
.
.
selama beberapa minggu tidak ada masalah diantara nya selain teror bunga dari orang misterius.
Raya berada di Rumah Sakit memeriksa kandungan bersama Dita yang sudah sembuh total.
"apa Nona tidak mau pergi bersama Tuan saja? ". tanya Dita
"issh.. Dita..! abang itu terlalu memanjakanku seolah aku ini seorang anak kecil, aku tidak mau merepotkannya lagi kasihan abang sayangku tidak tidur berhari-hari karna sering meninggalkan pekerjaannya". Raya
Dita manggut-manggut mengerti tanpa bertanya lagi, Raka memang selalu meluangkan waktu dengan Raya hingga tidak peduli pekerjaannya, sekali dapat pekerjaan begitulah akhirnya, Raka akan lembur berhari-hari.
Raya tidak selemah itu hingga ke dokter pun harus di temani, itu sebabnya Raya izin membawa Dita saja supaya Raka lega dan tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Dita langsung tunjuk tangan saat nama Raya di panggil, Raya tidak mau menggunakan koneksinya untuk cepat diperiksa, Raya lebih suka menggunakan cara pasien normal saja.
.
"bagaimana dok? ". tanya Raya serius.
"sepertinya bayi anda ada 3 Nona". jawab dokter Anita tersenyum lebar.
Raya dan Dita ternganga,
"3?". beo Raya dan Dita tak percaya.
"iya Nona..! sepertinya Tuhan tidak memberi anda hamil dengan cepat karna ini kan? sekarang saat anda sekali hamil langsung dapat 3 anak sekaligus". Dr. Anita
"bisa cetakkan hasil USG nya dok..! saya ingin beritau suami saya". pinta Raya tersenyum lebar mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit
"baik Nona". jawab dr. Anita
Dita memperhatikan layar USG dengan seksama, "kok bisa langsung 3 ya? ". gumam Dita heran menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Raya melirik Dita sekilas, "tidak tau saja bagaimana kelakuan abang Raka saat diatas ranjang, syukur saja 3 kalau jumlahnya sebanyak abang melakukannya bisa mampus aku". Batin Raya membayangkan anaknya sebanyak Raka menid*rinya.
Raya menggeleng-geleng kepalanya yang mulai berpikiran aneh,
.
di Mobil.
Raya memperhatikan foto USG anaknya yang benar-benar ada 3 di dalam perutnya.
"semoga saja ada anak laki-laki". batin Raya menahan tawa mengingat sang suami yang ingin punya anak 5 dan jenis kelaminnya harus perempuan semua.
__ADS_1
"Nona..! ". pekik Dita menahan tubuh Raya supaya tidak terhuyung ke depan saat dirinya mengerem mendadak.
Raya terlihat tenang melihat ke arah depan,
"ada tawuran Nona". ucap Dita memperhatikan situasi didepannya dengan serius.
"apa perlu saya keluar Nona? ". tanya Dita
"tidak usah..! disini tidak ada sekolahan, kenapa ada manusia pakai seragam sekolah tawuran disini? ini tidak lucu Dita.. sudah pasti jebakan! ayo putar balik! ". Raya berkata dengan santai sambil memperhatikan pelajar tawuran itu.
Dita melebarkan matanya saat ada kapak melayang ke arah kaca mobilnya memang tidak pecah tapi cukup mengagetkan Dita juga, Mobil Raya didesain khusus anti peluru dan benda tajam.
"kamu lihatkan Dita? ayo mundur atau tabrak aja mereka semua". Raya dengan santainya memberi pilihan pada Dita.
"tapi kalau lewat jalan lain akan jauh Nona dan macet". Dita
"kalau begitu tabrak saja kerumunan itu". saran Raya
"tapi Nona? ".
"cepat! aku lelah mau cepat makan sup kepiting ku dan tidur cepat". potong Raya.
Dita menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan, Dita menekan gas nya.
"Nona pegangan! ". pinta Dita
Raya tidak boleh terluka atau sekedar terbentur, bisa berbahaya untuk janinnya.
