
.
.
Nia mengerutkan keningnya melihat pencuci mukanya sudah habis.
"bagaimana ini? artinya aku harus keluar". gumam Nia terlihat gelisah menatap dirinya di cermin.
"aku pembawa sial? benarkah aku pembawa sial?". lirih Nia
Nia menggeleng-geleng kepalanya pelan.
"tidak.. tidak.. jangan goyah Nia.. jangan.. nanti Tuan Muda marah padamu, dia tidak suka kelincinya sedih, dia suka kamu aktif dan meloncat-loncat seperti biasa". Nia mengoceh sendiri
alhasil Nia berbenah mengganti pakaiannya menjadi baju santai tidak seperti sebelumnya hanya memakai baju tidur.
"Nona mau kemana? ". tanya Ricis dengan serius juga penasaran melihat pakaian Nia.
"aku mau keluar beli perlengkapan mandi". jawab Nia
Ricis tertegun, ia sangat tau Nonanya sengaja mengurung diri di Apartemen ini hingga untuk pergi bekerja saja ia tidak mau.
Mayra memaklumi nya, sebab beberapa hari ini Keluarga Melviano juga ikut berduka karna kepergian kedua orangtua Nia, mereka menyesal tidak memaafkan Kedua orangtua Nia sebelumnya.
seharusnya Mereka menerima Keluarga Nia dengan baik walau Nia pernah diperlakukan tidak adil oleh Orangtuanya sendiri, memang kematian tidak ada yang bisa menebak.
"saya ikut Nona". Ricis
Nia membiarkan Ricis mengikutinya,
"Nona? ". panggil Ricis menahan pintu mobil Nia yang hendak masuk
"kenapa? ". tanya Nia dengan raut wajah bingung.
"saya bisa menyetir, biar saya yang bawa nona". jawab Ricis
"perbaiki dulu cara berbicaramu, aku tidak suka bahasa formalmu". ketus Nia melepaskan tangan Ricis
Ricis tidak punya pilihan lain, "Ok.. ok.. aku akan merubah kata-kata diantara kita, sekarang biarkan aku yang bawa mobilmu Nia". kata Ricis dengan sedikit tergagap bicara non formal dengan Nia
Nia tersenyum lebar, "gitu dong! silahkan Nona". sindir Nia memberi jalan dan memberi hormat.
Ricis menggeleng kepalanya, Akhir-akhir ini Nia memang sering mengomelinya karna tata bicaranya yang formal dan kaku hingga Nia tidak nyaman, tapi bagaimanapun Nia adalah atasan Ricis tentu ia tidak mau mendengarkan permintaan Nia.
Ricis membawa mobil Nia dengan kecepatan sedang menuju Mal MattGroup, Nia merangkul lengan Ricis layaknya bersaudara kandung.
"mau kemana Nia? ". tanya Ricis yang sudah akrab dengan Nia
"ke perlengkapan mandi, banyak yang harus aku beli". jawab Nia
.
__ADS_1
Ricis membawa Troly hingga Nia menganga
"untuk apa ini? ". tanya Nia
"supaya Kamu tidak capek, cepat bawa masuk! ". titah Ricis
Nia memasukkan semua belanjaan yang dipegang dengan kedua tangannya, Ricis dengan setia mengikuti Nia, sesekali Ricis tertawa kecil mendengar gerutuan Nia yang bilang lipstik mahal, bedak mahal, cuci muka mahal.
Nia harus perawatan karna Arya memperingatinya untuk merawat diri sendiri dan tidak membuat malu diri Arya, tentu Nia harus mendengarkannya.
"beginilah derita seorang istri penguasa, harus bisa menjaga penampilan". gerutu Nia membuat Ricis terkekeh pelan
Nia menyukai Arya tentu bukan karna hartanya tapi menjaga kehormatan Arya tentu harus dipatuhi oleh Nia.
apa kata orang-orang nanti jika melihat Nia tidak bisa merawat diri? nama baik Arya akan tercoreng karna tidak memberi Nia uang untuk merawat diri.
.
Tia melihat Nia di tempat yang sama, ia hendak membeli baju baru tapi tanpa di duga Tia melihat Nia di toko kosmetik.
"Nia...! ". bentak Tia
Nia membelalak kaget lalu memutar tubuhnya, Ricis menoleh cepat dan menautkan kedua alisnya.
