini jika kalian tidak membohongiku." Kesal Eveline masih tak mau kalah.


"Apa kau yakin? Dengan kondisimu saat itu kau akan tetap tenang?"

__ADS_1


Eveline memalingkan wajahnya.


"Eve. Lucas menyembunyikan semua ini karena tak ingin kau menjadi segila ini. Dia lebih memahami dirimu ketimbang aku sebagai Kakakmu. Coba kau pikirkan jika saat itu kau tahu kebenarannya, apa kau yakin akan diam saja?" Lagi-lagi Eveline tidak menyahut.


Marvel menghela napas panjang sebelum lanjut bicara. "Dia memikirkan semuanya dengan matang. Dan keselamatanmu yang paling dia utamakan. Pulanglah, jangan buat dia cemas. Bukan hanya dirimu yang terluka atas kematian anak kalian, Lucas juga sama sepertimu. Semua orang juga terluka. Berhenti bersikap egois dan keras kepala. Kau sudah dewasa, Eve." Marvel menepuk pundak adiknya itu.


Eveline menatap Marvel tajam lalu memukul dadanya sekuat tenaga. "Kau memang brengsek!" Setelah mengatakan itu ia pun beranjak pergi. Meninggalkan Marvel yang masih setia mengawasinya.


Di dalam mobilnya, Eveline terus merenungkan perkataan Marvel beberapa menit lalu. Apa benar dirinya sudah salah selama ini?


Karena terlalu pusing memikirkan semuanya, ia pun memilih pulang. Mendadak ia merindukan suaminya. Sudah tiga hari dirinya meninggalkan Lucas tanpa kabar.


Eveline memasuki apartemen perlahan, seketika hatinya terenyuh saat melihat Lucas tertidur di sofa. Juga terdapat beberapa botol kosong yang tergeletak di lantai. Sepertinya Lucas begitu frustrasi salama dirinya pergi.


Dengan langkah pelan, ia mendekatinya lalu berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan wajah Lucas. "Maafkan aku, Luc." Dikecupnya bibir seksi sang suami mesra.


Karena perbuatannya itu Lucas pun terbangun dan langsung terduduk karena kaget. "Eve?"


Eveline tersenyum dan langsung berhambur memeluknya, duduk di atas pangkuan suaminya. "Maafkan aku, Luc."


Lucas memeluk erat pinggang ramping istrinya itu. "Jangan pergi lagi, Eve. Aku sangat mencemaskanmu. Ya Tuhan! Aku takut terjadi sesuatu padamu."


"Kenapa kau minum, Luc? Kau ingin sakit lagi?" Kesal Eveline memukul dada lelaki itu.


"Aku hanya depresi karena ditinggalkan olehmu." Jawab Lucas. Spontan Eveline pun menarik diri. Lalu menangkup wajah suaminya itu sambil tersenyum.


"Dasar bodoh! Aku sedang marah padamu, harusnya kau tahu aku akan kembali setelah amarahku redam." Kesalnya.


Lucas menatapnya lekat. "Kau tidak marah lagi padaku?"


Eveline menggeleng seraya tersenyum. "Maafkan aku karena terlalu egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri."


Tangan Lucas bergerak mengusap pipi mulus istrinya. "Tidak apa, aku mengerti perasaanmu sebagai seorang Ibu. Maaf karena aku belum bisa menjadi suami dan Ayah yang baik."

__ADS_1


"Tidak, Luc. Kau suami dan Ayah yang luar biasa. Ayo bulan madu lagi. Aku ingin menghabiskan banyak waktu denganmu." Ajak Eveline penuh semangat.


Lucas terkekeh kecil lalu menyambar bibir istrinya. Sontak Eveline pun menyambutnya, merengkuh leher Lucas untuk memperdalam ciuman mereka. Seolah melepas kerinduan satu sama lain.


__ADS_2