
.
.
mata hari mulai terbit,,
Raya tidak bisa tidur malam ini, ingin sekali Raya tidur tapi pikirannya banyak hingga tidak bisa tidur dengan nyenyak, sekali tertidur setiap 10 menit akan terbangun lagi begitulah seterusnya hingga pagi menjelang.
Raya bangun sambil mengucek kedua matanya, tiba-tiba jantungnya berdebar tak karuan mengingat kejadian beberapa jam yang lalu dimana Raka melihat penampilan dirinya yang sebenarnya.
"aah..! jangan dipikirkan Raya..! dia sudah berjanji akan melupakannya, bersikaplah seperti biasa". gumam Raya dengan suara khas bangun tidurnya.
setelah selesai berbenah diri Raya keluar dari kamarnya dan melihat ada sarapan terletak di meja ruang tamu, kali ini Raka tidak antri lagi hingga Raya semalam tidak sarapan melainkan makan siang.
"Nona? "
"aah..! ". kaget Raya yang tadinya melamun.
"eeh...? Nona kaget? ". tanya Dita mengerjab polos.
"ya iyalah kaget...! ". kesal Raya melenggang pergi ke sofa dan mulai mengeluarkan sarapannya.
"kemana pak Jo Dita? ". tanya Raya
"Pak Jo ke warung kopi lagi Nona..! saya tidak mengerti kenapa pak Jo suka sekali kesana". jawab Dita juga ikutan duduk di sofa ruang tamu.
"Oh..! Dia? ". tanya Raya malas menyebutkan nama Raka.
"tuan di luar Nona sudah bersiap di dalam mobil untuk menjadi supir anda". jawab Dita menahan senyum mendengar Raya menyebut Raka dengan sebutan Dia.
Raya mengangguk saja dalam hatinya menenangkan diri, Raka orang baik yang menepati janji serta tidak tertarik padanya. Raya mengingatkan diri tujuannya menutupi diri untuk menjauhi tatapan jahat lelaki tapi Raka tidak menatap jahat padanya hanya terlihat terkejut saja melihat penampilannya.
Raka di dalam mobil dengan telfonan dengan Jon.
"tuan..! kami sedikit menemukan titik terang tempat persembunyian Nona Sherina". suara Jon
"hmm..! kirim mata-mata yang sempurna ke dalam tempat persembunyiannya dan beri racun mematikan secara perlahan ke tubuhnya biarkan racun itu menggerogoti tubuhnya sampai mati.! ". perintah Raka dengan dingin.
"baik tuan..! ". jawab Jon
Raka hendak mematikan panggilannya namun
"tuan..? ". Rio menyahut
"apa..? ". decak Raka.
"saya mengikuti Nona Maisy sepertinya dia belum bisa balas dendam tuan.. dia terlalu sibuk dengan rumah barunya yang tidak layak itu tuan". suara Rio menjelaskan.
"hmm..! beri dia angin segar dengan membiarkan dia mencari uang sendiri, kita lihat sampai dimana kemampuannya mencari uang ! atau sama seperti ibunya dengan menjual dir* ". Raka menyeringai tipis.
"baik tuan..! saya akan pantau dia" . sahut Rio dengan tegas.
Raka pun mematikan panggilannya, lalu menyimpan ponselnya dalam saku celananya. Raka memejamkan mata di dalam mobil sambil bersandar.
__ADS_1
bibir Raka tertarik ke atas mengingat Raya yang sangat cantik hari itu, Raka benar-benar terpana. ia malah bangga dirinya satu-satunya Pria yang melihat penampilan Raya yang sesungguhnya.
"ck..! lupakan? bagaimana aku bisa melupakan hari itu sayang?". gumam Raka makin tersenyum lebar saja.
Raka membuka matanya dan melihat telapak tangannya yang membelai rambut Raya yang sangat halus seperti bayi tapi rambut Raya tebal dan ikalnya sangat cantik.
.
.
Raya dan Dita masuk ke mobil Melviano bukan mobil Raka, dimana sudah ada Raka di dalam sana sambil memejamkan mata seolah tertidur padahal tidak.
"Raka? ". Raya memanggil
Dita hanya diam tanpa berani memanggil singa buas yang sedang tertidur itu.
Raya terus memanggil dan kini memberanikan diri memegang bahu kokoh Raka, barulah Raka berpura-pura menggeliat kecil seolah baru bangun tidur.
