
.
.
selesai mandi, Raya keramas jadi rambutnya tergerai bebas. Raya begitu serius mengelap rambutnya dengan handuk bukan di keringkan dengan alat pengering rambut.
"sayang? mau kemana? ". tanya Raka bangkit dari duduknya melihat Raya hendak keluar kamar dengan rambut terbungkus handuk.
"makan bubur". jawab Raya senang lalu berlari keluar dari kamar Raka
Raka menepuk jidatnya tapi ikutan mengejar istrinya itu, "sayang..? apa perutmu benar baik-baik saja? kenapa berlari? buburnya tidak akan lari sayang? ".
Raya berlari kecil tadinya berlari tergesa-gesa, Raka menangkap pergelangan tangan sang istri.
"bagaimana perutmu sayang? ". tanya Raka menangkup pipi Raya.
"baik..! makasih abang udah menyembuhkan perutku". jawab Raya tersenyum hangat.
Raka ikut tersenyum melihat betapa hangatnya senyuman sang istri.
"jalan aja ya? jangan lari! ". pinta Raka dengan lembut membuat Raya mengangguk patuh.
alhasil mereka bergandengan tangan berjalan menuju lift dan pergi ke dapur pun berdua,
"Cintia..? ". panggil Raya
"saya Nona.. Eh..? ". sahut Koki yang bernama Cintia kaget melihat Raka dengan cepat menundukkan kepalanya.
Raya melepaskan genggaman tangannya dari Raka, "bagaimana caramu membuat bubur ayam tanjung itu? hmm? kenapa enak sekali? hmm... kok bisa beda dari bubur yang biasa aku makan?". tanya Raya bertubi-tubi.
"itu masakan andalan saya Nona..! setiap Koki di dapur ini lulusan makanan terbaik di negara A, saya menang disana karna bubur itu". jawab Cintia apa adanya.
"waah...! buatkan aku lagi ya? ". Raya mendekat dan memegang tangan Cintia.
"baik Nona ". jawab Cintia tanpa menunggu kode dari Raka.
perintah Raya adalah tugas mereka jadi tidak harus menunggu persetujuan dari Raka.
Raka tersenyum tipis, Koki yang lainnya membantu Cintia memotong ayam dan lainnya, Bi Asih membuatkan jus untuk Nona dan tuannya.
.
.
"hmm.. enaknya.. enak". pekik Raya
"aku ingin mengambil semua kokimu dan mempekerjakannya di mansionku". oceh Raya menatap Raka.
para Koki malah terharu ada juga yang rasa takut Raka marah.
Raka tersenyum saja tidak ada kemarahan dimatanya, ia bangga dengan Koki pilihannya hingga Raya sangat menyukai mereka.
__ADS_1
"sayang? ". Shindy dan Dylan tiba-tiba datang ke mansion Raka.
Raka bangkit dengan kaget, "Papi? mami? kenapa tidak bilang mau datang? ". Raka berlari kecil menyapa kedua mertuanya itu.
Dylan tersenyum tipis melihat Raya sedang makan, Shindy mengusap rahang Raka.
"kamu memanjakan putri mami dengan sangat baik nak..! nanti Raya manja kamu bagaimana? ". tanya Shindy yang melihat bagaimana lembutnya perlakuan Raka pada Raya.
"Raka memang senang memanjakannya Mi". ucap Raka menyeringai lebar seperti anak kecil minta di beri hadiah karna berhasil.
Shindy tertawa lalu mencubit pipi Raka yang kini makin berisi.
"ayo mi.. pi.. duduk bersama Raya, Raya makan sangat lahap, maafkan dia tidak menyalami mami sama papi". Raka
Shindy dan Dylan saling pandang lalu melempar senyum satu sama lain, kenapa Raka berkata seolah Raya lah menantu mereka padahal Raya putri mereka.
Bi Asih menyiapkan Dessert buatan mereka untuk tamu istimewa tuannya.
"mami? ". cengir Raya
"kenapa makan bubur sayang? ". tanya Shindy khawatir.
"tidak apa mi..! Raya cuma terkena gangguan pencernaan jadi Raka suruh dia makan bubur 1 malam ini biar perutnya baikan". jawab Raka sejujurnya.
"gangguan pencernaan? " beo Dylan dan Shindy.
"sejak kapan kamu terkena gangguan pencernaan sayang? ". tanya Dylan
"kenapa papi sama mami tidak tau? ". sambung Shindy
"biasa aja pi, kalau sakit perut Raya olahraga jadi baikan maka nya ngga pernah bilang". jawab Raya
Shindy dan Raka kompak melihat Raka yang tengah menatap Raya dengan senang, melihat Raya makan begitu lahap ada kebanggaan tersendiri di hatinya.
