
.
.
"kamu tidak apa sayang? ". tanya Raka menangkup kedua pipi Raya.
Raya tersenyum dan menggeleng kepalanya, ia melihat kebelakang dimana semua preman telah melarikan diri.
"kenapa sayang? apa ada yang sakit? ". tanya Raka khawatir
Raya beralih ke suaminya, "abang..! mereka kabur". gerutu Raya
Raka berbalik ke arah para preman tadi bersama pria misterius yang ia hajar tadi sudah menghilang dari tempatnya.
"Sial..! aku bahkan belum tau pelakunya". gumam Raka mengepalkan tangannya.
"abang? ". panggil Raya merangkul lengan Raka.
Raka berbalik dan memegang kedua bahu istrinya, "maafkan aku sayang! aku mengajakmu kesini untuk bersenang-senang malah terkena masalah karna preman pasar". ucap Raka merasa bersalah.
Raya menggeleng kepalanya pelan, "abang..? abang tidak salah, lagian aku ini sangat hebat beladiri kenapa abang malah seperti tadi? mereka bahkan tidak bisa menyentuhku dengan kotor mereka".
Raka menghela nafas lalu menangkup pipi Raya, "tugasku melindungimu sayang..! mau kamu kuat atau tidak bukan urusanku".
Raya tergelak lalu mengangguk, Raka memeluk Raya dengan erat sambil mengelus punggung Raya.
"aku senang kamu bisa bertahan sayang..! terimakasih". ucap Raka dengan lembut.
Raya tersenyum memejamkan matanya, Raya tersadar saat para pengunjung pasar begitu heboh berbisik-bisik iri mengenai dirinya juga bertepuk tangan seperti melihat pasangan sedang berakting saja.
"abang..? ". Raya hendak melepaskan pelukannya tapi Raka tetap memeluknya dengan erat.
"pergilah..!". usir Raka dengan suara menggema
semua orang pun membubarkan diri tapi mata mereka masih ada yang menoleh ke arah pasangan manis itu,
"abang..? ". Raya benar-benar malu pun menelusupkan wajahnya dibahu Raka sampai wajahnya benar-benar merasa menghilang supaya tidak ada yang melihat wajahnya memerah malu saat ini.
"ayo kita pulang..! ". Raka menggendong Raya yang memekik seketika.
"abang..? aku baik-baik aja abang". protes Raya tapi tangannya melingkar di leher Raka.
"Nona..? tidak jadi beli ini? ". tanya si penjual toko akhirnya muncul setelah lama Raya kebingungan mencari penjaga toko.
"Jadi..! ". jawab Raya cepat sambil memukul-mukul pelan dada bidang suaminya seolah meminta pada Raka untuk segera menurunkan dirinya.
Raka dengan tak rela menurunkan istrinya, Raya kembali sibuk dengan dunia milih memilihnya mengabaikan Raka yang menatap Raya sedari tadi dengan pandangan memuja.
"Cantik dan menggemaskan bang..! aku beli semua ya? aku minta uang tunai? ". Raya mengulurkan tangannya ke Raka.
Raka memberikan seluruh dompetnya pada Raya sampai penjual toko menahan tawa seketika melihat betapa cintanya Raka pada istrinya itu.
__ADS_1
Raya sampai menggunakan kedua tangannya menerima semua dompet Raka yang semuanya berisi uang tunai.
"banyak sekali abang". gerutu Raya membuat Raka tersenyum.
"jangan senyum-senyum cepat pegang dompetnya ! aku cuma butuh satu yang paling banyak isi uangnya". omel Raya dengan mata melotot.
Raka mengambil 3 dompetnya dan meninggalkan 1 dompet panjang yang paling tebal pada Raya, Raya menyeringai lebar membuka isi dompet Raka yang banyak uang ratusannya.
"tapi ini terlalu banyak Nona? ". protes si pedagang merasa tidak enak mendapat bayaran sebanyak itu.
"tidak apa Pak..! aku ambil ini lagi ya? ". Raya dengan santainya mengambil barang apapun yang menarik di matanya.
"Nona.. bahkan jika anda ambil semua belanjaan saya tidak akan cukup.. dengan uang yang anda berikan ini masih banyak kembaliannya Nona". batin si pedagang kebingungan sendiri.
