Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
datang


__ADS_3

.


.


Arya melirik kakaknya yang sedang menatap lurus kedepan, sedangkan gadis bermata hijau di belakang sedang berbinar seperti anak kecil melihat pemandangan di luar sana.


"maaf..! tuan putri bisa bahasa indonesia?". tanya Arya


"bisa..! Nenek ku orang Indonesia tapi sudah lama meninggal". jawab gadis itu dengan nada sedih.


"kalau begitu bagaimana tuan putri bisa sampai ke negara kami? bukankah negara R sangat jauh? ". tanya Arya


"tidak tau..! sepertinya aku ingin dibawa ke Negara lain untuk disembunyikan lagi, aku tidak mau dikurung oleh mereka. aku lelah, aku ingin bebas!! ". jawab Gadis itu tidak tau mengapa kapal mereka tadi berhenti di negara indonesia.


Arya melirik Satria dan menyenggol tangan Satria, Satria melihat ke arah Arya dengan datar.


"kenapa abang membawa tuan putri negara R? abang mau kita perang? ". desis Arya dengan gigi merapat.


"dia bukan Tuan Putri Negara R, aku tau Negara R hanya memiliki 1 tuan putri bungsu bernama Raflia, dia memiliki mata coklat sedangkan ini warna matanya hijau". jawab Satria dengan santainya.


"aah.. iya.. putri Raflia memang memiliki mata coklat.. Aaahh... mata hijau? apa ada manusia warna mata hijau? ". pekik Arya seketika baru menyadari bola mata kristal gadis dibelakangnya.


Gadis itu menatap Arya dan Satria bergantian, "aku keturunan asli dewi keberuntungan di negara R, secara turun-temurun kami hanya dianggap sebagai jimat oleh keluarga kerajaan tidak akan di bebaskan, jika kami lepas Kerajaan itu akan terkena kesialan". jelas gadis itu dengan senyum lebarnya.


"haha..? dewi keberuntungan? abad keberapa itu? apa titisannya masih ada? ". kekeh Arya seolah tidak percaya.


"aku bukan titisan tapi memang keturunan asli dewi itu sendiri di generasi ke 8, ibuku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu jadi mereka menjadikan aku pondasi kesuksesan kerajaan negara itu supaya lebih berkuasa.. aku tidak mau di kurung lagi". jawab gadis itu dengan sedih.


"wow...! generasi ke 8?". Arya sampai ngerem mendadak saking kagetnya.


.


.


Satria menatap gadis itu dengan teliti, "lalu kenapa kau bisa kabur jika kau hanya sebuah jimat? apa jimat keberuntungan boleh berkeliaran? bukankah itu hal buruk? ".


"pangeran? aku menyukaimu". ucap gadis itu mendekat ke Satria hingga hidung mungilnya beradu dengan hidung mancung Satria.


Arya membekap mulutnya syok melihat adegan di depan matanya, memang Arya biasa melihat kemesraan banyak orang tapi kalau Satria tentu berbeda.


"aku bukan Pangeranmu! ". ketus Satria menonyor kening gadis itu.


"lalu siapa namamu tuan putri? ". tanya Arya sambil berdeham pura-pura tak tau situasi mereka tadi padahal Arya melihatnya dengan jelas.


"perkenalkan namaku Federicha Alice, kalian bisa memanggilku Icha atau Alice". ucap putri Alice dengan senang mengenal teman baru.

__ADS_1


"nama pangeran siapa? ". tanya Alice dengan beraninya menangkup kedua pipi Satria dan menatap manik mata biru Satria.


Arya menahan napas melihat ke arah lain,


"aku bilang aku bukan seorang Pangeran". jelas Satria melepaskan tangan Alice dengan sedikit kasar.


"tapi masa depanmu cerah seperti seorang Pangeran hebat". jawab Alice dengan cerah.


Satria dan Arya mengabaikan saja perkataan Alice.


Arya berdehem pelan, "bang bagaimana caranya kita bisa kembali? kota Y tidak akan mengizinkan kita membawa masuk perempuan, apalagi penampilannya mencolok seperti itu".


"tenang saja...! aku bisa menghipnotis banyak orang". jawab Alice dengan percaya diri.


"ngomong apa dia..! apa dia seorang penyihir". bisik Arya menganggap Alice berbicara asal saja.


