Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
Part. 59_ tau


__ADS_3

.


.


"jika bukan karna dijadikan kambing hitam aku tidak akan sudi menemuimu, dasar gila...! dia orang tergila yang pernah aku temui.. atau dia sebenarnya psikopat?"


"awas saja jika dia sudah berhasil mendapatkan Nia, aku yang akan merebutnya dengan paksa dari tangan psikopat gila itu". dumelan Brayen tentu didengar oleh Arya.


"sekarang aku harus bagaimana? aku sudah jatuh bangkrut karna suami Nia, kenapa harus Tuan Arya dari semua laki-laki yang ada di negara ini? Niaaa... kau benar-benar hebat ya? aku terlalu meremehkanmu". Brayen melampiaskan kemarahannya dengan berteriak sekuat tenaga sampai ia terbatuk-batuk sendiri.


di tempat Arya.


"hmmm.. dia masih punya muka menginginkan Chachaku ya?, baiklah.. aku mengerti". Arya tertawa kecil sungguh ia merasa lucu dengan keberanian Brayen menginginkan miliknya.


Brayen ingin Nia tapi tidak bisa melawan Arya namun menggunakan oranglain untuk mendapatkan Nia, Arya sedang berpikir apa Brayen ini benar-benar pintar seperti dikatakan orang-orang karna Brayen seorang CEO.


Arya malah menebak Brayen itu adalah Pria Pengecut yang bodoh.


"tapi tunggu.. kenapa Red ini menyakiti orangtua Nia? tadi kata Pria pengecut itu kalau Nia sudah ada ditangan Red maka dia akan merebut Nia dari Red, apa hubungannya? ". gumam Arya tak mengerti alur pikiran Red.


Arya tidak mengerti rencana Red, ia sedang berpikir Nia itu musuhnya Red atau suka sebagai lawan jenis, jika Musuh mungkin saja tapi mengapa Red menginginkan Nia, jika Suka pada lawan jenis lebih tidak mungkin, Pria Gila mana yang tega membunuh orangtua perempuan yang dicintainya.


"dimana aku pernah menyinggungnya jika Nia tidak pernah tau siapa Pria ini". gumam Arya mengetuk-ngetuk meja dan menatap datar potret Red yang ia dapatkan dari rekaman CCTV.


"aku tidak peduli siapa yang pernah menyinggungnya jika dia yang mengibarkan bendera perang terlebih dahulu maka dengan senang hati aku melayaninya". seringai Arya


Arya jarang berkelahi tapi ia cukup tertarik dengan dunia perkelahian Jika memang ada yang berani melawan nya padahal tau dirinya adalah bagian dari Melviano, dimana Darah Pasha seorang Bos Mafia besar dan Dylan seorang mantan Panglima besar tentu mengalir di tubuhnya.


Arya menonton rekaman CCTV kegiatan Brayen selama 3 hari saat meninggalnya Orangtua Nia di Laptopnya.


"ooh.. jadi Red ini yang duluan menangkap Brayen". gumam Arya akhirnya menemukan bukti yang kuat


"kak? ". panggil Nia


Arya menoleh ke Nia yang sedang memeluk Boneka Kelinci besarnya, "kenapa? tidak bisa tidur sendiri? ". tanya Arya

__ADS_1


Nia mengangguk-ngangguk pelan sambil mendekati Arya dan duduk disamping Arya, Arya menutup laptopnya dan beralih ke Nia yang tampak takut-takut padanya.


"mau aku apakan? nyanyikan? ". ejek Arya mengelus kepala Nia


"Kak.. pikiranku sedang kacau tapi jika bersama kakak semua nya hilang". Nia berkata dengan jujur.


Arya terkekeh pelan lalu membuka tangannya yang menutupi pahanya, Nia tersenyum lebar langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Arya sambil memeluk boneka kelincinya.


Arya mengambil selimut disampingnya dan melebarkannya lalu menyelimuti Nia sampai menutupi lehernya.


Arya kembali memainkan laptopnya sedangkan Nia sudah mendengkur halus seolah dirinya sudah masuk ke alam mimpinya, hanya Arya yang bisa membuat Nia tertidur pulas tanpa memikirkan masalah apapun.


.


