
.
.
"apa kau suka? ". tanya Raka berdiri disamping Raya
"hmm..! suka". jawab Raya dengan mata berbinar.
Raka tertawa tiba-tiba, Raya menoleh ke Raka dengan tatapan heran.
"kenapa malah tertawa? kau mau gigimu rontok? ". tanya Raya dengan nada serius pandangannya kembali ke pemandangan indah di depannya.
"aku heran kau wanita seperti apa? biasanya perempuan gila emas permata, barang limited, Brilian delima yang entah berapa harganya jika di berikan pada wanita manapun pasti akan bahagia sementara kau malah bahagia hanya melihat lumba-lumba". ejek Raka
Raya mendengus mendengarnya, "kalau emas dan segala yang kau sebutkan itu bisa dibeli pakai uang, sementara itu? ". Raya menunjuk lumba-lumba yang masih melompat-lompat di laut lepas.
"tidak bisa dibeli dengan uang". sambung Raya lagi dengan bangga
"itu sebabnya kau berbeda". gumam Raka pelan
"iya..! tapi sayang kau Guy". ejek Raya tertawa kecil
"huuh...! berapa kali aku bilang aku tidak Guy..! dari mana kau bisa menilai aku ini gila laki-laki? ". jelas Raka mulai malas
Raya tergelak memukul-mukul lengan Raka, "tidak apa! aku menghargai perasaanmu itu".
Raka diam saja tanpa berbicara, sungguh gemas sekali dirinya mendengar ocehan kekasih impiannya itu. padahal tadi Raka sudah jelas katakan kalau dirinya jatuh cinta pada seorang gadis tapi mengapa Raya masih katakan dirinya suka Pria.
Raya mengira ucapan Raka hanya mengada-ngada saja untuk menutupi aib nya itu yang suka lelaki, menurutnya mana ada Pria yang jatuh cinta pada wanita hanya karna diberi gelang. sungguh pikiran pria itu sempit sekali pikir Raya.
.
Raya masuk ke mobil Raka karna hari sudah mulai tengah hari, perutnya mulai berdentum minta diisi.
"sana...! ". Raya menampar pipi Raka pelan untuk melihat arah lain bukan menatap dirinya yang tengah memasang pashmina nya.
Raka memutar kepalanya lagi melihat Raya sambil cengar-cengir. bodo lah Raya tau perasaannya sebab Raka mulai kesal saja akan tingkah polos Raya yang tak mengerti juga perasaannya. lebih baik Raka memberi kode keras saja dengan cara terang-terangan menatap Raya dengan hangat dan lembut.
"jika kamu tidak mengerti juga sayang..! sepertinya aku memang harus megungkapkan perasaanku dengan jelas supaya kamu Peka". batin Raka senyam-senyum memperhatikan Raya yang terus saja berusaha memalingkan wajah Raka.
"isssh...! lihat sana..! ". dengus Raya tapi diabaikan saja oleh Raka.
"berhenti nanti di toko baju..! belikan aku baju, masa iya aku kembali pakai baju tidur bisa gila warga sana". ujar Raya serius sambil memasang seatbeltnya.
__ADS_1
"ok..! ". sahut Raka mengusap kepala Raya dengan gemas.
Raya biasa saja ia fokus berkaca di mobil Raka seperti mobilnya sendiri saja. sesuka hatinya saja mengobrak-ngabrik mobil Raka dan Raka tidak marah malah tertawa dan tersenyum.
Raya beli pakaian di butik ternama dikota N, Kota tetangga Kota M yang mana butik itu belum terkenal jauh hanya dikenal disekitar kota itu saja dan kota tetangga.
"mana ATM nya? ". tanya Raya mengulurkan tangannya.
Raka memberikan dompetnya seluruhnya tanpa dibuka, dan Raya persis seperti seorang istri yang minta jatah dari gajian sang suami.
Raya di culik oleh Raka tentu ia tidak bawa apapun jadi hanya bisa pelorotin uang Raka untuk memenuhi keperluannya. biar saja Raya dibilang matre toh Raka yang berulah dengan membawanya kabur dari rumah, Raya bisa tebak Dita pasti mondar-mandir di dalam rumah menunggu kepulangannya.
Dita tau Raya pergi dengan Raka sebab Raka mengirim pesan singkat pada pengawal Raya untuk tidak buat keributan di sekitar situ hingga Pak Kepala Desa repot dan berpikir yang tidak-tidak.
para pelayan toko di butik dengan senang hati melayani gadis secantik Raya apalagi mereka tau Raya dan Raka terkenal sudah seperti artis saja.