"kalian sudah selesai? ". tanya Raka dengan suara serak.
"iya..! apa kau benar-benar mengantuk? kalau mengantuk kau tidurlah di rumah! aku dan Dita bisa pergi berdua". ujar Raya
"terlalu berbahaya melepaskanmu sendiri kesana Raya..! kita tidak tau bahaya apa yang mengintaimu". jawab Raka dengan tenang
"kau mengatakan itu seolah aku ini gadis lemah". protes Raya mulai melupakan kegugupannya.
"aku tidak menyebutmu lemah Raya.! aku hanya memikirkan keselamatanmu ! di kota ini penjahat dimana-dimana kau tau kan? tingkat kriminalitas tertinggi itu ada di kota ini". jelas Raka
benar saja dalam perjalanan mereka menuju ke lokasi mereka di hadang para perampok di siang hari membawa banyaknya senjata tajam tapi tidak pistol melainkan senjata tajam seperti pisau, kapak, golok, dan cangkul serta banyak lagi hingga Raka ingin tertawa melihatnya.
Raya menatap datar pemandangan di depan sana, "aku keluar...! "
"kata siapa? ". Raka berbalik menahan pergelangan tangan Raya
"kataku". jawab Raya
"diam disini...! biar aku yang atasi..! ". titah Raka dengan serius lalu melirik Dita yang langsung kaget tapi dengan cepat mengangguk-ngangguk seolah tau apa yang Raka pikirkan.
"kunci mobilnya dari dalam saat aku keluar! ". titah Raka sambil melepaskan seatbeltnya
"baik tuan". balas Dita
Raka hendak keluar namun suara Raya menghentikan gerakannya.
"hati-hati !".
memang kata-kata Raya singkat namun makna nya sangat dalam bagi Raka, artinya Raya meminta Raka untuk kembali dalam keadaan selamat. lucu memang padahal yang Raka hadapi bukan Mafia melainkan perampok amatiran bagi seorang Raka.
Raka keluar dari mobilnya dan seperti yang Raka perintahkan Dita langsung mengunci mobilnya dari dalam.
"Apa? ". tanya Raka dengan malas sambil duduk keren di depan mobil Raya.
"serahkan harta mu jika ingin selamat..! ". titah si ketua perampok dengan garang.
__ADS_1
Raka melihat mereka semua satu persatu,
"hartaku yang mana? ". tanya Raka memancing.
"jangan pura-pura bodoh! serahkan mobilmu juga dompetmu !". ucap yang lainnya
" cih...! kata-kata kalian kampungan sekali". ledek Raka sambil memijit pangkal hidungnya.
"jangan banyak bicara..! cepat serahkan...! ". teriak yang lain tidak sabar.
"kalau aku tidak mau !". kata Raka dengan tenang
"kau akan mati! ". seru semua perampok itu dengan garang.
bibir Raka tertarik sebelah membentuk senyuman tipis, seringai iblis tercetak jelas dari wajahnya itu tatapan nyalangnya membuat para perampok amatiran itu cukup ragu-ragu menyerang Raka apalagi Raka yang di gertak tidak terlihat takut sama sekali.
"aku bawa kapak...! "
"terus? aku harus memujimu? ". ejek Raka
"aku bawa Golok..! ".
"cih..! apa aku terlihat tertarik dengan senjata lelucon kalian itu? ". decih Raka
"serang dia...! ". teriak Ketua perampok.
20 perampok amatiran mengeroyok Raka secara bersamaan, sebab itulah keunggulan mereka supaya bisa mendapatkan targetnya.
brugh..brak..
"aaah...! "
dalam hitungan detik seluruh perampok itu sudah melayang kemana-mana.
Raka mengusap bajunya seolah menghapus debu.
"ck...! lemah sekali". cibir Raka
ketua perampok pun dengan ganas berlari ke arah Raka dan melawan Raka dengan segenap kemampuannya, Raka tentu tidak meremehkannya karna gerakan pria itu lumayan agresif.
"kau bersabuk rupanya". seringai Raka
"ya...! aku sabuk merah". kata si ketua dengan bangga nya.
"kau belum tau kemampuanku..! ". Raka menyeringai lagi.
Si ketua langsung kewalahan benar-benar kesulitan melawan saat Raka menyerangnya dengan agresif padahal Raka masih mengeluarkan 15% kekuatannya.
.
.
.
__ADS_1