Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 79


__ADS_3

"Bagaiman hasilnya?" Tanya Mala menghampiri Alex dan Sweet yang baru pulang dari rumah sakit. Sejak tadi, seluruh penghuni mansion sudah menunggu kepulangan mereka. Ingin segera mendengar kabar baik.


Sweet menatap Mala, lalu menatap semua orang yang sudah penasaran dengan hasil yang mereka bawa.


"Ayah, apa hasilnya?" Tanya Mala lagi saat tak mendapat jawaban dari Sweet. Rasa penasaran itu semakin menggebu-gebu.


"Anggota keluarga kita akan bertambah," jawab Alex yang berhasil membuat semua orang bernapas lega.


"Wow, congratulation Mom. Kau akan menjadi Ibu dari empat anak. Itu sangat luar biasa, ah... aku sangat bahagia." Pekik Mala memeluk Sweet cukup lama.


"Lepaskan dia, Mala. Kau akan membunuhnya," perintah Alex mendorong pelan tubuh putrinya agar menjauh dari Sweet. Mala terlihat kesal, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.


"Terima kasih, Mala. Mungkin kedepannya aku akan sering merepotkanmu." Ucap Sweet tersenyum tulus.


"Aku tidak keberatan, Mom." Sahut Mala sambil mengelus perut Sweet yang masih rata. Mala juga memutuskan untuk merubah panggilannya pada Sweet.


"Berapa usia kandungannya?" Tanya Milan bangkit dari tempat duduk, lalu menghampiri Sweet.


"Dua minggu," jawab Sweet.


"Selamat untuk kalian, seperti pepatah orang tua kita di Indonesia. Banyak anak banyak rezeki, aku harap itu benar-benar manjur." Ujar Milan mengusap lengan Sweet.


"Aamiin, meski kita tahu rezeki setiap anak berbeda-beda." Sahut Sweet yang di balas anggukkan oleh Milan.


Sweet mengalihkan pandangan pada sang Nenek yang tengah menatapnya. Ia pun beranjak menghampiri wanita berusia hampir tujuh puluh tahun itu.


"Selamat, Sayang. Semoga kalian selalu diberkahi dengan anak-anak yang saleh dan salehah." Ucap Nyonya Sasmitha mengecup lembut pipi Sweet. Lalu mereka pun berbincang hangat, diselingi canda dan tawa yang menghiasi seisi mansion. Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga besar Digantara.


***


Malam hari, Alex terlihat sibuk dengan MacBokk miliknya dan juga beberapa berkas yang menumpuk di atas meja. Sweet yang sejak tadi menunggu pun merasa bosan, karena Alex tak kunjung selesai. Kemudian ia memutuskan untuk menghampiri suaminya.


"Mas, kapan kita menjenguk Daisy? Aku sangat merindukannya." Ujar Sweet duduk di pangkuan Alex.


Alex yang merasa terganggu, kini beralih memperhatikan Sweet yang sepertinya sedang ingin dimanja.


"Minggu depan bagaimana?"


"Besok," sanggah Sweet tersenyum lebar.

__ADS_1


"Besok aku kerja, Sayang. Besok juga ada pertemuan besar, investor dari berbagai negara akan hadir. Tidak mungkin aku mengabaikan mereka." Jelas Alex menyingkirkan anak rambut Sweet yang menghalangi wajah cantiknya.


"Aku ikut," putus Sweet dengan wajah berbinar.


"Nope, aku tidak mau kejadian kemarin terulang kembali. Diam di rumah dan ingat kata dokter, kamu harus banyak istirahat."


"Kalau begitu aku duduk saja di sana, tidak akan bicara atau pun berpendapat." Kata Sweet dengan senyuman mautnya.


Alex membulatkan matanya, seakan tak percaya dengan sikap keras kepala istrinya itu.


"Temani anak-anak bermain, biarkan suamimu yang bekerja, Honey. Jangan keras kepala."


Sweet mengerucutkan bibirnya, lalu memukul dada bidang Alex sebelum pergi meninggalkannya. Alex terkejut melihat perubahan sikap istrinya, Sweet lebih mudah merajuk dan sangat manja. Membuat Alex kewalahan dengan perubahan itu.


"Sayang," panggil Alex yang sama sekali tak digubris oleh istrinya. Alex menghela napas panjang, lalu menghampiri Sweet yang sudah berbaring di balik selimut. Alex ikut berbaring, lalu memeluknya dari belakang.


"Sayang, aku cuma tidak mau kamu capek. Fokus untuk membuat bayi kita gemuk," ujar Alex masih berusaha membujuk istrinya. Dan lagi-lagi ia diabaikan.


"Sayang," panggil Alex lagi.


