
.
.
Sore harinya Nia menghabiskan waktunya di Mansion Melviano.
Al tiba di Mansion Melviano, kulitnya warna kuning langsat tidak lagi putih seperti biasa tapi Alya malah makin suka warna kulit Al setelah kembali tetap tampan bahkan makin terlihat seksi.
"sayang? ". Al berlari ke arah Alya dan memeluk Alya didepan banyak keluarga Alya
tidak ada yang melarang mereka berpelukan malah menyoraki Al yang kembali menjadi bayi saat kembali dari pelatihan setan Dylan, Pasha.
Dylan dan Pasha tidak mau kalah akhirnya adegan mesra antara suami istri pun tidak dapat di elakkan, sungguh mereka tetap manusia biasa yang memiliki tulang rusuk.
hanya para gadis dan para bujangan Melviano yang berdecak segera meninggalkan perkumpulan itu.
Alya membawa Al ke halaman belakang.
"apa terlalu sulit?". tanya Alya serius
"sulit bagiku tapi demimu aku bisa melaluinya". jawab Al sambil cengar-cengir.
Alya tersenyum lalu mengelus kepala Al sambil sedikit berjinjit.
"selamat ya..! aku bangga padamu". puji Alya
Al memeluk Alya dengan mesra, "aku tidak sabar menunggu hari pernikahan kita". bisik Al
Alya terkekeh membalas pelukan Al.
"tapi tunggu. .!". Al melepaskan pelukannya bersama Alya
"kenapa? ". tanya Alya keheranan.
"kenapa aku merasa calon istriku ini semakin cantik?". Al memperhatikan wajah Alya yang semakin cantik saja.
"benarkah? ". tanya Alya balik sambil menangkup kedua pipinya sendiri.
Al tertawa mencium kening Alya lalu kembali memeluk Alya.
"aku merindukanmu sangat merindukanmu". ucap Al dengan serius sambil memejamkan matanya.
"aku juga bang". jawab Alya tersenyum lebar.
mereka larut dengan adegan rindu satu sama lain, Al memeluk Alya saja sudah membuatnya senang, inikah namanya cinta sejati hanya sebuah pelukan membuat seorang Al begitu bahagia.
.
ke esokan harinya.
__ADS_1
Nia diantar Arya kembali ke Apartemen
"ini mobilnya..! ". Arya memberikan kunci mobil miliknya ke Nia
Nia melongoh melihat mobil mewah itu, "katanya mobil biasa? mana Tuan? aku tidak melihat ada mobil biasa disini".
"ini mobil paling biasa". jawab Arya dengan entengnya menunjuk mobil yang ia berikan pada Nia.
"tuan.. ini terlalu berlebihan". Nia merasa tidak enak menerima mobil Arya padahal mobil yang pernah dipakai Arya tapi tetap saja Nia tidak enak hati menerima itu.
"ambil saja..! aku tidak mau kamu menjualnya". Arya mengelus kepala Nia dengan lembut dengan sudut bibir terangkat.
Nia mendongak menatap manik mata biru Arya, ia bertanya-tanya apa dirinya pantas menerima semua kebaikan Arya.
"tidak apa! ayo cepat kembali, aku ingin istirahat". Arya berjalan duluan meninggalkan Nia yang masih terbengong.
Nia terlonjak kaget saat Arya memanggilnya, dengan cepat Nia berlari ke arah Arya.
di kehidupan Nia saat ini hanya ada kebahagiaan sedangkan Tia memanen hasil dari perbuatannya selama ini.
Tia jadi bahan olokan dimanapun ia pergi, bahkan Bio dan Wendy cukup kesulitan mencari kontrakan hanya karna ada Tia yang mereka bawa.
"tidak ada pilihan Ma.. Pa.. Tia harus tinggal bersama Nia!". seru Tia dengan kesal
"diam...! kau mau melakukan apa pada Nia? Nia itu milik Tuan Arya, jangan pernah mendekatinya dan mencoba merebut miliknya". ancam Bio
"kenapa kamu tidak bersama Brayen Tia? kalian sudah tidur bersama seharusnya dia menikahimu". Wendy
Bio tidak menjawab lebih memilih meninggalkan Tia yang otaknya benar-benar sudah rusak, akhirnya Bio dan Wendy mendapatkan kontrakan tapi cukup pedalaman dan biaya nya juga lumayan mahal karna sebenarnya pemilik Kontrakan tidak mau menyewakan Rumahnya pada jal*ng seperti Tia.
menurut orang dahulu, wanita jal*ng tinggal disekitar Rumah mereka adalah suatu kesialan, jadi Bio dan Wendy terpaksa bayar mahal demi mendapatkan tempat tinggal.
