Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 75


__ADS_3

"Sayang, di mana Arez?" Tanya Alex saat tak menemukan putra sulung mereka. Sweet yang sejak tadi bermain dengan Alexa pun merasa kaget. Ia menghampiri Alex yang masih berdiri di ambang pintu.


Mala pun ikut menghampiri sang Ayah. "Tadi dia ada di sana," tunjuk Mala ke arah ranjang. Tetapi tempat itu sudah kosong.


Alex berdecak kesal, ia sangat menghkhawatirkan putranya. Ia juga mulai mengelilingi kamar, begitu juga Sweet dan Mala. Sesekali mereka memanggil nama Arez.


Bagaimana jika seseorang menculik putraku? Pikiran Alex buntu.


Sweet menghampiri Arel dan Alexa yang tampak bingung.


"Anak-anak, tunggu di sini ya? Jangan ke mana-mana." Ujar Sweet meminta kedua anaknya duduk di ranjang. Lalu mereka pun memgangguk sebagai jawaban.


"Kamu cari dia di bawah," perintah Alex pada Mala. Wanita itu pun langsung menuruti perintah sang Ayah dan bergegas pergi.


Sweet menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift. "Mas, ini apa? Kenapa ada lift di sini?" Tanya Sweet yang baru menyadarinya. Alex yang mendengar itu lansung menghampiri sang istri.


"Ini lift menuju ruang bawah tanah, tidak mungkin putra kita ke sana." Jelas Alex.


"Ck, kamu tidak tahu, Mas. Anak kamu yang satu itu cukup berani," ujar Sweet langsung menekan tombol merah. Ia sangat yakin putranya ada di sana.


"Bawa anak-anak," perintah Sweet pada Alex. Lalu pintu lift pun terbuka, Sweet masuk ke sana tanpa menunggu suaminya. Saat ini ia benar-benar khawatir.


Alex menghanpiri si kembar dan langsung menggendong keduanya. Lau membawa mereka menuju ruang bawah tanah.


Hilangnya Arez berhasil membuat kehebohan seisi rumah. Atas perintah Mala, seluruh pelayan ikut mencari keberadaan Tuan kecil mereka.


Sweet keluar dari dalam lift dengan langkah pasti. Menyusuri lorong kecil yang terhubung dengan sebuah ruangan. Sweet tidak asing lagi dengan tempat itu, karena dulu ia pernah masuk ke sana. Ya, tempat itu adalah studio lukis tempat Alex menuangkan pikirannya.


Langkah kaki Sweet tertahan, saat melihat putranya tengah sibuk dengan alat lukis. Bahkan tangan mungil itu sudah dipenuhi berbagai warna cat dan tidak menyadari keberadaannya. Sweet bernapas lega. Dan tidak memiliki niat untuk menganggu putranya.


Alex yang baru saja muncul ikut menahan langkahnya, mengikuti arah pandangan istrinya. Perasaan khawatirnya lenyap sudah, dan berganti dengan senyuman lebar.


"Jangan mengganggunya," bisik Sweet saat Alex menyejajarkan diri dengannya. Seulas senyuman terbit di bibir lelaki itu. Padahal tadi ia terlihat khawatir, sekarang wajahnya memancarkan perasaan bahagia.


Entah mengerti perkataan kedua orang tuanya, Arel dan Alexa pun tidak bersuara sama sekali. Dan hanya menonton sang Kakak yang masih asik mencoret-coret kanvas.


"Sebaiknya kita biarkan dia di sini, tempat ini aman untuknya." Ujar Alex yang di jawab anggukkan oleh Sweet. Lalu mereka pun meninggalkan tempat itu dengan perasaan lega.


"Hentikan pencarian kalian, putraku ada di tempat yang aman." Perintan Alex saat melihat para pelayan sibuk menggeledah seisi rumah.


Mendengar perintah Tuannya, mereka pun sedikit membungkuk untuk memberikan hormat. Lalu berggas pergi dari sana.


"Ayah, di mana Arez? Mala sudah menelpon polisi." Ujar Mala menghampiri Alex dan Sweet.


"Dia ada di ruang bawah tanah," jawab Sweet. Mala pun terlihat menghela napas lega.


"Baiklah, aku akan segera menghubungi polisi untuk berhenti melakukan pencarian." Kata mala yang hendak pergi.


