
.
.
"hah? papi? ". Raka seperti anak kecil merengek tak ingin dipisahkan dari Raya.
"apa? ". acuh Dylan seolah tidak masalah besar.
"oh.. jadi ini suami cucuku? ". Pasha mendekat lalu mengelilingi tubuh Raka.
Shindy dan Kaira saling berpelukan, tak berapa lama Ella dan Ramzi pun bertamu di Vila tepi pantai milik Kaira dan Pasha, mereka bertetangga. Kaira dan Ella menghabiskan masa tua mereka di Vila itu bukan di Vila di puncak.
Raya yang membukakan pintu untuk Ella, Ella memeluk Raya dengan gemas.
"makin cantik aja cucunya Oma ini ya? ". gemas Ella mencubit kedua pipi Raya.
Raya tersenyum, sedangkan Dita duduk di sofa karna merasa bukan siapa-siapa. tugas Dita hanya melindungi Raya.
"kamu benar sudah menikah sayang? ". tanya Ella dirangkul Raya.
Ramzi berjalan ke arah Pasha dan Dylan yang sedang mengintrogasi seorang pria muda nan tampan.
"siapa ini tuan? ". tanya Ramzi
"suami cucuku... Raya". jawab Pasha dengan datar.
Ramzi melihat ke arah Raya,, "wow..! Raya juga mendapatkan suami yang sangat tampan dengan karakternya yang menyebalkan itu". kekeh Ramzi membuat Dylan dan Pasha menatapnya tajam.
"Ehh...? hehehe". Ramzi angkat tangan sambil nyengar-nyengir malu sudah mengejek Raya padahal memang benar.
Raka dikepung oleh Dylan, Pasha dan Ramzi. bisikan dan segala bisikan mereka lontarkan ke Raka hingga pria tampan itu mulai merasa takut.
Ella mengerutkan keningnya melihat Raka, tidak tau mengapa Raka seperti itu, tapi yang menjadi perhatian Ella adalah wajahnya. Ella memang sudah berumur namun matanya masih normal melihat pria tampan dan tidak.
"suamimu tampan sekali sayang". bisik Ella
"iya Oma..! dia tampan". jawab Raya seadanya.
Raya mengakui Raka itu tampan, Pria tampan yang benar-benar diakui Raya artinya benar-benar tampan. Jika saja wajah Raka sekedar tampan saja maka Raya akan jawab biasa saja, Raya terlalu Arogan mengatakan Raka sangat tampan karna hidup Raya juga dikelilingi Pria sangat tampan.
"ayo kita masak sayang..! ". ajak Shindy dan Kaira.
Ella pun mengangguk membawa Raya,, "cepat Dita..! ikut aku.!". titah Raya membuat Dita segera berdiri dan berlari mengikuti Raya.
__ADS_1
tinggallah para lelaki galak itu yang kini tengah mengotak-ngatik otak cerdas Raka, apalagi sudah membahas Keselamatan Raya.
"kau harus ikuti pelatihan setan kami Raka..! ". senyum miring Dylan.
"lagian ini untuk memperkuat lagi kekuatanmu yang sebelumnya masih sedang-sedang saja". sambung Pasha.
"menjadi seorang suami juga harus sigap melindungi istri, cinta di ikuti kapan kamu punya waktu untuk melatih diri? kita tidak tau apa yang terjadi kedepannya..! setiap anggota keluarga kami terutama perempuan harus mendapatkan suami yang kuat, seperti tuan Galaxy. dia sangat mencintai nona Kaisha hingga menjadi lebih kuat karna pelatihan kakak dan Daddynya..!". Ramzi.
walau Kaisha telah menikah dan punya keturunan, Ramzi sudah terbiasa memanggil Kaisha dengan sebutan Nona, berapa kali pun Kaisha mengomeli Ramzi tetap saja Ramzi tidak mau merubah panggilannya, padahal mereka berkeluarga saat ini.
suatu kebiasaan sulit untuk di ubah, apalagi Ramzi bekerja sangat lama dengan Pasha.
Raka mematung mendengarnya, ia tak menyangka gosip mengenai Galaxy di dunia Mafia itu benar-benar nyata. Raka akan mengalami pelatihan itu karna sudah bergabung dengan Keluarga Melviano juga menjadi seorang Suami yang harus kuat melindungi sang istri.
"kamu takut? ". tantang Dylan
"bukan takut Pi..! tapi Raka belum mau pisah dari Raya.. Raka sangat mencintainya Pi". jawab Raka dengan nada sesedih mungkin.
