
"Bagaimana sikap Arez padamu huh? Apa dia bersikap kasar?" Tanya Sweet seraya menggenggam tangan Sabrina. Saat ini keduanya berada di kamar Arez.
Sabrina tidak langsung menjawab, ia takut salah bicara nantinya. "Em, dia baik, Mom. Hanya saja... sikapnya sulit di tebak. Kadang kasar dan sesuka hati, kadang juga dia sangat manis. Aku tidak tahu, Mom. Aku belum mengenalnya sampai sejauh itu."
Sweet tersenyum samar. "Perlahan kau akan mengenalnya."
Sabrina mengangguk pelan. "Tapi... aku selalu penasaran, Mom. Kenapa dia selalu bersikap kasar dan tak bisa mengontrol emosinya? Bahkan dalam hitungan detik dia bisa merubah sikapnya, dan itu sangat aneh menurutku."
Sweet terdiam cukup lama, menatap menantunya lamat-lamat. "Mungkin Mommy harus mengatakan sebuah rahasia padamu, Mommy percaya kamu bisa menyimpan rahasia ini."
"Rahasia?" Tanya Sabrina bingung.
"Hm." Sweet mengangguk pelan. "Rahasia ini hanya diketahui oleh keluarga kami, Sabrina. Tapi, aku pikir kau harus tahu soal ini. Karena kau istrinya, yang akan menghabiskan hidup bersamanya. Kau harus bisa memahami apa pun kondisinya." Sweet menatap Sabrina penuh harap.
"Aku merasa tak pantas mendapat kepercayaanmu, Mom. Aku...."
"Aku percaya padamu." Sanggah Sweet meyakinkan menantunya. Sabrina sempat terdiam saat mendengar itu.
"Baiklah, aku akan memegang kepercayaanmu, Mom." Sabrina tersenyum begitu manis. Sweet ikut tersenyum mendengarnya.
"Arez mengidap IED, Intermittent Explosive Disorder. Dimana dia tidak bisa mengontrol emosinya. Dia selalu berlebihan dalam menanggapi masalah sekecil apa pun. Itu penyakit keturunan keluarga Digantara, hampir semua keturunannya seperti itu. Termasuk suamiku. Beruntung dia tidak separah Arez. Mungkin karena itu juga Arez selalu bersikap dingin dan menghindari banyak orang, dia tak ingin menyakiti orang lain. Bukan hanya pada orang lain saja, bahkan Arez sangat jarang bicara pada kami."
Sabrina tertegun mendengar penjelasan Ibu mertuanya.
Jadi dugaanku benar, dia memiliki gangguan kepribadian? Ya Tuhan, pantas saja dia selalu marah meski aku hanya melakukan kesalahan sepele.
"Apa itu bisa sembuh, Mom?" Tanya Sabrina memberikan tatapan serius.
"Penyakit ini tidak bisa disembuhkan, apa lagi itu bawaan genetik. Hanya kita sebagai orang terdekat yang mampu meredam amarahnya, Arez akan tenang dengan sebuah pelukan. Jangan mengajaknya bicara untuk beberapa saat, biarkan dia mengontrol emosinya sendiri." Sweet menghela napas dalam.
"Arez selalu memendam semua masalahnya sendiri, sampai detik ini Mommy sendiri tidak memahami isi hatinya. Dia sangat tertutup. Mommy kesulitan untuk mengajaknya berbicara panjang lebar, bahkan Alexa dan Arel juga kadang tak bisa memahaminya." Lanjut Sweet. Untuk yang kesekian kalinya ia menarik napas panjang.
