
.
.
Mira menghela nafas panjang, ia tidak pernah merasa bahagia bersama Edward, Edward pasti memperlakukannya seperti burung peliharaan yang langka hingga tidak boleh lepas dari istana nya itu.
"kita sudah bebas sayang? ". Zain tak percaya Edward akhirnya kalah.
"karna kita dibantu Jendral ternama Tuan Dylan". jawab Mira melihat ke arah Dylan.
"hm.. ! terimakasih banyak besan!". ucap Zain dengan tulus.
"ya.. Kita tidak bisa menyalahkan diri atas apa yang terjadi dengan Edward, dia yang memilih nasibnya sendiri". Dylan.
"tapi aku dengar sang Lord Dubai ini memang kejam, ia merampas kesuc*an setiap gadis". geram Shindy
"banyak alasan dia pantas mati jadi tidak mungkin masyarat negara sana akan memusuhi kita". Raya
"lalu bagaimana permaisurinya ma? apa dia akan balas dendam? ". tanya Raka
"wanita itu memang mencintai Edward tapi dia juga menyukai kedudukannya sebagai permaisuri kekaisaran sana". Mira
"ayo kita pergi..! Aku tidak kuat bau amis menyengat ini". ajak Raya menutupi hidungnya.
Kama melihat asap hitam di belakang Raka perlahan memudar dan terus memudar hingga menghilang tak lagi ada.
"jadi itu arwah pendendam ya? setelah membunuh Edward asap hitam itu hilang seperti di telan angin saja". batin Kama
"ayo balik..! ". ajak Randi
Satria mengangguk dan yang lainnya juga sama, mereka keluar dari acara pertempuran mandi berdarah itu, Raya tidak mual hanya saja tidak suka bau busuk atau bau amis sesuatu hal.
.
hanya dalam hitungan menit, berita kematian Sang Lord Dubai sampai ke negara lain, tidak tau apa yang membuat Edward membawa seluruh pasukannya berperang, hanya karna memperebutkan wanita.
Edward tidak pernah mengira kalau sang Lord mencari masalah dengan Keluarga Melviano, sejak dahulu kala siapapun tau betapa dermawannya keluarga Melviano tapi jika Melviano di usik bisa menjadi musuh yang paling mengerikan.
.
.
"kenapa sayang? apa yang kamu lihat? ". tanya Raka dengan lembut mengelus pipi Raya juga menyisir rambut Raya dengan jemari tangannya.
"aku tadi yakin melihat asap hitam yang Kama dan Kalila katakan". gumam Raya pelan
__ADS_1
Raka mengerutkan keningnya, "kenapa? apa itu asap hitam? kamu percaya sekali hal mistis sayang? kenapa hmmm?? ".
"abang enggak tau aja asap hitam itu pasti arwah ayahmu yang selama ini melindungimu". kesal Raya
Deg!!
"bagaimana kamu bisa tau sayang? apa kamu bisa melihatnya? ". cecar Raka
"aku tidak bisa melihatnya tapi tadi aku benar-benar melihatnya, aku tanyakan sama Kama, dan Kama bilang asap itu sudah hilang sejak Tuan Lord meninggal". jawab Raya.
"kenapa? apa maksudnya? ". tanya Raka serius.
Raya menceritakan semua yang dia ketahui tentang diri Raka, Raya ingin membuat Raka mengerti bahwa selama ini Raka tidak seorang diri.
Raya memeluk Raka yang tampak terkejut mendengar ceritanya, Raka tidak pernah percaya hal mistis tapi untuk pertama kalinya ia ingin mempercayai semua itu.
"apa ayahku tidak mengatakan apapun? ". tanya Raka serius
"tidak bisa! kata Kama dan Kalila arwah itu terlalu banyak menggunakan kemampuannya untuk menolongmu, setiap kali dia memaksakan kekuatannya maka secara perlahan anggota tubuhnya akan menghilang hingga menjadi titik terpuncak nya saat menjadi gumpalan asap hitam". Raya
Raka meneteskan air matanya di pelukan Raya, ia bukan pria yang cengeng tapi terharu, sampai sudah tiada pun ayahnya masih melindunginya, pantas saja selama ini Raka selalu bertanya-tanya mengapa dirinya selalu lolos dari maut.
