Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
menolong


__ADS_3

.


.


Raya kini berada di samping komplotan Mafia yang sedang berjaga di kamar itu.


"dimana nona kita? ".


"dalam perjalanan..! dia bilang kalau rencana kita berhasil gaji kita akan di tambah".


"bagaimana keadaan tuan itu? "


"dia benar-benar master..! julukannya pantas untuk nya, bagaimana bisa dia tidak pingsan setelah terkena gas beracun, kepala berdarah dan obat pelumpuh saraf itu".


Raya tersentak mendengarnya, "master? apa Raka? ". batin Raya menebak


"apa perlu kita bawa dokter kesini? ".


"bagaimana jika dokter itu tidak benar? nanti saja tunggu nona kita".


Raya melihat ke arah Dita yang tampak tenang saja di belakang Raya,


"kau tidak takut? ". bisik Raya


"saya tidak takut apapun Nona..! saya lebih takut jika anda terluka". bisik Dita


"ck.. kau pandai membual juga". bisik Raya


"bagaimana rupa Master R itu? " tanya penjaga 1


"sangat tampan..! pantas saja nona kita begitu menggilainya". oceh penjaga 2


"kapan aku punya wajah setampan itu". sungut penjaga 2


Raya menarik nafas dalam-dalam mendengar ocehan kedua penjaga di kamar hotel, "mereka berisik sekali" batin Raya mulai jengah.


"kau pancing mereka". bisik Raya


"tidak bisa nona, mereka saling terhubung satu sama lain". bisik Dita


Raya menoleh ke arah kedua penjaga itu dan memicingkan matanya, ia melihat telinga kedua penjaga itu ada heandseat kecil yang ia tebak memang terhubung dengan rekannya yang lain.


"apa tidak ada jalan lain? ". bisik Raya serius


"jalan belakang". jawab Dita cepat menarik lengan Raya.


Raya melihat pemandangan balkon dengan wajah datar,


"hanya ini satu-satunya jalan nona..! saya sudah meminta bantuan pada anggota the xylver, mereka dalam perjalanan kemari". bisik Dita


"Nona tunggu ditempat tadi, saya akan melewati balkon ini menuju kesana". pinta Dita


"biar aku". balas Raya menepis tangan Dita yang hendak memanjat.


"tapi nona? ". cegah Dita


Mata Raya melotot galak ke arah Dita yang dengan cepat mengangguk, Raya mengusir Dita yang cepat berlalu.


Raya memanjat balkon dan berjalan tenang diketinggian belasan meter itu, tak ada takutnya. ia berjalan dengan hati-hati.


hap...!


Raya berhasil melewati jalan pintas nan berbahaya itu, jika saja Raya tergelincir maka ia akan jatuh kebawah sana tapi bukan Raya namanya jika takut akan hal itu.


Raya memasuki kamar yang dijaga itu lewat pintu kaca yang terbuka lebar.


Raya berjalan tenang menatap sekeliling, "apa benar ini kamarnya? ". gumam Raya

__ADS_1


Raya menelusuri kamar luas itu dan melihat sepasang kaki ada dibalik sofa. Raya berlari ke balik sofa dan melihat Raka yang tengah kesakitan dilantai.


"Raka? ". bisik Raya


Raka membuka matanya,


"ya Tuhan..! wajahmu pucat sekali". bisik Raya


"Raya? ". tebak Raka samar-samar ia mengenal Raya karna telinganya masih berfungsi sementara pandangannya masih buram.


"hmm... aku Raya..! " jawab Raya


"uh.. ukhuuk..! kenapa kau bisa ada disini? bahaya Raya". bisik Raka dengan terbata-bata


"aku akan menyelamatkanmu dan separuh hutangku akan lunas padamu". Raya mengangkat tengkuk Raka dan Raya terdiam seketika.


"apa darahnya masih keluar? ". Raya mengingat ocehan penjaga kamar Raka tadi yang bilang tengkuk Raka berdarah.


Raka tidak bersuara,


"apa kau baik-baik saja? ". Raya menampar-nampar pelan pipi Raka.


Raya mendengar suara perkelahian di luar,


"bantuan kami sudah datang". bisik Raya


menunggu bantuan datang, Raya membuka syal nya.


"handiplast". gumam Raya teringat Raka selalu membawa benda itu di tubuhnya.


Raya tanpa ragu meraba-raba tubuh Raka tepatnya hanya di kantong-kantong baju formalnya saja.


"ketemu..! ". Raya menemukan handiplast lumayan besar.


Raya membuka syalnya dan mengelap darah dibelakang Raka.


"haiish.. darahnya dikepalamu". Raya menepikan rambut Raka yang basah dengan darah mengelapnya dengan syal nya yang berwarna peach.


"dasar mafia tulen..! bagaimana bisa kau terjebak? ". ketus Raya menonyor kening Raka.


Raka mengerutkan keningnya membuat Raya sedikit kasihan dengan apa yang menimpa Raka.


