
.
.
Raya merentangkan tangannya telah kembali ke negara kelahirannya.
Raka merangkul pinggang Raya dan mengecup pelipisnya,
"issh abang kenapa cium-cium sih.. di depan umum loh". gerutu Raya
Raka menggeleng kepalanya, "bahkan aku bisa menciummu saat ini". kata Raka hendak mencium Raya.
Raya mendorong dada bidang suaminya yang tertawa lebar,
"dasar cabul besar". umpat Raya.
"ya.. aku memang cabul saat bersamamu". dengan tak tau malunya Raka menarik pinggang Raya mencium bibir Raya yang melotot seketika.
"abang..! ". protes Raya dengan tatapan galaknya
Raya melihat kiri-kanan seketika saat penumpang pesawat tampak gemas dan malu sendiri melihat Raya dan Raka, Raya segera menubrukkan wajahnya yang merah malu di belahan dada bidang suaminya.
"malunya.. " racau Raya
Raka tertawa mengusap sayang kepala Raya, ia membawa Raya berjalan sambil memeluknya.
.
"abang kita ke mansion melviano ya?". pinta Raya
"ngapain sayang? ". tanya Raka
"aku mau ambil gaun". jawab Raya
"apa aku tidak bisa membelikanmu gaun sayang? aku bisa membelikannya untukmu". Raka menggenggam tangan Raya.
"abang.. ada gaun yang abang belikan untukku, itu aja yang mau aku bawa". jawab Raya menggenggam balik tangan suaminya.
Raka tersenyum lalu mengecup punggung tangan Raya.
mereka menaiki taksi, supir taksi pun curi-curi pandang menatap pasangan fenomenal itu.
setibanya di Mansion Melviano.
"mami..? Papi...? ". teriak Raya seperti anak kecil saja.
Dylan dan Shindy yang kebetulan sedang diruang tamu pun bangkit seketika dengan raut wajah bingung, sumpah demi apapun mereka tidak pernah mendengar suara Raya yang begitu gembira memanggil mereka seperti itu.
"Raya sayang? ". Shindy
"mami..? ". Raya berlari ke ruang tamu dan memeluk Shindy yang kebingungan seketika.
Raka tersenyum, ia juga mendekat ke mertua nya dan menyalaminya seperti biasa.
"kenapa Raya Raka? kamu apa kan dia? ". tanya Dylan mengelus kepala Raya yang bertingkah seperti anak kecil.
"tidak ada Pi.. Raka hanya membawanya tour di pulau Lokrum". jawab Raka dengan jujur sambil tersenyum memperhatikan raut wajah Raya yang bersinar seperti sedang bahagia.
Dylan yang tadinya bengong mendengar curahan hati Raya segera menggeleng kepalanya dan menarik lengan Raka pergi menuju lift membawa Raka ke Ruangan kerjanya.
__ADS_1
"Papi tidak pernah melihat sisi Raya yang seperti tadi." Dylan menepuk pundak Raka.
Raka mengusap tengkuknya sambil cengir malu,
"terimakasih..! tetaplah seperti itu, buat dia bahagia selama ini dia selalu menunjukkan sifat datar dan dinginnya saja tapi sejak bersamamu Raya bisa bertingkah berbeda". Dylan
Raka tersenyum tulus, "Raka tidak akan membuat Papi menyesal telah memberikan Raya pada Raka, terimakasih Papi telah membesarkan nya menjadi gadis datar yang suka menolong yang lemah".
"apa kamu salah satunya? ". ejek Dylan
"benar pi". jawab Raka
Dylan terkejut mendengarnya, "jadi benar? Raya pernah menolongmu? itu sebabnya kamu mengikutinya sampai kuliah? ".
Raka nyengir kuda, "iya pi".
"dasar Stalker". umpat Dylan lalu memandang Raka yang tertawa malu seperti anak ABG yang baru jatuh cinta saja.
.
Raya masuk ke kamarnya dan kaget melihat Alya bersama Alice tengah sibuk mencari gaun di lemari baju nya.
"kakak? ". Kaget Alya lalu cengir kuda.
"kalian sedang apa?". tanya Raya berkacak pinggang.
"kakak.. Alya mau bawa Alice ke pesta ulang teman Alya dan baju Alya udah pernah di pake semua, cuma baju kakak yang masih baru bahkan bandrolnya belum di lepas". jelas Alya
Raya menghela nafas panjang lalu melihat Alice.
"aaaa.. kenapa Alice disini? apa mami sama papi udah tau? ". tanya Raya
Raya tersenyum manis, "kenapa menyebutku kakak beruntung? ".
