
waktu terus berlalu hingga tanpa terasa hari ini adalah hari yang Raka tunggu, dimana Raya akan pergi ke Kota Y untuk peresmian mall dan tempat liburan yang akan di kerjakan para kuli bangunan.
di dalam mobil.
Raka dan Raya naik mobil lain di belakang mobil Dita dan Supir yang membawa seluruh barang-barang Raya, Dita dan sang supir. mereka akan tinggal selama 2 minggu disana.
"Kenapa Raya?". tanya Raka seolah tau Raya sedang berpikir saat ini.
"tidak ada..!". elak Raya dengan tenang.
"kau tidak akan memberitau temanmu ini? ". tanya Raka membuat Raya menoleh padanya.
Raya sendiri heran mengapa Raka bisa tau Raya sedang banyak pikiran padahal Raya hanya menunjukkan ekspresi datar dan dingin seperti biasa, entah mengapa Raka bisa tau.
"bagaimana kau bisa tau? ". tanya Raya penasaran.
"bukannya menjawab pertanyaanku kau malah bertanya balik". kekeh Raka merasa lucu
"cepat beritau". titah Raya
"matamu lurus ke depan dan melamun beberapa detik itu sebabnya aku tau". jawab Raka dengan enteng.
"benarkah? apa aku melamun tadi? ". Raya menangkup kedua pipinya sendiri.
Raka mengangguk pelan sambil fokus dengan jalanan.
"masa sih? kau hanya menggodaku kan? ". tanya Raya memicing.
"jangan berputar-putar Raya..! katakan saja apa yang sedang kau fikirkan..! mudahkan? ". pinta Raka dengan serius.
"ck..! kapan aku membawa mu mutar-mutar". decak Raya memang tidak bisa mengalihkan pikiran Raka.
sebenarnya memang Raya yang tidak berbakat mengalihkan perhatian seseorang dengan berbicara akrab, sungguh Raya masih kaku dalam hal itu bahkan sama keluarganya sendiri.
"ada apa? ". tanya Raka dengan lembut.
"beberapa hari yang lalu, anak buah wanita itu datang hendak menyiram air panas di kepalaku ketika melewati gedung sekolah, aku sedang berpikir apa tujuan wanita itu sebenarnya". Raya akhirnya mengatakan hal yang mengganjal di pikirannya.
Raka meremas setirnya dan menatap dingin ke arah depan.
"apa dia ingin membuat kepalaku botak? atau wajahku? mereka mencoba melukaiku tubuhku bukan membunuhku, aku sendiri tidak mengerti". curhat Raya lagi.
"kamu tenang aja Raya..! aku akan dapatkan si Kadal licik dan Ular betina itu". ujar Raka serius.
__ADS_1
"Kadal licik dan ular betina? ". beo Raya
"iya..! itu julukanku untuk mereka berdua". jawab Raka
"siapa kadal siapa Ular? ". tanya Raya
"Sherina dan Maisy". jawab Raka melirik Raya sekilas.
"kau tau mereka Rivalku? ". tanya Raya
"hmm.. juga Rivalku". balas Raka dengan dingin.
"tapi sepertinya mereka menginginkanmu.". ejek Raya
"kau jangan mengejekku Raya..! jangan sampai aku juga mencekikmu". balas Raka membuat Raya tertawa lebar.
"tapi ngomong-ngomong kenapa kita akur saja akhir-akhir ini?". tanya Raya merasa heran
"hmm? masa sih? ". tanya Raka balik.
"iya..! aku merasa kita jarang bertengkar, apa mood mu sedang baik belakangan ini? ". tanya Raya
"apa begitu? ". tanya Raka balik.
"ck...! aku bertanya kau malah bertanya balik". decak Raya
mereka selalu saja berdebat mulut, Raka memang suka menggoda Raya dan jarang akur jadi saat akur Raya merasa heran. tentu ia bertanya tentang hal itu.
kini Raya telah tiba di kota Y, kota yang masih mengenal namanya teknologi namun Listrik baru-baru masuk di Kota itu padahal penghuninya banyak lewat Kartu Keluarga yang Raya lihat data penting pak Kepala Desa saat Raya membeli tanah luas berpuluh hektar di kota itu.