Satria menoleh ke Alice dan menatapnya serius, "sepertinya tadi dia memang menghipnotis abang, padahal tadi memang tidak berniat ikut campur dengan masalahnya".


"hah? jadi benar bang? ". tanya Arya tak percaya.


mereka berdua di pusingkan mengurus bayi perempuan asing di kota Y, sungguh Alice sangat polos tidak tau apapun tentang dunia luar, yang dirinya tau hanya membahas ikan Paus. ada apa dengan ikan Paus? Arya dan Satria saja pusing dengan ocehan gadis bermata hijau itu.


di kota pusat.


Raka tertidur pulas di sofa nya, Raya datang membawa makan malam untuk suaminya. tubuh Raya sudah jauh lebih baik bahkan bagian intinya tidak lagi sakit seperti tadi pagi.


"benar nona". jawab Rio.


Raya memberi kode tangannya untuk Rio pergi, Rio pun pergi dari Ruangan kerja Raka. Raya menghela nafas panjang lalu berjalan mendekati Raka dengan sedikit tertatih-tatih.


"kenapa dia tidak makan? ". gumam Raya penasaran.


"abang? ". Raya mengelus kepala Raka dengan lembut.


Raka tersentak lalu matanya yang memerah memperhatikan wajah seseorang yang membangunkannya.


"sayang? ". Raka mengucek matanya menatap lekat sang istri demi memastikan yang dilihatnya itu nyata atau khayalan.


"udah jam 10 malam kenapa abang belum pulang? ". tanya Raya duduk di samping Raka.


Raka menguap lebar lalu mengelus pipi Raya dengan sayang, "apa tubuhmu baik-baik aja sayang? kenapa datang? ".


"kata Rio, abang tidak makan dari tadi siang, bukannya pulang malah tidur di sofa". jawab Raya


"aku ingin pulang tapi mataku berat sekali". jawab Raka apa adanya

__ADS_1


Raya tersenyum, "lalu sekarang bagaimana? apa jauh lebih baik? ".


Raka tersenyum lalu memeluk Raya dan menyibakkan pashmina Raya.


"abang lapar kan? ayo makan..! ". pinta Raya dengan lembut.


"abang mau ngapain? ". tanya Raya panik saat Raka menggendongnya membawanya entah kemana.


"aku lapar jadi aku ingin memakanmu". jawab Raka dengan raut wajah berbinar seperti anak kecil.


"abang bukan lapar itu maksudku.." jelas Raya kelabakan.


Raya memekik seketika saat Raka tanpa malu menanggalkan seluruh bajunya, "abangg...! " protes Raya dengan wajah merahnya yang sungguh malu.


"tidak apa sayang..! " kekeh Raka menarik kaki Raya dan menanggalkan pakaian Raya


Raya melototkan matanya saat benda tumpul menancap sempurna di bagian intinya yang baru saja pulih, tadinya Raya ingin marah tapi melihat wajah lelah Raka berubah bahagia saat mengatakan ingin memakannya membuatnya tidak tega.


Raya tak lagi kesakitan dari sebelumnya, kini bagian intinya malah berkedut seolah memang menyambut milik suaminya.


pertempuran panas pun terjadi, Raka benar-benar menggila mencumbui tubuh Raya. entah kemana rasa lelahnya tadi sejak Raya datang ke ruangannya.


.


"huh.. abang kenapa ganas sekali sih? apa abang hewan? ". gerutu Raya segera memungut pakaiannya yang sudah tak berbentuk lagi (alias sangat kusut)


Raya tidak suka pakaiannya kusut.


"uh.. kamu yang membuatku seperti binatang sayang". jawab Raka terkekeh menggendong Raya dan membawanya ke dalam kamar mandi.


Raya malu mandi berdua dengan Raka, tapi suaminya itu tak ada malunya sama sekali.


.


"apa abang tidak lapar?". tanya Raya yang di gendong mesra oleh Raka.


Raka tau Raya belum pulih total tapi karna rasa cintanya, Raka malah menerkam istrinya lagi.


"sayang bawa apa? ". tanya Raka sambil tersenyum gemas mencium kening Raya.


"aku banyak bawa makanan". jawab Raya memeluk erat suaminya yang sangat pengertian dengan merawatnya tadi dengan memandikan, berpakaian serta memanjakannya.


Raya tidak bisa marah saat suaminya melepaskan hasratnya pada dirinya, Raya akan lebih marah jika Raka melampiaskan hasratnya pada wanita lain.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2