"Ok...! ". Raya puas dengan pilihannya lalu membayar dengan blackcard milik Raka.
"apalagi? ". tanya Raka membungkukkan badannya menatap manik mata biru Raya dari jarak dekat.
"makanlah.. apalagi? ". jawab Raya menonyor dada bidang Raka hingga siempunya tertawa.
selepas kepergian Raya dan Raka, para pelayan butik mulai merapat dan bergosip mengenai kecantikan Raya dengan kekasihnya itu. tak ada yang bisa menebak kalau Raka dan Raya itu hanya berteman, Raya benar terlihat nyaman dengan Raka seperti saudara sendiri atau bahkan lebih, dan lebihnya itu hanya Raya lah yang tau tapi belum bisa diucapkan dengan kata-kata, hingga Raya belum sadar perasaannya suka sebagai teman atau lawan jenis.
.
.
"Raya...? "
Raka menarik pinggang Raya saat ada ranting pohon diatasnya tiba-tiba jatuh, Raya sudah tau hanya saja tak mengira Raka akan menyelamatkannya.
"apa sih? ". Raya memukul dada Raka yang tengah memeluknya.
"kau tidak melihat jalan? apa indera pendengaranmu sedang bermasalah? kenapa bisa tidak sadar? ". cecar Raka.
"Raka aku tau ada ranting yang jatuh tapi aku tidak tau kau akan bertingkah aneh menangkapku seperti tadi". jelas Raya dengan santainya menepuk bahu Raka lalu melepaskan diri dari dekapan Raka.
Raka menghela nafas saat Raya berbalik dengan raut wajah santainya itu seolah ranting pohon yang jatuh itu bukan masalah padahal jika mengenai tubuh bisa pingsan atau luka juga.
"kau tidak tau takutnya aku Raya..!". gumam Raka menatap punggung Raya yang sudah berlari memasuki restaurant kecil.
Raka menatap tajam ke arah atas, "apa rubah betina itu ada disini? ". gumam Raka dengan dinginnya.
__ADS_1
Raka tau tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini, apalagi Raka melihat jatuhnya ranting itu tepat saat Raya ada dibawahnya seolah sudah di ancang dan diketahui oleh seseorang.
"Raka...? " teriak Raya di depan pintu restaurant.
Raka menoleh dan berlari dengan langkah lebar ke arah Raya,
"kenapa sih? ". tanya Raya
"tidak ada". jawab Raka merangkul bahu Raya untuk segera masuk.
selesai makan berdua, Raya dan Raka kembali ke mobil dan kali ini ada pria bertopeng keluar dari balik pohon dengan memegang sebuah cairan kimia di tangannya.
Raya dengan cepat menghindar saat cairan itu seolah sengaja di siramkan ke dirinya, Raya bersalto menginjak mobil Raka dan menendang kepala Pria bertopeng hingga jatuh ke tanah.
beruntung Raya memakai celana besar dengan model kekinian,
"Raya..? ". pekik Raka meloncati mobilnya dan lompat menginjak punggung pelaku hingga benar-benar tak sadarkan diri, bisa Raya tebak punggung pria itu remuk diinjak Raka.
"Raya? kau tidak apa? ". tanya Raka menangkup kedua pipi Raya dan bahu Raya dengan raut wajah khawatir.
Raya menggeleng kepalanya, lalu menatap manik mata Raka.
"ada apa dengannya? kenapa raut wajahnya menggemaskan sekali". batin Raya mengerjab polos.
Raka berbalik hendak memukuli pria itu tapi Raya menahan lengan Raka hingga pria tampan itu berubah pandangan dari tatapan menakutkan menjadi marah karna Raya menghalanginya.
"Aku baik-baik aja..! kita kembali ya? ". pinta Raya dengan lembut menangkup rahang Raka yang terlihat marah.
"dia melukaimu Raya..! apa aku bisa tinggal diam? ". suara Raka terdengar menahan amarah.
"aku bilang aku baik-baik aja..! lihat itu !". Raya menunjuk mobil mewah Raka yang berwarna merah rusak warnanya karna terkena cairan kimia itu.
"apa kau marah karna itu? ". tanya Raya
Raka menarik nafas dalam-dalam, jika Raya tidak ada disini Raka pasti sudah membunuh pria itu.
"dia hanya kaki tangan..! aku sudah tau pelakunya". Raya menarik lengan Raka untuk menjauh dari pria yang tak sadarkan diri itu.
.
.
.
__ADS_1