
.
.
bunyi otak-atik jemari Alvan membuat mata Jon ingin meloncat dari sarangnya.
"jadi benar Hacker hebat memang ada di keluarga Melviano? tapi apa dia Peretas nomor 1 yang belum terkalahkan? tidak mungkin tuan ini, Hacker misterius sudah lama sebelum Tuan muda ini ada di dunia ini". batin Jon mengingat umur Raya berarti Alvan belum ada dimasa itu.
Jon tentu tau kapan masa berjayanya hacker nomor 1 itu, tidak ada yang tau identitasnya sampai sekarang masih misterius.
"kamu seorang Hacker Alvan? ". tanya Raka
"iya bang.. kami berempat menguasai ilmu IT". jawab Alvan santai
"oh... sebentar bang.. dia berhasil mencuri data ini, apa ini penting? ". tanya Alvan menunjukkan sebuah proposal.
Raka sampai membeku melihatnya, Jon mengucek-ngucek matanya.
"tuan bisa tau data apa saja yang di curi lawan? ". tanya Jon tergagap.
"iya... Hacker ini payah tapi abang lebih payah, maka nya dia berhasil mendapatkan 1 ini". jelas Alvan tertawa kecil melihat wajah pucat Jon.
Alvan masih terlihat santai seolah dirinya kini memang sedang bermain-main, hanya Raka dan Jon yang terlihat tegang saat ini.
"apa penting bang? ". tanya Alvan.
"tidak.. yang ini tidak penting Alvan". jawan Raka serius setelah membaca semua proposal itu.
"Oke..! aman..! Alvan akan pasang data tipuan untuk mereka, tapi sebelum itu Alvan akan perlihatkan dalangnya". jelas Alvan
"hah? apa bisa? ". tanya Jon saling pandang dengan Raka.
mata Jon memutar sana-sini saat tangan Alvan dengan gesit memasukkan surel panjangnya seperti 1 halaman HVS.
"apa itu berasal dari otakmu? ". tanya Raka sampai pusing sendiri melihat surel sepanjang jalan tol itu di layar hitam komputernya.
"hmm.. gampang ini bang, belum lihat aja abang saat aku membobol data negara". ucap Alvan masih sempat terkekeh.
Jon terkejut dan menahan nafas saat tangan Alvan lepas satu mengambil sebuah permen karet dari saku bajunya,
"data negara? ". beo Raka tak percaya seorang pria muda seperti Alvan bisa membobol data rahasia negara.
"astagah..! apa dia memiliki tangan dewa? bagaimana tangan sebelah nya bisa bekerja lain padahal sedang memasukkan surel sepanjang itu ? ". batin Jon
Raka tak bersuara hanya menganga saja melihat Alvan masih terlihat santai bahkan kaki Alvan mulai naik, duduk bersila.
"ok.. Clear..? ". Alvan menekan tombol enter hingga sebuah tontonan menarik muncul.
Alvan seperti melakukan panggilan Vidio dengan pelaku tapi si pelaku tidak tau sedang di awasi lewat kamera Laptop.
"bagaimana bang? dia hanya menggunakan laptop jadi wajahnya terlihat jelas". tanya Alvan mengunyah permen karetnya melihat ke arah Raka.
"itu hackernya? ". tanya Jon terbelalak.
"ya..! dia Dwiven, Hacker ternama nomor 8 saat ini". jawab Alvan.
"Dwiven? jadi dia Dwiven? bagaimana kamu bisa tau Alvan? ". tanya Raka
"apa abang memang polos begitu ya? apa yang tidak di ketahui oleh kami bang? posisi 1 - 5 milik keluarga kami semua, kami bisa mendapatkan profil misterius tersembunyi di lubang semut sekalipun, apalagi hanya data pribadi Hacker juara 6-50 ". jelas Alvan dengan kekehan lebarnya.
glek...!
__ADS_1
"juara 1 -5 keluargamu semua? ". tanya Raka dibalas anggukan oleh Alvan.
"lihatlah dia terlihat bodoh mencoba mengambil data perusahaan abang". Alvan menunjuk wajah Dwiven.
"apa Daddy kalian seorang Hacker nomor 1 didunia? ". tanya Jon.
Alvan tertawa, "tidak..! tapi Mommy".
kaki Jon sampai lemas mendengarnya, ia tidak tau Hacker ternama nomor 1 didunia itu memang perempuan.
"m.. mommy? ". Raka seolah tak percaya seorang Hacker hebat melegenda itu memang seorang perempuan.
"diam dulu bang..! sepertinya yang memberi perintah berbicara dengannya". Alvan menekan sebuah kode hingga suara nya bertambah keras.
Raka, Jon mendengar pembicaraan seorang wanita dengan Dwiven.
"Owwh.. jadi si Maria pelakunya". kekeh Alvan dengan tenang seolah sudah tau Maria memang penghianat.
"Maria? dia Morret". tunjuk Jon.
Raka mengepalkan tangannya, "apa yang harus kami lakukan Alvan? ".
"abang urus saja dia dengan kehebatan abang, dia sudah disiksa oleh Dylan sampai kurus begitu. tidak ada tau dirinya sama sekali sampai sekarang masih bersikeras ingin jadi pengawal Alya". jelas Alvan dengan tenang.
Jon sampai berdecak kagum dengan kemampuan Alvan bisa mendapatkan pelakunya seperti melakukan panggilan Vidio, sungguh kehebatan nya Alvan di acungi 15 jempol bagi Jon.
