Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
mencari dasi


__ADS_3

.


.


ke esokan harinya.


Raya pergi ke Mall MattGroup. .


Raya juga mencari baju formal untuknya bekerja, Raya ingin banyak warna gelap, padahal warna apapun baju akan selalu sempurna untuk Raya.


Raka yang kebetulan ada di mall tengah sibuk mencari baju formal


"Tuan.? ".


Raka tak menghiraukannya namun wanita itu begitu kegirangan melihat Raka setelah sekian lama tidak bertemu.


"tuan..? ". senyum genit Maisy saudara tiri Raka.


Raka melirik ke arah Maisy yang tengah berdiri disampingnya dengan penampilan sexynya. beberapa orang melihat ke arah Maisy bertanya-tanya siapa gerangan Maisy hingga begitu berani menyapa Raka.


"sudah lama kita tidak bertemu tuan..! ". kata Maisy begitu bangga bisa berbicara dengan Raka.


"siapa kau? ". tanya Raka dengan tatapan datarnya.


"Hmmmftfff.....!! " para pelayan toko tertawa namun mereka tahan karna tidak mau Maisy tersinggung.


"Tuan? anda tidak mengenali saya? saya Maisy anak dari rumah Smith yang saat itu anda perhatikan". Maisy menjelaskan dengan serius seolah takut Raka benar melupakannya.


bagi seorang pria tampan pasti banyak perempuan cantik mendekatinya, saking banyaknya pasti melupakan yang lainnya apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.


"aku tidak tau..! dan aku sibuk". balas Raka dengan dingin dan mengabaikan Maisy.


Maisy menatap tak percaya Raka yang benar-benar melupakannya.


"apa karna Nona Melviano itu tuan jadi melupakanku?". tanya Maisy membuat Raka menoleh tajam ke arah Maisy.


beberapa orang berbisik-bisik.


"aku bahkan tidak mengenalmu!". tegas Raka dengan nada dingin.


"benarkah? lalu bagaimana dengan malam acara pesta ulang tahun mama saya? bukankah anda datang ke sana untuk bertemu saya tuan?". Maisy mendekat berusaha memegang tangan Raka.


Raka menepisnya kasar, "dasar wanita gila..! ".


umpatan Raka di dengar oleh para pengunjung mall, mereka berbisik mencela Maisy yang terlalu ketara mendekati Raka dengan cara mengada-ngada.


Maisy dianggap pembohong saja demi mendapatkan perhatian Raka, jika Raka mengenal Maisy setidaknya Raka akan menyapa atau paling tidak membawa Maisy pergi karna tidak mau di lihat orang lain tapi Raka benar-benar acuh seolah Maisy hanya orang mengaku-ngaku saja.


Maisy berlari ke arah lain menerobos banyaknya orang yang mengkerumuninya, ia menangis karna malu namun tak menyalahkan Raka.

__ADS_1


"mungkin dia malu menyukaiku.. iya. dia pasti malu, dibandingkan dengan kekasihnya sekarang aku pasti bukan ada apa-apanya, aku yang salah karna menyapanya di depan umum padahal semua orang tau tuan Raka kekasih nona Melviano". batin Maisy mengingatkan diri.


Raya yang mendengar keributan pun menoleh ke tempat kerumunan.


"Nona..? ". Dita mencekal tangan Raya.


"tidak apa..! sebentar saja, kau carikan aku baju kerja yang bagus dan warnanya harus gelap". pinta Raya meninggalkan Dita seorang diri.


Dita tidak bisa mengikuti Raya karna pelayan toko tengah menatapnya seolah berbicara untuk tidak lari.


Raya celingukan ke tempat kerumunan, "ada apa sih? kenapa mereka mengkerumuni tempat itu? apa ada artis? ". batin Raya penasaran.


Raya yang mulai bosan pun berbalik namun terdengar bisikan orang di sampingnya.


"kekasihnya nona muda Melviano sangat tampan ya? ".


"hmm.. tampan dilihat langsung, kenapa bisa tampan ya? "


"kapan aku punya anak yang memiliki wajah seperti itu".


"nona Melviano sangat cantik dan kekasihnya juga sangat tampan melebihi Artis saja dilihat langsung, sangat Hot bahkan hatiku terbakar karna pesonanya".


Raya melebarkan matanya lalu melihat ke arah kerumunan, "Raka disini? ". gumam Raya pelan.


