
.
.
Raya menatap tajam Raka yang sudah menurunkannya di sofa.
Raya bangkit dan hendak lari lagi tapi lengan kekar Raka berhasil merangkul pinggang Raya yang sangat kecil hingga Raka bisa merangkulnya dengan mudah.
"Raka lepas...! ". bentak Raya
jujur Raya takut saat ini tapi ia mencoba untuk berani, bagaimana pun Raka tetap Bos Mafia yang bisa membunuh tanpa berkedip bahkan baru-baru ini Raya tau kalau orang yang membantai Mafia penjual organ dalam malam itu adalah Raka.
saat tau Raya syok, ia tidak juga mengerti pengorbananan Raka yang rela masuk ke kandang musuh hanya karna membantai satu komplotan mereka,
saat itu Raya meminta Nola mencari tau tentang pelaku pembantaian itu, tentu dengan segala kemampuan IT Nola berhasil menemukan pelaku yaitu Raka tapi alasannya Raka membantai mereka Nola tidak temukan.
sampai sekarang masih teka-teki, Raya penasaran mengapa Raka membantai komplotan itu sebab Raya berpikir tidak mungkin karnanya, saat itu kan Raya dan Raka belum sedekat saat ini hingga Raka rela berkorban sebesar itu.
jadi tidak mungkin karna Raya begitulah pikiran Raya.
"aku minta maaf membuatmu kelaparan! aku sudah bawakan sarapan tadi, aku sengaja meminta nasi goreng jadi cukup lama karna antrinya panjang sekali ! saat aku kembali kau sudah tidak ada". jelas Raka serius.
"sudah terlambat! aku lapar dan hanya buaya itu yang bisa mengenyangkanku". Raya mengalihkan pandangannya dengan kesal.
"Nona.. tuan muda juga belum sarapan! ". akhirnya Dita berani mengeluarkan suaranya setelah diam sedari tadi.
Dita mendengar celotehan gadis-gadis kota Y tadi yang bilang Raka tidak nyaman makan di warung, yang artinya Raka belum sarapan.
Raya beralih ke Raka, "tidak mungkin dia belum makan..! dia menikmati keadaannya tadi".
Raka diam saja sambil memejamkan matanya lalu menggendong Raya yang sontak memekik, kali ini tidak di bahu Raka melainkan di gendong mesra layaknya seorang kekasih pada pujaan hatinya.
"mau apa? ". tanya Raya dengan galak.
"aku suapkan ya? kau boleh menghukumku apapun itu! aku akan terima hukuman darimu tapi jangan hukum dirimu sendiri dengan tidak mau makan." Raka berbicara dengan nada lemah lembut mungkin mengalahkan selembut sutra hingga Raya mengernyit.
Raya merinding lagi mendengar kata-kata Raka, ia tidak mengerti mengapa Raka bisa membuat bulu kuduknya berdiri dan merinding sementara saat Raya di dekati makhluk astral pun tidak pernah merinding, itu sebabnya Kama dan Kalila begitu lengket pada Raya.
hati Dita sampai meleleh mendengar ucapan lembut Raka,
"Nona..! jika anda tidak peka juga artinya anda sangat lugu Nona..! bagaimana bisa anda tidak pernah berpikir tuan muda mencintai anda tapi anda malah berpikir tuan master gila tubuh laki-laki". batin Dita berdecak pelan sambil membawa jatah sarapannya dan memilih duduk di pojokan rumah dimana daya ponselnya sudah penuh.
Raya melihat gerak-gerik Raka tengah membuka bungkus sarapannya dan dengan sabar menyuapi Raya.
__ADS_1
Raya diam menatap Raka yang tersenyum memberi kode seolah makanlah hingga Raya perlahan membuka mulutnya.
Raya seperti anak kecil disuapin Ayahnya sementara Raka senangnya minta ampun melihat Raya makan padahal dirinya lapar saat ini.
.
.
malam hari
Raya menatap atap kamarnya sambil terus saja berpikir mengenai Raka.
"aku yakin dia sangat marah saat di danau tapi kenapa dia malah berkata lembut saat tiba di rumah? ". gumam Raya penasaran.
"sebenarnya dia normal apa tidak sih? aku yakin penyelidikan Nola tidak pernah salah tapi kenapa dia tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain sebelumnya? aku sangat merinding dibuatnya".
lagi-lagi Raya merinding jika membahas Raka, dirinya selalu saja seperti ini sejak Raka mengatakan ingin menjadi kekasih sungguhan Raya.
malam ini Raya selalu gelisah hingga tidak bisa tidur, Raya membuka matanya seketika mendengar seseorang sedang berusaha membuka jendela rumah nya saat ini.
