
.
.
para pelayan di dapur restaurant
"mimpi apa aku semalam dapat melihat tuan Raka bersama Nona Raya? ".
"aku tadinya lelah karna dapat shift malam tapi melihat mereka berdua rasa lelahku lari entah kemana? ".
"ya Tuhan...! mereka sangat menakjubkan di lihat secara langsung".
"mereka mempesona dengan karisma yang bersinar terang seperti bintang di langit". ujar yang lain begitu dramatis.
"Nona Raya sangat cantik pantas saja di juluki dewi kota disana".
"huuuf...! mereka bulan madu atau jalan-jalan ya? ".
"entahlah..!"
"sudah jangan bergosip lagi, nanti kita ketahuan manager dan di pecat karna membuat tamu istimewa kita menunggu terlalu lama".
"masaknya yang benar! buat yang enak".
para pelayan terus bergosip di dapur sedangkan Raya di Rooftop malah menatap keindahan alam di sekitarnya, banyak pohon dan gemerlap lampu di bawah sana tidak seperti di kota nya lebih banyak rumah atau gedung dan lainnya.
"kenapa? kau tidak suka karna tempat ini sepi? ". tanya Raka
"bukan..! aku kagum aja, sebelumnya aku tidak tau negara kita punya tempat seindah ini". jawab Raya tanpa melihat ke arah Raka.
"ya iyalah, kau tidak mencari tau hanya pergi ke Vila pantai saja". ledek Raka
Raya mendengus,
"bukankah beberapa hari lagi kalian akan ke Kota Y untuk peresmian Mall dan tempat liburan yang akan di dibangun?". tanya Raka
"lalu? ". Raya beralih ke Raka
Raka tersenyum tipis hingga Raya menyadari sesuatu.
"apa disana juga ada pemandangan indah seperti di danau mu itu? ". tanya Raya
"tidak seindah punya ku tapi cukup untukmu yang suka ketenangan". jawab Raka
Raya menebarkan senyumnya, "kau mau ikut aku? ".
"hmm? ". Raka menaikkan sebelah alisnya seolah tak mengerti padahal hatinya tidak malah jingkrak-jingkrak.
"aku tidak tau menau keindahan Kota Y, jika kau sering kesana maka kau harus ikut dan bawa aku ke tempat tenang". pinta Raya
"huh...! saya sangat sibuk Nona". balas Raka menundukkan kepalanya hingga Raya menepuk kepala Raka yang tertawa seketika.
"dasar pelit..! sama teman aja perhitungan". kesal Raya
__ADS_1
"kalau begitu ikut aku ke Negara M". pinta Raka menawar.
"ha? ngapain kesana? ". tanya Raya
"undangan istimewa". jawab Raka
Raya mengerutkan keningnya, "berapa hari? "
"hmm.. 1 minggu". jawab Raka
"baiklah..! tapi kau harus ikut aku ke Kota Y, aku memang tidak akan kesasar disana tapi tempat tujuan yang kau beri tau itu aku tidak tau".
Raka menebarkan senyumnya sedangkan Raya kembali melihat pemandangan diatas dan Raka melihat ke atas dimana banyak bintang disana.
Raya menoleh ke Raka yang tengah menatap bintang membuatnya penasaran.
"kenapa kau suka melihat bintang? ". tanya Raya
Raka tersenyum tipis, "aku seperti melihat papaku disana".
"oh.. !" Raya akhirnya mengerti sebab ia tau papa Raka meninggal karna menyelamatkan Raka.
"aku penasaran siapa ibu kandungku, aku tidak sempat bertanya siapa ibuku pada papaku, jika saja waktu bisa di putar aku akan banyak bicara padanya". lirih Raka
Raya kembali menatap Raka, sudah biasa baginya melihat sisi rapuh Raka, walau mereka sering berdebat tapi Raya tidak pernah mengejek hal yang akan membuat Raka tersinggung seperti membahas keluarganya Raka.
