Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 40


__ADS_3

"Ah, keberuntungan ada di pihak kita. Kehadiran wanita itu akan membantu kita untuk mengusir wanita sombong itu. Gilly, kita akan melakukan rencana ini secepat mungkin. Aku ingin melihat apakah wanita itu masih bersikap sombong atau menangis meratapi nasib buruknya," ujar seorang wanita memakai dress merah bicara pada seseorang di balik telepon. Ia adalah Cherry, yang saat ini ia berada di sebuah penthouse miliknya.


"Ambil waktu yang tepat, agar rencana kita benar-benar berhasil. Aku tidak ingin semuanya gagal," tambahnya. Lalu ia pun memutuskan panggilan, melempar asal ponselnya di atas kasur. Ia pun tersenyum penuh makna, menatap lembayung senja di balik jendela. Mungkin wanita lain akan menyerah saat cintanya bertepuk sebelah tangan, tetapi tidak bagi Cherry. Selagi masih dapat di perjuangkan, kenapa tidak mencoba lagi? Ah, pemikiran orang tidak ada yang sama. Siapa berani maju, maka dia harus berani menanggung segala hasilnya.


***


Suara ketukan meja berirama, sejak tadi terus beralun di ruangan besar milik seorang pimpinan Digan't Group. Lelaki berkemeja hitam itu terus mengetuk meja dengan jemarinya, mata tajamnya tertuju pada sebuah frame yang sengaja ia letakkan di atas meja kerja. Seorang lelaki berpakaian formal sejak tadi berdiri di sampingnya, memperhatikan setiap pergerakan Tuannya. Sudah hampir satu jam ia berdiri di sana, menunggu perintah dari sang Tuan yang tak kunjung ia dapat.


"Josh, apa yang bisa membuat para wanita bahagia?" tanya Alex mulai membuka suara. Josh, si pemilik tubuh jangkung itu pun sedikit kaget mendengar pertanyaan Alex yang notabennya tidak pernah mau tahu tentang wanita. Ia terdiam sesaat, mencerna pertanyaan sang Tuan.


Josh mulai mengerti arah pembicaraan Alex, sudah pasti Sweet lah yang menjadi alasannya saat ini. Apa mungkin Tuan benar-benar jatuh cinta pada, Nyonya. Sepertinya aku harus membantu Tuan kali ini, pikir Joshua.


"Maaf, Tuan. Jika saya boleh memberikan saran, sebaiknya Tuan memenuhi keinginan Nyonya. Karena wanita akan bahagia jika lelakinya mengabulkan apa yang mereka inginkan." Joshua menatap Alex yang masih bergeming beberapa saat.


"Perjelas maksud perkataanmu," perintah Alex yang belum memahami arah pembicaraan Joshua. Alex memang terlihat bodoh jika membahas tentang wanita, hampir dua puluh tahun ia menutup mata pada manusia yang bernotaben wanita. Bisa dikatakan, ia dibutakan oleh cinta pertamanya.


Ingin sekali rasanya Joshua menertawai Alex yang mendadak bodoh. Biasanya lelaki itu begitu cepat tanggap, tapi kali ini Joshua harus bicara lebih banyak untuk menjelaskan maksud perkataannya.


"Sejak awal Nyonya menginginkan pernikahan yang sah, Tuan. Mungkin Anda bisa mengabulkannya sekarang. Kebanyakan wanita itu menginginkan bukti, bukan hanya perkataan belaka. Nyonya berbeda dengan wanita lain, membutuhkan sebuah bukti yang nyata dari, Tuan." Joshua mencoba untuk menjelaskan sedikit maksudnya. Berharap Alex memahami setiap ucapannya yang sudah susah payah ia rangkai.


"Jadi selama ini kau memperhatikan istriku?"


Joshua terhenyak mendengarnya, bukan itu maksudnya. Ya, memang benar selama ini Joshua selalu memperhatikan segala sesuatu yang ada dalam diri gadis itu. Tidak ada maksud lain, hanya untuk memastikan jika wanita itu benar-benar layak berada disisi Alex. Tidak ada yang buruk dari gadis itu, buktinya ia mampu mencairkan hati Alex yang sudah membeku selama puluhan tahun.


"Saya tidak berani, Tuan. Hampir setiap hari saya bertegur sapa dengan Nyonya. Jadi saya sedikit memahami seperti apa Nyonya," jelas Joshua sedikit membungkuk.


Tidak ada sahutan dari Alex, hanya terdengar suara helaan napas berat yang keluar dari mulutnya.


