
.
.
Nia dan Ricis keluar Mansion.
"Kamu ngapain bawa aku kesini Cis? ". tanya Nia dengan kesal
"coba lihat aja dulu baru komentar". kekeh Ricis
"apa maksudmu? aku mau melihat kakakku bukan datang ke Rumah Sakit Jiwa ini". gerutu Nia
"percaya saja sama aku ok? ". bujuk Ricis
Nia mengerutkan keningnya, "apa yang harus di percaya? ".
"ikut aku..! " ajak Ricis
Nia terpaksa ikut keluar mobil dan berlari kecil mengikuti Ricis, Nia bisa melihat orang-orang sakit Jiwa dari cara bermain boneka, jalan-jalan terus tanpa melihat sekeliling, ada yang berlari-lari, ada yang termenung seolah tidak ada semangat hidupnya sama sekali, dan masih banyak lagi.
"Ricis..! tunggu aku! ". bisik Nia
Ricis berhenti lalu menunggu Nia, bagaimana pun Nia adalah Nona nya yang tidak pernah memandang rendah dirinya, Nia malah menganggapnya teman.
Nia merangkul lengan Ricis, "apa keluargamu ada disini? ". tanya Nia
Ricis menggeleng kepalanya,
"lalu siapa bagimu? ". tanya Nia
"bukan siapa-siapa". jawab Ricis membuat Nia makin tidak mengerti.
"Ricis..! ". panggil Nia sekali lagi
"iya Nona Nia". jawab Ricis
"iiissshh.. siapa sih? kemana kita akan pergi? kamu mau menemui siapa di RSJ ini? ". tanya Nia sekali lagi dengan nada sesabar mungkin pada Ricis.
"bukankah kamu yang mau menemuinya? ". tanya Ricis balik
Nia terhenyak seketika, "m.. maksudmu apa Cis? aku mau menemui kakakku kenapa ke RSJ? apa menurutmu ini lucu? bilang saja tidak mengizinkanku bertemu dengannya, kenapa harus repot-repot bawa aku kesini?".
"ikut saja jangan cerewet! ". Ricis menarik lengan Nia
Nia tetap saja bertanya-tanya karna ia hanya berusaha menutupi dirinya sendiri yang mulai berpikir hal yang tidak-tidak.
"nggak mungkin kakak ada disini, iya. itu tidak mungkin". batin Nia menggeleng-geleng kepalanya.
"dimana Pasiennya sus? ". tanya Ricis
__ADS_1
"ada di Ruangan khusus di ujung jalan Nona". jawab salah satu suster yang berlari ke arah Ricis dan Nia
suster itu mengenal Nia yang dikenal istrinya Arya, dan pasien baru nya itu adalah kakak kandung Nia.
Nia mengerutkan keningnya, rasa penasaranpun mulai menggerogotinya.
Ricis membawa Nia ke Ruangan Ujung.
"jangan dipancing ya Nona? dia bisa saja mencakar-cakar kalau sampai dia lari kami takut tidak sanggup menangkapnya". peringatan suster
Nia memandang Ricis,
"ayo !! katanya mau lihat dia, tidak boleh masuk hanya boleh di jendela kecilnya saja". Ricis
Nia dengan cepat berlari memasuki Ruangan itu dan ada Ruangan lagi di dalamnya, pintu nya di kunci dan di rantai hanya ada jendela yang ada jeruji besi nya di lihat Nia.
Nia mengintip dari Jendela kecil itu dan jantungnya berdebar kencang seketika melihat sosok yang ia rindukan dengan penampilan acak-acakannya.
"kakak? ". gumam Nia mengucek-ngucek matanya demi memastikan dirinya tidak salah lihat.
"Ricis? apa itu memang kakakku? ". tanya Nia ke Ricis
"menurutmu itu siapa? ". tanya Ricis balik, ingin sekali Nia memukul kepala Ricis yang malah bertanya balik padahal Nia sedang memastikan bahwa dirinya salah lihat saja.
"tidak mungkin Kakakku ada disini, bukankah katamu Kak Tia ada di penjara? kenapa bisa ada disini? tidak mungkin itu Kak Tia, nggak mungkin". Nia menggeleng-geleng kepalanya.
"Aaaaahhhhh". Jerit Tia seketika
Nia terlonjak kaget
"aku akan membunuhmu Nia, kemana kau? dimana kau? Haha.. Aku bunuh kau". Nia berdiri dari posisi membungkuknya saat melihat langsung Tia berlari-lari mencarinya.
