
.
.
"perut tidak enak? ". gumam Raka menggeleng kepalanya menghilangkan fikiran kotornya.
Raya mengangguk masih asik mengelap keringatnya, Raka mendekat dan mengelus perut Raya, Raya tertegun menatap Raka.
"bagian yang mana yang sakit? ". tanya Raka serius memperhatikan perut Raya.
"disini...? disini? atau disini? ". Raka seperti dokter profesional memeriksa kondisi Raya.
"awwh..! ". ringis Raya seketika saat Raka menekan perutnya.
"aku mengerti..! ini masalah perncernaan sayang..! tunggu sebentar ya? ". Raka mengangkat tubuh Raya dan mendudukkannya di atas tempat pegangan alat fitnessnya.
"Abang.. ini sangat limited, rusak bagaimana? ". protes Raya hendak turun dari alat fitness yang Raya ketahui hanya 2 di setiap negara, 1 dimiliki oleh Dylan dan satu lagi baru Raya ketahui milik suaminya.
"diam disitu sayang..! jangan bergerak! ". titah Raka dengan serius.
Raya terpaku tak bisa bergerak, Raya memperhatikan Raka berlari ke arah lemari dan terbelalak melihat isinya berbagai macam obat.
"astagah...! kenapa obatnya bisa sebanyak itu? apa dia penyakitan? ". batin Raya membekap mulutnya sendiri.
"obat ini hanya jaga-jaga sayang..! aku sehat dan sangat sehat tidak penyakitan sama sekali". jawab Raka seolah tau isi pikiran Raya hingga membuat Raya mengalihkan pandangannya berpura-pura tak peduli.
Raka kembali membawa obat pencernaan dan 1 botol air minum.
"ayo minum sayang..! obat ini buatan negara J dan sangat ampuh". Raka memberikan 1 pil putih ke telapak tangan mulus Raya.
Raya menelannya dan Raka membuka tutup botol minumannya lalu memberikannya pada Raya yang langsung meneguk minuman pemberian suaminya.
"bagaimana sayang? ada perubahan? ". tanya Raka merapikan anak rambut Raya.
"belum ada". jawab Raya sambil tersenyum tipis.
"kamu harus istirahat sayang, efek obatnya itu membuatmu mengantuk". Raka menggendong sang istri.
Raya melingkarkan tangannya di leher kokoh suaminya, mata biru Raya menatap wajah suaminya yang tampak serius memperhatikan jalan seolah takut ada kulit pisang dibawahnya. Raka tidak mau membuat berlian kesayangannya rusak walau segores saja.
"aku belum mandi abang..! nanti selimutnya bau keringatku". protes Raya saat Raka membawanya ke Ranjang.
"aku bisa beli 1 pabrik Badcover untuk ranjang kita". jawab Raka seadanya.
Raya tau kebenaran itu tapi hanya mencari alasan saja, Raya juga bisa membeli apapun tapi ia tak suka menghamburkan uang kalau tidak balik modal kecuali membeli barang-barang limited.
"tidurlah sayang.! aku menjagamu". Raka menyelimuti tubuh Raya sampai menutupi leher Raya.
__ADS_1
mata biru Raya malah memutar sana-sini, ia tidak mengantuk mana bisa Raya tidur.
"aku mainkan musik untukmu sayang". Raka membuka laci meja nakasnya.
Raya terkejut melihat alat musik tradisional yang tengah di pegang oleh suaminya, Harmonika. Raka tersenyum tipis saat mata biru Raya berbinar kini menatapnya seolah tidak sabar mendengarkan alunan musik Harmonika yang Raka pegang kini.
"aku akan mainkan sampai kamu tertidur sayang". Raka mengusap sayang kepala Raya yang tengah menyeringai senang menanti permainan musik Raka.
dizaman sekarang jarang sekali seseorang bisa memainkan alat musik tradisional itu, Raya menyukai alat musik tradisional itu karna alunan musiknya yang bisa menenangkan jiwa.
Raka meniup harmonika nya dengan penuh cinta, Raka menciptakan sebuah irama dengan alat musiknya itu, lagu khusus untuk kekasih impiannya yang sebelumnya jauh darinya tidak sedekat sekarang.
"waah..! ". mata biru Raya makin berbinar saja.
tangannya tanpa sadar bertepuk tangan kecil, sayang sekali Raya tidak mendengarkan irama alat musik kesukaannya itu, Raka tidak menghentikan permainannya ia terus memainkan harmonikanya sesekali matanya terbuka melihat sang istri masih berbinar mendengarkan musiknya.
