Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 85


__ADS_3

Seluruh penghuni mansion terlihat sedang berkumpul di ruang keluarga. Saat ini mereka tengah gembira, karena mendengar kabar tentang Mala yang menerima lamaran Bian. Tak terkecuali Sweet, Ibu hamil yang satu itu terlihat antusias untuk menyiapkan segala urusan pernikahan.


"Ok. Kapan kalian berencana untuk menikah? Aku akan mengurus semua keperluannya." Tanya Sweet begitu bahagia.


"Nope, aku tak mengizinkanmu terlalu lelah. Kita bisa membayar orang lain untuk menyiapkan keperluannya. Kau tinggal duduk manis dan nikmati hasilnya." Protes Alex tak terima dengan ide Sweet.


"Mas, ini acara langka. Biarkan aku ikut berkecimpung. Mana bisa aku hanya duduk dan menonton. Itu tidak adil sama sekali." Omel Sweet yang juga tak terima dengan keputusan suaminya. Semua orang yang melihat itu tersenyum geli.


"Mom, ini pernikahan kami. Biar kami yang mengurus semuanya. Lagian kami sudah memutuskan untuk membuat acara sederhana." Ujar Mala ikut menimpali perdebatan yang sedang terjadi.


"Aku tidak setuju!" Sergah Sweet dan Nyonya Sasmitha bersamaan. Keduanya berhasil menarik perhatian semua orang.


"Bian cucu pertama keluarga kami, tentu saja acara ini harus besar. Kamu juga anak pertama di rumah ini. Tentu saja acara ini tidak boleh sembarangan." Protes Nyonya Sasmitha.


"Aku setuju dengan pendapat Nenek, kita harus adakan acara besar. Kita gunakan Digan't Hotel sebagai tempat pesta. Supaya para tamu undangan lebih puas. Lagi pula ini pernikahan sekali seumur hidup, Mala. Jadi tidak ada salahnya kita buat acara besar." Timpal Sweet panjang lebar.


Mala yang mendengar itu langsung menatap Bian. Lelaki itu tampak santai dan tak sedikit pun berniat membantah. Membuat Mala sangat kesal. Kemudian ia pun kembali memusatkan perhatian pada Sweet.


"Mom, aku rasa itu terlalu berlebihan. Digan't Hotel terlalu besar. Aku rasa...."


"Sayang, sebaiknya kita ikuti saja kemauan para orang tua ini. Aku rasa tidak ada salahnya kita membuat pesta besar." Potong Bian tersenyum ramah.


Mendengar itu, Mala semakin kesal. "Terserah."


"Ok... itu artinya semuanya akan berjalan dengan semestinya. Segera tentukan tanggal pernikahan. Kami akan langsung mengurus semuanya." Ujar Sweet begitu semangat.


"Milan, apa kau tidak ingin sekalian mengadakan pesta?" Tanya Alex pada Milan yang sejak tadi tak bersuara.


"Aku rasa tidak, biarkan anak-anak berbahagia lebih dulu. Selanjutnya aku akan membicarakan ini dengannya." Sahut Milan tersenyum tulus.


"Terserah padamu, aku hanya mengingatkan. Usiamu sudah tidak muda lagi, sudah saatnya menggandeng seseorang."

__ADS_1


"Katakan saja kau bosan melihatku kan?" Tanya Milan menatap Alex kesal.


"Ya... sedikit." Gurau Alex yang berhasil mengundang tawa semua orang.


"Kau tenang saja, aku akan segera pergi dari mansion ini." Ujar Milan melipat kedua tangannya di dada.


"Baik, akan aku tunggu hari itu terjadi."


"Mas, jangan membuatnya kesal." Sweet memukul lengan suaminya pelan.


"Biarkan saja, dia akan terlihat semakin tua saat sedang kesal. Lihat itu, kerutan di mana-mana."


"Hey... Tuan. Anda harusnya sadar diri, jika Anda juga sudah tua bangka." Kesal Milan seraya melempar bantal ke arah Alex.


"Sudah cukup, sekarang kita kembali ke topik utama. Kapan kalian akan menikah?" Sweet menatap kedua calon mempelai penuh tanya.


"Bulan depan, setelah urusanku di Indonesia beres. Kami akan melangsungkan pernikahan. Benar kan, Sayang?" Sahut Bian yang kemudian menatap calon istrinya.


"Ya, kami sudah sepakati tanggalnya." Mala pun memberikan senyuman palsunya. Sebenarnya ia tidak terlalu senang dengan pernikahan itu. Baginya itu hanya pernikahan kontrak yang tak terlalu penting. Karena itu ia keberatan dengan pesta yang meriah. Namun keputusan keluarga besar tak mungkin ia patahkan. Bagaimana jika mereka tahu? Jika pernikahan ini hanya sebuah formalitas.


