
.
.
Tia melempar segala pot bunga yang ada didekatnya.
"dasar bodoh..! kenapa kalian tidak bisa berakting sedikit hah? kan aku sudah bayar supaya Kedua nyonya Melviano itu membenci Nia, tapi kalian malah memasang wajah bodoh disana". maki Tia dengan marahnya.
Tia melihat apa saja yang dilakukan Preman-preman pasar itu malah hendak melarikan diri dari Nia dan tidak diduga alasannya mereka pernah merampok Nia.
Nia yang ada bersama Shindy dan Kaira tentu membuat beberapa preman sudah jelas ketakutan, Mereka takut Nia akan meminta Kaira atau Shindy untuk membunuh mereka.
"ampun Nona..! kami minta bayaran kami". cicit si Ketua Preman
"apaaa..? bayaran kata kalian? rencana kalian gagal total masih berani minta bayaran denganku? dimana otak kalian? seharusnya kalian memuaskanku bukan malah membuatku makin marah bodoh...! " amuk Tia makin berapi-api
mereka sedang terluka disekujur tubuh masing-masing jadi tidak bisa melawan Tia hanya bisa meminta uang untuk biaya pengobatan mereka.
"kalau begitu aku akan datangi Nyonya tadi dan mengatakan siapa yang menyuruh kami". ucap si Ketua dengan berani
"sialan kalian..! kalian mengancamku ha? ". Tia melototkan matanya
"aku hanya minta bayaran, jika bukan karna perintahmu kami tidak akan mendatangi tempat itu dan bertemu dengan gadis itu, kami tidak akan babak belur seperti ini".
Tia menggeram marah dan tidak bisa berkata-kata karna Para Preman itu terlihat serius mengancamnya.
Tia melempar semua uang yang ia janjikan pada preman itu, dengan marah ia pergi meninggalkan semuanya.
"tidak berguna sama sekali". geram Tia
.
di tempat lain
Brayen menghabiskan waktunya di bar dalam keadaan mabuk ia masih melihat-lihat potret Nia di ponselnya.
"Nia..? kau benar-benar tidak bisa ditebak, kenapa kau tidak bisa memaafkanku? kenapa? apa salahku? dizaman sekarang mana ada Pria yang tidak memiliki hasrat, aku mencintaimu maka nya aku tidak pernah menyentuhmu". Brayen menggeleng-geleng kepalanya merasa kepalanya mulai pusing.
Brayen menyipitkan matanya, ia memperbesar potret Nia yang tidak terlihat olehnya karna pandangannya mulai buram.
Brayen tidak bisa melupakan Nia, Nia benar-benar seperti kupu-kupu menari di kepalanya bahkan saat mabuk pun Brayen tidak bisa melupakan Nia.
"aku akan merebutmu sayang..! yah.. aku akan cari Rivalnya... haha.. aku akan mendapatkanmu kembali". Brayen meracau lalu tumbang di meja nya.
__ADS_1
musik yang besar, lampu kerlap-kerlip, suasana yang begitu meriah dan bahagia, tidak seperti Brayen yang larut dalam kesedihannya.
semakin Brayen mencoba melupakan Nia semakin besar keinginannya untuk mendapatkan Nia kembali, gadis baik dan super perhatian seperti Nia tidak akan pernah Brayen temukan dimanapun.
Nia yang sangat mengerti kebutuhan Brayen walau bukan kebutuhan ****, Nia selalu mengingatkan Brayen makan siang bahkan rajin mengantarkannya setiap jam makan siang Brayen walau Nia sendiri sibuk bekerja, saat sakit hanya Nia yang ada disisinya hingga Nia harus bermasalah dengan pekerjaannya bahkan sampai dipecat, tapi Nia tidak pernah menyesal demi kesehatan Brayen saat itu.
"siapa pria ini? ". tanya seorang Pria yang tak sengaja melihat Brayen menjatuhkan ponselnya.
"Tuan Brayen, Tuan". jawab salah satu pelayan wanita yang bertugas menemani Brayen minum-minum sampai benar-benar mabuk seperti sekarang.
Pria berkulit sawo matang itu melihat layar ponsel Brayen dan matanya seketika berubah melihat wajah gadis sederhana yang beberapa hari ini mengusik pikirannya.
"apa hubungan gadis ini dengannya? ". tanya Pria asing itu dengan serius.
"tuan ini selalu menangis menatap foto itu Tuan, dia bilang akan mencari Rival untuk mendapatkan gadis itu". jelas wanita seksi itu malu-malu.
