
Dustin benar-benar pergi tanpa menoleh sekali pun ke arah Sheena, membuat wanita itu merasa sakit. Namun, ia tak menyalahkan Dustin akan hal itu, karena semua terjadi akibat perbuatannya sendiri. Dirinya sudah membuat lelaki itu kecewa dan hilang kepercayaan.
Sepeninggalan Dustin, Sheena merangkak mendekati Alexa. Lalu bersimpuh di kakinya. "Maafkan aku, Mom. Kau boleh menghukumku, memenjarakanku. Tapi tolong, jangan benci aku." Lirihnya.
Alexa menghela napas. Lalu sedikit membungkuk untuk membantu Sheena bangun. "Bangunlah."
Sheena pun bangkit dengan air mata yang masih berlinang. "Tolong maafkan aku."
Alexa mengusap pundak wanita itu. "Kau tidak punya salah pada Mommy. Tapi minta maaflah pada Violet jika dia sudah kembali. Kau membuatnya mengalami masalah rumit. Bahkan sekarang tidak ada yang tahu bagaimana kondisinya saat ini. Di mana dia berada. Berdoalah agar kita semua segera menemukannya."
Sheena mengangguk dengan wajah menunduk karena tak berani menatap Alexa. Ia merasa malu pada dirinya sendiri.
"Ya sudah, sana kembali ke kamarmu dan istirahat. Jangan terlalu memikirkan masalah ini, kau bisa sakit."
Sheena memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya. "Terima kasih masih menerimaku, Mom. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikan kalian?"
Alexa tersenyum tulus. "Yang perlu kau lakukan hanya satu, jadilah anak yang baik. Tolong jangan ganggu lagi hubungan Dustin dan Violet. Kau paham kan maksudku?"
Sheena pun mengangguk paham meski ada rasa sakit dihatinya. Ia sangat mencintai Dustin, bohong jika dirinya tak menginginkan posisi Violet. Akan tetapi ia cukup sadar diri, sejauh apa pun ia melangkah. Posisi Violet tak akan pernah bisa gapai, wanita itu terlalu tinggi jika dibandingkan dengan dirinya. Sheena cukup sadar diri.
Alexa tersenyum lega sembari mengelus punggung Sheena. Setelah itu Sheena pun beranjak ke kamarnya dengan langkah pelan. Alexa yang melihat itu cuma bisa menghela napas.
"Sudahlah, semuanya sudah jelas. Kau juga harus istirahat." Kata Winter seraya bangun dari duduknya. Lalu merangkul Alexa.
Alexa menoleh. "Winter, sebenarnya di mana kesalahan kita? Kenapa anak-anak kita harus terjebak cinta sedarah?"
Winter menghela napas kasar. "Aku juga tidak tahu, sayang. Yang namanya takdir itu tak ada yang tahu kan?" Alexa pun mengangguk. Lalu mereka pun beranjak ke kamar.
****
Di salah satu kamar bernuansa putih, terlihat seorang wanita masih bergelung dibawah selimut tebal. Seolah enggan hanya untuk membuka matanya. Tubuhnya tersasa sangat lemas hanya untuk bergerak kecil.
__ADS_1
Tidak lama dari itu pintu kamar terbuka, menampakkan seorang gadis cantik membawa sebuah nampan berisi sandwich dan segelas susu. Gadis itu pun menaruh nampan di atas nakas, lalu membuka gorden. Sontak cahaya matahari pun langsung masuk. Pemilik tubuh di balik selimut itu pun menggeliat.
"Morning, ayo bangun. Kau harus makan dan mandi. Bau tahu." Katanya seraya duduk di tepi ranjang. Lalu menyibak selimut orang itu yang tak lain adalah Violet.
Wanita itu menggeliat kecil, lalu mengubah posisinya menjadi duduk sambil menguap kecil. "Sudah pagi lagi ya?"
Gadis berparas cantik itu pun tersenyum lebar. "Memangnya kau mau malam terus apa? Sudah hampir dua minggu kau di sini, tapi kerjaanmu hanya tidur dan tidur. Hari ini aku ingin mengajakmu keluar, jangan menolak. Karena aku akan memaksamu."
Violet tersenyum dan menjatuhkan kepalanya di pundak gadis itu, Melisa Digantara namanya. Putri ketiga dari pasangan Dika dan Clara. Yang usianya masih tujuh belas tahun. Dika dan Clara sendiri sejak lama menetap di Indonesia. Menempati rumah besar keluarga Digantara. Dan di sini lah tempat persembunyian Violet selama ini.
"Memangnya mau kemana? Aku masih malas untuk bepergian." Violet memejamkan matanya lagi.
"Ck, dasar pemalas. Mau sampai kapan kau seperti ini huh? Ayolah, kau harus bangkit dan bahagiakan dirimu sendiri. Daddy dan Mammy ingin mengajakmu ke puncak hari ini. Ayolah, kau harus melihat betapa indahnya negaraku ini." Rengek gadis itu manja.