"Arez mulai menunjukkan sikap itu saat sekolah menengah dulu. Dia hampir membunuh teman sekolahnya yang hendak melecehkan Alexa. Mommy masih ingat kejadian itu dengan jelas. Temannya sudah terkapar tak berdaya di lantai dengan bersimbah darah. Dan saat itu tidak ada yang bisa menahan amarahnya, termasuk Daddy. Lalu Mommy mencoba untuk memeluknya, dan itu berhasil, dia mulai tenang. Sejak saat itu, sikapnya semakin dingin dan tak acuh. Tapi dibalik itu, dia memiliki rasa kasih sayang yang begitu dalam. Hanya saja ia tak pandai menunjukkannya, kitalah yang harus bisa memahaminya." Tutur Sweet panjang lebar.
Kini terjawab sudah rasa penasaran Sabrina terhadap suaminya. Sabrina menatap Sweet begitu dalam. "Mom, bukankah kalian ingin menjodohkan Al? Lalu, kenapa mempercayaiku dalam hal ini?"
Sweet tersenyum mendengar itu. Mengusap punggung tangan menantunya dengan lembut. "Perjodohan itu sudah batal, Mommy sadar tidak seharusnya Mommy mengatur kehidupan pribadi mereka. Itu kesalahan Mommy karena terlalu berambisi untuk menjalin hubungan lebih erat dengan sahabat Mommy. Tanpa Mommy sadari itu menyakiti Arez. Mommy menyesal, sampai kalian menikah secara diam-diam hanya karena kasus ini. Mommy minta maaf padamu, Mommy tidak tahu jika Arez sudah memiliki kekasih."
"Eh, itu... Em... sebenarnya kami...."
"Kalian tidak salah, Mommy tahu alasan kalian menikah diam-diam. Arez takut Mommy akan mengancammu, sampai dia terus menyembunyikan dirimu." Potong Sweet tersenyum tulus.
Ya Tuhan, bagaimana jika mereka tahu pernikahan ini hanya sementara? Apa Mommy akan kecewa?
"Temani Arez kemana pun dia pergi, anak itu memang tidak tahu caranya menunjukkan rasa kasih sayang. Tapi dia akan menunjukkan sisi lain pada orang-orang tersayangnya. Mungkin lambat laun kau akan mengerti bagaimana dia menunjukkan rasa cintanya padamu. Bersabarlah sedikit."
Sabrina tersenyum kikuk. "Ya, aku harap seperti itu."
"Ah iya, kau sudah pernah bertemu dengan ketiga adik suamimu?"
"Baru Alexella dan Alexa, Arel aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Pernah melihatnya di televisi, itu pun hanya sekali." Jujur Sabrina.
"Ah, anak itu selalu membuat ulah karena itu wajahnya selalu muncul di layar lebar. Tapi sekarang dia sudah tak sebrengsek dulu lagi, karena penawarnya sudah kembali." Celoteh Sweet seolah sudah mengenal Sabrina lebih jauh. Ia sama sekali tidak ragu bercerita panjang lebar pada menantunya tentang sifat keempat anaknya itu. Dan itu membuat hati Sabrina menghangat.
__ADS_1
Semua ketakutan Sabrina pun lenyap sudah. Tidak ada lagi rasa cemas akan penolakan keluarga Arez terhadap dirinya. Kini rasa takut itu berubah menjadi kebahagian yang mendalam. Sabrina merasa mendapatkan kembali sosok Ibu yang sudah lama ia rindukan. Sweet berhasil menariknya dalam zona nyaman dan damai. Sabrina berharap Ibu mertuanya itu dapat di jadikan orang tua sekaligus teman curhat kedepannya.
****
"Apa yang Mommy katakan padamu?" Tanya Arez saat mereka sudah dalam perjalan pulang.
"Banyak." Jawab Sabrina dengan senyumannya yang khas. Arez yang merasa penasaran pun menoleh, menatap istrinya penuh tanya. Sedangkan yang di tatap masih sibuk menyemil makanan ringan yang dibelinya beberapa saat lalu.
"Kau sangat mirip dengan kera. Rakus." Ledek Arez saat melihat cara makan istrinya. Sontak Sabrina langsung melayangkan tatapan membunuh karena tak terima dirinya disamakan dengan binatang primata itu.