"Han..! " panggil Pria tampan berwajah bule itu dengan serius
"saya Tuan Red". sahut Han seorang Asisten Pria itu.
"gadis ini yang aku cari!". Pria bernama Redson itu memperlihatkan potret Nia ke Han.
"I.. ini? ". gumam Han dengan mata melebar
"kenapa? kau pernah bertemu dengannya? ". tanya Redson yang akrab dipanggil Red itu.
wajah Red menggelap seketika, "Arya? dia lagi? kenapa aku harus memperebutkan perempuan dengan Pria yang sama lagi".
Han terdiam tanpa berani berbicara, "siall.. kenapa Tuan Red harus bertemu dengan Tuan Arya lagi karna masalah perempuan, apa Racia tidak cukup? Racia mati karna kesalahannya sendiri, sekarang harus menghadapi Rival yang sama".
Han sangat tau betapa bencinya Red dengan Arya, mereka pernah terlibat cinta tapi saat itu Arya tidak pernah mengenal Han dan tidak mengenal Racia, Racia mengagumi Arya bahkan bisa dikatakan seorang Stalker nya Arya.
Racia terbunuh saat Arya mencoba menyelamatkan Satria di Kota kecil beberapa tahun yang lalu, Arya benar-benar tidak tau siapa Racia, terbunuhnya Racia tidak disengaja tapi Red sudah terlanjur membenci Arya.
"kau cari tau Han..! aku tidak akan mengalah saat ini, dia satu-satunya gadis yang membuatku tertarik setelah Racia, aku tidak butuh perempuan lain". Red
"Ya Tuhan.... Tuan.. Ku mohon tobatlah! Gadis ini bukan kekasih atau orang asing bagi Tuan Arya tapi ISTRInya, apa Tuan akan melawan Tuan Arya secara terang-terangan? ". batin Han memekik
"Han..! " Red memukul kepala Han
"aahh.. maaf Tuan.. saya mengerti..! " jawab Han cepat lalu meninggalkan Red yang berdecak.
"ISTRI? hah? aku tidak tau ikatan itu, asalkan dia menjadi milikku aku tidak peduli statusmu yang sedang beruntung lahir dikeluarga ternama itu". Red
__ADS_1
Red meletakkan ponsel Brayen lalu meninggalkan Brayen bersama wanita bayaran itu yang meninggal di tempat saat Brayen melempar cairan bening ke arah wanita itu berupa alat suntik dan tepat mengenai dada wanita itu.
"singkirkan wanita itu! ". titah Red saat keluar dari Ruangan Brayen
"baik Tuan! ". jawab kedua bodyguard Red.
dulu Red memang tidak berdaya dan tidak punya kekuasaan tapi sekarang ia sudah memiliki segalanya, itu sebabnya ia berani melawan Arya karna Red merasa kini dirinya sangat kuat.
.
Keesokan paginya Brayen memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
"sial.. kepalaku sakit sekali! ". Brayen memegang kepalanya tapi ada hal yang mengganjal baginya.
Brayen membuka matanya dan terbelalak melihat tangannya di borgol serta kakinya juga,
"d.. dimana ini? kenapa aku bisa ada disini? ". gumam Brayen dengan was-was
"kau sudah bangun..? ". Suara itu membuat Brayen menoleh
"siapa kau? ". tanya Brayen dengan penuh selidik.
"aku? Redson". jawab Red dengan sombongnya.
"Redson? maksudmu siapa? aku tidak mengenalmu kenapa kau mengikatku seperti tahanan? ". bentak Brayen dengan berani
"ck.. ribut sekali kau". decak Red
Brayen melebarkan matanya saat lampu tiba-tiba hidup dan wajah Red terlihat jelas olehnya.
"k.. kau? Red Mafia? Mafia terkenal itu? ". tebak Brayen
"oh.. kau mengenalku rupanya.. haha.. bagus-bagus". Brayen menyeringai tipis.
seketika Brayen makin waspada, ia tidak pernah merasa bersinggungan dengan Mafia berdarah itu, alasan Redson dipanggil Red karna sifatnya yang beringas, kejam dan tidak pernah mengasihani seseorang dan sering membunuh hingga tangannya itu selalu dicuci dengan dar*h dan itu sebabnya ia dijuluki si Red Mafia.
.
.
.
wah.. wah.. Nae suka.. hehe.. emang dasarnya suka Genre Mafia ya? jadi begini aja deh... wkwk.. gas terus walau lama di review.
__ADS_1
.
.