
.
.
"Aku Red". Red mengenalkan diri
"aku tidak tanya.. lepaskan aku! ". bentak Nia dengan mata melotot
"apa aku terlihat mengerikan dimatamu? ". tanya Red tidak nyambung.
"lepaskan tanganku! ". Nia menarik tangan Red lalu menggigit lengan Red dengan sekuat tenaga.
"aaiishhh". Ringis Red melepaskan tangan Nia seketika
"sakit tidak? ". tanya Nia dengan senyum mengejeknya.
Red beralih menatap Nia,
"kata Aisha kuman masuk lewat mulut, hati-hati harus suntik besok". ketus Nia melenggang pergi ke arah Ricis.
Nia melihat Ricis masih berkelahi dengan Han, kekuatan mereka seolah imbang saat ini tidak ada yang kalah ataupun menang.
"sampai kapan berakhirnya? ". gumam Nia mendekat lalu mencekal kaki Han hingga tersungkur.
"aduuh.. sial". Han memaki pelan
"Oh... Maaf.. aku cuma mau bawa Ricis pergi". ucap Nia dengan raut wajah polosnya itu tanpa merasa bersalah telah membuat Han kehilangan harga dirinya kalah dari Ricis yang seorang perempuan.
Ricis memijak punggung Han, "rasakan ini..!".
"udah Cis..! ayo kita pergi! ". ajak Nia menarik lengan Ricis pergi dari Mal
"apa lihat-lihat? sana pergii? ". usir Han menggelegar
Han bangkit dan menghapus debu di bajunya sambil menatap sengit ke punggung Ricis yang tidak terlihat lagi.
"awas kau! ". gumam Han dengan geram
Han berbalik ke arah Red yang terdiam memandangi lengannya.
"Tuan? ". Han berlari ke arah Red lalu melihat lengan Red, betapa terkejutnya Han melihat lengan Tuannya berdarah dan ada bekas gigitan disana.
"siapa yang berani melakukan ini Tuan? ". tanya Han dengan serius
"dia bukan hanya kelinci tapi seekor kucing atau anj*ng yang suka menggigit". kekeh Red
Han menjatuhkan rahangnya seketika, "Nona Nia yang melakukannya Tuan? "
"gadis itu menarik juga, tatapannya padaku aku suka". decak Red
"tatapan bagaimana Tuan? ". tanya Han dengan jengah
"dia sedang menatap datar padaku, tidak ada tatapan memuja dari setiap banyaknya wanita yang aku temui". Red
"tentu saja Tuan.. dia mencintai Tuan Muda Arya dan sudah pasti Nona Alya hanya menatap memuja suaminya saja". balas Han keceplosan.
__ADS_1
plak..
"aduuh.. ! Tuan". Han memegang kepalanya.
"aku akan habisi kau jika berani membandingkanku dengan pria itu lagi". ancam Red dengan tatapan membunuhnya pada Han
Han mengangguk-ngangguk patuh lalu memukul bibirnya sendiri yang keceplosan.
"ini karna perempuan tadi, hanya seorang pengawal berani sekali dia melawanku, apa katanya? menyentuhnya? aku cuma menyandera nya sejenak, apa itu dimaksud pegang? dasar narsis". batin Han memaki Ricis.
tempat yang tadinya ramai kini sudah mulai sepi karna takut dengan ancaman Han, sedangkan Nia dan Ricis kembali melanjutkan perjalanannya ke Kantor Arya.
seperti biasa Nia disambut baik oleh karyawan-karyawan MattGroup,
"Kak? ". Nia mengetuk-ngetuk pintu Ruangan Arya yang terbuka
"udah datang? cepatlah! ". suara dari dalam Ruangan membuat Nia langsung masuk tanpa berpikir lagi.
Ricis duduk diluar memainkan ponselnya, ia tidak mau menjadi patung diantara Tuan dan Nonanya itu.
"masak apa hari ini? ". tanya Arya berdiri dari kursi kerjanya dan melangkahkan kakinya ke Sofa
Nia berlari kecil ke arah Arya dan meletakkan semua bekal makan siang yang ia bawa khusus untuk Arya.
"hari ini aku masak menu baru Kak..! aku lagi coba resep baru dan model masakan baru". senyum manis Nia membukakan bekal yang ia bawa.
Arya tersenyum mengelus kepala Nia, "dari mana tadi? ". tanya Arya dengan nada serius.
Nia terdiam lalu melihat ke arah Arya, "dari mana apanya kak? aku dari Mal".
