
.
.
acara berjalan dengan lancar, semua keluarga dan kerabat Melviano telah berkumpul bersama-sama dengan keluarga Raya.
Raka terlihat memperhatikan betapa besarnya keluarga Raya, Raya tak sengaja melihat tatapan tenang Raka namun terlihat sedih dinilai Raya.
"abang? ". panggil Raya mengusap lengan Raka
Raka beralih ke Raya, "apa keluargamu memang sebanyak itu sayang? ". tanya Raka penasaran.
Raya tersenyum, "bukan keluargaku saja tapi keluarga kita berdua". ralat Raya.
Raka memeluk Raya dengan mesra, "aku tidak pernah menyangka bisa bersatu denganmu dan memiliki keluarga besar".
"Keluarga itu tidak harus memiliki ikatan darah abang, diantara mereka semua ada yang tidak berhubungan darah dengan keluargaku tapi abdi setia keluargaku dan saudara tiri mereka semua". jelas Raya serius.
"percayalah mereka akan menerimamu dengan baik". sambung Raya lagi.
"terimakasih". ucap Raka dengan lirih
Raya mengangguk hingga semua tamu undangan mulai bersiul dan bersorak gembira dengan kemesraan Raka dan Raya
sesuai dengan perintah keluarga Raya, tidak ada yang bisa memotret apapun di acara pesta kecuali keluarga Raya yang bisa di percaya tidak akan memposting apapun ke publik.
Raya tersenyum manis ke Raka hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas, dan Raka menusuk gemas pipi Raya.
"kamu selalu menawan sayang, baik dari luar maupun dalam". Kata Raka
Raya menggeleng kepalanya dengan pelan, "apa abang barusan merayuku? ".
Raka menggesek hidungnya dengan hidung Raya lalu segera bersimpuh di depan Raya, Raya melebarkan matanya melihat kekiri, kanan, depan banyak orang melihat nya karna perlakuan Raka.
diluar dugaan Raka malah meletakkan telinganya di perut Raya sambil menyeringai lebar seperti menunggu sesuatu.
hening..!
"berapa anak kita sayang? ". tanya Raka
"mana aku tau bang.. palingan 1 atau 2 paling banyak". jawab Raya menahan malu.
"masa sih? kenapa enggak 5? kamu ingatkan janji kita? aku mau anak kita 5 dan itu perempuan semua". Raka berkata tanpa beban
"abang.. aku tidak bisa menjamin bisa memberi 5 anak untukmu karna aku bukan kucing". gerutu Raya dengan kesal tak sadar pembicaraannya di dengar orang.
"ya udah kasih 2 aja ya? perempuan keduanya". Raka mengalah
"abang jenis kelamin anak kita tidak bisa di tentukan, lagian kenapa sih kalau punya anak laki-laki? beri aku alasan yang jelas abang tapi jawabannya tidak boleh cemburu". kesal Raya
Raya mengomel-ngomel hingga Raka makin gemas, ia tak mengerti hormon wanita hamil, tapi satu yang Raka tau adalah Raya istrinya yang sangat sempurna walau ada sisi berbeda setiap harinya.
__ADS_1
menurut Raka itu semua adalah bonus baginya jadi tidak pernah menganggapnya suatu kekurangan, kapan lagi Raka bisa melihat seorang Raya mengomel tak jelas.
Raya berdebat dengan Raka masalah anak perempuan dan laki-laki.
"sudah.. sudah.. kalian tidak lihat ada dimana sekarang? ". Kanaya menengahi dibalas anggukan oleh Dr. Kiran yang ada disamping Kanaya.
Raya memutar kepalanya dan melihat banyak orang yang menatapnya gemas dan lucu, akhirnya tawa semua keluarga Raya pecah seketika.
suasana jadi makin heboh dengan gelak tawa masing-masing, ada yang iri, lucu, gemas, dan banyak hal lainnya yang pastinya Raya tidak bertindak memalukan hanya saja bertindak menggemaskan seperti anak kecil saja, sungguh mereka tidak pernah melihat sisi Raya yang seperti itu.
Raya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, malu sekali diri Raya hingga tidak bisa berkata-kata lagi.
"sayang? ". goda Raka menoel-noel tangan Raya
"udah abang, abang yang buat malu aku tau ngga sih? masa iya kita debat cuma karna anak perempuan dan laki-laki, abang ngajak ribut nih..! aku pengen anak laki-laki". desis Raya
"aku ingin anak perempuan nya 5 kalau lebih tidak masalah, aku dengan senang hati menanam benih di rahimmu setiap hari sayang".