Tia tanpa ragu menampar Nia dan menarik rambut Nia, Ricis spontan saja melepaskan Trolynya.
"lepaskan...! ". Ricis
Nia memegang lengan Tia yang menjambak rambutnya, beberapa orang mulai mengkerumuni Tia dan Nia.
plakkk..
Ricis menampar kuat pipi Tia dan menarik lengan Tia lalu mendorongnya ke orang-orang yang mengkerumuninya.
brakh..
"kamu tidak apa-apa Nia? ". tanya Ricis memegang bahu Nia dan mengusap wajah Nia dengan raut wajah pucat.
"tidak apa.. " Nia membenarkan rambutnya lalu berusaha untuk tersenyum.
"aku tidak menyangka dia berani berbuat gila seperti itu, aku akan laporkan dia pada Tuan Arya". Kata Ricis
"jangan Ricis..! jangan laporkan kakakku". pinta Nia memelas
"maaf Nia.. ini pekerjaanku, aku masih mau bekerja denganmu jangan halangi aku". Ricis berkata dengan nada serius membuat Nia tak bisa berkata-kata
Tia bangkit dan mendekati Ricis.
"siapa kau hah? berani sekali kau ikut campur". marah Tia dengan berapi-api sambil memegang sikunya yang berdarah
Ricis memotret wajah Tia lalu mengirimnya ke Arya dan melaporkan apa yang terjadi hari ini.
__ADS_1
"apa yang kau lakukan? " tanya Tia berteriak
"aku melaporkanmu pada Tuanku". jawab Ricis dengan serius.
"berani kau? ". Tia hendak menarik rambut Ricis tapi Ricis sudah menginjak kaki Tia terlebih dahulu.
Tia memekik kesakitan sedangkan Nia membekap mulutnya syok, ia tidak berani membantah Ricis karna takut Ricis mengadukannya para Arya hingga Arya membunuh Tia sesuai ancaman Arya pada Nia.
"aku ini seorang bodyguard dan sangat bisa mematahkan tangan orang, jadi jangan macam-macam dengan Nonaku jika kau masih ingin hidup orang gila". kecam Ricis
Tia berteriak memaki Nia,
"berani kalian merekam nya dan menyebarkannya ke media, maka jangan salahkan aku jika Tuanku menghancurkan kalian sampai tidak ada yang tersisa". ancam Ricis seolah mengeluarkan taringnya.
Nia juga ikut bergidik, ia memang penakut tapi mentalnya tidak sekuat Ricis yang bisa mengatakan kata-kata kejam pada orang lain.
.
Tia ditangkap polisi dan di penjarakan selama 1 bulan karna menyerang istri seorang Arya Mahardika Melviano,
"Niaaaaa.... " jerit Tia di balik jeruji besi
Arya menemui salah satu tahanan yang berada 1 jeruji besi dengan Tia.
"ad.. ada yang bisa saya bantu Tuan? ". tanya wanita berpakaian tahanan itu takut-takut pada Arya
"kau seorang penyalahgunaan nark*ba, aku bisa menjamin putrimu untuk tetap lanjut kuliah diluar negri tapi dengan syarat". kata Arya
"apa Tuan? ". tanya wanita itu berbinar seketika
raut wajahnya yang tadinya ketakutan kini malah terlihat bersemangat
"kau beri pelajaran pada tahanan yang baru masuk tadi, buat dia semenderita mungkin tapi jangan bunuh dia". jawab Arya dengan serius
"tahanan baru? nomor punggungnya berapa Tuan? ". tanya wanita itu makin bersemangat.
"72". jawab Arya
"baik Tuan, saya akan lakukan".
"hmm.. selama 1 bulan kedepan siksa dia, maka anakmu aku jamin sekolahnya sampai lulus". Arya
"baik Tuan.. terimakasih Tuan.. baik.. Tuan".
Arya bangkit lalu meninggalkan wanita itu tanpa berpamitan, bukannya marah wanita itu malah memekik kegirangan sambil menghapus air mata harunya.
soal buli membuli adalah kesenangannya terlebih lagi saat ini adalah pekerjaannya, tentu saja ia dengan senang hati melakukannya demi putrinya.
Keluarga Melviano tidak pernah main-main dengan janjinya, itu sebabnya wanita itu percaya kata-kata Arya.
.
__ADS_1
.