"aaakh...! "


Raya terlonjak kaget mendengar seseorang berteriak menatapnya.


"Nona Melviano? nona Raya ada disini".


Raya menarik nafas dalam-dalam karna ketahuan disaat mereka hendak mengeluarkan ponsel Raya menatapnya tajam hingga tak ada yang berani merekam atau memotret Raya


Raya menatap ke arah depan, dan orang-orang yang mengkerumuni Raya pun memberi jalan tanpa di perintahkan.


Raka memasukkan tangannya ke kantong celananya, ia mendengar seseorang menyebut Raya ada disini tentu ia memutar kepalanya.


pandangan mereka bertemu seketika saat para ibu-ibu dan wanita memberi jalan, Raka pun memutar badannya sambil tersenyum tipis.


"sedang apa? ". tanya Raya tanpa bersuara tapi gerakan bibir Raya tentu di ketahui Raka.


Raka memutar kepalanya melihat pakaian formal laki-laki, Raya pun akhirnya mengerti.


Raya hendak berbalik namun suara Raka membuatnya kembali menatap ke arah Raka.


"bantu carikan aku baju kerja? ". pinta Raka dengan suara khasnya membuat orang lain meleleh seketika.


"cari sendiri emang nggak bisa? ". ujar Raya dengan malas tapi melangkahkan kakinya juga ke arah Raka.


jalan kembali tertutup, makin banyak saja yang mengkerumuni Raya dan Raka saat ini.

__ADS_1


"tidak bisa..! aku sudah 2 jam disini". bohong Raka meyakinkan.


para pelayan sempat kaget namun di lirik Raka membuat mereka mengerti dan tak berani bersuara.


"2 jam? ". beo Raya dibalas anggukan oleh Raka.


"ck.. asal pilih aja kenapa? sepertinya semua warna baju pas di kulitmu". ujar Raya dengan serius memperhatikan tangan Raka.


"bajunya boleh asal pilih, dasinya bagaimana? ". Raka menunjuk banyaknya dasi di balik kaca.


Raya menghela nafas, "aku tidak tau yang bagus tapi akan aku usahakan".


Raya meletakkan tasnya tepat di dada Raka yang spontan menahannya hingga tangan mereka bersentuhan, Raya biasa saja tapi Raka yang bahagia di dalam hati.


Raya mengambil stelan formal beberapa warna namun hitam lebih banyak namun beda model ada yang rompi dan lainnya,


"hhmm? ini bagus ". Raya mengambil satu dasi dan mendekat ke Raka.


Raka bisa melihat Raya dari dekat tengah begitu serius memperhatikan dasi itu.


"tidak terlihat jelas..! tapi ini bagus".


Raya mengambil apa yang ia suka lalu matanya berbinar seketika melihat dasi yang terbaik dari semua yang ia pilih sebelumnya.


"waah.. ini aku suka..!". Raya tanpa ragu menarik dasi Raka yang masih bertengger di lehernya.


Raka hanya diam memperhatikan Raya,


"coba menunduklah sedikit". pinta Raya.


Raya tinggi tapi Raka lebih tinggi yang mencapai 187 CM sementara Raya 169 CM.


Raka melihat ada sofa di belakangnya, ia duduk di sandaran sofa dan Raya mengangguk setuju Raka duduk disana.


Raya mendekat, jarak mereka hanya beberapa cm saja, aroma tubuh Raya tercium di hidung Raka. menyiksa tapi Raka suka situasi nya saat ini.


"kau tau cara memasang dasi? ". tanya Raka.


mata biru Raya beralih ke Raka, "aku sering memasangkan dasi Satria, dan lagi aku sangat pintar sekali belajar akan langsung mengerti".


dunia seolah milik mereka berdua, Raya memang tidak peduli sekitar dan Raka pun sama. jadi saat mereka bersama pasti mengabaikan orang sekitar karna karakter mereka memang sama-sama acuh.


Dita selesai belanja baju Raya namun melihat pemandangan dari jauh membuatnya menarik nafas panjang.


"sebenarnya hubungan mereka itu apa sih? katanya teman tapi dunia milik mereka saja". gerutu Dita


Dita mengalihkan pandangannya dan melihat Robert dari kejauhan tengah memperhatikan Raka dan Raya.


"apa benar dia tuan Robert? ". gumam Dita menebak.

__ADS_1


.


.


__ADS_2