Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 80


__ADS_3

Sweet terus mengembangkan senyumannya sambil menatap hidangan yang begitu banyak di meja. Bahkan ia sudah tidak sabar untuk menghabiskan semua makanan itu.


"Kenapa masih dipandang? Tadi terus merengek minta makanan yang banyak. Sakarang cuma diliatin." Ujar Alex menatap istrinya heran. Bagaimana tidak? Sejak rapat tadi Sweet terus merengek padanya untuk segera mengakhiri rapat, hanya karena rasa lapar yang tiba-tiba mendera. Pada akhirnya Alex menghentikan rapat setengah jam lebih cepat dari semestinya. Dan kini ruangan kerja Alex sudah di penuhi dengan bau makanan.


"Boleh makan semua kan?" Tanya Sweet begitu antusias.


"Bahkan kamu boleh menghabiskan semuanya, jika perut kecil itu sanggup menampungnya." Jawab Alex masih setia menatap sang istri.


"Tapi... bagaimana jika aku gendut?" Kali ini Sweet memberikan tatapan sendu.


Alex menghela napas, lalu menghampiri istrinya. "Memangnya kenapa kalau kamu gendut? Justru kamu akan semakin imut jika pipimu bulat seperti donat."


Sweet tersenyum geli mendengar itu. "Baiklah, aku akan makan. Ah... bingung harus makan yang mana lebih dulu?"


Alex tersenyum melihat kelucuan istrinya. Sweet sangat mirip dengan anak kecil yang mendapatkan begitu banyak mainan.


"Aku makan lasagna ini dulu, sepertinya sangat enak." Imbuh Sweet langsung menyambar makanan khas Italia itu dengan mata berbinar.


"Silakan, Nyonya Digantara. Anda bebas memilih."


Sweet pun mengangguk dan mulai menyantap hidangan itu dengan perasaan senang. Ia terus menggoyangkan badannya saat merasakan kenikmatan yang tiada tara. Alex yang melihat itu hanya bisa menggeleng.


"Sayang, kamu harus coba ini. Rasanya sangat enak."


"Tidak, aku masih kenyang." Sahut Alex yang masih setia memperhatikan Sweet makan.


"Apa semua ibu hamil seperti ini?" Tanya Alex penasaran.


"Tidak juga, saat hamil si kembar tidak sering lapar seperti ini. Bahkan sangat sulit untuk makan, apa pun yang masuk ke perut pasti dimuntahkan lagi. Dan itu berlangsung sangat lama." Jelas Sweet.


"Pasti kamu sangat tersiksa saat itu," kata Alex yang disambut senyuman oleh Sweet.


"Kamu salah, Mas. Aku sangat menikmati momen itu, pengalaman pertama di kehamilan pertama itu menyenangkan. Justru yang membuatku menderita itu kamu, Mas. Hampir setiap detik aku merindukanmu dan ingin memelukmu. Beruntung aku bisa melewatinya dengan baik, karena Nenek dan Kak Bian salalu ada di sisiku." Jawab Sweet panjang lebar.


"Maafkan aku, Ana. Aku sangat menyesal karena melewatkan semua momen itu." Ucap Alex penuh penyesalan. Sweet menghela napas berat. Lalu menarik tangan suaminya dengan lembut.


"Mas, aku tidak pernah menyalahkanmu untuk masalah itu. Meskipun dulu pernah terpikir akan hal itu. Tapi setelah apa yang kamu lewati, aku sadar sesuatu. Ternyata ikatan batin kita begitu kuat, saat aku berjuang menahan rasa sakit. Kamu juga mengalami hal yang sama."


Alex memperdalam tatapannya, mengunci netra coklat istrinya. "Aku juga menyadari sesuatu."


"Apa itu?" Tanya Sweet penasaran.


"Akhir-akhir ini kamu begitu cerewet. Membuatku ragu, jika yang ada dihadapanku saat ini Nyonya Digantara yang asli atau yang palsu?"


Sweet tergelak mendengar perkataan konyol suaminya. "Aku hanya ingin menunjukkan sikap asli dalam diriku pada orang spesial."

__ADS_1


"Jadi aku spesial untukmu?" Tanya Alex menggoda Sweet.


"Mas... sama sekali tak bisa di ajak romantis." Protes Sweet yang mulai kesal.


"Aku bahagia karena menjadi salah satu orang spesial untukmu." Alex mengecup punggung tangan istrinya dengan mesra.


"Baiklah, hentikan semuanya. Aku masih lapar dan ingin melanjutkkannya." Sawet pun kembali menyantap hidangan. Sedangkan Alex hanya bisa menatap istrinya lamat-lamat. Semua pergerakan Sweet membuat hatinya menghangat.


Ternyata semanis inikah cinta yang sesungguhnya? Bahkan hanya melihat senyumannya aku begitu bahagia. Batin Alex.


***


Di sebuah restoran mewah, tampak sepasang manusia tengah menikmati hidangan dengan suasana hening. Sang wanita terlihat begitu cantik dengan dress maroon yang melekat indah ditubuhnya yang ramping. Begitu pun dengan sang lelaki, ia terlihat menawan dengan kemeja hitam yang memperlihatkan seluruh otot kekarnya. Namun sayang, suasana terlihat sunyi. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang memenuhi ruangan yang sengaja di pesan khusus untuk mereka berdua.


