
.
.
ke esokan paginya.
Raya datang ke Rumah Sakit bersama Dita.
"kau sudah sadar Fika? ". Raya duduk di bangku pasien.
Wanita bernama Fika itu mencoba untuk duduk namun meringis seketika, "Te.. terimakasih telah menolong saya".
Dita hanya memperhatikan wanita itu tanpa berniat ikut campur pembicaraan Nona nya dengan Fika.
"sebenarnya apa yang terjadi? hasil pemeriksaan mengatakan kau korban kekerasan fisik, apa ke-3 pria itu melec*hkanmu?". tanya Raya to the point.
"sebelum bertemu mereka ber-3 saya memang sudah terluka Nona..! s.. saya di jual suami saya untuk pelunas hutang.. hiks.. hiks". isak tangis Fika pecah seketika.
Dita membekap mulutnya sendiri, ia tak percaya ada manusia sekejam itu menjual istrinya sendiri seperti barang.
"lalu siapa yang memukulimu? ". tanya Raya dengan dingin.
"s.. suami saya Nona..! setiap kali dia kalah berjud*, dia akan melampiaskan kemarahannya pada saya". jawab Fika menekuk kakinya dan menyandarkan dagunya di lututnya.
rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya karna menikahi pria ringan tangan, tapi tak bisa apa-apa.
"Nona.. pria seperti itu harus di bumi hanguskan Nona !". seru Dita lantang tiba-tiba
Raya mengangguk.
"hasil pemeriksaan tubuhmu sudah di kantor polisi, sekarang mereka sedang dalam perjalanan menahan suamimu". jelas Raya
"te.. terimakasih Nona! semoga Tuhanku membalas kebaikanmu". ucap Fika dengan sesegukan.
"apa kau mencintai suamimu? ". tanya Raya
"tidak..! cinta saya sudah menghilang saat dia menjual saya ke teman-teman jud* nya". jawab Fika dengan mata memerah nyala.
tangis Fika pecah seketika mengingat masa-masa kejamnya itu, baginya tidak masalah di pukuli tapi ia sangat benci di jual seperti barang apalagi di perlakukan seperti jal*ng.
Raya mengajak Dita untuk keluar membiarkan Fika menyendiri melampiaskan kesedihannya.
.
selama 1 minggu penuh Raya membantu Fika sampai di persidangan.
"tidaaaaaakk...! kau tidak berhak melakukan ini padaku Fika.. aku suamimu.. kenapa kau memenjarakanku hah? Fikaaaaaa... " teriak Daus suami Fika
Fika menatap benci Daus, ia tidak akan berubah pikiran saat hakim menjatuhkan hukuman untuk suaminya itu.
"Fikaaaa...! " Daus hendak mendatangi Fika tapi polisi sudah menangkap tubuh Daus dan menyeretnya pergi dari lokasi sidang.
para penonton dan saksi segera pergi saat sidang sudah berakhir, hanya Fika, Raya dan Dita saja di ruangan itu.
__ADS_1
"apa kau menyesal? ". tanya Raya
"tidak..! saya tidak menyesal Nona". jawab Fika menghapus air matanya.
"lalu kenapa anda menangis? ". tanya Dita
"saya hanya merasa semua ini mimpi, saya tidak menyangka semua siksaan saya telah berakhir. saya mengira akan mati ditangannya tanpa bisa berbuat apa-apa". Fika
"sudahlah..! dia tidak akan ada disekitarmu selama beberapa tahun, nikmati kebebasanmu tidak ada suami mu yang kejam itu". Raya
"saya harus kembali ke desa tapi orangtua saya sudah tiada, pria brengs*k itu telah mengunci saya seperti barang yang tidak boleh keluar, jika saya keluar dia akan memukul saya bahkan saat orangtua saya meninggal, saya tidak bisa datang.. hiks.. hiks.. " Fika
"tidak apa..! apa kau punya anak? ". tanya Raya
Fika menggeleng kepalanya, "tidak Nona, anak Saya sudah meninggal karna pria itu".
Dita sampai meringis membayangkan derita Fika yang jauh di luar nalarnya, betapa tangguhnya wanita ini pikir Dita.
"kalau begitu ikut aku! ". pinta Raya
.
.
Raya membawa Fika ke Rumah Smith.
