Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
Part. 96_ alasan


__ADS_3

.


.


Nia perlahan membuka matanya


"Cha? ". Arya yang sedang duduk menggenggam tangan Nia pun berdiri dari duduknya menatap sang belahan jiwa nya sudah sadar.


"kakak? ". senyum manis di wajah pucat Nia, tangan Nia yang di ada selang infusnya terangkat dan meraba wajah Arya.


"maaf aku terlambat sayang! ". Arya mencium kening Nia berkali-kali.


"Ricis bagaimana kak? ". tanya Nia


"dia ada di Ruangan sebelah, Kakinya terkena gigitan serigala dan harus di jahit". jawab Arya


"apa..? k.. kenapa? ". Nia hendak duduk tapi ditahan oleh Arya.


"keluarga kita sedang melihatnya, tenang saja sayang Ricis mengerti keadaanmu! bahkan dia merasa bersalah tidak ada disisimu". jelas Arya


Nia mengerutkan Keningnya, "dia sampai terkena gigitan serigala masih menyalahkan dirinya sendiri? seharusnya dia menyalahkanku". gerutu Nia


"sudah.. sudah.. tidurlah..! kamu tidak ada nutrisi seharian jadi harus di infus untuk menambah tenagamu". Arya berkata dengan lembut mengelus kepala Nia


Nia tersenyum, ia tidak bertanya pada Arya dimana Red berada karna tidak mau merusak hubungan harmonis mereka kini.


Arya menekan tombol Rumah Sakit dan tak berapa lama kemudian dokter serta suster datang memeriksa keadaan Nia.


Nia melebarkan matanya saat pintu terbuka masuklah keluarga besar Melviano dengan raut wajah khawatir setelah diizinkan oleh Arya masuk.


sebelumnya mereka tidak diizinkan masuk oleh Arya supaya Nia bisa tidur nyenyak dan tidak mengganggu Nia".


Shindy mengomel seperti biasa, Nia mengerucutkan bibirnya diomeli oleh semua keluarganya.


plak..


"aduuh.. Mami? kenapa Arya juga di pukul? ". protes Arya mengelus-ngelus punggungnya yang terasa perih.


"kenapa kamu membiarkan istrimu masuk kandang Ular hah? ". tanya Shindy dengan mata melotot galak.


"ya walaupun Ular tapi tetap berbisa kan? enak aja kamu mengabaikannya sampai dia masuk kesana bahkan sengaja merencakannya? ". Nova


para wanita di Keluarga Arya memarahi Arya, Arya melihat ke arah Satria yang bersiul seolah tak tau apa-apa.


"pasti ulah Kakak ya? ". Alice yang tau tatapan Arya pun bisa menebak.


Satria menggeleng-geleng kepalanya, alhasil Satria juga kena marah


Nia yang tidak tega segera menjelaskan situasinya, dan Arya hanya bisa menganga melihat perubahan sikap semua wanita Melviano itu, bisa-bisa nya para lelaki diabaikan seperti anak tiri sementara lembut pada wanita.


tapi Arya mengatup rahangnya kembali, ia tersenyum mendengar curahan hati Nia yang mengoceh ceria dan bersemangat karna ia dengan ganas menggigit penculiknya.


.


"Ricis? ". Nia yang duduk di kursi Roda masuk ke Ruangan inap Ricis.

__ADS_1


"Nia?". Ricis mencoba duduk namun meringis seketika.


Nia mempercepat kursi Rodanya lebih dekat pada Ricis, "siapa yang menyuruhmu duduk?".


"bagaimana keadaanmu Nia? maaf aku membuatmu ketakutan disana, aku tidak ada disampingmu". ucap Ricis


"kamu ngomong apa sih? lihatlah kaki mulusmu jadi ada luka jahitnya, itu tidak cocok memakai bikini". omel Nia tidak nyambung.


Ricis mengerutkan keningnya lalu tertawa, "aku tidak pernah memakai bikini Nia".


"benarkah? yang penting jangan menyalahkan dirimu sendiri atau aku akan menyalahkan diriku juga karna membuatmu terlibat dengan masalahku, kamu hebat berkelahi tapi mereka curang!".


Ricis tersenyum, "baiklah.. apa yang terluka? apa tubuhmu baik-baik saja? ".


"sebenarnya aku kehabisan tenaga untuk melawan dan menggigit mereka, sekarang lemas benar-benar masih lemas sejak siang kita belum makan". cengir Nia


"apa kamu tidak diberi makan? ". tanya Ricis yang tidak heran lagi Nia memang tukang gigit dan Ricis tau itu.


"aku tidak makan sedikitpun masakan Pria gila itu, aku tidak mau suamiku cemburu". jawab Nia


Ricis menganga saja lalu menggeleng kepalanya, "sekarang kamu pergi saja..! aku tidak tahan kamu bicara hal vulg*r padaku yang belum menikah ini". decak Ricis


Nia menjulurkan lidahnya, "bodo amat..! yang penting aku senang, dia suamiku bertingkah Vulg*r sama suami sendiri tidak apa kan? ".