"Rumah apaan ini Ma..? ". kesal Tia
"cukup..! karnamu kami menjual Rumah itu jadi jangan banyak protes". Wendy
"kenapa jadi menyalahkan Tia? ". tanya Tia balik dengan nada tak kalah kesal.
"kalau Papamu tidak melihat foto itu dia tidak akan syok hingga serangan jantung tiba-tiba padahal Papamu tidak pernah punya penyakit riwayat jantung". geram Wendy
"salahkan saja Papa yang mudah syok..! zaman sekarang mana ada perempuan yang masih bersih kecuali dia norak dan tidak tau zaman". ketus Tia
Bio memegang kepalanya yang berdenyut, Wendy memegang lengan suaminya.
"Ma..? ". lirih Bio
"iya Pa". sahut Wendy dengan ekspresi sedih
"bagaimana bisa kita tidak mengenalinya selama ini? ". Bio berkata dengan nada lemah
__ADS_1
"iya Pa.. ini semua karma kita". Wendy
"tidak bisa..! aku harus menemui Nia". Tia akhirnya memilih keluar dari Rumah kecil itu mencari taksi tapi tidak cukup uang alhasil ia naik ojek.
"sudah biarkan saja! ". Wendy menenangkan Suaminya yang baru saja sembuh.
"lalu bagaimana anak itu? ". tanya Bio
"Tuan Arya tidak akan mengizinkannya Pa.. biarkan saja dia dihabisi oleh Tuan Arya, Mama terlalu malu mengakuinya anakku Pa.. Mama tidak sanggup bertemu Nia jika kita masih memanjakannya". Wendy
Bio menghela nafas panjang.
"bagaimana pertemuan Nia dengan Tuan Arya? bagaimana bisa Nia dekat dengan Tuan Arya yang sangat terkenal sulit di dekati, dirayu dan tidak mempan di sanjung-sanjung". Bio
"Mama tidak tau Pa.. lain kali kita tanya Nia". Wendy
.
Nia melihat layar ponselnya ada panggilan masuk dari Tia.
"kenapa lagi kak? ". gumam Nia dengan pelan tanpa mengangkat panggilan itu.
"kak.. Nia memang tidak pantas bersama Tuan Arya tapi bukan berarti aku rela kakak merebut Tuan Arya, Kakak tidak pantas bersama Pria sebaik Tuan Arya, Jika ada perempuan baik hati, Kaya, berpendidikan tinggi serta sangat cantik aku akan dengan senang hati mengalah tapi tidak dengan Kakak". Nia bergumam pelan.
Nia membaca pesan Tia dan mata Nia melebar seketika membaca pesan itu.
"kakak didepan? bagaimana bisa? ". Nia gelisah tak karuan ingin keluar atau tidak.
Nia mematikan ponselnya saja, ia tidak akan memberi ruang sedikitpun pada Tia untuk bisa dekat dengan Arya, Tidak akan.
"maaf kak..! Nia tidak bisa membantu kakak". gumam Nia pelan memilih menonton TV saja.
Tia mencoba menelfon Nia didepan gerbang gedung Apartemen milik Satria, ia mengumpat geram nomor Nia tidak bisa di hubungi.
"dia benar-benar sudah besar kepala ya? aku tidak bisa tinggal diam, enak saja dia melarangku tinggal disini apa dia pikir Tuan Arya itu miliknya ha? ". geram Tia dengan muka memerah
Tia berusaha berakting pada ketiga Penjaga gerbang tapi mereka seolah tak terpengaruh sama sekali tetap tidak memberi izin Tia masuk hingga mereka marah dan mengusir Tia layaknya pengemis saja.
"sial...! ". maki Tia melihat ke atas dimana gedung Apartemen tempat tinggal Nia berada.
"awas kau Nia". gumam Tia dengan mata memerah darah.
.
.
.
iya.. Kenapa cinta meluluk padahal tema nya Mafia? karna pihak NT tidak meluluskan cepat kalau ada adegan kekerasannya, kedepannya mungkin Nae bakal buat kisah cinta CEO aja deh, karna Mafia udah banyak banget peraturannya.. jadi mohon maaf sama Readers yang kecewa Cerita Novel ini banyak adegan cinta nya bukan adegan sayat-sayatannya.. wkwk..
__ADS_1
.
.