"dimana ini Nona? apa ini Rumah anda? saya jadi pembantu? saya suka pekerjaan itu Nona". cecar Fika dengan sedikit berbinar.
"bagaimana pekerjaanmu model cilikku? ". tanya Raya dengan gemas mencubit pipi Alman.
"baik Kak..! apa kakak mau makan? nenek sedang memasak dan meminta Alman untuk membawa kakak masuk". Alman masih belum sadar dengan situasi.
Dita menatap Fika yang berkaca-kaca melihat Alman.
"apa anakmu seumuran dengannya? ". bisik Dita.
Fika mengangguk pelan lalu menghapus air matanya yang mengalir seperti air hujan.
"ayo masuk kakak..! ". ajak Alman menarik tangan Raya
Raya memberi kode untuk Fika dan Dita masuk.
makan bersama dengan Nenek Riel pun menjadi lebih ramai, Alman tumbuh menjadi bocah menggemaskan yang bawel suka mengocehi masa-masa sekolah juga masa bekerja nya jadi model cilik.
"Nenek.. Alasan Raya kesini membawa Fika, boleh Fika tinggal disini? jadikan dia IRT di sini? ". tanya Raya
Nenek Riel tersenyum lembut sedangkan Alman mengerjabkan matanya melihat Fika yang menatap dalam mata Alman.
Fika bahkan tidak mendengar pembicaraan Raya dengan Nenek Riel, lamunan Fika buyar saat Dita menepuk pundaknya.
"Alman..? Ibu Fika baru saja kehilangan anaknya dan ternyata anaknya seumuran dengan Alman". Dita
"oh begitu ya bu? kalau begitu ibu boleh anggap Alman anak ibu, Alman boleh beritau teman-teman sekolah Alman kalau Alman punya ibu kan? ". Alman berkata dengan polosnya
__ADS_1
perkataan Alman tanpa sadar membuat suasana jadi muram, Raya tentu tau Alman butuh kasih sayang seorang ibu.
"b.. boleh Tuan kecil". jawab Fika
"panggil Alman saja nak..! Alman bukan kalangan orang kaya.. kami juga pernah di tolong oleh Nona Raya, jangan sungkan pada kami nak". Nenek Riel berkata.
Fika melihat ke arah Raya dan Dita bergantian, Raya mengangguk menyetujui perkataan Nenek Riel.
"ba. baik Alman.. nenek". sahut Fika terbata
Fika diam-diam menghapus air matanya lagi, sungguh melihat Alman yang seumuran dengan putranya mengingatkannya pada sang anak kesayangan, anaknya juga korban kekerasan karna melindunginya dari amukan sang suami anaknya jadi terluka parah hingga meninggal dunia.
Fika tidak bisa mengadu pada polisi karna suaminya bisa marah besar dan kembali memukulinya, proses nya juga lama di kantor polisi karna Fika tidak punya kenalan orang hebat untuk membantunya mempercepat kasusnya itu.
.
.
di mobil
"kenapa Nona sangat baik hati?". tanya Dita
"huh..! apa aku baik hati? ". tanya Raya balik
"hmm.. sangat-sangat baik hati". jawab Dita
"ck..! aku tidak sebaik itu, aku hanya benci manusia teraniaya apalagi korban kejahatan". jelas Raya dengan santai.
"Tuan memberi tau saya supaya Nona pulang malam ini untuk mengurusnya bukan mengurus Fika, Tuan ingin membawa Nona ke acara Pelelangan Amal". Dita
Raya tersenyum tipis, "apa dia merengek? ".
"Nona..? kasihan Tuan Master Nona, dia sangat mencintai anda !! saat anda tidak bisa kembali ke mansion mengurusnya, Tuan seperti bayi besar yang di telantarkan Nona". kekeh Dita tanpa segan lagi.
Raya tertawa lebar, "dia memang bayi besarku !". gumam Raya
"kalau begitu antar aku ke mansion..! karna masalah ini aku harus menunda resepsiku dengannya". Raya
"baik Nona..! Resepsi anda sudah diambil alih oleh Nyonya besar 1 dan Nyonya besar 2". Dita
Raya mengangguk membiarkan Mami dan Grandma nya mengurusi resepsinya.
.
.
selamat beraktitifitas..!
.
.
.
__ADS_1