"apa papi dulu seperti ini ya? tapi Papi bukan Mafia eehh. musuhnya juga banyak". batin Raya mengoceh.


"Raka?? " Raya menampar pipi Raka lagi yang antara sadar dan tidak, tapi tidak pingsan.


brakhh...!


pintu terbuka


"Nona..? ". Dita berlari memasuki kamar dengan raut wajah panik.


"disini". sahut Raya


Dita mendekati asal suara, "nona..? semua sudah kami kuasai, mari kita pergi..! "


Raya mengangguk melihat Raka.


"bantuan...! ". teriak Dita


beberapa anggota the xylver pun masuk ke kamar itu dan tanpa di beri perintah lagi mereka langsung mengangkat tubuh Raka dengan hati-hati.


"Kak..? ". teriak Arya


Raya memejamkan matanya lalu menatap tajam ke arah Dita, "kau yang memberi taunya? ".


"bukan nona..! tapi tuan Arya ada bersama mereka saat saya meminta bantuan, mereka sedang balapan bersama tuan Randi nona".

__ADS_1


"sama saja kau memberi taunya". kesal Raya


"kakak?? " teriak Randi juga menyusul Arya.


Arya dan Randi mendekat ke Raya, Raya pun terhuyung kesana-kemari di peluk oleh adik-adiknya yang lebih tinggi darinya.


"kakak ngapain kesini sih?". bentak Randi


"kakak perempuan tidak bisa di dalam rumah aja kenapa? kok kayak anak laki-laki tidak ada takutnya sama sekali. kakak harus ingat kalau kakak itu perempuan". omel Arya panjang lebar.


"sudah..! menyingkir kalian..! drama kalian memuakkan". Raya pun berlalu dari kedua adik menyebalkannya itu.


Arya dan Randi membantu anggota the xylver melawan mafia bayaran yang menyekap Raka.


"darah siapa itu? ". tunjuk Arya


"yang jelas bukan dari kak Raya". jawab Randi berlari menyusul Raya.


.


di rumah sakit


"bagaimana jekky? ". tanya Raya


"terimakasih nona membawanya pada saya..! tuan saya dalam keadaan baik-baik saja.. terimakasih nona.. terimakasih banyak". ucap Jekky begitu tulus menunduk sopan pada Raya.


Raya mengangguk, "jangan berisik..! kalau dia baik-baik saja ya sudah..! kalian jaga dia dengan baik aku harus pulang".


"baik nona.. " jawab Jekky.


"bagaimana Jon? ". tanya Raya


"baik nona..! berkat anda Jon selamat, jika 5 detik lagi dia tidak kami periksa mungkin nyawanya sudah tidak ada, dia terlalu banyak menghirup gas beracun".


Arya, Randi hanya saling pandang tak mengerti, sejak kapan Raya begitu akrab dengan Jekky dan Raka hingga tanpa ragu Raya memasuki kandang musuh.


"kalau begitu aku pulang..! aku tidak bisa menunggu Rio datang, katakan padanya untuk menjaga tuannya". pinta Raya


"siap nona.." jawab Jekky tersenyum lebar.


Raya pun pergi dari Jekky di ikuti oleh Dita, Arya dan Randi.


Jekky memasuki ruangan VVIP 1 yang di sengaja ada 2 brankar, satunya Raka dan satunya Jon.


"tuan..! Nona menyelamatkan anda..! gadis impian anda tanpa ragu memasuki kandang musuh untuk menyelamatkan anda, sepertinya penantian dan kesabaran anda membuahkan hasil". Jekky berkaca-kaca haru akan apa yang terjadi.


antara senang dan sedih dengan keadaan Raka. senang karna Raya yang dulunya hanya ditatap dari jauh oleh Raka kini rela mempertaruhkan nyawa melindungi Raka, sedih karna Raka selalu dalam bahaya.


Jekky sudah biasa melihat rekan-rekannya terluka seperti ini, asalkan jantung mereka masih berdetak itu sudah menenangkan Jekky.


dunia Mafia memang kejam tapi menghadapi maut memang sudah biasa bagi mereka.


.


.


.


sebenarnya mau bikin part sadis tapi pihak NT selalu ngirim peringatan sama Nae tidak boleh ada konten kekerasan fisik tapi nae bikin juga.. wkwk. walau tidak detail tapi Nae yakin Readers nae akan tau gambarannya.. kemarin hari minggu part ke tiganya Nae bikin jam enam di terima oleh NT jam 1 siang, lamaaa banget di terima karna ada kekerasan nya,


huuft.. nae bingung deh, tapi ya sudahlah yang penting diterima walau seharian tak di review oleh mereka.. padahal novel lain ada kekerasannya loh bahkan lebih sadis, cerita Nae cuma seujung kuku dibanding mereka kesadisannya.


eeeh....kok curhat..! Novel nae membosankan karna masih awal-awal kalau langsung konflik entar cepat tamat dong.. wkwkwk..jadi nikmati alurnya ya..!!


cuzz..


lanjuut...!!!

__ADS_1


.


.


__ADS_2