"selamat datang Nona muda...! ". sapa seluruh masyarakat desa berbondong-bondong mengkerumuni jalanan menyambut Raya.
Raya sendiri menganga tak percaya akan banyaknya orang menyambutnya seolah dirinya saat ini tuan putri dari negara jauh saja.
Raka tersenyum tipis lalu membuka atap mobilnya hingga masyarat di sekeliling mereka berteriak heboh saat Raya hadir bersama sang kekasih di kota ini.
Raya tersenyum kikuk pada setiap jalan yang mereka lalui banyak orangnya, sungguh bersikap ramah di depan fans sangat sulit untuk Raya.
"artis ibu kota hadir disini". bisik Raka membuat Raya menoleh padanya.
"aku bukan artis". elak Raya dibalas senyuman manis oleh Raka, bukannya jatuh cinta Raya malah melebarkan matanya.
Raka kalau tersenyum manis seperti itu punya niat jahat terselubung menggodanya,
__ADS_1
"Raka..! jangan macam-macam ya? aku tidak mau bertengkar di kota orang". ancam Raya dengan nada serius.
"baiklah tuan putri". Raka menundukkan kepalanya dengan hormat hingga Raya mendengus memutar kepalanya lagi ke banyak orang yang menyambutnya.
"apa Mall dan tempat liburan yang akan kami bangun nanti muat untuk menampung mereka? ". gumam Raya pelan tapi Raka bisa mendengarnya.
bibir Raka berkedut menahan tawa, "mereka bukan Masyarat kota ini seluruhnya Raya".
"ha? ". Raya berbalik menatap Raka lagi.
"bukankah Kota ini juga punya kota tetangga? mereka semua berasal dari kota tetangga juga". jelas Raka.
"bagaimana kau bisa tau mereka dari kota tetangga?". tanya Raya
"bukankah sudah jelas? cara berpakaian mereka sedikit berbeda". jawab Raka begitu enteng.
Raya mengerutkan keningnya, bahkan cara mereka berpakain sama saja menurut Raya bagaimana Raka bisa membedakannya begitulah pikir Raya.
Raya pun penasaran tentu mencari perbedaannya hingga matanya tertuju pada salah baju mereka yang kompak di segerombolan, (baju kaus).
"baru sadar? ". kekeh Raka menekan gemas kepala Raya yang mengangguk kecil.
butuh waktu lama bagi mereka tiba di perumahan sederhana di kota Y, banyak rumah tapi tidak gedung melainkan beton tak bertingkat namun panjang dan luas hingga bisa dikatakan Kota Y adalah tempat yang sangat luas tanahnya.
Raya disambut oleh masyarakat sekitar juga Pak Kepala Desa.
"selamat datang Nona! ". sapa semua orang dan terkejut melihat Raka.
walau kota Y tidak terlalu maju tapi mereka juga punya teknologi hingga tau berita apa saja yang bisa mengguncang para netizen yaitu Raka dan Raya sebagai Couple terpopuler dimasa ini.
"se.. selamat datang tuan". sapa pak Kepala Desa pada Raka yang di balas anggukan oleh Raka sambil melihat sekitar.
"bagaimana tempat tinggal kami pak? ". tanya Raya to the point
bunga-bunga (Gadis) di Kota Y menatap takjub ke Raka sungguh pria yang super Hot bisa menggetarkan hati mereka. bahkan bisa membuat kebakaran hati mereka jika menatap Raka lama-lama.
Pak Kepala Desa mengantarkan Raya dan rombongan ke Perumahan yang cukup besar, banyak kamar di dalam sana hingga cukup untuk menampung 10 orang. di tempat mereka tidak ada hotel atau Vila jadi hanya bisa menyewa Rumah.
"apa kalian akan tinggal 1 atap? ". tanya Pak Kepala Desa pada Raya melihat Raka.
"ada supir kami juga pak !". sahut Dita menunjuk supir Melviano tengah menunduk sopan menyapa Pak Kepala Desa.
"tenang saja Pak..! kami tidak tinggal berdua di rumah itu". jelas Raka yang tau adat istiadat kota Y yang masih memegang teguh norma kesusilaan.
__ADS_1