
.
.
Raka melepaskan pangut*n bibirnya, "aku juga mencintaimu sayang". ucap Raka dengan suara pelan nan seksi.
Raya menatap mata Raka sambil tersenyum lebar, "kalau begitu mari kita bina rumah tangga yang sebenarnya, kita mulai menghadapi masalah bersama".
Raka memeluk Raya dengan erat, "menghadapi masalah berdua memang sangat bagus sayang tapi masalah aku berbeda, tapi ya sudahlah semua sudah terlanjur aku harap kamu akan baik-baik saja, aku sendiri yang akan menjaminnya".
Raya menggeleng kepalanya, "aku tidak mau menjadi kelemahanmu bang, akan aku buktikan pada mereka siapa lawan mereka sesungguhnya".
Raka tidak menjawab hanya memeluk Raya makin erat, ia benar-benar tidak ingin terjadi sesuatu dengan Raya tapi juga tidak bisa mencegah keras kepala Raya.
perjalanan menuju pelabuhan negara C memang memakan waktu cukup lama walau sudah lewat jalan pintas, langit sudah mulai gelap dan suasana makin menyeramkan di luar sana tapi tidak bagi pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.
Raka dan Raya tidak melakukan hubungan suami istri karna Raka masih menahan diri, Raka tidak mau melakukannya terburu-buru, ia masih menikmati masa pacarannya dengan Raya.
di kamar lain Jon tidak menanggapi omelan dan gerutuan Dita.
"hei.. bisa bicara nggak sih? aku capek dari tadi ngomong koar-koar kau nya tidak bersuara sama sekali.. apa kau tuli hah? ". amuk Dita
"diam bisa..? kepalaku berdenyut mendengarmu menyanyi". ketus Jon membuat kedua mata Dita ingin keluar dari sarangnya.
"apa...?? nyanyi? sejak kapan aku bernyanyi hah? ". bentak Dita
"loh bukan nyanyi? terus tadi apa? ". tanya Jon dengan sindiran halusnya yang sudah pasti membuat Dita benar-benar ingin mencekik Jon sampai kehabisan nafas.
"kenapa kau tidak tidur diluar saja? suaraku sudah mau habis marah-marah dan apa kau bilang? aku bernyanyi? haha... aku ingin sekali membunuhmu". geram Dita dengan tangan terkepal di udara seolah sedang mencekik Jon sampai mampus.
"siapa yang menyuruhmu marah-marah? aku anggap tadi nyanyian jelek, kau tidak cocok jadi penyanyi". ejek Jon
"sialan kau...! ". Dita berlari ke arah Jon yang dengan santainya mengelak.
Dita dan Jon asik dengan dunia perkelahian mereka, tidak ada akurnya walau 1 jam sungguh mulut badas Dita dan ejekan Jon tanpa hati benar tidak bisa di kondisikan, Dita sampai lelah sendiri melawan Jon yang sama sekali tidak mau mengalah hingga perkelahian mereka tidak ada ujungnya karna sama-sama keras kepala tidak mau kalah.
"kenapa sih? apa mereka tidak bisa akur? ". tanya Raya melirik ke arah pintu kamar mereka.
Raka pun tau suara perkelahian Dita dan Jon, "biarkan saja sayang..! mereka akan tau cara menjaga nantinya".
"kapan kita sampai di negara D? aku mau menginap di hotel dalam airnya". tanya Raya berbinar seketika melupakan cerita Dita dan Jon yang sedang asik dengan dunia perang nya.
"sepulang dari mengantar persenjataan kita ya? aku takut akan ada Razia besar-besaran di pelabuhan mereka". bujuk Raka.
__ADS_1
"memang kita tidak melewati pelabuhan besar mereka? ". tanya Raya penasaran.
"tidak..! kita melewati jalan kecil belakang hutan, aku bisa tebak disanalah mereka akan menghadang jalan kita". jelas Raka.
"bagaimana mereka bisa tau detail keberangkatan kalian? ". tanya Raya penasaran.
"Morett, dia yang membocorkannya karna senjatanya ada di situ". jawab Raka dengan dingin.
"apa..? jadi kalau pembeli yang memiliki senjatanya di sana akan dapat kabar begitu? ". tanya Raya memastikan.