Pasha menghela nafas melihat ke arah Ramzi yang berdecak kagum akan pesona Raya. semua Keluarga Melviano sempat menggoda Raya tidak akan dapat jodoh, nyatanya? Raya benar-benar mendapatkan pria tampan yang sangat mencintainya walau sifat Raya dingin seperti kulkas 5 pintu.
"tahan saja siksaannya". kata Pasha dengan mudahnya.
"Grandfa kan sangat mencintai Grandma kan? tidak mau pisah walau sedetik saja. begitu juga Raka". bela Raka
"ya benar..! bahkan tuanku berpisah hampir 8 tahun dari istri dan anaknya". sambung Ramzi membenarkan.
"kapan kamu akan siap? apa menurutmu dirimu akan terbebas dari pelatihan kami Raka? tidak..! cepat atau lambat kamu juga akan mengalaminya, terus saja di ulur-ulur karna kami tidak akan berubah pikiran untuk melatihmu". kata Dylan dengan santainya.
"beri Raka waktu untuk berpikir Papi, Grandfa, Opa". pinta Raka dengan nada lirih.
"hmm". jawab ketiganya kompak.
Raka berbalik dan berjalan lesu keluar dari Vila mencari angin segar untuk menenangkan pikirannya, benar apa yang keluarga Raya katakan hidup Raka berbahaya, banyak ladang musuh dimana-mana. pelatihan itu sangat membantu dirinya tapi Raka mencintai Raya, hubungan mereka masih hangat-hangatnya dan belum mau berpisah.
.
.
di kamar Raya dan Raka.
"ada apa Raka? kenapa sejak tadi kamu murung terus hmmm? ". tanya Raya duduk di samping Raka.
Raka menoleh dan langsung memeluk Raya, Raya tersenyum. "dasar bayi besarku..! ". gemas Raya mengelus kepala Raka.
__ADS_1
"aku harus pergi berhari-hari sayang". adu Raka dengan lemas tak bersemangat.
"pergi kemana Raka? ". tanya Raya kebingungan.
"aku harus menjalani ujian dari Papi dan Grandfa supaya pantas bersamamu". jelas Raka lagi.
Raya menghela nafas panjang, "pelatihan setan seperti yang dialami paman Gala? ".
Raka mengangguk, "apa aku kuat berpisah 2 minggu darimu sayang? ".
"apa kamu mau aku katakan pada mereka? aku sudah kuat dan tidak terlalu memikirkan pasangan yang kuat juga". tanya Raya
"tidak..! kamu memang kuat sayang, justru aku yang belum pantas denganmu apalagi Papi bilang kamu menguasai separuh ilmu kebal racun! sementara aku tidak". jawab Raka dengan nada bicara makin lemas diakhir.
"memang kenapa? apa papi membandingkan kita? ". tanya Raya dengan nada tak suka.
"bukan..! aku yang langsung lemas mendengar ilmu yang kamu kuasai sayang, aku juga ingin kuat bahkan lebih kuat tapi tidak sanggup meninggalkanmu ! aku takut kamu akan berpindah kelain hati".
Raya menjatuhkan rahangnya, "apa menurutmu aku tipe perempuan yang mudah jatuh cinta? ".
"b.. bukan itu sayang maksudku, aku takut ada pria baik yang mendekatimu, 2 minggu bukan waktu yang sebentar". jawab Raka cepat sambil menggeleng-geleng kepalanya di bahu Raya.
Raya lagi-lagi menghela nafas panjang, "kamu pria pertama dan terakhir bagiku, apa itu membuatmu tenang? ".
Raka melepaskan pelukannya dan menatap lekat gadis bermata biru yang telah menjadi istrinya, "benar?? ".
"tentu saja..! tidak ada pria lebih baik darimu. aku jamin itu, pergilah dan jadilah pria keren untukku, bukankah kamu ingin menjadi pahlawanku? ". senyum manis Raya.
"lalu kamu sayang? apa kamu tidak merindukanku? ". tanya Raka
"aku merindukanmu tapi pelatihanmu lebih penting bagimu, supaya kamu tidak merasa terbebani bersamaku, aku suka kamu dan hanya kamu yang aku inginkan, sebaik apapun pria diluar sana tapi aku bisa pastikan hati mereka tidak sepertimu..! aku memang bodoh mengenai cinta tapi aku tidak bodoh memilih pria". jelas Raya dengan senyum manisnya membuat hati Raka meledak-ledak seperti kembang api saja.
.
.
.
meleyot deh hati bang Raka.. wkwkwk..
.
.
__ADS_1