
Zhea menatap dirinya di cermin, lalu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "It's okay, Zhe. Kendalikan hatimu." Gumamnya.
Cukup lama ia berdiri di sana. Entah sudah berapa kali ia mengecek penampilannya yang sebenarnya masih rapi. "Ck, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Camon, Zhe. Dia tidak menyukaimu, jadi berhenti memikirkan hal tidak penting." Ia menggigit bibirnya. Lalu kembali menghela napas berat.
Setelah menata hatinya sedemikian rupa, Zhea pun keluar dari sana. Namun, betapa terkejutnya ia saat melihat Gabriel sudah berdiri di depannya. "Ga... Gabriel? Kenapa kau di sini?" Gugupnya.
Gabriel tidak menjawab dan hanya menatapnya tajam. Kemudian tanpa aba-aba ia menarik gadis itu dan membawanya keluar dari restoran. Zhea sampai terseok karena berusaha mengimbangi langkah kaki Gabriel.
"Gab, lepaskan aku. Kita mau kemana? Semua orang masih di dalam." Kesal Zhea karena lelaki itu membawanya secara paksa. Bahkan tidak peduli soal kakinya yang terasa perih, sepertinya lecet.
Gabriel masih bungkam dan terus membawanya sampai ke parkiran.
"Awh." Ringis Zhea yang berhasil membuat Gabriel menghentikan langkahnya, lalu berbalik. Kemudian tanpa aba-aba langsung menggendong tubuh ramping Zhea.
Zhea pun memekik kaget. "Gabriel!"
"Diamlah."
Seolah terhipnotis, Zhea pun langsung terdiam, lalu dengan ragu berpegangan di baju lelaki itu. Bahkan tak berani menatap wajah tampan Gabriel secara langsung, hanya sesekali mencuri pandang.
Gabriel mendudukan Zhea di atas kap mobilnya dengan hati-hati. Lalu berjongkok dan tanpa permisi menyentuh kaki Zhea. Tentu saja Zhea kaget dan langsung menghindar. "Apa yang kau lakukan?"
Gabriel mendongak dengan wajah kesal. "Bisakah kau diam, jika kau bertanya lagi aku akan mengunci mulutmu."
Zhea terkesiap mendengar ancaman Gabriel barusan.
Mengunci mulutku? Bagaimana caranya? Dasar aneh. Itulah yang gadis itu pikirkan saat ini. Sampai-sampai tak sadar jika Gabriel berhasil melepas sepatu hak sembilan sentinya itu. Ia pun mendesis karena Gabriel tak sengaja menyentuh bagian kakinya yang lecet.
"Apa kau bodoh? Apa dirumahmu tidak ada sepatu lain sampai kau memakai sepatu jelek ini? Bahkan kau melukai kakimu sendiri dengan sepatu bodoh ini." Omel Gabriel yang lagi-lagi membuat Zhea terkesiap.
Karena tak mendapat jawaban, Gabriel pun mendongak. Mendapatkan Zhea yang termenung sambil menatapnya. Kesal, Gabriel pun menekan luka gadis itu dan berhasil membuatnya menjerit kesakitan.
"Jadi sekarang kau juga tuli huh?"
Zhea menggeram pelan. "Apa mulutmu itu tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang baik?" Kesalnya karena lelaki itu terus mengatainya. "Lagian aku yang terluka, kenapa kau peduli?"
Gabriel terdiam sejenak. Kemudian membuka sepatu satunya. Lagi-lagi Zhea meringis karena lecet di kakinya yang satu ini lebih parah.
"Lain kali tidak perlu memakai sepatu sialan seperti ini lagi. Kau memang bodoh." Celetuk Gabriel.
"Berhenti mengataiku bodoh, dan jangan sentuh kakiku." Kesal Zhea seraya turun dari sana. Ia juga hendak mengambil sepatunya, tetapi Gabriel lebih cepat dan melemparnya asal.
"Gabriel!" Pekik Zhea karena sepatu mahalnya dilempar begitu saja seolah tak berharga. Dengan tergesa ia mengambil sepatunya itu.