"sekarang abang sudah bebas pasti ayah abang juga merasa yakin abang tidak lagi sendirian, abang harus mendoakannya kalau perlu ajak aku ke makamnya". pinta Raya
.
.
Raka, Raya, Mira dan Zain berziarah ke makam Smith.
"Ayah.. Raka tiba". Raka langsung berjongkok memegang batu nisan Pria yang selalu ia anggap ayah selama ini.
"Kakak datang Smith.. maafkan kakak telah membuat hidupmu berakhir seperti ini, terimakasih telah menyelamatkan anak kakak! ". Mira
"Ayah sudah bertemu dengan Tuan Lord Edward? ". tanya Raya membuat semua orang melihat ke arah Raya dengan tatapan tanda tanya.
"Ayah harus menyiksanya di gerbang neraka, jangan biarkan dia lolos walaupun dia penguasa di negara Dubai tapi dia masih junior Ayah karna Ayah yang meninggal duluan dari dia, siksa dia sampai Ayah puas." oceh Raya mengompori.
Zain tertawa kecil menghapus air matanya, Raka mengulas senyum.
"benar Smith..! kamu adalah seniornya..! hajar dia tanpa kamu pedulikan kami disini, walau alam kita berbeda tapi sesekali kamu boleh datang ke mimpi kami dan buktikan bagaimana caramu menyiksa Si Lord sombong sok berkuasa itu". Mira
Raya mengangguk-ngangguk, "Papi Raya aja yang seorang Jendral muda tidak pernah mengajarkan kami kesombongan itu, walau kami arogan tapi kami masih suka menolong sesama karna naluri kami masih ada".
"Ayah tidak perlu memikirkan statusnya ya Ayah..!". sambung Raka mengikuti drama Mama dan Istrinya itu.
__ADS_1
tak lama Zain juga ikut-ikutan hingga tidak terasa hari sudah gelap bukan karna sudah malam tapi karna gumpalan awan hitam yang menandakan akan hujan deras hari ini.
tak butuh waktu lama, Hujan turun mengguyur mereka semua.
"ayo sayang..! ". ajak Raka menggendong Raya
mereka berempat segera memasuki mobil yang diparkir cukup jauh dari sana, derasnya hujan membuat mereka memilih tetap berdiam diri di dalam mobil.
"apa ini pertanda baik? aku yakin tadi ramalan cuaca mengatakan tidak ada hujan deras hari ini". Raya menggaruk kepalanya.
"bisa jadi Smith". celutuk Mira
"apa dia sedih? ". tanya Zain
"kalau kata kami hujan itu rezeki pasti ada hal baik jika terjadi hujan sederas ini". sambung Raya
"iya..! mungkin Ayah senang kita bersama-sama mau mendatanginya, sebelumnya Raka tidak pernah ada waktu menjenguk Ayah". Raka
"lain kali lebih sering abang". kekeh Raya
"tidak perlu sering juga, 1 bulan sekali tidak masalah kan? kita bisa membersihkan tempat peristirahatan terakhirnya". Zain
"setuju! ". balas Mira dan Raka serentak.
Raka menyentuh baju Raya, "kamu basah sayang? ".
"iya bang". jawab Raya nyengir lalu tubuhnya beringsut dan memeluk Raka dengan manja.
Raka menghela nafas panjang, ia memeluk Raya dengan erat serta memberi kehangatan untuk Raya supaya tidak kedinginan.
Zain dan Mira menganga saja dibelakang mereka.
"dasar anak muda". decak Zain
"dulu kamu juga begitu Zain". gerutu Mira
"sini sayang..! aku kedinginan". Zain merentangkan tangannya.
"ck.. dasar tidak ada romantisnya sama sekali.. lihatlah anakmu itu, dia begitu pandai memperlakukan perempuan kenapa Papanya malah seperti anak kecil?". omel Mira
Zain tak peduli lalu memeluk Mira dengan erat, "sebelumnya aku hanya bisa memeluk tubuhmu diatas ranjang sayang..! kamu sakit dan aku jadi pria gila tidak bisa apa-apa untuk membuatmu cepat sadar".
Mira tak lagi berkutik, ia seolah merasakan bagaimana kesepiannya Zain selama ini dan begitu sabarnya Zain merawatnya selama berpuluh tahun.
.
__ADS_1
.
.