Dita mengklakson kuat para pelajar itu yang serentak melarikan diri, mereka melempar senjata tajam apapun di tangan mereka ke mobil Raya.
mobil Raya tidak rusak sedikitpun,
"wooooiii". teriak pelajar itu melempar benda-benda tajam berusaha mengejar mobil Raya tapi kecepatan mobil yang dibawa Dita tidak bisa dikejar dengan kedua kaki mereka masing-masing.
seorang pria berpakaian jas formal memperhatikan mobil Raya yang begitu berani mencoba menabrak para pelajar itu.
" Tuan Nelan? ". sapa supir.
"aku akan beritau pada Tuan Besar kita". Nelan berkata
"baik Tuan". jawab supir langsung melajukan kendaraannya.
Nelan adalah mata-mata utusan si penguasa Dubai yang sengaja dikirim ke Indonesia.
Raya melirik mobil hitam di balik pohon, ia tau ada yang mengawasinya sejak tadi, itu sebabnya ia menantang Dita untuk menabrak saja kerumunan itu, Raya ingin membuat musuh suaminya berpikir untuk mencari masalah dengan Raya.
Raya juga bisa bertindak kejam tak akan menoleransi apapun yang menimpa dirinya, Raya juga kuat dan tidak pantas untuk di remehkan walaupun dirinya perempuan.
__ADS_1
"mengirim mata-mata rupa nya". batin Raya tersenyum miring.
Nelan melaporkan apapun berita yang ia dapatkan di Indonesia, tapi Nelan tidak tau ada penghuni lain di mansion Mahawira.
"Nona..? apa yang anda lihat? ". tanya Dita
"ada seekor kucing sedang mencoba memangsa singa betina". jawab Raya ketus.
Dita mengerutkan keningnya tidak mengerti tapi tidak bisa membahas sebab melihat wajah Raya terlihat tidak ingin di ganggu gugat.
Raya melirik ke arah kaca spion dimana mobil hitam tadi masih mengikutinya.
"ada apa dengan mobil dibelakang Nona? sepertinya mobil itu mengikuti kita". Dita
"ya..! kamu baru tau setelah mau sampai ke mansion". sindir Raya
"jadi mobil itu memang mengikuti kita Nona? ". tanya Dita tak percaya kelalaiannya hingga tidak sadar sedang di ikuti.
"iya". jawab Raya
"kurang ajar". Dita hendak menekan lampu sen hendak berhenti tapi Raya mencegahnya.
"tenang saja.. mobil mereka tidak anti peluru, aku akan tembak ban mobilnya, biarkan dia mendekat!". cegah Raya.
Dita mengangguk juga walau tidak senang, rasanya Dita ingin sekali menjambak-jambak kepala pelaku di dalam mobil dan melempar bubuk gatal ke tubuh pria itu, hanya itu saja pikiran Dita.
Raya menurunkan kaca mobilnya sedikit, saat tikungan Raya mengambil kesempatan itu menembak ban mobil yang mengikuti mobil Raya tadi.
Raya terus menembak hingga supirnya terkena luka tembak dan mobil kehilangan ke seimbangan, Raya menembak kepala supirnya hingga mobil dibelakang benar-benar kehilangan kendali dan meluruskan tikungan tajam lalu terjun bebas ke jurang menghantam pohon besar dibawahnya.
Raya menghembus ujung pistolnya, mobil itu langsung meledak.
Dita sampai melongoh tapi tetap fokus dengan jalanan sebab mereka benar-benar melewati tikungan tajam cukup panjang, jika Dita tidak fokus bisa saja tergelincir ke jurang dan melukai Nonanya.
"kecoa telah dibunuh! aku yakin pasti akan dapat kabar ke Lordnya Dubai". kekeh Raya
Raya ingin si Raja Kecoa keluar dari kandang persembunyiannya tidak bermain sembunyi-sembunyi dengan mengirimkan kecoa-kecoa kecil untuk melawannya dan Raka.
"Nona? jangan bermain pistol lagi, Tuan Master bisa marah". peringatan Dita
"pistol ini menyelamatkan anakku, aku tidak mau si Lord Dubai itu terus saja bersembunyi, anggap saja aku sedang balas dendam karna dia berani menipu aku dengan tontonan Sulap saat itu". jelas Raya menyimpan pistolnya dengan santai.
Dita tak bisa berkata-kata lagi
.
.
__ADS_1
.