
.
.
Raya menatap datar Raka yang tengah berbicara serius dengan Dita.
"apa yang sedang mereka bicarakan? ". gumam Raya penasaran.
"apa dia suka Dita? ". celutuk Raya.
"tidak.. tidak.. dia suka Robert". jawab Raya lagi.
"sayang? ". Shindy mengagetkan Raya namun Raya tidak bersuara hanya terlonjak kaget di tempat.
Shindy mengerutkan keningnya tak biasanya Raya kaget sebab anaknya itu bisa mendengar langkah kakinya.
"kamu mikirin apa sampai kayak gitu hmm? terus kok bisa kaget nya begitu? ". tanya Shindy heran
Raya menoleh ke Raka yang sedang berbicara serius dengan Dita,
"kamu cemburu mereka bicara berdua? ". goda Shindy
"hah? cemburu? haha... tidak mami.. Raya penasaran apa yang mereka bicarakan". Raya tertawa hambar namun masih setengah berbisik.
"benar? ". goda Shindy dengan gemas.
"issh.. mami.. masa ngga percaya sama anak sendiri sih? ". dumel Raya
Shindy tertawa lebar namun mengeluarkan suara, Raya membekap mulut maminya seketika
"mami.. kenapa malah ketawa begitu? nanti dia tau lah mi". bisik Raya
"ada apa sih? ". Satria tiba-tiba datang.
Raya memutar bola matanya dengan malas lalu melepaskan maminya. Raya melihat ke arah Raka dan Kebetulan Raka tengah menatapnya, betapa terkejutnya Raya, ekspresi Raya saat ini seperti seorang pencuri yang terciduk oleh tuan rumahnya.
sudut bibir Raka tertarik keatas sungguh ia gemas dengan tingkah Raya saat ini. apalagi wajah kagetnya itu ingin sekali Raka cium sana-sini.
Satria terbahak seketika melihat kakaknya yang terciduk dan Shindy juga tak kuasa menahan tawanya, Raya yang kesal segera melarikan diri dan juga Raya sudah ketahuan oleh Raka.
"mami.. kak Raya itu tertarik apa enggak sih sama bang Raka? ". tanya Satria keheranan sambil meminimalisir tawanya saat ini.
Shindy pun tampak berpikir.
"di dunia ini tidak ada kodratnya laki-laki dan perempuan itu berteman seumur hidup, kalaupun ada pasti akan ada yang menyukai satu diantara mereka, bisa dikatakan rasa suka itu seperti jerawat yang hilang dan muncul begitu saja. bahkan berteman pun butuh ketertarikan satu sama lain". Shindy menjelaskan.
"maksud mami kak Raya tertarik sama bang Raka makanya diajak berteman begitu? ". tebak Satria
Satria tau apa yang terjadi dengan Raya yang terluka dan di bawa ke Rumah Raka malam itu, ia mengetahui cerita itu dari Arya yang diberitahu oleh Dylan. hanya saja Satria pura-pura tak tau didepan Maminya bisa bahaya kalau Shindy tau Raya pernah terluka.
"tentu saja, cuma dia belum sadar aja !". jawab Shindy
Satria tersenyum lebar saja pada Shindy lalu sang ibu dan anak itu menoleh lagi ke Raka yang masih sibuk berbicara dengan Dita.
"apa yang mereka bicarakan ya Mi? ". gumam Satria pelan
"entahlah.. mami tidak tau". jawab Shindy
.
.
"Tante...! terimakasih sudah izinin Raka bicara sama Dita". ucap Raka dengan sopan.
"iya deh sama-sama. apa mau lanjut makan malam disini? ". tanya Shindy
"tidak usah Tan, Raka mau pulang aja masih ada kerjaan kantor yang tertunda di rumah". tolak Raka dengan sopan.
__ADS_1
"yakin bang? ". tanya Satria
"iya yakin". jawab Raka tersenyum kecil.
"Abanggg...! ". Alya berlari manja dan memeluk Raka seketika hingga Satria memutar bola matanya dengan jengah.
Shindy tertawa saja akan tingkah manja putri bungsunya itu.
"Iya dek Alya..! ". Raka mengusap kepala Alya yang sungguh manja padanya.
"apa abang tidak mau nginap disini? ". tanya Alya mendongak ke Raka.
"tidak bisa dek..! lain kali aja ya? abang banyak kerjaan". jawab Raka meradu keningnya dengan kening Alya
"mereka seperti sepasang kekasih". bisik Satria ke Shindy.
"biarkan saja..! Raka kan tidak punya kerabat atau saudara, dia pasti senang punya adik seperti Alya". bisik Shindy juga.