"Kau mengataiku kera? Lalu kau apa huh? Suami kera, iya?" Kesal Sabrina melempar sebiji kacang ke wajah suaminya. Arez tersenyum tipis.
"Aku rasa tidak ada suami kera setampan diriku."
"Cih, percaya diri Anda tinggi sekali, Tuan. Kau tidak setampan itu." Ketus Sabrina mengunyah cemilan itu dengan kesal.
"Kau yang selalu memujiku setiap pagi, Sabrina."
"Itu kesalahanku, saat pagi mataku rabun, jadi aku salah melihat." Cicit Sabrina yang sebenarnya menahan malu karena dirinya ketahuan memuji ketampanan Arez setiap bangun tidur.
"Apa bibirmu juga ikut rabun? Kau mengecupku setiap pagi."
"Al! Berhenti mengataiku. Ya, aku akui kau itu sangat tampan. Aku beruntung mempunyai suami setampan dirimu, kau puas huh?" Seru Sabrina mulai kesal bercampur malu.
"Tidak."
"Terserah." Sahut Sabrina lanjut nyemil. Mengabaikan suaminya yang sejak tadi terus memperhatikan setiap gerak-geriknya.
"Oh iya, Al. Apa kita jadi ke rumah sakit?" Tanya Sabrina saat mengingat tentang Sky. "Aku belum pernah bertemu dengan mereka. Kau tahu, Al? Tadi aku bermain dengan Gabriel, dia sangat menggemaskan. Ingin sekali rasanya membawa bayi menggemaskan itu pulang."
"Hm. Memangya apa yang lebih menggemaskan dari Gabriel? Aku rasa tidak ada."
"Dia akan segera hadir dalam rahimmu." Jawab Arez tanpa ragu. Sontak Sabrina langsung menyentuh perutnya. Perkataan Arez berhasil menggelitik hatinya.
Kenapa aku sangat bahagia saat dia mengatakan itu? Apa aku berharap hal itu benar-benar terjadi? Ah, ada apa denganmu, Sab?
"Al, apa kau akan meninggalkanku saat nanti perutku membuncit? Bukankah aku akan terlihat jelek dan gendut? Kau pasti tak menyukaiku lagi kan?" Sabrina menatap Arez dengan memasang wajah sedih. Ia benar-benar takut Arez akan membuangnya.
"Aku tak akan membuang sesuatu yang sudah susah payah aku dapatkan, Sabrina." Tegas Arez.
"Apa kau menyukaiku, Al?" Tanya Sabrina menatap Arez begitu dalam.
"Tidak."
"Tapi aku mulai menyukaimu, Al." Sontak Arez langsung menginjak rem saat mendengar ungkapan istrinya. Beruntung Sabrina menggunakan seat belt, jika tidak dirinya akan terlempar kedepan.
"Al! Apa yang kau lakukan?" Pekik Sabrina yang hampir mengalami serangan jantung. Ia mengusap dadanya dengan lembut.
"Kau mengatakan apa tadi?"
"Aku bertanya, apa yang kau lakukan Al? Aku hampir mati kau tahu tidak?" Kesal Sabrina.
"Sebelum itu."
__ADS_1
"Eh, memangnya aku mengatakan apa sebelumnya?" Sabrina memberikan tatapan bingung.
Arez menggeram kesal. Kemudian melajukan kembali mobilnya dengan perasaan jengkel. Sedangkan Sabrina tersenyum lucu. Sebenarnya ia tidak benar-benar lupa dengan perkataannya. Sengaja ingin mengerjai Arez karena membuatnya hampir serangan jantung.
Beberapa waktu selanjutnya, Arez dan Sabrina pun sudah berada di rumah sakit. Kini keduanya tengah berjalan menuju ruangan di mana Sky di rawat.
