
.
.
"udah? ". tanya Raya melihat Raka dengan datar.
Raka tergelak, "kenapa kamu menggemaskan sekali sayang hmm? ".
"menggemaskan dari mana? tadi ada bi Asih, terus abang cium aku lama.. lihat nih..!! aku telat 5 menit". gerutu Raya menunjuk-nunjuk jam tangannya.
"apa ada yang menghukummu terlambat ke kantor sayang? hmm? atau ada yang memecatmu? katakan saja sayang.. aku akan memberimu pekerjaan sebagai asisten pribadiku". cecar Raka dengan sayangnya mencubit pipi Raya.
Raya menepis pelan tangan Raka, "abang apa an sih? aku ini Direktur mereka, dan juga Perusahaan itu milik papiku siapa yang berani memecatku hah? ".
"terus kenapa terlalu memperhitungkan waktu mu hmm? ". tanya Raka
"issh.. udah ah.. malas sama abang.. waktu aku jadi makin telat 10 menit". potong Raya malas mendorong tubuh suaminya.
Raka bukannya marah malah tertawa, Raya Keluar dari kamar.
"bibi..? apa ada sandwich untukku? aku terlambat 10 menit karna tuan bibi itu". tanya Raya berlari kecil ke arah lift.
"di siapkan Nona". bi Asih langsung berlari mengikuti Raya.
"jangan lama-lama ya bi". pinta Raya sambil melihat jam tangannya.
"siap Nona". jawab Bi Asih
"apa kebiasaannya memang seperti itu bi? suka datang telat ke kantor nya? ". tanya Raya penasaran
"Tuan Master Nona? ". tanya Bi Asih
"siapa lagi kalau bukan dia bi? nggak mungkin Jon atau Rio kan? yang ada nanti Aku di cekik olehnya bi". gerutu Raya
"Tuan tidak akan mencekik Nona tapi mungkin mencekik Tuan Jon dan Tuan Rio". kekeh Bi Asih.
Raya mendengus kesal saja tanpa bisa membalas ucapan Bi Asih, Raya memang orang disiplin yang memikirkan waktu padahal Raya memiliki posisi tertinggi juga, walau dirinya tidak datang ke kantor pun tak masalah tidak akan ada yang memecatnya.
.
"bibi..? ". teriak Raya
"iya Nona". Bi Asih berlari ke mobil Raya dimana Dita sudah menunggu di mobil dengan baju formalnya juga.
Dita di hukum oleh Raya untuk merawat Jon tapi Jon membebaskan Dita atas perintah Raka juga supaya Dita bisa melindungi Raya tapi Raya tidak tau atas perintah suaminya itu.
di Perusahaan MattGroup.
"kakak? ". Satria berdiri bersama Arya wakil CEO di Perusahaan MattGroup.
"maaf kakak telat dek..! ". ucap Raya dengan raut wajah merasa bersalah.
"tidak apa kak". jawab Satria dan Arya bersamaan.
"silahkan dilanjutkan!". titah Raya.
__ADS_1
"begini Nona.. Tuan muda.. ada kendala pembangunan di kota Y, sepertinya mereka semua diancam oleh seseorang Nona.. saya sudah mencari tau tapi tidak ada bukti".
"jadi? ". tanya Raya
"mereka mogok kerja Nona bukan karna malas tapi karna takut".
"apa perlu Arya turun tangan kak? ". tanya Arya.
"biar Satria yang urus kak..! ". sambung Satria serius.
"kalian yakin? ini kan sama saja tanggung jawab kakak karna pembangunan Mall itu projek kerja kakak". tanya Raya.
"projek kakak milik MattGroup yang kakak ketahui Satria sebagai CEO, jadi wajar harus turun tangan". jelas Satria dengan tenang
"iya kak..! Siapa pun yang menghalangi projek MattGroup akan menghadapi kami". sambung Arya
"bagaimana Perusahaan? ". tanya Raya
"kami serahkan pada kakak". ucap Satria dan Arya serentak.
sementara yang di ruangan Rapat itu, semua orang hanya bisa terdiam tanpa berani berbicara.
"jika solusinya begini seharusnya mereka berbicara bertiga saja".
"kenapa ada rapat kalau kami tidak anggap".
dan banyak lagi batin mereka semua mengeluh karna obrolan sang penguasa itu, baik Satria, Arya dan Raya tidak terlihat serakah memikirkan kekuasaan, mereka malah bekerja sama membuat maju Perusahaan MattGroup.
sebenarnya Satria dan Arya ingin membangun Perusahaan sendiri tapi Satria sebagai Putra tertua Melviano tidak bisa memikirkan itu sebab dirinya memiliki tanggungan, berbeda dengan Arya yang masih kuliah kini suka membantu kakaknya bekerja sebagai wakil CEO sekaligus asisten pribadi kakaknya.