.
.
"abang ngasih Alya apa sih? ". tanya Alya mengikuti Raka yang menuntunnya pergi ke Mobil Raka.
Raka mengeluarkan sesuatu dari dalam mobilnya hingga Alya menganga lebar melihatnya.
"waaah...! cantik sekali bang... ". pekik Alya mengambil alih marmut menggemaskan itu dari gendongan Raka.
"abang beli dari teman katanya Marmut ini mudah mengurusnya, abang lihat sangat cantik dan jujur abang teringat adek abang yang menggemaskan ini". Raka mengusap kepala Alya.
"terimakasih bang..!". ucap Alya dengan girangnya
.
.
Raya menatap datar saja mobil Raka yang keluar dari pekarangan rumah nya. Raya berdiri di balkon kamarnya.
"teman macam apa yang datang tidak menemuiku sebagai temannya? ck.. dia jahat sekali". gerutu Raya
Raya mendecih kesal lalu kembali ke tempat tidurnya.
ke esokan harinya.
"aaah...! ". Raya kaget melihat ada marmut cantik melompat-lompat saat ia keluar dari Lift.
"kenapa sayang? ". tanya Shindy keluar dari dapur dengan cemas.
"ini apa mi? kenapa bisa ada tikus? ". tanya Raya
"mumut.. kenapa lari kesitu sih? ". Alya berlarian dari arah taman belakang mengambil Marmut nya yang menggemaskan.
Raya menjatuhkan rahangnya melihat Alya menggendong dan menciumi hewan yang Raya sebut Tikus.
"dari mana dia dapat tikus itu mi? ". tanya Raya ke Shindy saat adiknya itu kembali berlari menuju taman belakang sambil menggendong marmut itu.
"tikus apanya sih sayang? itu Marmut". kekeh Shindy.
"bentuknya kayak tikus". jawab Raya
"mana ada tikus seimut dan sebesar itu sayang". balas Shindy lagi tertawa sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
di meja makan
"mana Alya sayang? ". tanya Dylan
"Alya masih di taman belakang makan sama mumutnya". jawab Shindy.
__ADS_1
"suka sekali dia sama marmutnya ya? ". tawa kecil Arya.
"iya.. tadi malam heboh dianya lari kesana-kemari memamerkan hadiah Bang Raka padanya". sambung Satria
Raya terkejut mendengarnya, "tikus itu pemberian Raka? ".
"iya". jawab semua orang kecuali Dylan yang tidak tau apa-apa namun terlihat tidak peduli juga.
"ralat kak.. itu bukan Tikus tapi Marmut". kekeh Satria
"menurut kakak itu tikus". tegas Raya membuat yang lainnya menggeleng pasrah saja.
.
di dalam mobil.
Raya menatap Dita yang serius membawa mobil.
"apa yang kalian bicarakan tadi malam? ". tanya Raya
"kami hanya membicarakan hal penting Nona". jawab Dita.
"hal penting apa? ". tanya Raya
"....!". Dita diam
"hal penting apa? ". tanya Raya sekali lagi.
".... !" masih diam Dita tidak juga menjawab
"Dita...! ". bentak Raya
"saya nona". jawab Dita
"dia bicara apa ? kenapa harus dirahasiakan dariku? ". tanya Raya dengan kesal.
"master hanya menanyakan apa yang Nona lakukan malam sebelumnya sampai begitu berani merusak sepatu master yang sangat mahal". bohong Dita
"apaa?? tidak mungkin. katakan yang jelas". Raya masih tidak percaya itu alasannya.
Raya kembali geram Dita tak juga menjawab, apa yang terjadi dengan temannya itu hingga membicarakan hal penting dengan Dita tapi Raya tidak boleh tau.
.
.
di tempat lain
"bagaimana nona? ". tanya seseorang di balik telfon
seorang wanita cantik tengah menatap pemandangan balkon di Vila mewah.
"lakukan saja..! aku akan lakukan apapun untuk menghancurkan wanita itu, dia yang telah merebut master dariku".
"baik nona, kami akan lakukan".
panggilan terputus
Sherina meregangkan jemari tangannya ke atas. "bagaimana caraku bisa dekat dengan Master? dia bahkan memburuku saat ini". gumam Sherina tampak berpikir.
"tidak usah..! dia memang tidak bersalah tapi Wanita itu yang salah, akan aku rusak wajahnya itu supaya master meninggalkannya". seringai Sherina tertawa jahat beberapa detik kemudian.
.
.
.
__ADS_1
.