"Di mana Ibumu? Sejak tadi aku tidak melihat keberadaanya." Tanya Alex yang berhasil memahan langkah kaki Mala. Wanita itu pun berbalik.


"Em... sepertinya Mama sedang berkencan. Sudah hampir satu bulan dia berkenalan dengan seorang duda kaya." Jawab Mala sekenanya.


Alex yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya.


"Siapa itu? Apa lelaki itu benar-benar serius pada Ibumu?"


"Ya, aku sudah menyelidikinya jauh-jauh hari. Dia laki-laki baik, istri pertamanya meninggal saat melahirkan putra pertama mereka. Aku rasa lelaki itu benar-benar mencintai Mama. Aku harap seperti itu." Jawab Mala tersenyum simpul.


"Syukurlah jika Ibumu sudah menemukan cintanya, bagaimana denganmu?"

__ADS_1


"Ayah, kau tahu kan aku masih mencintai mendiang suamiku. Aku... aku belum siap untuk membuka hati."


Alex menghela napas panjang saat mendengar jawaban Mala. Ia tidak dapat memaksa anak itu untuk membuka lembaran baru.


"Aku harap kamu selalu bahagia, aku menyayangimu."


"Aku juga menyayangimu," jawab Mala tulus.


"Lexa juga sayang Daddy, Mommy dan Kak Mala." Timpal Alexa. Semua orang yang mendengar itu tersenyum senang.


"Jadi kamu tidak menyayangi Kakak huh?" Tanya Arel menatap Alexa tajam.


"Aku juga menyayangimu, Kakak bawel." Balas Alexa yang disambut tawa semua orang.


"Sweet," panggil seseorang dari arah pintu utama.


Sweet yang merasa terpanggil pun langsung menoleh. Matanya melebar sempurna saat menangkap seseorang yang amat ia rindukan. "Grace?"


Sweet menghampiri wanita itu dengan langkah cepat.


"Ya tuhan, aku sangat merindukanmu, Sweet." Grace memeluk Sweet dengan seorang bayi mungil digendongannya.


"Aku juga merindukanmu, Grace." Balas Sweet.


"Hentikan itu Nyonya besar, putriku terjepit." Protes Josh yang juga menggendong seorang anak laki-laki berusia dua tahun.


Grace maupun Sweet menarik diri masing-masing. Lalu mata Sweet tertuju pada bayi mungil yang masih terlelap dalam gendongan sahabatnya.


"Cantik sekali," ucap Sweet membawa bayi gembul itu ke dalam gendongannya.


"Seperti Mommynya," sahut Grace begitu percaya diri.


"Tuan," sapa Josh pada Alex.


"Apa kabarmu?" Tanya Alex basa-basi. Karena ia tahu betul lelaki itu baik-baik saja jika masih bisa berjalan.


"Baik, sangat baik." Jawab Josh yang kemudian terkekeh. Lalu mereka pun ikut bergabung dengan Sweet dan Grace.


"Mommy, dia sangat cantik. Boleh Lexa menciumnya? Tanya Alexa sambil menoel pipi gembul bayi mungil milik Grace dan Joshua.


"Tentu, Sayang." Jawab Grace mengusap rambut Alexa dengan lembut. Tanpa banyak berpikir, Alexa langsung mencium pipi gembul itu dengan gemas.


"Mommy, Arel juga ingin menciumnya." Ujar Arel naik ke atas sofa. Lalu mencium pipi gembul itu hingga menimbulkan warna merah. Bayi gemuk itu pun merasa terganggu dari tidurnya. Namun, tidak benar-benar membuatnya terbangun.


Semua orang yang melihat tingkah lucu Arel pun tertawa riang.


"Di mana putramu yang satu lagi?" Tanya Grace melihat kiri dan kanan mencari keberadaan Arez.


"Dia sedang menikmati dunianya sendiri," jawab Alex.


Grace yang mendengar itu merasa bingung.


"Dia mewarisi bakat Daddynya, melukis." Tambah Sweet.


"Ya ampun, anak sekecil itu bisa melukis?" Tanya Grace tidak percaya.


"Ya, dia putraku. Tentu saja bisa melakukan itu," jawab Alex sombong. Sweet langsung menatap Alex tak suka.