"Apa ada wanita di sana?" Tanya Sweet yang mulai membuka mulut. Alex tersenyum geli mendengar pertanyaan konyol istrinya.


"Semua investor kebanyakan laki-laki, tapi ada kemungkinan mereka membawa wanita." Jawab Alex begitu santai.


Alex terkejut mendengar nada tegas istrinya.


"Apa kamu mau hidup anak-anak menderita hanya karena perasaan cemburumu yang tak menentu itu huh?" Alex tersenyum geli. Ia memang menyukai sikap posesif istrinya saat ini.


"Aku masih punya perusahaan besar, jadi jangan khawatir." Ujar Sweet menyembulkan kepalanya dari dalam selimut.


"Mungkin kamu tidak tahu, hampir lima puluh persen saham perusahaanmu atas nama Digan't group. Jika Digan't bangkrut, perusahaan kalian juga akan terkena imbasnya."


Sweet mendengus kesal, ia melupakan semua itu. Andai saja dulu ia tahu Alex terus menyuntikkan dana ke perusahaan. Mungkin ia akan langsung menolaknya, tetapi Alex sangat pintar. Ia menggunakan nama orang lain. Mengelabui Sweet dalam waktu yang cukup lama.


Sweet berbalik, menatap mata biru suaminya. Mata yang selalu berhasil menyejukkan hatinya. "Biarkan aku membantumu kali ini, Mas. Aku janji, tidak akan melakukan kesalahan yang akan merugikan perusahaan. Boleh ya, Mas?"


Alex menatap wajah istrinya begitu dalam. Ia tahu istrinya sedang serius. "Baiklah, sekarang kita tidur."


Sweet tersenyum lebar, kemudian membenamkan wajahnya di dada suaminya. Alex memeluk erat tubuh ramping istrinya dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


"Mas," panggil Sweet.


"Hm."


"Aku ingin susu jahe," pinta Sweet kembali membangunkan Alex.


"Susu jahe?" Sweet mengangguk pelan.


"Tapi aku tidak tahu cara membuatnya," kata Alex jujur.


"Kamu bisa lihat di youtube," balas Sweet yang lebih mirip sebuah perintah.


"Baiklah Nyonya besar, tunggu sebentar." Alex bangkit dari posisinya. Lalu beranjak keluar.


"Ikut," rengek Sweet mengekor di belakang. Alex menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir dengan sikap manja Sweet. Bahkan dulu wanita itu sangat dingin dan sulit ditaklukkan. Sekarang semuanya seakan berbanding terbalik.


"Mas," panggil Sweet saat melihat Alex tengah memotong jahe. Lelaki itu terlihat serius.


"Apa, Sayang?" Sahut Alex tanpa melihat lawan bicaranya.


"Sepertinya baby tidak ingin minum susu jahe lagi." Sweet bicara dengan ragu. Ia takut membuat Alex marah. Tetapi Sweet tidak bercanda, ia sudah tak menginginkan susu jahe lagi.


Alex kaget mendengarnya dan berbalik untuk menatap Sweet.


"Maaf, Daddy." Ucap Sweet merasa bersalah. Ia tahu Alex sudah susah payah mengupas jahe dan menyiapkan semuanya. Mata Sweet mulai berkaca-kaca.


Alex yang melihat itu langsung mencuci tangan. Seulas senyuman mengembang di bibirnya, lalu menghampiri Sweet. Ia sedikit membungkuk, agar dapat melihat wajah istrinya dari dekat. "Katakan apa yang dia inginkan huh?"


Sweet menatap wajah Alex lamat-lamat. "Tidak mau apa-apa, cuma mau di peluk sama Daddy."


Alex tertawa renyah mendengar nada manja istrinya. Sikap Sweet saat ini benar-benar menggemaskan. "Ayok, biar Daddy peluk." Alex menyelipkan tangannya di antara kaki Sweet. Lalu menggendong istri mungilnya ke kamar.


Alex membaringkan istrinya dengan perlahan. Kemudian ia ikut berbaring dan merengkuh pinggang ramping Sweet.


"Mas, apa kamu marah?" Tanya Sweet dengan hati-hati. Lagi-lagi Alex tersenyum. Mengusap pipi mulus istrinya penuh kelembutan.


Sweet menyentuh dada suaminya, menunggu jawaban.


"Tidak ada alasan untukku marah, Sayang. Bahkan aku menyukai sikapmu yang seperti ini." Jawab Alex seraya mengecup kening Sweet.

__ADS_1


"I love you," ucap Sweet sebelum memejamkan mata.


"Ich liebe dich so sehr, meine frau." Balas Alex dengan logat Jermannya yang Khas. Sweet yang mendengar itu tersenyum simpul. Alex semakin mengeratkan pelukannya. Dan keduanya pun perlahan masuk ke alam mimpi


__ADS_2