Raya memukul dada bidang Raka, "abang jangan gitu dong..! aku mau anak kita 4 aja ngga usah banyak-banyak ya? ".
Raka tampak berpikir, tak berapa lama tamu datang untuk bersalam-salaman memberi ucapan selamat bagi sang pengantin.
.
.
dansa dimulai..
Satria dan Alice berdansa berdua, sebelum pengantin berdansa, semua para tamu undangan diizinkan untuk berdansa terlebih dahulu.
Alice terlihat lihai mengikuti gerakan Satria, bagaimanapun Alice sangat menyukai kisah Cinderella hingga dirinya belajar berdansa alasannya supaya saat bertemu dengan Pangerannya ia tidak terlalu malu karna tidak bisa berdansa.
Alya dan Kalila merekam aksi berdansa mereka, seperti perintah keluarga Melviano hanya kerabat dekat Raka dan Raya saja yang boleh merekam atau memotret siapapun sedangkan yang lain tidak.
"kakak..? kakak benar-benar Pangeranku". senyum lebar Alice sambil mengikuti gerakan Satria.
Satria sungguh takjub pada Alice, sebab gerakan Satria lumayan sulit tapi Alice bisa menyeimbangkan kecepatan seluruh gerakannya.
"kamu belajar dari mana Alice? ". tanya Satria mengangkat tubuh Alice hingga ke atas.
Alice merentangkan tangannya tanpa takut dirinya akan terjatuh, ia yakin kini Satria tidak akan menjatuhkannya.
Satria menurunkan tubuh Alice dengan merosot di tubuhnya.
"aku belajar sendiri kak". jawab Alice memegang kedua bahu Satria dan melakukan gerakan berputar namun masih saling berhadapan dan bersitatap satu sama lain.
Raya bertepuk tangan melihat pasangan dansa yang terlihat sangat serasi itu.
.
"kamu berdansa dengan siapa Alya? ". tanya Gerry tiba-tiba muncul di belakang Alya
__ADS_1
Alya terkejut sesaat, "tenang saja aku punya seseorang yang bisa mengajakku berdansa! kau ajak saja 1 diantara teman-teman kampusku". jawab Alya dengan santai sambil serius melihat rekaman dansa Satria dan Alice.
"dengan siapa? ". tanya Gerry
"bukan urusan anda tuan !". jawab Alya penuh penekanan lalu melenggang pergi sambil memotret Satria dan Alice yang kian romantis saja.
Gerry mengepalkan tangannya, tiba-tiba bahunya di rangkul oleh temannya.
"sudah aku bilang..! Nona Alya bukan tandinganmu, kau terlalu rendah jika berani berharap rembulan sepertinya".
"diam kau sialan..! ". marah Gerry menepis tangan temannya itu.
"dia memang sangat arogan dan sombong, aku semakin bertekat untuk membuatnya tergila-gila padaku". ucap Gerry penuh percaya diri.
"ck..! sudah berapa bulan kau merayu Nona Alya dan kau tidak berhasil kan? sudahlah.. akui saja kekalahanmu, berikan uang taruhan kita".
"menyingkir kau..! " Gerry melenggang pergi meninggalkan temannya yang menggeleng kepala akan keras kepala Gerry.
"udah jelas kalah masih tidak mau mengakui, bilang aja uang itu sudah habis kau makan". ucapnya dengan nada tak bersemangat.
.
.
"apa abang bisa mengajakku berdansa seperti itu? ". tanya Raya berbinar.
"tentu saja..! itu dansa terkenal di acara pesta kalangan orang berada, dan aku mudah ingat hanya sekali melihat gerakan saja". Raka
"benarkah? ". tanya Raya berbinar
"nanti akan aku ajak dansa seperti itu tapi bagian yang diangkat tinggi tidak akan aku lakukan". Raka
"kenapa? ". tanya Raya
"karna aku tidak mau anakku kaget diangkat ketinggian". jawab Raka tidak nyambung.
Raya menarik nafas dalam-dalam dan tatapannya beralih tajam seperti sebilah pedang ke arah Raka yang tersenyum lebar tanpa beban mengelus perut Raya.
.
.
.
selamat beraktifitas..!!
.
.
.
__ADS_1