"k.. kenapa kakakku jadi seperti itu? ". tanya Nia tergagap
"menurutmu apa Nia? dia ada disini artinya dia sedang sakit jiwa kan? ". Ricis
"tapi sebelumnya kakakku baik-baik saja". Nia
"kakakmu itu iri padamu sampai gila, kedua orangtua kalian meninggal dunia, dia tidak punya siapa-siapa selain dirimu jadi dia begitu membencimu sampai ke ubun-ubun karna jauh lebih bahagia darinya". Ricis
"tapi Kak Tia juga bahagia kan bersama Tuan Brayen? aku yakin dia bersama Tuan Brayen akan jauh lebih baik". Nia
Nia memekik kaget seketika saat Ricis menariknya cukup menjauh dari jendela, Nia terbelalak melihat penampilan Tia yang jauh dari kata baik.
"kak? apa semalam kakak minta menemuiku karna ini? ". tanya Nia berusaha melepaskan diri dari Ricis.
Tia berteriak dan marah-marah memaki Nia dengan mata melotot, sakit jiwanya makin saja menjadi-jadi hingga beberapa suster berlari memasuki Ruangan itu.
"mohon jangan dipancing Nona, jangan memancing kemarahannya!". pinta salah satu suster dengan serius.
__ADS_1
Nia membekap mulutnya sendiri, ia tidak tau mau berkata apa lagi, seketika kakinya melemas dan Ricis menahan tubuh Nia supaya tidak terjatuh.
"Ayo Nia! ". ajak Ricis membawa Nia untuk duduk tepat didepan Ruangan itu
"aku mau melihatnya! ". Nia hendak bangkit tapi di tahan oleh Ricis.
"dia sedang mengamuk Nia, dia bisa saja membunuhmu dan setelah itu aku akan mati ditangan Tuan Muda". jawab Ricis
Nia mulai memucat seketika, "k.. kenapa kakakku bisa disini? kemarin masih baik-baik saja bahkan minta aku untuk menemuinya".
"Tuan Muda memerintahkan orang lain menemui kakakmu tapi malah seperti ini, jika saja Tuan Muda membiarkanmu pergi kemarin mungkin kamu akan terluka". Jelas Ricis
"lalu? apa yang terjadi? ". tanya Nia
Ricis menceritakan apa yang Arya katakan, tentu Nia menangis.
"bahkan saat jiwanya terganggu pun dia masih ingin membunuhmu Nia, Tuan Muda sudah berbaik hati memasukkannya kesini jika tidak? mungkin diluar sana dia lebih tersiksa, di kucilkan, dilempar, dan parahnya dia bisa membahayakan orang lain, membunuh orang kalau lagi kumat seperti tadi". jelas Ricis begitu meyakinkan.
"aku tidak tau kenapa Kak Tia begitu membenciku padahal aku tidak pernah sekalipun membalas semua perbuatannya, jika Kak Tia mengingatku karna benci tidak masalah tapi kenapa dia harus seperti ini? kenapa Kak Tia bisa terkena gangguan jiwa? ".
"sudah.. sudah.. jangan dibahas lagi, dia baru saja tenang! kamu ingat Nia jangan beritau Tuan kalau kamu masih ingin aku hidup". peringatan Ricis
Nia menoleh ke Ricis dan mengangguk pelan, "terimakasih! ".
"atas? ". tanya Ricis
"kamu sudah membuatku menemui kakakku, walaupun keadaannya seperti ini aku cukup senang karna Kak Tia masih hidup". lirih Nia
"jangan menyalahkan dirimu sendiri, Tuan Muda melarangmu untuk menemui Tia karna tau Tia begitu membencimu bahkan bisa saja dia membunuhmu". Ricis
Nia menghapus air matanya saat kedua suster yang masuk tadi sudah keluar dari Ruangan Kakaknya, Nia mendatangi suster-suster itu dan menanyakan keadaan Kakaknya.
.
"kenapa Nia? ". tanya Ricis di dalam mobil
"kata mereka kemungkinan Kak Tia sembuh itu hanya 10%, apa separah itu sakitnya kak Tia? ". tanya Nia dengan lemas.
"iya.. oleh karna itu biarkan Tuan Arya mengurungnya disana, kamu hanya perlu membelikannya mainan atau apapun untuk menghiburnya tapi minta aku atau orang lain mengantarnya kesana, kamu tau bagaimana kemarahannya saat mendengar kamu datang? ". Ricis
Nia mengangguk-ngangguk pelan lalu menundukkan kepalanya,
jujur Ricis tidak tega dengan keadan Nia tapi ia cukup puas melihat Tia berada di dalam Rumah Sakit Jiwa.
.
.
.
__ADS_1