Raka kembali memejamkan matanya memainkan alat musik itu, apapun akan Raka lakukan untuk Raya.
45 Menit Raka memainkan alat musik (harmonika) nya, Raka langsung menghentikan permainannya melihat sang istri telah tertidur pulas seperti bayi dengan kedua tangan menyatu.
Raka mencium sayang kening Raya, "tidurlah sayang..! setelah bangun perutmu akan baik-baik saja". batin Raka membenarkan selimut Raya.
Raka menyimpan alat musiknya kembali lalu keluar dari kamarnya menuju dapur.
"bi Asih..? ". panggil Raka
Raka melihat para Koki memakai celemek baru ada Foto Bi Asih, Para Koki dan Raya di tengah-tengahnya.
"astagah..! kelakuan istriku ini". batin Raka sudah bisa menebak pelakunya.
"tu.. tuan? ". sapa bi Asih takut-takut.
"iya..! 2 jam lagi buatkan bubur untuk Istriku". pinta Raka dengan datar.
"bubur? ". panik Bi Asih dan para Koki mendengar perintah Raka.
di mansion ini jika ada yang minta dimasakkan bubur artinya sedang sakit hal itu membuat mereka panik, apalagi Nona kesayangan mereka yang disebut Raka harus makan bubur.
"tenang saja..! istriku hanya terkena masalah pencernaan, dia makan terlalu banyak tadi siang". jelas Raka segera meninggalkan dapur.
bi Asih dan Para Koki pun lega mendengarnya, mereka segera berbagi tugas membeli bahan-bahan baru untuk membuat bubur kesukaan Raya, Raya pernah mengatakan pada mereka tentang bubur kesukaan Raya, tapi bahan buat bubur yang Raya suka tidak ada di dapur. mereka punya waktu 2 jam membuatkan bubur untuk Raya jadi bisa berbelanja.
.
jam 8 malam...
Raya menguap lebar
__ADS_1
"Nona..? " sapa Bi Asih dan 2 Koki
"eeh..? ". Raya nyengir kuda melihat bi Asih dan kedua koki ada di sampingnya.
" hmm..? bau apa ini? ". gumam Raya mengendus-ngendus.
Raya terpekik senang melihat Bubur Ayam Tanjung Menteng kesukaannya, bi Asih dan kedua Koki begitu senang melayani Raya dan meletakkan meja makan mungil di ranjang mewah itu.
Raya tidak peduli apapun, ia tidak sabar memakan bubur itu.
"bagaimana Nona? ". tanya salah satu Koki dengan penuh harap.
"enak.. hm.. enak sekali". pekik Raya baru merasakan Bubur seenak itu, sebelumnya pernah tapi rasanya berbeda.
"aah.. Nyam.. nyam". Raya mengucapkan syukur lalu menjilati mangkuknya yang sudah bersih.
"Nona.. kami bisa buatkan lagi! jangan seperti ini Nona? ". gemas Bi Asih.
Raya mengabaikannya, Raya bahkan lupa perutnya tadi bermasalah. Raya tidak pernah berbagi rasa sakit pada siapapun, bahkan saat sakit pun Raya mengatasinya sendiri seperti masalah pencernaan, berbeda jika demam Dylan yang pertama kali tau sebab ia akan menyadari perubahan wajah putri sulungnya itu.
"sayang? ". Raka masuk dan berjalan mendekati Raya.
Bi Asih dan kedua Koki langsung melangkah mundur membawa perlengkapannya hingga tangan Raya menggantung seperti anak kecil tak terima makanannya di rebut padahal sudah habis bubur buatan salah satu Koki itu.
"Cintia...! ". kesal Raya
Bi Asih dan kedua Koki terus saja keluar, mereka benar-benar takut dengan Raka sebab ini kamar Raka.
Raka bukannya marah malah tertawa gemas melihat wajah cantik Raya belepotan.
"bagaimana perutmu sayang? ". tanya Raka mengelus wajah Raya dan tangannya yang lain mengelus perut Raya.
Raya memberengut,
"kenapa sayang? masih sakit? ". tanya Raka saat mencoba menekan perut Raya.
Raya menggeleng, "buburnya habis". rengeknya.
"Sayang..! kamu bisa minta buatkan lagi, sekarang bangkit dan bersihkan tubuhmu ini ya? ". Raka menangkup kedua pipi Raya.
Raya mengangguk lalu bangkit dari ranjangnya berjalan sedikit sempoyongan ke arah kamar mandi. Raka menggeleng kepalanya sambil tertawa lucu akan tingkah Raya yang makin menggemaskan saja setiap hari.
.
.
.
__ADS_1