"kakak beruntung memiliki belahan jiwa seperti Kakak Raka.. dia sangat mencintai kakak bahkan raut wajah kakak lebih bersinar sebelum pergi berbulan madu". jawab Alice.
"sudah.. sudah.. kakak cuma ambil satu gaun saja". Raya menggeleng kepalanya lalu melewati mereka berdua dan membuka satu lemari Raya lalu mengambil gaun yang pernah Raka belikan untuknya saat pesta dansa.
"boleh pinjam baju kakak? ". tanya Alice menunjuk satu gaun yang paling Alice suka
"ambil aja". jawab Raya mengusap kepala Alice yang menyeringai lebar seperti anak kecil yang bahagia diberi hadiah.
Raya pun meninggalkan Alice dan Alya.
"Alice suka gaun ini? ". tanya Alya dibalas anggukan cepat oleh Alice.
.
"Aah..!!". Raya menghempaskan tubuhnya ke ranjang saat telah kembali ke kamarnya di mansion Mahawira.
"kenapa sayang? apa kamu lelah?". tanya Raka melepaskan jaketnya dan mengangkat kaki Raya meletakkannya di pangkuannya.
"iya.. pegal jalan-jalan pake heels". jawab Raya apa adanya.
"kenapa pake heels coba? kan aku udah bilang dari awal tidak usah pakai heels tapi istriku ini sulit sekali dibilangin". Raka mengomel sambil memijit pergelangan kaki sang istri.
Raya tersenyum lebar saat Raka merawatnya dengan baik, Raka memperlakukannya seperti tuan Putri.
"istirahat sayang..! besok pagi-pagi kita ke Lombok". ucap Raka.
__ADS_1
Raya mengangguk sambil mengambil bantal guling dan memeluk nya dengan erat. Raka tersenyum tapi tangannya masih sibuk memijit kaki Raya, memperlakukan Raya seperti princess sudah seperti kebahagiaan tersendiri baginya.
.
Raka menyelimuti Raya lalu mengecup sayang pelipis Raya.
"Good Night baby..! ". bisik Raka
Raka keluar dari kamarnya dan melangkahkan kakinya ke ruangan kerja nya dimana Jon, Rio dan Boy menunggu nya disana.
"selamat datang tuan master..! ". ucap ketiga nya serentak.
"hmm..! bagaimana? ada masalah? ". tanya Raka duduk di kursi kebesarannya.
"semua aman terkendali tuan.. tapi saya curiga dengan tuan Robert yang menarik bawahannya menjauh dari kami semua". lapor Jon
"hmm.. aku sudah tau rencananya". jawab Raka dengan tenang.
"maksud tuan? apa tuan Robert akan memisahkan tuan dengan nona?". tanya Jon
"hmm! dendam nya itu masih ada Jon..! aku tau itu". Raka tertawa diakhir mengingat masa nya dahulu bersama Robert.
mereka teman baik tapi harus jadi bermusuhan hanya karna seorang wanita yang saat ini menghilang entah kemana, sampai detik ini tidak terlihat wujudnya.
"bagaimana dengan ayah tiriku? ". tanya Raka ke Rio.
"awalnya saya hanya membuatnya gila tuan tapi kemalangan menimpanya hingga meninggal di lokasi kejadian". jawab Rio.
"uuh.. ya sudahlah, mau bagaimana lagi". Raka terlihat biasa saja, tidak marah mainannya mati sebelum Raka puas menyiksanya.
"Boy..? ". panggil Raka
"saya tuan". sahut Boy.
"apa Morett kembali ke negaranya? ". tanya Raka.
"iya tuan..! sepertinya Nona Morett benar-benar keluar dari dunia Mafia, dia hidup sendiri membuka toko kue dinegara sana". jawab Boy.
"Satria hebat sekali bisa merubahnya". gumam Raka mengagumi Satria.
"benar tuan..! tuan muda 1 Melviano sangat terkenal pandai bernegoisasi bisa merubah lawan jadi kawan". sambung Rio.
"saya merasa Nona Morett menaruh hati pada tuan muda 1, tuan". sambung Boy lagi.
"tidak apa..! hanya wanita bodoh saja yang tidak jatuh cinta pada pria sehebat dirinya, beruntung dia saudara kembar istriku jika dia Rivalku sudah pasti Raya memilihnya". gumam Raka tertawa kecil membayangkan sosok seperti Satria menjadi Rival Cintanya.
ketiga orang setia Raka hanya diam, mereka saja mengagumi tuan muda Melviano itu apalagi orang lain bahkan master mereka saja mengagumi Satria apalagi mereka yang hanya orang biasa dibanding Raka.
.
.
.
wah.. wah.. selamat beraktifitas..!!
.
.
__ADS_1