
Alexella terus memasang wajah datar sepanjang perjalanan pulang setelah menghabiskan waktu panjang bersama sang suami.
"Ada apa denganmu, Xella?" Tanya Jarvis yang sejak tadi meyadari ada yang aneh dengan istrinya itu.
Alexella menoleh. "Kau menyukainya?"
"Siapa yang kau maksud huh?" Tanya Jarvis bingung.
"Sabrina," jawab Aelxella ketus.
"Ah, wanita milik Kakakmu itu huh? Lumayan, dia cantik dan terlihat baik." Jawab Jarvis apa adanya. Tentu saja jawaban itu membuat Alexella mendengus sebal.
"Kau cemburu pada Kakak iparmu sendiri huh? Aku tidak mungkin memakai barang milik Kakakmu. Kecuali wanita itu yang menyerahkan dirinya padaku, aku akan dengan senang hati menerimanya." Ujar Jarvis tanpa rasa segan sedikit pun.
"Kau memang brengsek, Jarvis." Kesal Alexella.
"Hm. Semua orang tahu itu."
Aelxella memalingkan wajahnya ke luar jendela. Menatap kerlap-kerlip lampu malam yang menghiasi indahnya kota.
"Oh iya, besok aku akan menjemput seseorang di bandara. Kau ikut?"
Alexella langsung menoleh saat mendengar itu. Menatap suaminya lamat-lamat. "Siapa yang datang?"
"Kau akan tahu besok." Jawab Jarvis tersenyum miring.
"Kekasihmu?"
"Bisa jadi."
"Hm."
"Kau marah?"
"Tidak." Alexella kembali mengalihkan perhatian pada jalanan yang mulai lengang.
"Aku harap kau benar-benar tak marah padaku besok." Jarvis melirik istrinya dengan seulas senyuman penuh arti.
"Tidak ada alasanku untuk marah."
Jarvis tertawa renyah mendengar jawaban ketus istrinya. "Aku menyukai sifat jual mahalmu, Sayang. Juga kenakalanmu saat berada di atasku, itu menggemaksan."
"Stop it! Aku sedang tak ingin berdebat denganmu, Jarvis."
Lagi-lagi Jarvis tertawa renyah. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Ikut atau tidak?"
"Tidak, besok aku ada jam pagi." Jawab Alexella seraya menyandarkan kepalanya di kepala kursi. Lalu memejamkan matanya.
"Okay, jam berapa kau pulang?"
"Mungkin sore, banyak hal yang harus aku urus di kampus. Termasuk masalah cuti untuk pernikahan kita."
"Aku bisa membantumu soal itu. Kau tidak perlu repot. Dekan di kampusmu itu temanku."
"Owh, terima kasih atas bantuanmu."
__ADS_1
"Sama-sama, Baby."
Alexella memijat pelipisnya dengan lembut. Kepalanya terasa pening dan terus berdenyut. Jarvis yang melihat itu mengerut bingung.
"Kau sakit?"
Aexella menggeleng pelan. "Aku hanya lelah."
"Ck, padahal aku berniat untuk mengajarkanmu gaya baru." Goda Jarvis diiringi dengan senyuman jahil.
"Aku lelah, Jarvis. Fokuslah menyetir." Titah Alexella tanpa berniat membuka matanya. Ia tak berbohong, tubuhnya benar-benar lelah dan sakit dikepalanya samakin berdenyut hebat.
"Baiklah, Tuan putri."
****
Jarvis menatap Alexella yang sudah meringkuk di atas pembaringan. Sedangkan dirinya baru saja selesai membersihkan diri. Dan saat ini ia hanya mengenakan bathrobe. Lelaki itu duduk di sisi ranjang. Lalu megusap lembut kepala istrinya.
"Baby, kau tidak ingin mandi?"
Alexella merubah posisinya terlentang. "Sepertinya aku tidak enak badan, Jarvis. Kepalaku sangat berat."
"Ck, sudah aku katakan sebaiknya kita ke rumah sakit tadi. Kau sangat keras kepala." Omel Jarvis memijat lembut kening istrinya.
"Aku tidak suka rumah sakit, Jarvis. Bagaimana jika mereka menyuntikku?"
Jarvis tergelak mendengar itu. "Jadi wanita sepertimu punya rasa takut juga rupanya. Kau tidak takut mati, tapi jarum kecil saja kau takut." Ledek Jarvis masih dengan tawanya yang khas.
"Kau pikir aku robot?" Ketus Alexella menepis tangan Jarvis yang mulai menggerayangi tubuhnya.
"Baby, kau sudah membangunkan juniorku."
"I know, dan dia akan terbangun meski hanya melihat belahan dadamu, Baby."
"Cih, juniormu sangat murahan, Jarvis." Ledek Alexella kembali memejamkan matanya.
"Dia hanya murahan saat bersamamu, Baby. Tidurlah, aku akan bermain sendiri." Jarvis mengecup kening istrinya dengan lembut. Kemudian bangun dari posisinya. Namun dengan cepat Alexella langsung mencekal lengannya.
"Kau mau kemana?" Tanya Alexella merasa takut Jarvis akan pergi mencari wanita bayarannya.
"Kamar mandi." Jawab Jarvis menatap istrinya bingung.
"Aku bisa membantumu, tapi aku tidak bisa lama. Kepalaku benar-benar sakit." Alexella bangun dari posisi tidurnya menjadi bersandar di kepala ranjang.
"Kau yakin?"
Alexella mengangguk pelan.
"Aku tidak yakin melihat kondisimu seperti ini, lebih baik kau istirahat. Aku...."
"Aku bisa, Jarvis. Ayok." Potong Alexella.