Sepasang suami istri itu memasuki sebuah ruangan VVIP dengan semau fasilitas lengkap di dalamnya. Sang penghuni ruangan itu sempat kaget saat melihat kehadiran Arez dan Sabrina yang dadakan.
Sky terus memperhatikan wajah Sabrina dengan seksama, begitu pun sebaliknya.
"Hy, bagaimana kondisimu hari ini?" Sapa Sabrina seraya meletakkan buket bunga lily putih di atas nakas. Kemudian tanpa rasa canggung ia pun duduk di bibir brankar di mana Sky masih terbaring.
"Kau Sabrina?" Tanya Sky mengulas senyuman lebar.
"Hm." Sabrina pun mengangguk antusian.
"Ah, aku sangat sanang bisa melihatmu. Suamiku benar, kau sangat cantik, Sab. Terima kasih atas hadiahmu, aku sangat menyukainya." Ucap Sky dengan tulus.
"Aku juga senang bisa melihatmu, turut berduka atas bayimu." Sky mengangguk pelan.
"Aku sudah mengiklaskannya."
"Di mana suamimu?" Tanya Arez saat tak melihat keberadaan kembarannya.
"Dia keluar, mungkin sebentar lagi kembali." Jawab Sky menatap Arez yang tengah duduk di sofa. Lalu kembali mengalihkan pandangan pada Sabrina.
"Sayang sekali Gabriel tidak ada di sini, seharunya dia berkenalan dengan Auntynya."
"Kami sudah bertemu tadi, bahkan aku bermain dengannya."
"Oh ya? Kalian dari mansion?" Kaget Sky.
"Ya, first meet with mother-in-law." Sahut Sabrina dengan tawa renyahnya.
"Bagaimana kesan pertamamu?"
"Dia sangat luar biasa, aku senang memiliki Ibu mertua sebaik dirinya. Kau tahu? Sebelum bertemu denganya, aku selalu berpikiran buruk. Aku kira Ibu mertua kita itu jahat dan arrogant. Kau tahu lah, aku memiliki suami sedingin es. Jadi jangan salahkan aku jika pikiranku seburuk itu." Jawab Sabrina panjang lebar dan sedikit menyindir suaminya. Sky tertawa renyah mendengar itu. Sedangkan yang disindir sama sekali tak menanggapinya.
"Kau lihat itu, dia sama sekali tak memiliki ekspresi. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa rupa anaknya nanti?" Kesal Sabrina saat melihat wajah datar suaminya.
Sky terkekeh geli. "Oh iya, apa sudah ada kabar baik?" Tanya Sky sambil mengusap perut Sabrina.
"Huh, partanyaan apa itu? Usia pernikahanku belum genap dua minggu. Lagi pula aku belum siap hamil, aku masih takut dia akan meninggalkanku." Jawab Sabrina sedikit berbisik dikalimat terakhirnya. Lagi-lagi Sky terkekeh geli mendengar ocehan lucu Kakak iparnya.
"Maka jerat dia dengan pesonamu lebih dulu, Sab. Aku yakin dia tak akan meninggalkanmu. Lagi pula kau sangat cantik, meski dia membuangmu nantinya. Akan banyak tangan lelaki yang menyambutmu." Ujar Sky ingin memancing reaksi Arez. Benar saja, lelaki itu langsung melempar tatapan tajam padanya.
"Aku rasa dia tak akan melepaskanmu, Sab. Aku bisa melihatnya." Bisik Sky.
"Bagaimana kau tahu itu?" Balas Sabrina yang juga ikut berbisik.
"Ada kobaran cinta dimatanya."
"Apa kau cenayang?"
__ADS_1
"Ya, anggap saja begitu."
Kedua wanita sama usia itu pun tertawa bersama. Seolah mengabaikan keberadaan Arez di sana. Keduanya terlihat cocok satu sama lain. Dan itu membuat Sabrina kembali merasakan hangatnya kekeluargaan. Perasaan yang tak pernah ia dapatkan dari keluarganya sendiri.