Keluarga Bagus (anak Ramzi dan Ella) dibebaskan memilih cita-cita mereka selain menjadi asisten Pribadi CEO Melviano, bahkan anak Kanaya pun Aisha dibebaskan memilih pekerjaannya tapi Kanaya pernah mengatakan Aisha (putri sulungnya) ingin bekerja di Perusahaan MattGroup saat dewasa nanti.
.
.
"Tuan..? ada tamu". Sekretaris penjaga ruangan CEO pun masuk setelah mengetuk pintu atasannya.
"apa tidak lihat aku sedang sibuk? suruh lain kali saja". decak Raka tengah sibuk melihat Jon mengotak-ngatik komputer.
"Tapi ini penting tuan.. Nona Muda Melviano yang mengutusnya". jawab wanita itu takut-takut.
"Nona Muda Melviano? ". gumam Jon dan Raka kompak.
"suruh dia masuk". titah Raka membenarkan dasinya yang longgar.
Raka jago berkelahi, mendesain senjata dan bersiasat tapi bagaimana pun ia tidak ahli di bidang IT hanya tau sedikit saja, setiap manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
"baik tuan". jawab wanita itu segera menutup pintu dan memanggil tamunya.
"siapa ya? " gumam Raka pelan
"Abang Ipar? ". sapa Alvan dengan senyum tipisnya memakai baju santai.
"Hei..? Alvan? ". Raka berdecak tak percaya tamu utusan Raya adalah Alvan saudara kembar Nola anak dari Nova dan Candra (Keluarga IT).
__ADS_1
Alvan dan Raka saling berpelukan satu sama lain, mengobrol layaknya adik kakak tanpa memperdulikan Jon yang sudah berkeringat dingin melawan hacker hebat kini.
"mampus kita tuan..! ". cemas Jon bangkit seketika hingga kursinya terdorong kebelakang mengenai meja.
brakh..
bunyi tabrakan benda mati itu membuat Alvan dan Raka menoleh padanya.
"maaf Alvan..! abang sibuk.. bisa tunggu abang bentar? ". tanya Raka
"hmm.. Sini biar Alvan urus". kekeh Alvan dengan santainya berjalan melewati Raka.
"hah? ". cengo Raka
"minggir bang. !". usir Alvan dengan tenang ke Jon.
"tapi tuan.. data kami bisa di curi jika saya lepas tangan". elak Jon dengan keringat sudah mengalir deras di pelipisnya.
"hmmm..! ... kalian tidak penasaran kenapa Raya membawa aku kesini..? sepertinya Raya ingin aku menyelesaikan kekacauan ini". jelas Alvan dengan santai menekan satu kontak membuat Raka dan Jon terbelalak tak percaya.
"mati..? ". gumam Jon dengan lirih.
"data kami sudah di curi? ". tanya Raka
"mereka tidak akan berhasil mencurinya jika komputer inti mati". jelas Alvan dengan tenangnya menekan satu kontak itu lagi dan akhirnya semuanya kembali menyala.
Jon menganga saja di tempat, Raka hanya mematung di tempat tanpa bisa mengeluarkan suara.
"cepat bang! minggir ! ambilkan kursinya". titah Alvan.
"b.. baik tuan". jawab Jon segera mengambilkan kursinya tadi dan meletakkannya dibelakang Alvan.
Alvan menunggu komputernya aktif lagi sedangkan Raka hanya terdiam melihat raut wajah Alvan yang tampak tenang saja.
"Rayaku mengutus Alvan untuk menyelesaikan masalahku? ". batin Raka
Alvan mulai meregangkan jemari tangannya, "abang tenang aja..! pekerjaan ini sangat mudah bagiku, kata Raya abang akan memberikan apapun yang aku mau kalau masalah ini selesai".
Jon menelan ludahnya dengan mata melebar melihat layar komputer, "tangannya lincah sekali? bagaimana bisa otaknya bekerja saat dia sedang berbicara? nada bicaranya tanpa beban? ". batin Jon.
"bang? ". panggil Alvan
"Eh...? iya". sahut Raka
"aku minta senjata langka abang, kata Raya abang banyak senjata langka ya? ". tanya Alvan melihat ke arah Raka sesekali sementara tangannya mengotak-ngatik komputer Raka dengan sangat cepat.
"i.. iya, kamu bisa pilih senjata apapun di mansionku nanti ". sahut Raka tersadar.
"Okeh..! ". Alvan makin bersemangat memainkan jemari tangannya.
walau Alvan suka main komputer tapi Alvan juga punya hobby lain seperti berburu, balapan dan jago berkelahi juga, berbeda dengan Nola yang memang gemar dengan komputer serta barang limited.
"ada apa ini? apa dia seorang Hacker juga? ". batin Raka menebak.
.
__ADS_1
.
.