***


Setelah obrolan panjang dengan keluarga besarnya. Mala meminta Bian untuk bicara empat mata. Dan saat ini mereka berada di balkon lantai atas.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Bian karena Mala masih belum membuka pembicaraan. Wanita itu masih terdiam sambil menatap gelapnya langit malam.


"Aku merasa sedang membohongi semua orang. Mereka terlalu serius dalam pernikahan ini. Padahal ini hanya pernikahan kontrak." Mala menghela napas gusar.


Bian tersenyum penuh arti. "Jangan khawatir, mereka tidak akan tahu masalah ini. Kita akan bersikap layaknya pasangan suami istri di depan mereka. Tapi di ranjang, kita hanya sebatas teman. Aku akan pastikan itu. Percayalah, aku tidak akan membuatmu kecewa."


Mala menatap Bian penuh selidik. "Kau sangat aneh, Bian. Lelaki lain akan menolak hal ini, tapi kau menerimanya dengan begitu mudah. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?"

__ADS_1


"Rencana? Aku tidak pernah merencanakan apa pun. Rencanaku hanya satu, yaitu menjadikanmu istriku." Sahut Bian tersenyum lebar.


"Hentikan itu, kita sudah sepakat ini hanya pernikahan kontrak. Setahun kemudian kita akan berjalan di jalan masing-masing." Kesal Mala memalingkan wajahnya dari Bian.


"Aku akan mengingatnya, Sayang."


"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Aku merasa menjadi istrimu sungguhan." Ketus Mala melipat kedua tangannya di dada.


"Tapi kau akan menjadi istriku sungguhan bukan?"


Mala mendengus kesal mendengar pertanyaan menyebalkan itu. "Terserah, aku mengantuk." Pungkas Mala langsung meninggalkan Bian sendirian.


"Kau sangat menggemaskan, Sayang. Aku tidak sabar untuk menyematkan cicin pernikahan di jarimu. Karena setalah itu, kau tidak akan bisa lepas dari genggamanku. Wanitaku hanya akan menjadi milikku seorang." Bian tersenyum smirk. Lalu pandangannya lurus ke depan, pada cahaya lampu yang menerangi halaman depan dari gelapnya sang malam.


Di kamar, Mala cukup terkejut saat melihat sang Mama sudah duduk di tepi ranjang dengan senyumannya yang khas.


"Mama sudah lama di sini?" Tanya Mala menghampiri sang Mama. Lalu duduk di sebelahnya.


"Baru lima menit, Mama cuma pengen ketemu anak Mama yang sebentar lagi akan menjadi istri orang. Mama pasti akan merindukan kamu," Balas Milan merengkul pundak putrinya. Mala pun tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu sang Mama.


"Kalau Mama keberatan Mala pergi. Mala akan minta tinggal di sini."


"Mana boleh, kamu harus tetap ikut ke mana pun Bian pergi. Lagian setelah Mama menikah, Mama juga bakal ikut suami Mama. Mama akan menetap di Belanda."


Mala yang mendengar itu menegakkan tubuhnya dan menatap sang Mama penuh tanya. "Uncle Carlos akan pindah ke Belanda?"


"Iya, dia akan melanjutkan usahanya yang sempat fakum di sana. Jadi jangan cemaskan Mama, oke? Kamu harus tetap mengikuti suami kamu. Mama yakin Bian akan selalu membahagiakan kamu." Ujar Milan mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Mala pun langsung memeluk Milan dengan erat.


"Belum apa-apa Mala sudah merindukan, Mama. Sejak Mala lahir ke dunia, Mama tidak pernah jauh dari Mala. Sekarang kita akan berpisah jarak dan waktu." Mala mulai meneteskan air matanya. Bukan perpisahan yang membuatnya sedih. Melainkan kebohongan yang ia sembunyikan. Bahkan ia tidak tahu akan seperti apa kehidupannya setelah kontrak itu benar-benar berakhir. Mungkin Mala akan pergi sejauh mungkin, menghindari semua orang yang memiliki hubungan dengannya. Hanya itu yang ada dalam rencananya saat ini.


"Jangan nangis, Mama akan berkunjung jika kamu mau. Sekarang yang paling penting kamu harus bahagia dengan lelaki pilihan kamu. Jadi istri yang baik dan penurut. Mama harap kalian behagia sampai anak cucu." Mala mengusap air mata di pipi Mala dengan lembut. Lalu memberikan kecupan di kening putrinya.

__ADS_1


Mala terdiam sejenak. "Iya, Ma. Doakan Mala selalu."


"Tentu, Sayang. Di Indonesia juga ada Kakak kamu, Mama yakin kamu betah di sana. Jangan pernah memutus komunikasi dengan Mama." Mala mengangguk sebagai jawaban. Lalu keduanya pun kembali berpelukan. Menyalurkan perasaan sayang satu sama lain.


__ADS_2