__ADS_1
"Cih, bahkan kau lebih menyayangi sepatumu ketimbang lukamu huh?" Sinis Gabriel.
Zhea pun menoleh, lalu melayangkan tatapan tak bersahabat. "Apa pedulimu huh? Memangnya kau siapa? Tidak perlu sok peduli padaku. Urus saja dirimu sendiri. Menyebalkan."
Setelah mengatakan itu Zhea pun meninggalkan Gabriel begitu saja sambil menjinjing kedua sepatunya. Ia benar-benar kesal dibuatnya. "Dasar lelaki sombong. Memangnya dia tahu apa huh? Bahkan dia tidak tahu jika sepatu ini aku beli dari uang gaji pertamaku. Bahkan dia mengatainya jelek. Dasar brengsek. Tidak tahu style apa? Kampungan." Omelnya.
Zhea pun duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon, lebih tepatnya berada di taman mini restoran. Ia segera mengecek luka dikakinya. "Ck, kakiku jadi lecet karena dia menarikku dengan paksa dan kasar tadi. Benar-benar lelaki kasar. Bagaimana bisa aku pernah berpikir jika dia akan menjadi suamiku? Menyebalkan."
Cukup lama Zhea duduk termenung di sana tanpa berniat mengobati lukanya karena masih sangat kesal. Bahkan mengabaikan rasa perih pada kakinya karena luka itu tertiup angin. Beberapa kali ia menguap karena mengantuk karena hampir satu bulan ini tidurnya tidak teratur. Ia terlau exited untuk fashion week kali ini. Sampai-sampai waktu tidurnya pun terganggu.
Angin sepoi-sepoi pun membuat rasa kantuk semakin berat. Dan tanpa sadar Zhea pun tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya terjatuh ke kiri dan ke kanan karena kantuk.
Gabriel menghampirinya, lalu berdiri tepat di depan gadis itu. Ditatapnya Zhea dengan kepala yang terus jatuh ke sana kemari. Dan hal itu berhasil menggelitik hatinya. Gabriel pun tersenyum. "Cih, benar-benar gadis bodoh. Bisa-bisanya dia tidur di tempat umum seperti ini? Bagaimana jika ada orang jahat yang ingin melecehkannya huh? Wajah cantik tapi otakmu kosong."
Tanpa banyak berpikir, Gabriel duduk disebelahnya. Dan tepat di waktu itu kepala Zhea pun jatuh di bahunya. Alih-alih menolaknya, justru ia membiarkannya begitu saja. Bahkan cukup lama ia duduk di sana dalam posisi yang tetap. Gabriel sendiri bingung kenapa ia melakukan hal itu? Padahal bisa saja ia pergi dan membiarkan gadis itu di sana sendirian. Sayang hatinya tak setega itu.
Zhea terbangun dan kaget. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Bahkan menguap. "Ya ampun, aku ketiduran di sini?"
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Zhea merapikan hijabnya. Dan belum menyadari jika Gabriel masih duduk di sampingnya. Sampai ia pun menoleh dan langsung terhenyak. "Kau, sedang apa di sini?" Tanyanya gugup.
"Melihat wanita bodoh tidur di tempat umum." Jawab Gabriel tanpa ekspresi tentunya. Kemudian memalingkan wajahnya dari Zhea.
Zhea menghela napas dan bergegas bangun dari duduknya. Lalu mengambil sepatunya, hendak pergi. Namun Gabriel langsung menahan tangannya.
Zhea menarik tangannya. "Berhenti menyentuhku." Setelah mengatakan itu ia pun bergegas pergi dari sana. Meninggalkan Gabriel yang masih terdiam.
Zhea menggigit bibirnya dan terus berjalan menuju parkiran. Ia benar-benar malu karena bisa-bisanya tertidur di tempat umum. Lebih parahnya Gabriel ada di sana. Memalukan.
"Zhea." Panggil seseorang yang berhasil menahan langkah gadis itu. Spontan ia pun menoleh.