"iya.. tadinya mau beli dasi dan sepatu untuk kakak tapi ada Pria aneh yang pernah mengikutiku 1 bulan yang lalu kak". lapor Nia dengan jujur.
"Red? dia menemuimu tadi di Mal? ". tanya Arya dengan kedua tangannya disembunyikan kebelakang lalu terkepal kuat.
"aku tidak tau apa maunya kak, tapi sepertinya dia pria yang jahat, walau tau begitu aku tidak takut karna sekarang aku bukan gadis yang mudah di injak-injak lagi". Nia
"kamu tidak tau siapa dia? ". tanya Arya memancing
"siapa emangnya kak? anak presiden? perdana mentri? polisi? tentara atau apa? ". tanya Nia
"dia juga bukan artis". gumam Nia pelan tampak berpikir keras.
"dia seorang Mafia yang gemar mengoleksi darah manusia yang dia bunuh". jelas Arya dengan entengnya ia fokus dengan makannya.
Nia melebarkan matanya tak percaya, "a.. apa kak? d.. dia? M.. mafia? k.. koleksi darah manusia bukan binatang? ".
Arya menahan senyum, "hati-hati padanya, aku tidak bisa berada di sisimu selama 24 jam". bisik Arya di telinga Nia
Glek...!
Nia menelan ludahnya yang terasa kering.
"masih penakut juga? ". ledek Arya menonyor pelan kening Nia
Nia tersadar lalu menggeleng kepalanya, "tidak Kak.. aku tidak takut, aku berani melawannya".
__ADS_1
"benarkah? apa yang kamu banggakan?". tanya Arya meledek
"aku punya gigi, aku punya senjata, aku punya kaki, dan aku juga punya tangan". Nia
"punya gigi? apa maksudnya dengan gigi? apa hubungannya dengan pembicaraan kita? ". Tanya Arya terkekeh gemas.
"aku bisa menggigit kak..! ". seru Nia
"oh..! ". jawab Arya dengan ekspresi menyebalkannya.
Nia menganga ditempat tapi tidak berkata-kata lagi sebab Arya terlihat sedikit pucat setelah selesai makan siang.
"kakak kenapa?". tanya Nia baru menyadari ada yang berbeda dari raut wajah Arya.
"kepalaku sedikit sakit". jawab Arya dengan jujur
"kan aku sudah bilang tubuh Kakak itu butuh istirahat, kakak tidak tidur selama beberapa hari selalu bergadang di Ruangan Kerja, kakak tau jam tidur kita normalnya berapa? 8 jam.. Kak.. 8 jam.. tidur kakak harus 8 jam jangan hanya 15 menit, kakak ini manusia, tubuh kakak juga bukan milik dewa yang tidak pernah sakit". marah-marah Nia
Arya menahan senyum, ia merasa gemas dengan raut wajah Nia yang marah yang terlihat benar-benar lucu.
"apa kamu sudah ganti profesi? ". tanya Arya mencubit pipi Nia
"jangan mengalihkan topik kak..! nggak mempan! ". ketus Nia berdiri tegak lalu berjalan menuju Ruangan khusus Arya.
Nia kembali membawa obat-obatan juga minuman air hangat,
"cepat minum ini..! ". titah Nia
"nggak mau, airnya panas!". tolak Arya
"kak..sakit perutku saat datang bulan kakak tau seperti apa sakitnya? rasanya sangat sakit hingga ingin mencekik dan menggigit orang yang terlihat didepan mataku kak, beruntung lah bagi yang terlahir laki-laki, jadi sekarang hanya sakit kepala saja jangan bertingkah Kak.. cepat minum !!". titah Nia dengan galak.
Arya terpaksa minum obat lalu meneguk air hangat itu sampai habis.
"istirahat..! ". titah Nia dengan serius menutup laporan kerja Arya
"nanti aku istirahat! ". tolak Arya
Nia menggeleng kepalanya, "cepat istirahat..! mata kakak benar-benar mengerikan".
"kenapa mataku? ". tanya Arya
"kantung mata kakak sudah menghitam karna sering bergadang itu". jawab Nia dengan serius.
.
.
.
Novel ini turun level Karya jadi bulan ini harus Up tiap hari biar naik level Karya nya di bulan besok, hehe.. jadi nikmati alurnya ya? walau menyebalkan.. kalau lurus-lurus aja nanti dibilang nggak asik.. wkwk..
.
.
__ADS_1