"Hmmm," gumam Alex seraya bangun dari sofa. Ia berjalan perlahan ke arah jendela besar yang memperlihatkan keindahan Kota Berlin. "Sepertinya kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"


Joshua terdiam sesaat, mencerna perkataan Alex barusan.


"Aku ingin pesta yang mewah," lanjut Alex. Kali ini Joshua mulai mengerti ke mana arah perbincangan Alex. "Malam ini, apa kau sanggup?"


"Saya sanggup, Tuan. Tidak perlu khawatir, saya akan menyiapkan semuanya." Joshua terlihat begitu mantap dengan perkataannya.

__ADS_1


"Batalkan semua meeting hari ini sampai dua hari ke depan, tidak perlu memberi tahunya. Cukup kau yang mengurus semua ini," perintah Alex. Joshua pun mengangguk setuju. Kini bulan sabit mulai bersinar di wajah Alex. Bayangan indah tengah memenuhi pikirannya.


Berbeda dengan Alex yang tengah bahagia, Sweet terlihat gelisah karena mendapat sebuah pesan singkat dari seseorang. Isi pesan itu memberi tahu jika keadaan keluarganya sedang tidak baik-baik saja.


Sweet memijat kepalanya yang terasa nyeri, seakan semuanya hampir meledak bersamaan. Belum lagi masalahnya dengan Alex, ia benar-benar pusing dengan semua drama hidupnya.


Suara ketukan pintu pun berhasil membuat Sweet kaget, ia mengedar pandangan ke arah pintu. Kemudian pintu itu pun terbuka perlahan. Betapa kagetnya ia saat melihat Alex di sana. Mau apa lagi sih? Gurutunya dalam hati.


Alex bersandar di bibir pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Lengan bajunya tergulung setengah, memperlihatkan otot kekar yang membuat semua wanita hilang kesadaran.


"Ikut aku sekarang," perintah Alex menatap Sweet penuh arti.


"Jadwal meeting masih satu jam lagi," sahut Sweet dengan malas. Pikirannya masih berkecamuk, dan tidak bisa berfikir jernih.


"Dipercepat, ikut denganku sekarang." Tegas Alex. Sweet merasa heran, tidak biasanya Alex datang ke ruangannya dan mengajaknya langsung seperti ini.


Merasa kesal karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, lelaki itu pun langsung menghampiri Sweet. Mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan sang gadis. "Aku hitung sampai lima, jika kau masih belum bergerak aku akan menggendongmu ke luar."


Kedua alis milik Sweet pun saling terpaut, bingung dengan ancaman yang Alex lontarkan.


"Aku punya kejutan untukmu," ucap Alex tersenyum manis.


"Ini jam kerja, tidak baik jika orang lain melihat kita seperti ini." Sweet mencoba protes dan melepas genggaman tangan Alex. Namun lelaki itu sudah lebih dulu mengunci jemarinya, tangan kecil milik Sweet sama sekali tidak dapat menolak.


"Tidak perlu cemas, cepat atau lambat mereka akan tahu hubungan kita." Alex mengangkat lengan mungil Sweet, lalu mengecupnya dengan lembut dengan tatapan yang penuh perasaan. Sweet yang merasa diperlakukan berbeda pun memalingkan wajahnya.


"Jangan pernah memalingkan wajahmu dariku, Anna. Aku tidak menyukai itu," ucap Alex menarik dagu Sweet. Lalu mata mereka pun saling mengunci satu sama lain. Tangan Alex yang masih menganggur pun sedikit bergerak untuk menyentuh bibir manis milik sang wanita.


"Aku ingin mencicipimu lagi," bisik Alex yang berhasil mendapatkan tatapan maut dari Sweet.


"Aku hanya bercanda, ikutlah denganku sebentar." Alex tetawa renyah, lalu ia pun membawa Sweet keluar dari ruangan.


Semua orang yang ada di luar merasa kaget saat melihat kedekatan sang atasan dengan sekretaris barunya. Banyak dari mereka yang mengira bahwa hubungan Alex dan Sweet sedang renggang. Tetapi berbeda dengan apa yang mereka lihat saat ini, Alex begitu mesra menggenggam tangan Sweet. Seakan takut untuk melepaskan gadis itu.


"Ah, akhirnya apa yang aku tunggu terjadi juga. Aku harap Alex Junior akan segera hadir." Adel tersenyum puas dengan apa yang ia lihat. Namun berbeda dengan seorang wanita yang ada di sebelahnya, wajahnya terlihat memerah seakan menahan amarah, mungkin lebih tepatnya cemburu melihat kedekatan Alex dan Sweet.