Dari kejauhan Violet berlari ke arahnya dengan wajah cemas. "Ya Tuhan, kau dari mana huh? Kami semua mencarimu."
Zhea menepuk dahinya, lalu menatap Violet. "Ya ampun, bagaimana aku bisa lupa. Maafkan aku, Vi. Tadi...."
"Ya Tuhan, Zhea. Dari mana saja huh?" Seru Sky yang datang bersama Eveline dan yang lainnya.
Zhea mengusap tengkuknya karena bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia mengatakan jika dirinya tertidur di taman.
"Kami hanya berjalan-jalan kecil tadi." Sahut seseorang yang berhasil mencuri perhatian semua orang. Siapa lagi jika bukan Gabriel.
Sky mengerti sekarang. Seulas senyuman terbit dibibirnya. Lalu ditatapnya Zhea yang sedikit menunduk dengan sepasang sepatu ditangannya. Dan melihat kaki telanjang Zhea. Namun tak memberikan komentar.
"Pakai ini." Entah dari mana Gabriel memberikan sepasang sandal pada Zhea. Tentu saja semua orang yang melihat itu terdiam sambil terseyum kecil.
__ADS_1
Dengan perasaan canggung Zhea menerimanya. Pipinya memerah karena malu terus ditatap oleh teman-temannya.
"Sepertinya kita terlalu cemas tadi." Sindir Violet dengan senyuman jahilnya. Dan itu membuat Zhea salang tingkah.
"Sorry jika aku membuat kalian cemas." Ucapnya dengan wajah penyesalan.
"Sudah tidak apa-apa. Sebaiknya kita pulang, acara juga sudah selesai. Kalian harus istirahat." Ujar Sky yang langsung disetujui oleh yang lain.
Mereka semua pun mengucapkan terima kasih pada Zhea sebelum pulang. Eveline dan Violet pun ikut pulang bersama pasangan mereka. Dan kini hanya tersisa Zhea, Sky dan Gabriel.
"Ikut Aunty sebentar." Ajak Sky membawa Zhea ke teras depan restoran. Lalu meminta Zhea duduk. Dengan patuh gadis itu duduk di sebuah kursi. Namun, ia kaget saat Sky berjongkok dan menyentuh kakinya. Spontan ia pun menahannya. "Aku baik-baik saja, Aunty."
Sky menghela napas. "Baik apanya? Kakimu lecet."
Zhea tersenyum. "Cuma lecet sedikit, Aunty. Nanti sampai rumah langsung aku obati."
Tanpa disangka Gabriel pun mendatangi mereka. Lalu memberikan salep. "Pakai ini."
Zhea pun menerimanya meski ragu. "Terima kasih."
"Hm."
Sky yang melihat interaksi keduanya pun diam-diam tersenyum.
Sepertinya aku akan segara punya menantu. Batinya dengan perasaan senang.
Setelah mengobati kakinya, Zhea pun berpamitan untuk pulang karena sangat lelah dan butuh istirahat. Di dalam mobil, gadis itu terdiam beberapa saat sembari menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang.
Perlahan ia menghela napas, kemudian segera menghidupkan mobil dan meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Sky dan Gabriel masih di sana, melihat kepergian Zhea.
"Bagaimana, apa perkataan Mommy benar? Zhea tidak sama seperti yang ada dalam pikiranmu bukan?" Tanya Sky menoleh ke arah putranya.
Gabriel mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Aku hanya merasa tertantang saja karena dia terlalu jual mahal."
Sky tertawa sumbang. "Bukan sok jual mahal, tapi dia memang sangat mahal. Limited edition. Kau tidak akan pernah menemui orang sepertinya lagi di mana pun."
Gabriel pun terdiam.
"Jangan membohongi dirimu sendiri, Gab. Akui saja kau mulai tertarik padanya. Mommy akan mendukungmu jika kau ingin mengejarnya."
Gabriel mendengus kecil. "Itu tidak akan terjadi. Sebaiknya kita pulang." Sangkalnya dan beranjak dari sana. Sky pun cuma bisa menghela napas dan mengekorinya.
__ADS_1