
.
.
"lepaskan dia terlebih dahulu! ". titah Red kepada Asisten Han.
Han dengan cepat meminta bawahannya untuk melepaskan tangan Brayen, Brayen terduduk dihadapan Red.
"ada apa Tuan? apa saya melakukan kesalahan? saya minta maaf yang sebesar-besarnya". ucap Brayen dengan segala hormat
Red tertawa, ia suka sekali di sanjung dan di puja-puja oleh seseorang.
"hmm.. aku suka caramu menjilatku". kata Red
kening Brayen mengkerut,
"oh.. tujuanku menangkapmu bukan karna apa-apa, aku hanya tertarik dengan mantan pacarmu, aku akan bantu kau melawan Arya asalkan kau menyerah terhadap gadis itu". kata Red
Brayen melebarkan matanya, "N.. Nia? Tuan mengenal Niaku? ". tanya Brayen tergagap
"Niamu? dia milikku". ralat Red mulai terasa hawa tidak menyenangkan disekeliling Brayen
"maaf Tuan.. saya tidak menyangka mantan pacar saya yang bisa membuat anda tertarik untuk mendapatkannya, bahkan berani menginginkannya walau sudah menjadi milik Tuan Muda Melviano". Jelas Brayen
"hmm.. aku tidak akan kalah lagi darinya, sekarang ceritakan padaku tentang Gadis itu". titah Brayen yang penasaran sosok Nia.
"lagi? ". batin Brayen menyeringai tipis penuh dengan siasat misterius.
Brayen menceritakan sosok Nia pada Red, betapa tertariknya Red pada kepribadian Nia yang sangat tulus hingga Han pun melongoh bertanya-tanya dalam hati apa gadis langka seperti itu memang ada di dunia ini,
"pantas saja Tuan Muda Melviano menikahinya? ternyata dia berlian dalam lumpur". batin Han yang akhirnya rasa penasarannya terjawab sudah.
Brayen menyunggingkan senyum tipisnya, "sepertinya gadis itu benar-benar menarik perhatianku, aku jadi semakin menginginkannya".
Brayen diam saja, ia tidak berani berekspresi didepan Red saat tau Red tertarik dengan Nia, Brayen tidak mau meninggal dengan cepat.
.
di tempat lain.
Nia diantar oleh Arya pergi ke Kontrakan Wendy dan Bio.
"Mama.. Papa? ". Nia berlari kecil mendekati kedua orangtuanya dan memeluk Papanya dengan manja.
__ADS_1
"Papa.. Nia kangen". ucap Nia dengan nada super manjanya.
Arya berdiri tenang, ia menundukkan kepalanya sebagai rasa hormatnya pada mertua, inilah alasan Arya tidak bisa membunuh kedua orangtua Nia karna Nia sangat menyayangi Orangtuanya terlepas dari apapun yang pernah mereka lakukan pada Nia.
Bio mengelus punggung Nia, badannya tidak kaku lagi di peluk oleh putri bungsunya yang manja sama seperti saat Nia berusia 7-10 tahunan.
"ayo silahkan masuk Tuan! ". ajak Wendy dengan sopan pula
walau Arya adalah menantu mereka tapi Wendy dan Bio masih segan dengan Tuan Muda Kaya Raya itu, pasti Arya tau apa saja yang pernah mereka lakukan pada Nia sebelum bersama Arya.
Arya pun memilih masuk, ia jarang berbicara dan tidak suka menjilat orang lain walau mertuanya sendiri, bahkan Arya tidak suka pada mereka karna membuat hidup kelincinya menderita sebelum bertemu dengannya.
di sofa.
"T.. tuan? apa boleh saya bertanya? ". tanya Bio dengan ragu-ragu
Arya melirik Bio, "apa? ".
"B.. bagaimana pertemuan Tuan dengan putri saya?". tanya Bio dengan sangat hati-hati
Arya ingin sekali memukul kepala Bio, setelah apa yang pernah Bio lakukan kini dengan tak tau malunya menyebut Nia sebagai putrinya, kemana saja Bio saat Nia belum bertemu dengannya.
Nia di dapur membantu Wendy membuatkan hidangan kecil dan istimewa untuk suaminya
Bio menelan salivanya bersusah payah, dengan takut-takut ia mengangguk karna sangat penasaran.