"Benarkan? Dia memang putraku dan berbakat sepertiku," ujar Alex saat menyadari tatapan istrinya. Sweet memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Kau tahu Grace? Terkadang aku jengah memiliki suamu tua dan sangat sombong." Ujar Sweet pada Grace.


"Ya, itu benar. Aku juga merasakan hal yang sama." Sahut Grace yang kemudian tertawa renyah.


"Sepertinya kita harus menjauh dari mereka," ujar Alex bangun dari posisinya.


"Sayang, aku titip Ansel padamu." Ujar Joshua menyerahkan putra mereka pada ibunya. Lalu bergegas pergi menyusul Alex. Grace cuma bisa menggeleng sambil menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu lift.


Arez dan Alexa membawa Ansel bermain. Ketiganya terlihat senang dan terus bermain bersama.


"Grace, kakimu sudah sembuh?" Tanya Sweet saat menyadari jika Grace tak lagi memakai alat bantu.


Grace pun tersenyum tipis. "Ini berkat suamimu," jawab Grace yang berhasil membuat Sweet bingung.


"Suamimu membantuku dalam proses pengobatan, aku sangat bersyukur, Sweet. Ternyata kau mendapat suami sebaik Alex. Meski dia sedikit menyebalkan," jelas Grace.


"Aku tidak tahu itu," sahut Sweet yang menyesal karena sudah melewatkan semua momen.


"Bukan hanya aku, kau masih ingat Daisy?" Tanya Grace.


"Tentu, dia pelayan di sini. Di mana dia? Bahkan aku belum melihatnya sama sekali."


"Tentu saja dia tidak ada lagi di sini, dia sudah menjadi istri seorang CEO." Jawab Grace dengan semangat. Sepertinya banyak perubahan dalam diri Grace. Bahkan dulu wanita itu sangat jarang bercerita seperti saat ini.


"CEO?" Tanya Sweet semakin penasaran.


"Ya, CEO Diamond Hotel. Maxie Clodio Muller."


"Maxie? Apa yang kau maksud itu Max?" Tanya Sweet semakin penasaran.


"Ya, salah satu lelaki kepercayaan suamimu selain suamiku."


Mulut Sweet sedikit terbuka, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kau harus tahu, mereka dijodohkan oleh suamimu. Karena Daisy memperlakukanmu dengan baik, jadi suamimu memberikan dia hadiah pernikahan."


"Ah, ternyata begitu banyak cerita yang aku lewati, Grace." Sweet mengeluh pasrah.


"Tidak juga, kau sudah mendengarnya dariku."


Sweet menatap Grace jengah. "Aku seperti melihat dirimu yang lain, Grace. Sejak kapan kau sangat cerewet?"


Grace tersenyum simpul mendengar pertanyaan sahabatnya. "Entahlah, suamiku bilang aku lebih banyak bicara sejak hamil Clara."


"Ck, aku tidak percaya itu." Dengus Sweet yang kembali memperhatikan bayi mungil yang masih saja terlelap. Padahal sejak tadi mereka terus ribut, tetapi tak mempengaruhi bayi itu.


"Sweet, aku menyukai dirimu yang sekarang. Kau sangat cantik dengan kain dikepalamu itu. Benar-benar memperlihatkan dirimu yang asli," ujar Grace tersenyum tulus.


"Hm. Suamiku juga mengatakan hal yang sama. Bahkan hampir seribu kali ia mengatakan hal yang sama. Padahal sudah kewajibanku sebagai seorang muslimah untuk menutup aurat, kau tahu itu."


"Ya, aku tahu."


"Hey, apa dia kerbau?" Tanya Sweet menunjuk bayi mungil yang masih asik bermain di alam mimpi.


"Ck, dia memang seperti itu. Persis seperti ayahnya," jawab Grace apa adanya.


"Oh iya Grace, kenapa kau tidak mengajak Daisy kemari?" Tanya Sweet menatap Grace lamat-lamat.


"Ck, aku lupa mengatakan padamu. Daisy baru saja melahirkan anak keduanya dua hari yang lalu." Jawab Grace.

__ADS_1


"Itu artinya aku yang harus ke sana." Kata Sweet sambil mencubit hidung kecil Clara. Bayi mungil itu pun terbangun dan langsung menangis. Sweet dan Grace pun tertawa bersama melihat tingkah bayi gemuk itu.


__ADS_2