Violet tersenyum mendengar itu. "Iya, tapi sebentar lagi. Aku masih mengantuk." Katanya dan menguap lagi. Entahlah, akhir-akhir ini ia sering sekali mengantuk dan bawaanya hanya ingin berbaring dan bermalas-malasan. Mungkin lelah karena terus memikirkan nasib hidupnya yang tak ada arah.
"Ish, kau ini lebih tua dariku. Tapi sifat manjamu itu mengalahkanku. Ayo cepat makan sarapanmu, habis itu mandi. Pakai baju yang bagus, mana tahu ketemu cowok ganteng di sana."
Melisa tertawa renyah. "Awas saja kalau kau tergoda, aku akan meledekmu sepajang hari."
Violet pun kembali duduk tegak, lalu menatap Melisa dengan tatapan malas. "Rasanya aku pengen tidur terus." Violet hendak berbaring lagi, tetapi dengan gerak cepat Melisa menanhannya.
"Aaaa... jangan tidur lagi. Ayo jalan-jalan." Rengek Melisa menggoyangkan lengan Violet. Membuat wanita itu tersenyum geli.
"Iya iya, aku mandi dulu." Akhirnya Violet pun turun dari tempat tidur. Lalu beranjak malas menuju kamar mandi. Melisa yang melihat itu terkekeh lucu.
"Dasar pemalas, untung aku sayang." Melisa pun bersandar di kepala ranjang sembari bermain ponsel. Menunggu Violet selesai mandi dan bersiap.
"Melisa." Panggil seorang gadis lain menongolkan kepalanya di pintu. Spontan Melisa pun menoleh.
"Apa Kak?" Gadis itu pun bangun dan menghampiri sang Kakak. Cepat-cepat gadis berusia dua puluh tahun itu menarik adiknya keluar dari kamar. "Apaan sih, Kak?"
__ADS_1
Laura Digantara, anak kedua Dika dan Clara itu membisikkan sesuatu di telinga adik bungsunya. Sontak mata Melisa pun melebar sempurna. "Serius?" Serunya dengan wajah panik.
Laura mengangguk kuat. "Dia ada di depan, lagi ngobrol sama Daddy."
Mendengar itu Melisa pun langsung berlari ke depan, diikuti oleh Laura. Lalu mengintip ke ruang tamu. Benar saja, di sana sang Daddy tengah berbincang dengan seorang lelaki asing. Melisa tak bisa melihatnya dengan jelas wajah lelaki itu karena membelakanginya.
"Kalian ngapain?" Tanya seseorang yang berhasil membuat Melisa dan Laura kaget dan spontan berbalik.
"Hehe, gak ada kok. Cuma penasaran aja siapa yang bertamu, iya kan Kak?" Jawab Melisa tersenyum kikuk karena takut ketahuan Kakak pertamanya itu, Sammy Digantara. Jika mereka sedang mengintip.
Lelaki dengan wajah mirip Dika itu pun mengerut bingung lalu sedikit mengintip. "Emang siapa yang datang?" Tanyanya.
"Katanya sih keluarga kita dari Berlin." Sahut Laura. Sontak Sammy pun terkejut.
"Jangan bilang...." perkataan lelaki itu tergantung karen Violet muncul lebih dulu. Wanita itu terlihat cantik dengan balutan knits over dresses yang mencetak tubuh rampingnya.
"Kenapa kalian ngumpul di sini?" Tanya Violet bingung.
Melihat kehadiran Violet, Melisa pun langsung menariknya pergi dari sana. Tentu saja Violet bingung. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kau menyeretku?" Protes Violet.
"Udah, jangan banyak nanya. Ikut aja, kita keluar lewat belakang aja." Ujar Melisa terus menarik Violet menjauh dari ruang tamu. Sangking paniknya gadis itu memakai bahasa Indonesianya yang kental. Beruntung Violet memahami bahasa neneknya itu.
Violet pun cuma bisa pasrah, mengikuti kemana pun gadis itu membawanya. Yang ternyata hendak keluar melalui pintu belakang. Namun, belum sampai kaki mereka menyentuh bibir pintu, suara berat seseorang yang amat Violet kenali memanggil namanya.
"Vi."
Seketika tubuh Violet pun membeku. Melisa yang menariknya pun spontan berhenti dan menoleh. Lalu gadis itu pun meringis kecil, sedetik kemudian tersenyum kikuk karena ketahuan ingin membawa kabur Violet.
"Em, aa__aku lupa, ternyata aku masih ada tugas sekolah. Aku pergi dulu, by." Setelah mengatakan itu Melisa pun langsung melesat pergi karena tak ingin terlalu jauh ikut campur.
"Apa kabarmu, Vi?"
__ADS_1