"Aku sudah selesai." Sang wanita pun membuka pembicaraan setelah menghabiskan makan siangnya.


Lelaki berwajah tampan dengan rahang yang tegas itu menatap sang wanita begitu dalam.


"Katakan apa maumu huh? Aku sudah memenuhi keinginanmu, jadi jangan ganggu kehidupanku lagi." Timpal wanita itu memberikan tatapan tak bersahabat.


Lelaki itu meneguk moctailnya dengan penuh karisma. Lalu meletakkan gelas cantik itu ke asalnya. "Aku tidak pernah berjanji untuk tidak menganggumu lagi. Jadi aku akan tetap menganggumu."


"Brengsek! Jangan mencoba menjebakku. Kau mengatakan jika kita melakukan makan siang, maka kau akan berhenti." Kesal sang wanita dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan.


"Aku hanya mengatakan akan berhenti. Berhenti menjadikanmu sebagai wanita bayanganku. Karena aku akan memilikimu sepenuhnya." Jelas lelaki itu dengan senyuman smirknya.


"Nirmala Putri Digantara, akan aku buktikan padamu. Dalam waktu satu bulan, kau akan menjadi milikku." Tegas Bian tanpa rasa ragu.


Mala membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar. "Berhentilah bermimpi."


"Tentu, karena mimpi itu akan segera terwujud. Kau hanya milikku, Mala. Waktu satu bulan itu dimulai dari detik ini juga. Akan aku pastikan kau mecintaiku, Nyonya Pramana."


Mala mengeratkan rahangnya. Lelaki yang ada dihadapannya saat ini benar-benar mengobarkan api dalam dirinya.


"Aku mengizinkanmu pergi. Tapi tidak untuk menemui lelaki lain." Kata Bian lagi. Membuat amarah Mala semakin memuncak.


"Kau tidak punya hak melarangku untuk bertemu lelaki lain." Geram Mala bangkit dari posisinya.


"Tentu saja aku punya hak, kau calon istriku dan calon ibu dari anak-anakku." Rasa percaya diri Bian belum juga padam. Dan itu seakan menyiram bensin dalam kobaran api yang ia sulut sendiri.


"Akan aku pastikan kau menyesal, Bian." Ancam Mala sebelum pergi meninggalkan Bian yang tersenyum penuh kemenangan.


Satu bulan, akan aku pastikan kau benar-benar menjadi milikku, Mala. Apa yang aku katakan selalu terjadi.


***

__ADS_1


"Mommy, Daddy." Teriak Alexa berlari menghampiri kedua orang tuanya yang baru saja pulang.


"Owh, putri Daddy bertambah berat." Ujar Alex membawa putrinya dalam gendongan. Sweet yang melihat itu tersenyum senang.


"Di mana dua kurcaci lagi?" Tanya Sweet saat tak menemukan dua jagoannya.


"Kak Arel ada di kamar Mom. Tapi Kak Arez sejak pagi di studio." Jawab Alexa.


"Jadi anak cantik Daddy main sendirian?" Tanya Alex seraya membawa putrinya ke kamar. Alexa memgangguk sebagai jawaban. Sedangkan Sweet hanya mengekori mereka di belakang.


"Owh, kasihan sekali. Tapi jangan khawatir, tidak lama lagi Lexa akan mendapatkan adik." Ujar Alex menurunkan Alexa di kasur.


"Adik?" Tanya Alexa bingung.


"Iya, ada bayi kecil di perut Mommy." Jawab Alex menarik Sweet dan mengelus perutnya.


Alexa tampak diam beberapa saat. Alex dan Sweet yang melihat itu saling melempar pandangan.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Alex merasa aneh dengan sikap putrinya.


"Mommy akan punya adik, itu artinya tidak ada yang sayang Lexa lagi."


Alex maupun Sweet yang mendengar itu cukup kaget.


"Sayang." Sweet duduk disebelah Alexa. Lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. "Tidak akan ada yang berubah. Walaupun kalian punya adik, Mommy dan Daddy akan selalu menyayangi kalian. Kalian semua sangat berharga buat Mommy dan Daddy." Jelas Sweet.


"Really? Mommy harus berjanji untuk menyayangi Lexa terus." Ucap Alexa memeluk Sweet dengan erat. Perasaan takut itu terpancar jelas dimatanya yang cantik.


"Mommy janji," balas Sweet mengecupi pucuk kepala Alexa.


"Kami menyayangi kalian." Timpal Alex memberikan kecupan di pipi gembul Alexa.


"Mom, apa adik bisa bicara?" Tanya Alexa begitu polos.


Sweet dan Alex tertawa renyah mendengarnya. "Adik kalian masih sangat kecil. Belum bisa bergerak, apa lagi bicara." Ujar Alex mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Yah... padahal Lexa ingin mengajaknya bicara. Habis Lexa bosan main sendirian." Ucap Alexa dengan raut kecewa.


"Kamu harus sabar, Sayang. Saat adik keluar, kamu akan punya teman bermain." Imbuh Alex.


Alexa pun mengangguk antusias. "Mom, Dad. Malam ini Lexa mau tidur di sini. Boleh ya?"


"Boleh, untuk anak cantik Daddy apa sih yang tidak boleh?"


"Yey... Love you Mom, Dad."

__ADS_1


"Love you to, My princess."


__ADS_2