"Baklah, aku janji tak akan lama." Jarvis menarik tali bathrobe miliknya. Kemudian merangkak naik ke atas pemabringan. Mengukung wanitanya itu dengan tatapan sayu.
"Kau benar-benar membuatku gila, Xella." Bisik Jarvis mulai menanggalkan semua kain yang melekat di tubuh istrinya. Kemudian memulai aksinya, mencari kenikmatan dan menggapai gelombang cinta yang selalu memabukkan.
__ADS_1
Alexella terbangun lebih dulu dari suaminya. Wanita itu melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Dengan perasaan malas, Alexella turun dari tempat tidur dan melangkah malas menuju kamar mandi.
"Jarvis, aku pergi dulu." Pamit Alexella mengecup pipi suaminya yang masih bergelut di bawah selimut tebal. Sedangkan dirinya sudah terlihat rapi dan siap untuk berangkat ke kampus. Setelah berpamitan, ia pun bergegas pergi meninggalkan kediaman.
Sore harinya, Alexella pulang dengan keadaan wajah yang pucat dan penampilan yang sudah tak enak di lihat. Dengan lemas ia menekan sandi apartemen suaminya. Lalu pintu itu pun terbuka lebar. Tanpa banyak berpikir ia pun masuk. Menjatuhkan dirinya di sofa.
"Jarvis." Panggilnya dengan suara lemah. Tubuhnya benar-benar sangat lemas dan mengantuk karena malam tadi ia juga kurang tidur.
Karena tidak ada sahutan, Alexella pun bangun dari posisinya dan beranjak menuju kamar. Namun ia terkejut karena pintu itu terkunci dari dalam.
"Jarvis." Panggilnya seraya menggedor pintu. Lagi-lagi tak ada sahutan.
"Siapa di dalam? Kenapa...." ucapan Alexella pun terpotong karena pintu kamar lebih dulu terbuka. Menampakkan seorang wanita muda dengan balutan dress mini.
"Siapa kau?" Tanya wanita itu menatap Alexella dengan tatapan permusuhan yang kental.
"Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau?" Sahut Alexella tak kalah sinis.
Wanita itu menutar bola matanya malas, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Aku kekasihnya, kau siapa huh?" Wanita itu menatap penampilan Alexella dari ujung kepala sampai kaki.
Cih, gembel dari mana lagi yang dia bawa kali ini? Pikir wanita itu.
Siapa dia? Kenapa Jarvis membawanya ke kamar? Pikir Alexella.
"Di mana Jarvis?" Tanya Alexella membuka pintu lebar-lebar. Namun ia tak menemukan keberadaan suaminya.
"Hey, sembarangan masuk. Keluar!" Hardik wanita itu menarik Alexella keluar dari kamar itu.
"Lepas! Kau itu siapa sih?" Kesal Alexella menepis tangan wanita itu dengan kasar.
"Sudah aku katakan aku kakasihnya." Teriak wanita itu menatap Alexella sengit.
"Dan aku istrinya, kau puas! Pergi dari rumahku." Teriak Alexella mulai tersulut emosi. Dan hal itu berhasil mengundang gelak tawa wanita itu.
"Are you kidding me? Hello... dia itu calon suamiku. Dan kau mengaku istrinya? Jangan bilang kau wanita bayaran kekasihku kan? Apa kau hamil dan ke sini untuk meminta pertanggung jawaban huh?" Tuduh wanita itu seraya menunjuk Alexella.
Meras tak terima dengan tuduhan itu, Alexella mendorong kesal wanita seksi itu. Membuat si empu terjerembab ke lantai. Alexella tak menyia-nyiakan kesempatan, ia menduduki perut wanita itu. Lalu menjambaknya dengan kasar. Saat ini dirinya benar-benar lelah dan wanita ini mengusik ketenangannya.
"Kau menuduhku apa tadi? Wanita bayaran kan? Kaulah wanita bayaran itu. Sialan kau, berani sekali kau masuk ke rumahku." Alexella benar-benar meluapkan emosinya. Bahkan tidak segan pula ia menampar wanita itu.
Dan di waktu bersamaan, Jarvis masuk dan betapa kagetnya ia saat melihat adegan gila itu.
"Ya Tuhan." Pekiknya seraya meletakkan paper bag di tangannya di atas meja dan langsung menarik Alexella dari atas wanita itu yang sudah terkapar tak bedaya.
"Lepaskan aku. Sialan kau, Jarvis. Kau membawa j*l*ng ke sini huh?" Alexella menepis tangan suaminya, memukul dan menendang kaki lelaki itu dengan kasar. Jarvis meringis kesakitan saat tulang keringnya terkena sepatu Alexella.
"Dengarkan aku dulu, Sayang. Dia...."
"Kita sudah membuat perjanjian kau tak akan menyentuh j*l*ng mana pun setelah kita menikah. Dan sekarang kau membawa wanita sialan ini. Brengsek kau, Jarvis." Sarkas Alexella memukul Jarvis sekenanya.
"Baby, kau salah paham."
"Kau jahat Jarvis," suara Alexella mulai melemah. Bahkan pandangannya mengabur. "Seharusnya aku tak percaya padamu akh...."
Alexella menyentuh perutnya yang terasa nyeri dan perlahan berubah menjadi sakit yang luar biasa. Dan pandangannya semakin buram.
__ADS_1
"Xella." Jarvis menahan tubuh Alexella yang limbung. "Honey." Sampai kesadaran wanita itu pun perlahan menghilang.
"Xella, bangun, Baby." Jarvis menepuk pipi pucat istrinya. Karena tak mendapat respons. Jarvis segera menggendong Alexella dan beranjak dari sana. Melupakan wanita yang masih terkapar di lantai.