Ke esokan paginya mata Nia perlahan terbuka dan hal yang pertama ia lihat adalah Arya yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya menyandar di sofa.


Nia perlahan bangkit lalu menyelimuti Arya, "aku ingin sekali mencium keningnya". batin Nia


Nia mengerjabkan matanya memandang pahatan indah diwajah sang suaminya, betapa tampannya Arya dimata Nia,


"tidur saja tampan apalagi saat membuka mata, mata birunya membiusku masuk ke dalam lautan samudera yang sangat dalam dan aku tidak bisa keluar dari sana". gumam Nia yang mengakui dirinya suka di tatap oleh Arya.


Nia tidak berani membukanya walau ia sangat penasaran apa yang di tonton Arya tadi malam.


Nia memilih bangkit memeluk Boneka kelincinya dan keluar dari Ruangan Kerja Arya, mata Arya perlahan terbuka lalu sudut bibirnya tertarik ke atas menatap Nia yang sudah pergi.


.


"sudah lama tidak main HP". gumam Nia mengambil ponselnya setelah memberi makan kedua kelinci peliharaannya.


"Nia? ". panggil Ricis


"kenapa? apa Kak Arya sudah bangun? ". tanya Nia


"sudah pergi Nia, kata Tuan Arya ia sedang sibuk dan Kamu harus bersiap-siap nanti malam akan hadir ke acara peresmian penting". Ricis

__ADS_1


"benarkah? apa Kak Arya memang mengajakku? ". tanya Nia


"iya Nia, nanti jam 5 sore gaun untukmu akan tiba". Ricis melihat jam tangannya.


Nia tersenyum lebar menangkup kedua pipinya, "baiklah, aku akan berdandan supaya tidak mempermalukan Kak Arya nanti".


Ricis tersenyum saja karna menurutnya Nia sudah sangat cantik tanpa berdandan terutama gigi kelincinya itu saat tertawa.


Nia kembali memainkan ponselnya dan terbelalak melihat berita yang ia lewatkan beberapa hari yang lalu adalah kematian perampok besar di markasnya yang tidak diketauhi siapa pelakunya tapi Nia hanya teringat satu nama.


"Kak Arya". batin Nia membekap mulutnya tak percaya


dendam yang dimaksud Arya hari itu adalah kematian satu markas para perampok itu, Nia tau dari tetangga Papa dan Mamanya bahwa hanya ada 1 komplotan perampok yang melakukannya secara berkeroyok yaitu Perampok kelas Menengah yang ditakuti para Polisi hingga tidak berani menangkap salah satu dari mereka (perampok) karna balasannya adalah nyawa keluarga Polisi itu sendiri.


"Nia? kamu kenapa? ". tanya Ricis dengan panik.


Nia menangis tak bisa dijabarkan perasaan senangnya saat orang-orang yang membunuh Orangtuanya telah mati dalam keadaan mengenaskan.


"ak.. aku bahagia Ricis.. mama sama papa pasti sudah tenang disana". isak Nia membuat Ricis garuk-garuk kepala tidak mengerti ocehan Nia saat ini.


.


sekitar jam 7 malam,


Nia didandani oleh Penata Rias khusus panggilan Arya, penampilannya seperti seorang Tuan Putri dari Negeri dongeng saat ini, mahkota indah diatas kepalanya menambah keanggunan bak seorang putri mahkota saja Nia malam ini.


"apa Kak Arya datang menjemputku Ricis? ". tanya Nia berbinar penuh bintang membuat Ricis tersenyum


"iya Nia, Tuan Arya sedang dalam perjalanan kesini". jawab Ricis membuat senyum Nia kian melebar.


Nia ingin mengucapkan terimakasihnya pada Arya yang sudah membalaskan kematian kedua orangtuanya, ia memang ngeri dengan pembalasan Arya tapi jujur hatinya malah bahagia seolah rasa sakit di hatinya terbayar dengan kehancuran orang-orang yang membunuh kedua orangtuanya.


Nia tidak tau pelaku utamanya, ia terlalu polos memikirkan ada dalang lain dalam kasus pembunuhan tersebut, Nia hanya percaya bahwa keluarganya dirampok tidak memikirkan hal lainnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2