"kau sudah cari tau? ". tanya Raya
"belum..! aku sudah meminta rekanku mencarinya tapi tidak bisa karna buktinya seolah sengaja di hapus". jawab Raka
"siapa lagi kalau bukan ibu tiriku? ". sinis Raka teringat ibu nya yang ia kira adalah ibu kandungnya namun setelah Papanya meninggal Raka di buang dan dikatakan anak pembawa sial.
walau ibunya itu tidak mengatakan apapun tapi itu sudah membuktikan Raka bukan anaknya, ibu mana yang sanggup membuang darah dagingnya sendiri setelah mengandung dan melahirkannya ke dunia.
jika ibu kandungnya membencinya seharusnya sejak di dalam kandungan sudah di bunuh kan?
"aku mencekik perusahaan mereka". gumam Raka pelan
Raya melebarkan matanya, "hanya mencekik saja? kenapa tidak di jatuhkan langsung? ".
Raka tersenyum. "aku sengaja membuat mereka jatuh bangkrut secara perlahan dan pada akhirnya mereka sendiri yang akan terjun bebas ke jurang kemiskinan dengan menjual rumah Smith".
Raya menghela nafas mendengarnya, "terkadang aku bertanya-tanya apa kau memang seorang bos Mafia".
"kenapa?". tanya Raka
"kau masih amatiran dalam balas dendam". ketus Raya membuat Raka terkekeh kecil.
"membunuh mereka terlalu mudah bagiku! sama sekali tidak asik". jelas Raka dengan entengnya.
Raya menyunggingkan senyum manisnya hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas oleh Raka yang kebetulan menoleh ke Raya.
"apa kau kucing bermain-main dengan cicak hingga jadi bangkai terus ditinggalkan begitu? ". ejek Raya
__ADS_1
Raka tentu terpana dengan senyum Raya yang makin lebar hingga kedua matanya menyipit.
"makanan sudah tiba Nona tuan..! ". selah Dita dengan datar sejak tadi jadi Nyamuk diantara mereka.
Raka tersadar saat Raya bangkit dan berjalan ke arah meja.
"kenapa lama sekali? ". gerutu Raya yang memang sudah lapar tidak makan normal sebelumnya hanya buah saja untuk mengganjal rasa lapar.
"Nona pesan semua tentu saja lama". jawab Dita dengan kesal
Raya menoleh ke Dita yang tampak kesal hingga Raya tertawa mencubit pipi Dita.
"kasihannya tembok manisku satu ini". ejek Raya dengan gemasnya.
makan malam pun selesai walau Raya dan Dita sempat berdebat karna Dita sedang kesal pada Nona nya itu.
.
.
"dasar kucing.! habis makan langsung tidur". Raya terkekeh pelan melihat Dita tertidur pulas di belakang
"tidurlah! ". Raka juga mengusap kepala Raya
Raya seolah tidak marah, entah apa yang salah dengannya sedangkan Raka benar-benar senang menghabiskan waktu akhir-akhir ini bersama Raya. sepertinya Raka tau Raya sudah nyaman dengannya walau sebagai teman saja tidak lebih kalau ingin lebih ya harus menunggu lagi.
benar kata orang banyak! hati perempuan itu lembut seperti permen kapas, sangat mudah mengambil hati perempuan walau butuh waktu untuk melelehkannya.
"bagaimana denganmu? ". tanya Raya
"aku tidak apa! lagian aku sudah puas tidur tadi". jawab Raka tersenyum kecil.
Raya pun mengangguk sambil memejamkan matanya melihat ke arah Raka.
.
.
Raka tiba di mansionnya sekitar jam 2 pagi
Raka di sambut oleh orang setianya yang tengah berjaga, mereka menunduk sopan pada Raka yang tengah menggendong Raya sedangkan Dita sempoyongan berjalan dibelakang Raka sambil menguap lebar.
Raka membawa Raya ke kamar khusus dan menyelimuti Raya dengan hati-hati. betapa nyenyaknya tidur Raya digendong Raka pun tidak terusik sedikitpun.
bruk...!
Raka berbalik melihat Dita yang tidur di sofa dengan tak elit, Raka mengabaikan saja Dita yang seperti itu yang penting Raya tidurnya bagus mana peduli dia yang lain dari Raya.
"kamu cantik sekali Raya". batin Raka menarik selimut di ranjang Raya sampai menutupi leher Raya persis seperti bayi saja.
Raka keluar dari kamar itu dan ada Rio di luar kamar menunggu Raka.
"ikut aku !! ". Raka tau Rio ingin mengatakan sesuatu jadi membawa Rio pergi dari depan kamar Raya
__ADS_1
.
.