"ck..! siapa sih? ". geram Raya melihat jam dinding
Raya melangkah keluar dari kamarnya, ia tidak memakai penutup kepala yang biasa bertengger menutupi seluruh rambut indahnya itu karna menurutnya tidak mungkin ada pria lain dan berpikir Raka masih tidur.
"oi...! cepatlah..! kalau mau merampok ya merampok saja jangan berdebatlah bodoh..!" Raya berbicara dengan nada dingin.
Bruggh..
para perampok pun berjatuhan mendengar suara Raya bak petir di pagi hari saja ditelinga mereka tanpa ada hujan setitikpun.
"aakh...! "
"kabuur...! "
"lariii! ".
Raya bisa mendengar suara para perampok amatiran itu melarikan diri terbirit-birit, jam 3 pagi mereka hendak merampok rumah itu karna mereka tau Raya dan Raka orang kaya raya berasal dari kota besar.
"ck...! tidak asik..! padahal aku ingin menjadikan mereka samsak tinju ku". gerutu Raya dengan kesal melewati ruang tamu hendak masuk kamarnya tanpa menyadari ada Raka disana sambil memainkan Ipednya menatap tak berkedip ke Raya yang tak memakai pashmina seperti biasa.
"ehh..? " Raya tidak jadi membuka pintu kamarnya seolah baru menyadari sesuatu.
Raya memutar kepalanya secara perlahan ke arah ruang tamu dan matanya terbelalak lebar melihat Raka yang ada di sofa menatapnya.
__ADS_1
Raya menyadari kepalanya tidak memakai apapun. "aaakh...! "
Raka pun kaget mendengar Raya malah memekik seolah dirinya sedang melakukan dosa yang sangat besar seperti melihat Raya bertelanj*ng saja padahal Raya memakai baju hanya tidak memakai kerudung saja.
Raya segera masuk ke kamarnya dengan detak jantung yang tak beraturan dibalik pintu.
krik.. krik..
Raka menelan ludahnya lalu menggeleng kepalanya seketika, Raka akhir-akhir ini memang tidak bisa tidur sejak dekat dengan Raya tapi ia benar-benar tidak mengerti mengapa Raya berjalan ke belakang (Raka mengira Raya tidur), padahal Raka mendengar suara ribut para perampok itu tapi melihat Raya keluar tanpa memakai kerudung membuatnya mengurungkan niatnya lalu pura-pura duduk di sofa dengan kegiatannya.
jantung Raka berdetak 3 kali lebih cepat melihat penampilan Raya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"mampus aku..! kenapa dia masih berjaga? mana aku tau dia disofa?". Raya mengoceh sambil mengusap wajahnya dengan kesal.
"eeh..? kenapa aku malah malu? dia sama sekali tidak tertarik pada perempuan kan? iya..! Raya sadarlah..! dia tidak melihatmu sebagai perempuan ! temui dia dan bertingkah seperti biasa".
Raya terus mengoceh sendiri hingga beberapa menit kemudian Raya membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Raka didepan pintu kamarnya dengan tangan terkepal seolah hendak mengetuk pintu kamarnya kini.
Raka bisa melihat penampilan Raya yang 7 kali lipat lebih cantik dari penampilan biasanya.
"Tuhan..! aku baru pertama kalinya mengagumi ciptaanmu..! pantas saja Raya menutupi seluruh tubuhnya, dia benar-benar sangat cantik". batin Raka berkedip-kedip lucu.
"maaf..! aku.. han...? ". Raka terbata dengan kikuk tidak tau mau menjelaskan bagaimana situasinya tadi.
"tidak apa..! seharusnya aku yang minta maaf..! aku tidak mengira kau ada disana, aku mendengar suara keributan jadi keluar..! ak.. aku..! ". Raya seperti anak kecil yang memainkan jemarinya dengan gerogi.
Raya tidak pernah semalu ini, entah apa yang salah dengan dirinya. ia sudah terbiasa menutupi tubuh dan rambutnya bukan karna ia sholeha tapi karna memang sudah kebiasaannya jadi saat ada orang asing yang melihatnya tanpa memakai pashima membuat dirinya tidak percaya diri.
(seperti Nae yang malu kalau tidak pakai jilbab bukan berarti sholeha... hehe..)
Raka tersenyum lembut, "aku akan melupakan apa yang aku lihat malam ini! tidurlah dengan tenang! nanti kau harus pergi ke lapangan untuk meresmikan pekerjaanmu". Raka mengelus kepala Raya
"halus sekali rambutnya! ". batin Raka begitu senang membelai rambut Raya
Raya mengangkat pandangannya, manik matanya menatap mata Raka yang lembut itu lalu bibir Raya mengucapkan terimakasih dan masuk ke kamarnya tanpa berbalik melihat Raka lagi.
.
.
.
.
__ADS_1