"iya". jawab Raka
"kok bisa? omong kosong dari mana itu? bukankah barangnya ilegal? kenapa bisa memberi kabar? ". cecar Raya tidak mengerti.
"kesalahanku kepada pelangganku, mereka tidak sabar ingin senjata mereka datang jadi semua sudah terkonfirmasi dengan pemiliknya saat senjata itu dalam perjalanan". jelas Raka dengan helaan nafas panjangnya.
"astagah...! canggih sekali ya? apa baru kali ini ada yang berkhianat diantara kalian semua? ". tanya Raya
"hmm.. Aku akan membunuh Morett dengan kedua tanganku sendiri". geram Raka dengan penuh dendam.
"kenapa? kenapa abang mengotori tangan abang membunuhnya? ". tanya Raya penasaran.
"aku paling tidak suka hal pribadi disangkut pautkan dengan hal pekerjaan sayang, orang itu patut di hanguskan dari muka bumi ini...ck.. sama sekali tidak profesional". decak Raka
Raya paling anti namanya penghianat dan korupsi, jika ada salah satu bawahannya melanggar hal yang paling anti baginya maka nyawalah taruhannya.
.
.
kini sudah tiba di dekat hutan belakang negara D, benar yang Raka pikirkan, mereka semua telah berkumpul dengan cara memanjat pohon bersiap melompat ke kapal Raka.
tempat itu seperti sungai karna Raka memang lewat jalan pintas, pergi ke negara C memang harus melewati negara D tidak lewat pelabuhan besar maka harus melewati hutan belakangnya.
byur....!
kretak...
Raya sudah memakai baju tertutup serba hitam memakai cadar berwarna hitam juga, hanya mata biru Raya yang tajam bersiap berperang.
"sayang? ". cegah Raka.
Raya mengangguk, Raka pun keluar dari kamarnya seorang diri.
__ADS_1
"tuan? ". Jon pun keluar kamar bersama Dita.
"kalian berdua memang tidak bisa bersatu tapi kali ini aku mohon lindungi istriku.. ! bekerja sama melindunginya saat ini adalah tugas kalian berdua". ujar Raka serius tanpa melihat Jon.
Jon dan Dita saling pandang, mereka dengan cepat masuk ke kamar Raya yang sedang memasukkan senjata api di setiap kantong yang ada di tubuhnya.
Jon menganga melihat senapan besar yang kini keluar dari koper Raya, ia sangat tau senapan itu sangat mematikan dan diciptakan hanya 1 di dunia tak disangka Jon akan melihat senapan canggih itu di tangan Raya.
"ternyata Nona suka barang limited nya benda seperti ini? ". batin Jon menelan ludah.
setau Jon perempuan suka barang limited berupa emas, berlian dan banyak hal lainnya tak disangka selera Raya unik apalagi senapan itu hanya 1 didunia harganya pasti selangit membayangkan nominalnya membuat Jon pusing sendiri, alhasil Jon tidak mau memikirkan berapa harga senjata limited itu.
"kalian harus mengikuti rencanaku". ujar Raya dengan serius berwajah datar.
"baik Nona". jawab mereka berdua serentak.
.
cetar...!
brug..
Raka melawan 3 pria sekaligus, kecepatan Raka benar-benar sebanding dengan mereka yang juga cepat menyerang.
"kau tidak akan bisa lewat". sinis salah satu dari mereka dalam bahasa inggris.
"jika aku sudah berkata tidak ada yang bisa mencegahnya termasuk kalian? ". Raka berkata dengan santainya.
"serang...! ". titah pria lainnya
Raka hanya menyerang titik vital lawannya, cukup ilmu yang Raka pelajari dari Pasha dan Dylan saat menjatuhkan lawan dengan cepat yaitu menyerang kelemahannya.
tak berapa lama 10 pria meloncat ke kapal Raka dan kini berada tepat di belakang ketiga pria tadi.
"kau hanya datang untuk bunuh diri". sinis pria yang lainnya dengan lantang.
Raka mengeluarkan senjata apinya dan menembak mati beberapa orang, tak mau kalah mereka juga menembak ke arah Raka yang dengan cepat melompat dan bersembunyi di tempat aman.
.
.
.
__ADS_1