"apa Raka tau kamu sakit perut sayang? ". tanya Shindy
"tidak mi.. Raka tau sendiri tekan-tekan perut Raya ehh Raya mengaduh sakit dia bilang disitu gangguan pencernaan, dia punya banyak obat di lemarinya Mi.. Pi.. udah kayak Apotik aja tu lemari, Raya suruh minum terus dipaksa tidur padahal belum mandi, ngga bisa tidur dia mainkan harmonika untuk Raya sampai tertidur Mi.. pi, bangun-bangun Raya udah melihat bi Asih antarin bubur". curhat Raya dengan fasih nya.
Dylan berdecak, bukan karna marah tapi tak mengira dirinya bisa kalah dari Raka, menantunya itu bisa tau Raya sakit perut selama ini Dylan tidak pernah tau putrinya pernah sakit perut.
"terimakasih nak..! ". Shindy menggenggam tangan Raka.
"buat apa mami berterimakasih? mami udah berikan putri mami yang berharga untuk Raka. Raka akan menjaganya dengan baik terimakasih untuk Mami sudah melahirkan putri begitu cantik dan baik seperti Raya". balas Raka tersenyum lebar.
Shindy berkaca-kaca haru lalu memeluk Raka yang tertegun sejenak, pria kekurangan kasih sayang ibu itu langsung membalas pelukan Shindy dan menahan tangis di pelukan Shindy.
"apa aku punya mama? tidak.. tidak.. mama ku tidak ada.. entah dimana dia". batin Raka
Dylan menepuk bahu Raka, ia tidak bisa memungkiri fakta bahwa dirinya tidak salah memilih pria untuk putrinya.
.
__ADS_1
.
"kamu makin berisi sayang? pipimu makin tembem aja". goda Shindy menusuk-nusuk pipi Raya yang semakin berisi.
"ini karna bi Asih Mi, sama koki-koki nya. mereka buatin Raya makanan enak jadi Raya makan terus bahkan saat kerja pun di kasih makanan". curhat Raya menekan-nekan pipinya.
"kemana Raka mi sama Papi?". tanya Raya celingukan
"entah..! mungkin ada yang mau dibicarakan". jawab Shindy tidak terlalu memikirkan pembicaraan Raka dengan Dylan.
.
.
"jadi hari minggu kamu mau ke pelabuhan tetangga? ". tanya Dylan
"iya pi.. Raka mau nitip Raya beberapa hari sama Papi, Raka akan kembali untuk menjemputnya". jawab Raka
"kenapa tidak bawa Raya? dia istrimu bawa dia untuk kalian berbulan madu apa salahnya? disana juga bagus kan? ". tanya Dylan
"memang bagus pi, tapi Raka tidak mau menempatkan Raya dalam bahaya". jawab Raka
"dalam bahaya? apa kamu dalam misi bunuh diri? ". tanya Dylan menebak.
Raka tidak menjawab,
"jawab...! ". titah Dylan.
"misi bunuh diri tidak juga Pi..! Raka hanya ingin mengakhiri jual beli senjata ilegal hari itu juga, para polisi luar negeri sudah menyadari itu sebabnya perang diantara kami tidak bisa dicegah".
"apa ada penghianat diantara kalian? ". tanya Dylan
"pembeli setia kami memberi bocoran pada mereka, Raka tau saat kita berada di negara D, Pelabuhan kami pasti melewati pelabuhan kecil mereka".
Dylan menarik nafas berat, "sama saja.. kau masuk ke misi bunuh diri, polisi negara D sangat hebat kau harus berhati-hati mereka lihai dalam senjata api dan taekwondo".
"Raka tau Pi.. itu sebabnya Raka sendiri yang akan memimpin kapal, jika Raka menyuruh bawahan Raka, mereka sudah pasti akan mati ditangan polisi sana". jawab Raka
"baiklah..! tapi berjanjilah kamu Raka akan kembali dengan selamat..! Raya menunggumu ". balas Dylan menepuk bahu Raka.
Raka tersenyum tipis dan Dylan memeluk Raka dengan bangga.
"kau bayi macan yang kami latih sudah dewasa rupanya". ejek Dylan menepuk-nepuk punggung Raka dengan kuat
Raka terkekeh pelan, Pasha dan Dylan mengejeknya bayi macan saat pelatihan di negara D.
.
.
.
__ADS_1