"udah puas melihat pelakunya kan bang? ". tanya Alvan serius.
"iya.. terimakasih, apa semua akan baik-baik saja? ". tanya Raka mulai bisa menenangkan diri.
"menurut abang dia akan lolos? tidak akan Alvan biarkan.. abang lihat apa yang akan Alvan lakukan". tawa jahat Alvan hingga Jon mundur seketika sedangkan Raka mengerjab-ngerjabkan matanya melihat layar komputernya.
"clear...! ".
"kenapa itu? ". tanya Raka kebingungan.
"Laptop mereka hancur". jawab Alvan mematikan komputer Raka lalu menghidupkannya kembali.
"hancur? ". beo Raka dan Jon tidak mengerti.
"kebetulan Alvan memang sedang ingin menguji 1 kunci temuan Alvan yang bisa menghancurkan lawan, kalau Mommy dan Nola cuma bisa bikin gosong alias berasap". jelas Alvan dengan enteng melihat data-data Raka semuanya aman.
"aplikasi ini jangan di hapus bang..! tidak akan ada yang bisa membobol data perusahaan abang". Alvan menunjuk 1 aplikasi muncul di layar komputer Raka.
.
.
Jon menatap Alvan dengan takjub sedangkan Raka masih sibuk berbicara dengan Alvan.
"kenapa bang? kok jadi kaku gitu? ". tanya Alvan tertawa lebar.
"kemampuanmu berada di level dewa". puji Raka yang memang tidak pernah memuji kehebatan seseorang.
"hmm.. nggak sebanding dengan mommy bang.. Alvan belum bisa mengalahkan mommy". decak Alvan.
"hah? apa mommymu masih sehebat dulu? ". tanya Raka.
"tentu saja.. mommy suka makin komputer sejak umur 2 tahun". jawab Alvan.
.
__ADS_1
.
"woww...! ini persenjataan abang? ". tanya Alvan berdecak kagum saat Raka membawanya masuk ke ruangan senjata nya.
Raka tak mencurigai Alvan sama sekali, ia tau bagaimana setianya orang-orang Melviano apalagi saat ini mereka berkeluarga.
"pilih saja". Raka bersidakap dada tersenyum tipis melihat Alvan tertawa senang seperti anak kecil.
Raka tau berapa mahalnya ilmu IT Alvan yang bisa melindungi data perusahaannya, bahkan Alvan bisa menunjukkan pelakunya, bisa meledakkan laptop lawannya. itu sebabnya Raka memberikan 1 senjata apapun yang Alvan inginkan.
"i.. ini..! wwow.. ! ini senapan 1 M itu kan bang? apa ini asli? ". tanya Alvan memegang senapan panjang khusus untuk berburu.
"tidak ada KW bagiku Alvan, kamu mau itu? ". kekeh Raka.
"abang kasih ini? tentu saja aku sangat berterimakasih, aku kehabisan stok saat itu bang...! sialan mereka menipuku, aku menghabisi satu komplotan pelaku yang mengambil semua uangku, sebenarnya tidak masalah dengan uang 1 M itu bang, tapi senjatanya mana bisa aku relakan". oceh Alvan sambil mengeluarkan sapu tangannya mengelap senapan langka itu.
Raka tertawa, "baiklah..! bawa senjata itu ".
"wwooww...! makasih bang.. ". ucap Alvan gembira langsung berbalik dan melompat memeluk Raka.
Raka menepuk-nepuk punggung Alvan sambil tertawa.
.
.
"Alvan? keluar dari mana kalian? ". tanya Raya yang baru saja tiba di kamarnya bersama Raka lalu melihat Alvan dan Raka juga keluar dari ruangan fitness.
"terimakasih bang...! Raya aku pulang.. bye". Alvan langsung melarikan diri dari Raya sambil memeluk sebuah kotak besar yang Raya tidak tau apa isinya.
Raka melambai sambil tersenyum, berbeda dengan Raya malah mendekati Raka.
"abang? abang ngasih apa sama dia? bukan barang yang mahal-mahal kan? ". cecar Raya memegang lengan Raka.
"iya". jawab Raka apa adanya.
"abang..! tinggal traktir dia makan aja udah, ngapain dikasih barang mahal sih? ". omel Raya
"sayang..! dia menyelamatkan Perusahaan abang dan menemukan dalangnya dengan mudah, apa menurutmu itu pantas dibayar dengan makanan? ". Raka berkata lembut menggenggam balik tangan Raya.
"issh. abang enggak tau aja.. hal itu seperti menjentikkan jari baginya, terlalu mudah baginya bang".
"bagi dia mudah tapi bagiku sangat bernilai sayang, apa yang dia lakukan untukku hari ini sangat penting sayang. dia menyelamatkan Perusahaanku dan Karyawan-karyawan ku yang bisa saja dipecat detik itu juga jika Perusahaan kami bangkrut, kamu tau kan sayang? perusahaan aku belum cukup 1 tahun, jika 1 Projek pertama bocor, maka semua investasi kami gagal total dan sudah pasti jatuh bangkrut".
"ya udah deh..! terserah abang". balas Raya pasrah memeluk Raka dengan manja.
"kalau begitu jangan menyesali apa yang udah abang beri sama dia". pinta Raya serius.
"tidak akan". jawab Raka memeluk Raya lebih erat dan memejamkan matanya di bahu Raya.
.
.
.
hehe.. selamat pagi... jaga kesehatan dan selamat beraktifitas...!
.
.
__ADS_1
.