Raya mengambil semua barang-barangnya dan memasukkan ke dalam kantong plastik besar yang di double 2 olehnya, lalu Raka mengambil alih belanjaan Raya yang tersenyum manis padanya.
"N.. nona? ini kembaliannya masih banyak". teriak si pedagang hanya dianggap angin lalu oleh Raka maupun Raya.
"beli apa lagi sayang? ". tanya Raka
"pulang aja lagi! 2 jam keliling pasar buat tubuhku berkeringat ingin cepat mandi". keluh Raya
Raka tersenyum smirk, Raya memutar bola matanya dengan jengah melihat senyum suaminya itu.
"iya.. iya". sahutnya malas yang sudah tau arah pemikiran sang suami.
Raka seperti anak kecil saja menatap istrinya yang baru saja memberinya hadiah menakjubkan, Raya mengacak rambut Raka dengan gemas.
.
.
"ya udah..! tujuan kita kesini cuma menghadiri acara kan? semua sudah selesai jadi kita bisa pulang". sahut Raya mendongak ke Raka
"aku fikir kamu tidak akan mau sayang". senyum tampan Raka.
Raya terkekeh geli, "kenapa aku tidak mau? ".
Raka memeluk Raya kembali dengan gemas.
.
.
di bandara kota pusat
"kita pulang sayang". Raka merangkul pinggang Raya dengan mesra sambil membawa 2 koper miliknya dengan Raya di sisi lain.
Raya membiarkan saja apa yang di buat suaminya yang begitu senang merangkulnya begitu mesra, asalkan tidak berbuat lebih saja di depan umum.
"kita kembali ke Mansion Mahawira atau Melviano sayang? ". tanya Raka
__ADS_1
"abang? ". panggil Raya
"iya sayang? ". sahut Raka mendengarkan dengan serius.
"boleh aku nginap di mansion Melviano malam ini?". tanya Raya membuat Raka tersenyum.
"kenapa abang tersenyum? ". tanya Raya dengan kesal.
"aku suka kamu yang berpamitan padaku sayang..! aku sangat suka". senyum tampan Raka
"kalau begitu boleh apa enggak? ". tanya Raya dengan nada manja.
"boleh sayang..! tapi aku tidak bisa menemanimu banyak yang harus aku kerjakan di Ruangan kerjaku". jawab Raka
Raya tersenyum dan mengangguk, "istrimu ini mengerti abang".
Raka tertawa lebar langsung memeluk Raya dengan sebelah tangannya mencium sayang kening Raya. Raya tersenyum saja dengan perlakuan penuh cinta Raka.
.
"maaf Mami.. Papi.. Raka tidak bisa menginap disini". ucap Raka merasa bersalah
"tidak apa". jawab Dylan dan Shindy.
"Raka titip berlian kesayangan Raka ya Pi.. Mi". pinta Raka mengecup punggung tangan Raya yang malu
Dylan tersenyum tipis sedangkan Shindy tertawa lebar,
"sayang..! aku pergi ya?". Raka beralih ke Raya dibalas anggukan oleh Raya.
Raka mencium kening dan pipi Raya baru bersalaman dengan kedua mertua nya.
Raya menemani Raka ke depan pintu mansion dan melambai saat mobil taksi telah pergi dari pekarangan mansionnya.
"kenapa menginap disini sayang? ". tanya Shindy penasaran
"Raya mau bicara sama Alice mi". jawab Raya tersenyum.
Shindy mengusap pipi Raya, "apa kamu bahagia sayang? ".
Raya tersenyum lebar hingga lesung pipinya terlihat jelas dan Shindy juga ikut tersenyum melihatnya, ia sudah tau jawabannya melihat ekspresi Raya yang seperti itu.
"mami mengerti..! sana temui Alice". Shindy
Raya mengecup pipi Shindy lalu melarikan diri dari sana hingga Dylan yang kebetulan melihat nya tersenyum lebar mendekati Shindy yang tertawa cekikikan dengan perlakuan aneh bin ajaib anak sulungnya itu.
"anakmu itu udah tau cara bermanja pi". kekeh Shindy memeluk suaminya dengan manja.
Dylan tertawa mengusap kepapa Shindy dengan sayang.
.
__ADS_1
.
.