Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
keras kepala


__ADS_3

.


.


di dalam mobil Raya memikirkan bercakan darah di lokasi kejadian tadi.


"manusia seperti apa yang membunuh mereka? apa orang itu balas dendam karna orang tercintanya dibunuh oleh mereka? bahkan pembunuhannya sangat sadis seperti pembunuhan para Mafia.. "


"Mafia? ". gumam Raya tersentak kaget segera menepikan mobilnya.


"aah.. tidak mungkin ..dunia Mafia bukan hanya 1 atau 2 raja mafia, banyak komplotan mafia dinegara ini disetiap daerah, bahkan di sini yang paling banyak".


Raya menggeleng kepalanya memikirkan 2 nama terlintas dibenaknya Raka dan Robert.


"tidak mungkin Mafia tulen dan Mafia aneh itu". gumam Raya menepis pikiran itu jauh-jauh.


menurut Raya mereka berdua tidak akan melakukan hal itu, jika Raka dan Robert punya dendam pada komplotan Mafia penjual organ tubuh itu seharusnya sejak dulu di basmi oleh Raka atau Robert kan? sebab mereka hidup berdampingan, sama-sama melakukan pekerjaan ilegal.


Raya kembali ke mansion dan kaget seketika melihat seorang wanita berpakaian biasa namun sopan tengah menunduk sopan padanya.


"siapa kau? ". tanya Raya


"nama saya Anindita nona..! ". jawab Dita


"pelayan baru? ". tebak Raya melihat penampilan dita tidak seperti seorang pelayan.


"dia pengawalmu". jawab Dylan tiba-tiba keluar dari lift.


"pengawal? ". beo Raya tak percaya menatap tajam Dita.


Dita hanya menunduk tidak menatap tuan nya.


"papi..? kenapa Raya dikawal? ". tanya Raya tak terima


"tadi malam papi tidak bisa tidur karna kamu melanggar janji tidak pulang jam 10 malam kan? kamu juga tidak mengabari papi.. kemana kamu sayang? kamu buat papi khawatir dan papi tidak akan melakukan hal ini jika kamu menepati janji tadi malam".


Raya menarik nafas dalam-dalam. "ponsel Raya hilang pi".


"papi tidak butuh alasanmu sayang..! papi tidak perlu izinmu, kamu sudah berjanji akan menerima apapun keputusan papi jika kamu melanggar janji". tegas Dylan membuat Raya berdecak pelan.


"apa dia lebih baik dari Raya pi? ". tanya Raya tak senang melihat Dita


"dia lulus seleksi terbaik pilihan mamimu, adikmu Satria. papi tidak meragukan kemampuan adikmu dalam mencari seorang pengawal". Dylan


"Papi...? " rengek Raya

__ADS_1


bodo amat harga dirinya, Raya membayangkan ada seseorang yang mengikutinya kemana-mana benar-benar menggelikan lebih baik ia merengek manja saja yang sudah pasti melenceng dari sikap biasanya yang dingin tak peduli terlebih lagi tidak pernah merengek.


"papi tidak akan merubah keputusan papi.. kami semua sudah berunding, mamimu menangis tadi malam sampai ketiduran kamu tidak juga pulang! tepati janjimu sayang, kamu akan terima apapun permintaan papi jika kamu melanggar janji".


Raya menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal melihat kepergian papinya.


"haisssh.. ". Raya benar-benar stres membayangkan dirinya di ikuti kemana-mana oleh seseorang.


Dylan tidak punya pilihan lain, Ia tau putrinya itu sangat pintar jika diberi pengawal bayangan anaknya itu akan tau lebih baik terang-terangan walau hanya 1 orang tapi setidaknya berguna untuk Raya nantinya.


Raya menoleh tajam ke arah Dita.


"kau pengawalku bukan? ". tanya Raya dengan sinis.


"iya nona". jawab Dita


"sehebat apa dirimu hingga papiku merekomendasikanmu jadi pengawalku? ". Raya mendekati Dita dan mengelilingi tubuh Dita yang tak takut malah bersikap tenang.


"saya tidak merasa hebat nona..! tapi saya cukup berguna saat bersama anda". jelas Dita dengan serius.


"kau ikut aku..! aku akan mengujimu". seringai jahat Raya


Raya akan membuat Dita muak dan tidak tahan bekerja dengannya hingga memilih mengundurkan diri.


.


.