__ADS_1


"Cih, wanita seperti dia tidak cocok berdampingan dengan Tuan." Cerca sekretaris Halley. Adel yang mendengar itu tertawa renyah.


"Mungkin kau cemburu karena tidak mendapatkan apa yang kau mau, bukan? Sudahlah, jangan terus bermimpi untuk mendapatkan Tuan, dia sudah berpemilik." Setelah mengatakan itu, Adel bergegas pergi menuju ruangannya. Sedangkan sekretaris Halley semakin kesal dan memendam perasaan marah.


"Untuk apa kita datang ke sini?" tanya Sweet saat mereka tiba di sebuah butik ternama. Alex yang mendengar pertanyaan itu hanya tersenyum, lalu beranjak keluar dari mobil.


"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan sesuatu yang kau tidak suka," ujar Alex setelah membukakan pintu untuk Sweet. Gadis itu keluar dengan perasaan ragu.


"Apa kau masih ragu padaku?" tanya Alex membawa Sweet masuk ke dalam butik. Gadis itu terlihat mengerut saat melihat begitu banyak pajangan gaun pengantin.


"Ini butik khusus gaun pengantin, apa kita tidak salah tempat?" tanya Sweet mengangkat kepalanya untuk menatap Alex. Lelaki itu lagi-lagi hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Selamat datang, Tuan. Semua sudah saya persiapkan, silakan masuk ke dalam ruangan khusus." Seorang wanita cantik memberi arah pada Alex dan Sweet. Keduanya pun mengikuti langkah sang wanita dengan santai.


Untuk yang kesekian kali Sweet dibuat terkejut, ternyata ruangan itu di pesan khusus oleh Alex. Tentu saja Sweet tahu, beberapa pelayan terus berbisik jika Alex sudah memboking tempat ini.


"Segera lakukan tugas kalian, jangan membuatku kecewa," perintah Alex tegas. Beberapa pelayan yang ada di sana pun langsung menghampiri Sweet dan manarik gadis itu duduk di depan meja rias. Sweet tidak memberikan komentar apa pun, hanya menatap Alex dari balik cermin. Lelaki itu telihat begitu santai sambil duduk di sofa empuk.


Beberapa menit berlalu, bibir Alex terkatup rapat, matanya seakan enggan untuk berkedip. Sosok bidadari yang berdiri tepat di depannya berhasil menghipnotis Alex. Sweet kini sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang telihat pas di tubuh mungilnya. Begitu pun dengan Alex, entah sejak kapan sudah mengganti pakaiannya. Kini mereka terlihat begitu serasi dengan pakaian yang senada.


"Kau sangat cantik, istriku." Alex memuji kecantikan Sweet dengan tulus. Rambut panjang Sweet yang tersanggul rapi dan dihiasi beberapa aksesoris rambut menambah keanggunan dalam dirinya.


"Untuk apa semua ini?" tanya Sweet masih bingung dengan maksud Alex.


"Kita harus segera pergi, waktu kita hanya sedikit." Alex menggenggam erat tangan Sweet, dan membawa gadisnya keluar dari butik.


***


Sweet masih tidak percaya dengan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu, Alex benar-benar menikahinya di depan penghulu, mengikatnya dalam ikatan sakral dan suci. Yang artinya ia sudah sah menyandang status Nyonya Digantara baik secara agama maupun hukum. Ditatapnya cincin yang melingkar di jari manis, cincin itu sudah berganti dari yang sebelumnya.


Sweet masih tidak percaya Alex bisa dengan mudah melepas cincin itu. Kuncinya ada di cincin yang Alex gunakan. Alex memang sengaja mendesain cincin khusus untuk pernikahannya. Mungkin orang lain akan beranggapan jika lelaki itu begitu narsis, tetapi memang itu adanya.


"Aku sudah membuktikan padamu, aku harap kau selalu percaya padaku," ucap Alex menarik tangan Sweet ke atas pengakuannya. Saat ini mereka masih dalam perjalanan, Sweet sendiri tidak tahu kemana Alex akan membawanya.


"Tidak mudah bagiku untuk mempercayai orang lain," sahut Sweet menarik kembali tangannya. Alex menatap wajah Sweet, gadis itu masih sama. Seakan enggan untuk melihat wajahnya.

__ADS_1


"Aku akan menunggu," ucap Alex kembali menarik tangan Sweet. Menciumnya dengan lembut. Kali ini ia menggenggam tangan Sweet dengan sangat erat. Tidak membiarkan gadis itu menolaknya lagi.


__ADS_2