"otakmu sudah kotor.. sana pergi..! ". usir Ricis dengan kesal.


mereka mengomel dan mendumel masing-masing layaknya seperti kakak adik yang sedang bertengkar.


"sayang? kamu ngapain kesini hmm? aku mencarimu sejak tadi". Arya yang hendak mengetuk kamar Ricis pun melihat Nia membuka pintu.


"sekarang istriku harus makan ya? ". Arya mengelus kepala Nia dan meletakkan kantong plastik yang dibawanya diatas pangkuan Nia.


Arya mengecup mesra puncak kepala Nia lalu mengelusnya lembut sambil berjalan kebelakang kursi Roda Nia, Arya mendorong kursi Roda Nia kembali masuk ruang inap Nia.


Nia fokus mengintip semua makanan yang dibelikan Arya tanpa melihat kekiri dan kekanannya, semua perawat yang lewat, pasien maupun pengunjung Pasien gemas dengan interaksi Arya dan Nia.


dulu pernikahan Raya dan Raka menjadi sorotan, lalu Satria dan Alice hingga kini Alya & Al, begitu juga Nia dan Arya.


pernikahan Arya, Nia dan Alya bersama Al sedang masa hangat-hangatnya, tentu menjadi sorotan publik terlebih lagi nama belakang mereka Melviano.


.


.


beberapa hari kemudian.


Nia sudah kembali ke Apartemen, ia melihat Arya yang sedang fokus memainkan pulpennya.


"mau tanya apa sayang? ". tanya Arya yang tau Nia tengah menatapnya.


Nia terkejut lalu menghentikan tontonannya dan berjalan dengan hati-hati ke Arya,


"kak? apa kakak akan marah jika aku bertanya? ". tanya Nia dengan tampang polosnya yang terlihat lucu.


Arya menatap ke arah Nia, "bertanya tentang pria pengecut itu kan? ". tanya Arya

__ADS_1


Nia mengangguk sekali, dua kali dengan kepala tertunduk.


"aku membunuhnya". jawab Arya dengan serius.


"hah? kakak membunuhnya? ". tanya Nia memastikan


"kenapa? apa menurutmu aku sebaik itu membiarkan wanita yang kucintai disakiti olehnya, aku tidak pernah memukul atau melukaimu tapi pria itu berani membuat tanganmu memerah! aku tidak akan memaafkannya".


Nia menelan ludah, "b... baiklah aku tidak akan bertanya lagi kak". jawab Nia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Arya menepuk pahanya dan Nia duduk dipangkuan Arya dengan hati-hati.


"lalu menurutmu hukuman yang pantas baginya apa?". tanya Arya dengan lembut.


"mati". jawab Nia dengan nada pelan


"nah.. kamu tau.. lalu kenapa takut? ". tanya Arya mengetuk hidung Nia


"a.a. aku hanya belum terbiasa mendengar kata-kata itu kak, kakak seperti seorang ketua Mafia yang mudah mengatakan menghabisi nyawa orang". jelas Nia


Arya mengulum senyum, Nia mungkin lupa kalau Arya bagian dari anggota Mafia the Xylver.


"aku tidak akan semarah itu jika dia menyakitiku sayang, tapi aku tidak akan rela jika ada manusia yang melukaimu! aku tidak akan membiarkan mereka harapan untuk hidup". jelas Arya


"ada satu hal yang harus kamu ketahui.. ". Arya


"apa kak? ". tanya Nia


"kedua orangtua mu meninggal dunia karna ulah gilanya, dia bahkan menyimpan 2 botol darah kedua orangtuamu dan diletakkan di kamarnya". Arya


DeG!!!


"M.. maksud kakak? ". tanya Nia dengan raut wajah memucat.


"sebenarnya aku tidak mau memberi taumu sayang tapi aku harus menjelaskannya padamu, alasan aku membunuhnya bukan untuk membuktikan aku kuat, tapi manusia seperti itu harus dihilangkan di muka bumi ini supaya tidak ada korban lain kedepannya". Arya


mata Nia memerah darah seketika mendengar penjelasan Arya.


"kenapa kakak tidak bilang? kalau aku tau aku akan letakkan bom di tubuhnya lalu meledakkannya sampai hancur berkeping-keping". marah Nia


Arya terkekeh pelan


"sekarang kamu tidak takut kan padaku? ". tanya Arya mengelus pipi Nia


"nggak takut kak".


raut wajahnya Nia terlihat tidak senang, Arya tau Nia sedang menyesal karna tidak mengetahuinya lebih awal.


Bagi Nia Red memang pantas mati tapi tetap saja Nia masih gugup mendengar suaminya sendiri membunuh manusia, benar-benar baru ia alami, Nia harus butuh penyesuaian, harus terbiasa untuk kedepannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2