"apa kau tidak punya hati ha? kenapa kau begitu keras kepala? kau tidak juga mengundurkan diri ha?". marah Raya


"saya tidak akan mundur nona..! silahkan anda bunuh saya". kata Dita dengan mudahnya.


Raya berteriak frustasi, baru pertama kali dirinya merasa frustasi karna seseorang, Dita benar-benar keras hati dan keras kepala, bahkan berani menantangnya. entah bagaimana cara Satria membentuk pribadi Dita hingga bisa sekeras itu.


"silahkan di minum nona". Dita memberikan sebotol air minum pada Raya.


Raya merampasnya dengan kasar lalu meminumnya sambil menatap tajam dan dingin ke arah Dita.


"kau itu seperti hama yang merangkak di tubuhku..! aku bisa menggajimu lebih besar dari gaji yang diberikan papiku.. kenapa kau tidak juga mau mengerti hah? ".


"saya tidak akan mundur nona..! silahkan anda bunuh saya". kata Dita sekali lagi membuat Raya menggeram marah.


Raya melemparnya kuat ke arah Dita yang dengan cepatnya menangkap botol itu lalu membuangnya ke tong sampah tanpa ada rasa takut ia mengikuti Raya seperti anak anj*ng yang selalu mengikuti tuannya kemana-mana.


Bukan Dita yang tidak tahan pada Raya tapi malah Raya yang tidak tahan akan keras kepala pengawal barunya itu.

__ADS_1


di maki dan dimarahi tidak tersinggung, di beri uang tidak mau, di hajar dan dipukuli tidak mempan, di tawari vila atau kapal pesiar bahkan akan dibelikan pulau pribadi Dita tidak menerimanya.


"kakak? ". Satria melihat Raya tengah masuk ke ruangan pergulatan gedung Melviano yang sebelumnya adalah tempat bermain game untuk mereka dimasa kecil dari zamannya Dylan saat masih kecil.


"dapat dari mana kamu dapat tembok ini dek? ". tanya Raya menunjuk ke arah wajah Dita yang tak berkedip sama sekali di tunjuk begitu dekat oleh Raya.


jika orang lain mungkin akan gemetar ketakutan atau bahkan sudah berkedip tapi tidak bagi Dita.


"Satria mendapatkannya dari anak orang kesetiaan Papi dimasa nya". jawab Satria


"apa kalian membuang hati nya? bagaimana bisa dia begitu tahan dengan makian kakak? ". tanya Raya mengintimidasi.


Raya mengira Hati Dita tidak ada mungkin di operasi oleh dokter bedah pikir Raya karna tidak habis fikir dengan Dita yang tak pernah tersinggung akan kata-kata kejamnya.


"dia yang terbaik dari semua pengawal yang Satria latih, kakak tidak akan menang melawan keras kepalanya kak". jelas Satria


Raya menjambak rambut Satria hingga siempunya meringis pelan.


"isssh.. kenapa kakak malah marah sama Satria coba? kakak bilang aja sama papi, apa kesalahan kakak sampai papi mengirimkan pengawal pribadi untuk kakak".


Raya terdiam seketika lalu melepaskan rambut Satria,


"haisssh..! kakak tidak terbiasa di ikuti ". geram Raya


"kakak pasti melakukan kesalahan". ejek Satria menyisir rambutnya begitu mudah.


Raya menatap tajam dan membunuh ke arah Dita yang tampak tak gentar dengan tatapan tajam nona mudanya.


padahal Dita tidak bersalah, berhari-hari lamanya akhirnya Raya membiarkan saja Dita mengikutinya kemana-mana dengan pakaian santainya. tapi Raya seolah tak menganggapnya ada namun itu sudah peningkatan bagi Dita setidaknya Dita dibiarkan saja mengikuti Raya walau dianggap angin lalu oleh Raya.


"Raya. ?". Robert memanggil Raya yang datang di kampus.


Raya tetap berada diposisinya, Robert berlari ke arah Raya dan Dita langsung berdiri di depan Raya.


"siapa dia? ". tanya Robert melihat Dita pertama kalinya.


"kita tidak cukup dekat dosen untuk memberi tau siapa dia..! saya sibuk pak ! bukankah hari ini adalah hari terakhir anda? sana pergi tidak usah tinggalkan jejak !".


Robert menatap kepergian Raya,


Dita tak bersuara hanya berdiri di depan Raya karna tugasnya hanya menjaga Raya jadi tidak akan ikut campur masalah Raya.


"dia benar-benar angkuh! tapi sangat menarik". senyum miring Robert


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2