"Putri sulungmu dan Mantan kekasihnya bekerja sama untuk menjebak Kelinciku bisa tidur dengan Mantannya itu, tapi Nia dalam keadaan tidak sadar malah masuk ke Kamarku saat kami semua berada diSingapura". jelas Arya
"h.. ha? maksud Tuan Muda? ". tanya Bio tidak mengerti karna otaknya bercabang-cabang saat ini hingga tidak bisa mencerna maksud kata-kata Arya
"Nia dalam pengaruh obat menyerangku, tenang saja aku bukan Penjahat kelamin dan aku hanya menolongnya saja". sambung Arya lagi
Bio melihat ke arah Dapur, ia tidak mengira masalah yang menimpa Nia begitu berat, rasa bersalah semakin menggerogotinya.
di dapur
"bagaimana sayang? apa Tuan Arya baik padamu nak? ". tanya Wendy setengah berbisik
Nia tersenyum manis, "Tuan Arya sangat baik Ma.. Nia sangat menyukainya". bisik Nia juga
Wendy tersenyum melihat rona di pipi Nia, ia mengelus kepala Nia yang seperti anak kecil saja saat ini.
Nia kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya, itu sebabnya ia begitu manja saat dibelai dan dikasihi oleh orangtuanya, tidak dimarahi atau bahkan mengusirnya setiap kali Nia mendekat.
__ADS_1
"kakak kemana ma? apa dia tidak tinggal disini? ". tanya Nia celingukan
"dia sibuk di luar, udah beberapa hari dia tidak pulang entah apa yang dia kerjakan diluar sana, Mama telfonin juga tidak diangkat". Wendy
Nia terdiam, "apa sebenarnya yang kakak inginkan dariku? apa kakak juga berencana merebut Tuan Arya dariku? apa masalah kakak padaku? aku adikmu kak bukan musuhmu". batin Nia menatap sedih ke lantai.
"sudah nak..! ayo kita persiapkan semuanya". ajak Wendy membuat Nia tersadar segera merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria.
.
Nia membawa jus buah kesukaan Arya yang Nia ketahui dari Shindy.
"Tuan..! ini minumannya". Nia memberikan satu gelas jus kesukaan Arya dengan sopan.
Arya diam saja lalu melirik ke arah Bio, Bio yang sadar segera bertanya.
"kenapa kamu memanggil Suamimu Tuan nak? kenapa tidak suami? ". tanya Bio
Nia melebarkan matanya lalu melihat ke arah Arya, "K.. karna Nia sudah terbiasa Pa.. "
"sudah aku bilang panggil aku Kakak". pinta Arya dengan serius sambil meneguk jus minuman yang di buat Nia.
Wendy datang membawa satu nampan makanan ringan untuk menantu nya itu.
"hmm.. benar nak..! panggilan seperti itu lebih baik dari pada memanggil Tuan, kalian sudah suami istri jadi harus lebih dekat seperti teman bukan seperti itu, kamu tidak memikirkan perkataan orang lain jika mendengarmu memanggil suamimu seperti itu? nama baik Tuan Arya bisa saja dipertanyakan, apa Tuan Arya memang memperlakukan istrinya dengan baik atau tidak? mengapa panggilan Istrinya seperti itu? kamu mau Tuan Arya jadi bahan ceritaan orang lain? mereka akan mengira Tuan Arya berbeda dari cerita sebenarnya".
Arya menyunggingkan senyum tipisnya, ia tau Nia akan mendengarkan perkataan Bio, walaupun Arya bisa mengatakannya sendiri tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta Nia memanggilnya Kakak saja.
"baiklah Pa.. Nia akan biasakan memanggil Tuan.. eeh.. Kak Arya ". jawab Nia dengan patuh
Bio tersenyum melihat ke arah Arya, ya.. Aryalah yang meminta Bio untuk meminta Nia merubah panggilannya.
Arya melihat arah lain, ingin sekali ia tertawa tapi tertahan demi menjaga image nya didepan mertuanya.
"silahkan dimakan Tuan! ". pinta Wendy
Nia masih belum terbiasa memanggil Tuannya dengan panggilan Kakak, jadi perkataannya masih terselip kata Tuan hingga Arya ingin sekali mencubit kedua pipi Nia.
.
.
.
__ADS_1